Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Jago Merah


__ADS_3

"Kebakaran! Kebakaran! Tolong, kebakaran!" Lena berteriak keras berusaha meminta pertolongan sambil terus ngesot meski merasa sakit pada sekujur tubuh akibat mendapat cambukan keras dari mantan suaminya. Wajah wanita itu semakin memucat saat kobaran api mulai merambat begitu cepat. Dengan susah payah ia mendekati pintu kamar utama berniat menyelamatkan suaminya agar terhindar dari amukan si jago merah.


Mendengar suara teriakan histeri serta bau asap berasal dari luar, Arman tampak panik. Bola mata pria itu tak fokus pada satu titik, bergerak ke sana kemari seolah sedang mencari sesuatu. 'Sialan! Kenapa malah jadi begini! Pokoknya aku harus menjarah harta berharga milik Firdaus sebelum meninggalkan tempat ini. Biarkan saja mereka berdua mati terbakar bersamaan dengan dosa-dosa di masa lalu!'


Lantas, ia melepaskan tangannya yang masih menarik rambut Firdaus hingga rivalnya tergeletak lemah di lantai. Pria itu berlari mendekati lemari pakaian, mencari surat berharga, perhiasan dan barang berharga lainnya yang sekiranya dapat dijual untuk modal judi dan mabuk-mabukan.


Cukup lama ia mencari hingga akhirnya usaha pria itu tidak sia-sia. Surat berharga serta perhiasan Lena yang disimpan di sebuah kotak berhasil dijarah olehnya. "Bagus! Dengan seluruh kekayaan Firdaus, aku bisa jadi orang kaya tanpa harus susah payah bekerja. Aku dapat berjudi dan bersenang-senang lagi bersama teman-temanku." Menyeringai sambil mendekap erat aset berharga milik sang mantan direktur rumah sakit.


Melihat kepulan asap, dan kobaran api semakin merambat ke mana-mana, Arman memutuskan segera meninggalkan tempat itu. Namun, saat netranya melihat Firdaus masih tergeletak pada posisi yang sama, ia dekati pria itu sambil berkata, "Selamat tinggal rivalku. Semoga kamu dan J*l*ng itu hidup bahagia di neraka sana!" Kembali memberikan sebuah tendangan tepat di wajah Firdaus sebagai salam perpisahan 'tuk terakhir kalinya.


"Kang Arman, tolong selamatkan Mas Firdaus. Bawa dia pergi dari sini, Kang. Kumohon!" ucap Lena kala melihat Arman keluar dari kamar sambil membawa barang berharga milik suaminya.


Arman membalikan badan, dan menatap sinis ke arah Lena. "Aku tidak mungkin menolong suamimu, Lena. Biarkan dia mati terbakar bersama istri durhaka sepertimu!" Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. "Selamat tinggal mantan istriku. Semoga hidupmu bahagia bersama Firdaus di neraka sana!"


Usai mengucapkan kalimat terakhir, ia ayunkan kembali kakinya mendekati daun pintu. Namun, tiba-tiba saja ....


Brak!


Sebuah kayu besar jatuh tepat di hadapan Arman, tapi beruntungnya ia dengan sigap menghindar. Tangan pria itu terulur ke depan sambil mengusap jantungnya yang berdegup tak beraturan. "Untung saja aku dapat menghindar. Kalau tidak, bisa mati terbakar di sini." Pria itu mencoba jalan lain agar dapat terbebas dari kungkungan api yang semakin membara.


"Aku bisa kabur lewat celah itu," gumamnya lirih. Matanya yang tajam melihat ada sedikit kemungkinan baginya 'tuk bisa pergi dari tempat itu. Ia dapat memutar, kemudian melompati sebuah kursi bar yang terbakar api lalu berlari menuju daun pintu apartemen yang masih belum terjamah oleh api.

__ADS_1


Ia melangkah maju ke depan. Baru dua langkah berjalan, sebuah kayu besar kembali terjatuh. Namun, kali ini Arman tak dapat menghindar karena ia tak menyadari semua itu.


Brak!


"Aduh, panas! Tolong! Panas sekali!" pekik pria itu kala merasakan api membakar pakaian yang dikenakan. Semakin lama, api itu terus merambat hingga membuat tubuh Arman terbakar. "Tolong, panas!"


Semua kejadian yang menimpa Arman, Lena melihatnya dengan sangat jelas. Terlebih saat api itu mulai merambat membakar tubuh mantan suaminya yang masih setia mendekap barang berharga milik Firdaus.


Lena menatap ngeri saat si jago merah terus membakar tubuh Arman tanpa ampun. Bulu kudu merinding menyaksikan mantan suaminya hangus terbakar.


Ia menggelengkan kepala dengan perasaan diliputi rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu. "Aku dan Mas Firdaus harus segera pergi dari sini. Kami tidak boleh mati terbakar. Aku masih ingin melihat wajah kedua putra kesayanganku," gumamnya.


Mulai terbatuk ketika asap pekat mulai memenuhi seluruh ruangan. Panasnya api, kepulan asap pekat membuat dada serta mata terasa perih. Jarak pandang penglihatan semakin terganggu.


"Mas Firdaus! Mas, bangun!" ucap Lena saat ia berhasil menghampiri suaminya yang terkulai di atas lantai. Jemari tangan menepuk wajah Firdaus, mencoba memanggil suaminya yang tak sadarkan diri. "Tolong! Siapa saja, tolong kami!" Berteriak lantang meski suara tercekat akibat banyaknya asap yang ia hirup.


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Wanita itu semakin panik ketika merasakan ia terkepung di dalam ruangan yang sudah nyaris terbakar semua. "Apakah ini adalah akhir dari kisahku? Aku mati terbakar bersama dengan mantan suami dan suami baruku?" Bulir air mata membasahi pipi. Tubuhnya gemetar disertai suara isak tangis.


Api semakin berkobar hebat, Lena merasakan kepalanya memberat. Napasnya sesak. Pandangan mata mulai buram. Detik itu juga, ia jatuh pingsan, terkulai di samping tubuh Firdaus.


***

__ADS_1


Sementara itu, seluruh penghuni apartemen bergegas melarikan diri dari kobaran si jago merah lewat jalur evakuasi. Bunyi alarm kebakaran menggema di mana-mana. Semua orang sibuk menyelamatkan diri agar tak menjadi korban kebakaran. Mereka tak sempat menyelamatkan harta benda, tidak memikirkan apa pun selain keselamatan diri masing-masing.


Lebih dari satu mobil petugas pemadam kebakaran (DamKar) kota Jakarta terparkir di pekarangan unit apartemen yang ditinggali oleh Firdaus. Sesaat setelah terlihat kepulan asap tebal serta bunyi alarm kebakaran, kedua security yang berjaga di pos keamanan menghubungi mobil damkar. Tak perlu menunggu lama, mereka segera beraksi dan menjalankan tugasnya dengan baik.


Suasana ricuh di depan halaman apartemen. Suara tangisan histeris bersumber dari beberapa penghuni yang berhasil lolos dari amukan si jago merah. Ada juga yang berteriak meminta tolong kala menyadari keluarganya masih terjebak di dalam sana.


Puspa yang baru saja selesai berbelanja tampak terkejut saat melihat unit apartemen milik kedua pasiennya terbakar. Wajah berubah pucat, jantung berdetak tak beraturan ketika kepulan asap tebal terlihat jelas dari lantai tujuh, tempat Firdaus dan Lena tinggal.


Berhambur mendekati sekelompok petugas pemadam kebakaran. "Pak, di dalam sana ada dua pasien saya. Tolong selamatkan mereka!" Jari telunjuk Puspa mengarah ke gedung apartemen di depan sana. "Mereka pasangan paruh baya dan lumpuh. Tolong selamatkan mereka, Pak!"


"Kita sedang berusaha menyelamatkan penghuni apartemen yang masih terjebak, Mbak. Namun, jika melihat kobaran api yang semakin menggila, kami tak begitu yakin korban yang masih terjebak dapat bertahan hidup."


Bulir air mata jatuh begitu saja di antara kedua pipi. Kaki Puspa melemah kala membayangkan kedua pasiennya meninggal dalam kebakaran. Rasa bersalah menelusup menembus relung hati terdalam. Seandainya saja ia tak menuruti perintah Lena, mungkin wanita itu dapat menyelamatkan orang tua Raihan.


Wanita itu terduduk lemas di paving block, menatap sendu ke depan. Ia menangis menyaksikan bagaimana kepulan asap hitam membumbung tinggi ke awan. 'Ya Tuhan, selamatkan Bu Lena dan Dokter Firdaus,' batinnya. Mencengkeram erat kantong belanjaan, berisi bahan makanan yang diminta oleh pasiennya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2