
Selama dirawat di rumah sakit, baik Rayyan maupun Raihan, tak ada satu pun dari mereka yang membesuk Lena di rumah sakit. Kedua pria muda itu seolah menutup rapat mata dan telinga tentang kabar buruk yang menimpa Lena. Hingga hari terakhir mondok di rumah sakit, dua kakak beradik itu tetap tak menampakkan batang hidungnya meski Firdaus sudah mengirimkan pesan singkat kepada mereka.
"Ma, mulai hari ini kita tidak tinggal lagi di rumah peninggalan Mei Ling. Dua hari lalu, aku bertemu dengan Rayyan dan memutuskan mengembalikan rumah warisan mendiang Mama-nya pada anakku itu. Semua perkataan Raihan, membuatku merasa tertampar dan kini aku sadar kita memang tidak berhak tinggal di rumah itu meski Mei Ling meminta sebelumnya."
Lena yang duduk di samping suaminya, menghela napas panjang. Kembali mengingat setiap kalimat yang diucapkan oleh anak tercinta. Kejadian naas yang membuat wanita itu lumpuh 'tuk selamanya.
"Lalu, bagaimana reaksi Rayyan, Pa? Apakah dia marah sebab kita baru sekarang mengembalikan apa yang menjadi hak anak itu?" Melirik ke arah suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia yakin, setiap bertemu dengan Rayyan, akan ada sedikit drama yang menghiasi apabila sepasang ayah dan anak itu bertemu dan membahas urusan pribadi.
Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. "Pertemuan kami dibumbui ketegangan layaknya menonton film pembunuh*n. Rayyan, bersikap seperti biasa setiap kali kita membahas persoalan pribadi. Namun, setelah Papa memberi pengertian akhirnya dia mau menerima harta warisan peninggalan Mei Ling."
"Termasuk kunci kamar yang dulu pernah ditinggali oleh Mbak Mei Ling?"
Firdaus menganggukan kepala sebagai jawabannya. "Benar. Kunci kamar mendiang Mei Ling sudah Papa serahkan kembali kepada Rayyan. Papa juga menyerahkan seluruh warisan Mei Ling kepada anak itu. Dan ... Papa pun memberikan kebebasan kepadanya jikalau ingin melakukan renovasi rumah. Seumpama ia ingin menghapus kenangan buruk di rumah itu dengan lembaran baru bersama istri dan anak-anaknya, Papa angkat tangan. Biarlah dia menentukan sendiri apa yang diinginkan olehnya."
"Aku sudah menyiapkan apartemen untuk kita tinggali bersama. Memang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan rumah peninggalan Mei Ling, tapi cukup nyaman dan layak untuk ditinggali. Mbok Darmi sudah ada di sana, menyiapkan segala keperluan kita berdua," tutur Firdaus.
"Tapi ... aku hanya membawa pakaian serta beberapa barang seperti buku-buku bacaan untuk mengisi waktu luangku setelah pensiun dari pekerjaan. Selebihnya, aku tinggal di rumah itu."
__ADS_1
Wanita yang duduk di sebelah Firdaus tersenyum samar. "Tidak apa-apa. Memang pada awalnya kita tak memiliki harta apa pun sebelumnya. Jadi, saat meninggalkan rumah itu kita pun tak perlu membawa banyak barang untuk dipindahkan ke tempat tinggal yang baru."
***
Mobil yang dikemudikan oleh mang Ujang baru saja memasuki halaman parkir sebuah gedung apartemen di kawasan Jakarta Barat. Setelah kendaraan roda empat itu terparkir rapi di basement, kedua pria paruh baya itu membopong tubuh Lena duduk di atas kursi roda.
"Sore nanti, akan ada perawat yang bertugas membantuku dan Mbok Darmi merawatmu. Aku memintanya menjagamu di pagi dan sore hari. Untuk malam hari, biarkan aku yang merawatmu," ucap Firdaus seraya mendorong kursi roda milik sang istri.
Lena tersenyum manis ke arah Firdaus. "Pa, terima kasih karena sudah repot-repot menyewakan seorang perawat untuk merawatku."
Firdaus membalas senyuman Lena. "Jangan sungkan. Itu memang sudah menjadi tugasku sebagai suami. Kamu membutuhkan kehadiran seorang perawat, meski ada aku dan Mbok Darmi tetap saja butuh tenaga medis untuk memantau perkembangan kesehatanmu."
Apartemen itu sudah dilengkapi oleh segala macam perabotan rumah tangga termasuk televisi, dan mesin cuci sehingga si penghuni cukup membawa pakaian saja dan bisa segera tinggal di sana tanpa pusing memikirkan hendak membeli furnitur apa untuk diletakan di setiap sudut ruangan.
"Selamat datang di apartemen, Bu Lena. Saya senang, Ibu sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter," ujar Mbok Darmi. Wanita paruh baya itu menjadi satu-satunya asisten rumah tangga yang diajak Firdaus pindah ke apartemen. Sedangkan satu orang lagi tetap berjaga di rumah peninggalan Mei Ling.
"Terima kasih atas sambutanmu, Mbok. Saya juga senang bisa diperbolehkan pulang oleh Dokter. Walaupun sekarang keadaan saya berbeda, tetapi setidaknya Tuhan masih memberikan kesempatan untuk terus memperbaiki diri agar semakin dekat kepada-Nya."
__ADS_1
Tak ingin Lena kembali bersedih, mengingat kejadian beberapa hari lalu, Firdaus menginterupsi percakapan kedua wanita paruh baya itu. "Sebaiknya kita masuk ke dalam. Kamu pasti lelah setelah perjalanan cukup jauh." Lena tidak banyak protes saat tangan Firdaus mendorong kursi roda miliknya.
Setibanya di kamar, Firdaus dibantu mang Ujang kembali menggotong tubuh Lena dari atas kursi roda dan merebahkannya di atas ranjang berukuran king size. Kamar utama yang ditempati kedua orang tua Raihan cukup luas, kisaran 6×6 m2. Terdapat jendela besar menghadap langsung ke luar serta satu buah sofa empuk di sudut ruangan sehingga sang empunya kamar dapat menikmati pemandangan dari lantai tujuh gedung apartemen.
Setelah memastikan Lena nyaman terbaring di atas ranjang, Firdaus menarik selimut hingga menutupi bagian bawah tubuh istrinya. "Kamu istirahat dulu ya, aku akan ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah itu, barulah menemanimu tidur." Bangkit perlahan, menuju kamar mandi.
Air shower yang dingin mengguyur tubuh Firdaus. Ia memejamkan mata, lagi-lagi kejadian naas yang menimpa Lena dan sekelebat bayangan wajah Mei Ling kembali melintas dalam benaknya. Merasa bersalah karena telah mengorbankan banyak orang atas keegoisannya selama ini. Seandainya dulu ia membuka sedikit hatinya untuk Mei Ling, mungkin semua kejadian ini tak 'kan terjadi. Rumah tangganya dengan wanita keturunan Tionghoa akan berakhir bahagia jika ia bisa menerima ibu kandung Rayyan menjadi istrinya.
"Maafkan aku, Mei Ling. Seharusnya dulu aku belajar mencintaimu, menerima kehadiranmu sebagai istriku. Bukan malah mengacuhkanmu dan jatuh cinta pada wanita asing yang kutolong dari kejaran mantan suaminya. Aku bodoh, Mei, karena tidak dapat melihat besarnya cinta yang kamu berikan kepadaku. Padahal, kamu sudah menjalankan tugasmu sebagai istri yang baik."
"Kini, aku telah menerima balasan yang kutuai akibat kesalahanku di masa lalu. Maafkan aku, Mei. Maafkan suamimu yang bodoh ini!"
Firdaus masih berada di posisinya berdiri saat ini. Ketika ia hendak meraih handuk di gantungan handuk, tiba-tiba saja sesuatu menghantam lantai terdengar jelas di indera pendengarannya.
Brugh!
.
__ADS_1
.
.