Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Bisakah Kamu?


__ADS_3

Muhammad Rayyan Firdaus memijat pelipisnya yang terasa sakit. Hari ini ia dan tim baru saja kehilangan pasien yang didiagnosa mengalami penyumbatan pada arteri korona atau dalam istilah medis disebut coronary heart disease meskipun operasi CABG (Coronary Artery Bypass Graft) telah dilakukan. Segala usaha telah dilakukan, tetapi rupanya Sang Pencipta berkehendak lain. Pria berwajah oriental harus melihat sang pasien meninggal di depan mata kepalanya sendiri.


Jari telunjuk dan jari tengan Rayyan bergerak memutar sambil memberikan pijatan lembut di pelipis. Suasana hati pria itu jadi tak karuan setelah melihat seluruh keluarga pasien meneteskan air mata di depan jenazah orang tercinta yang ditutupi selimut putih. Terselip rasa bersalah karena tak mampu menyelamatkan nyawa pasien. Padahal seluruh keluarga telah menaruh harapan besar kepada Rayyan dan tim.


Rayyan menarik napas dalam seraya memejamkan mata. Setelah itu, kelopak mata terbuka secara perlahan. Bibir seksi pria itu terbuka, kemudian berkata, "Tuhan, kenapa aku harus melihat lagi kematian seseorang di depan mata? Bayangan saat Papa meninggal masih membekas di memori ingatanku, kini aku menyaksikan kembali bagaimana seseorang pergi dari dunia ini untuk selamanya." Mengembuskan napas kasar, mencoba melepaskan beban di dalam dada. "Aku merasa payah karena kali ini gagal melaksanakan tugasku."


Ayah dari tiga orang bayi kembar mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu tampak begitu frustasi. Akibat kejadian tadi pagi di ruang operasi membuat mood pria itu jadi tak karuan. Beruntungnya ada Arumi yang selalu menghibur hingga ia dapat sedikit lebih tenang dibandingkan beberapa jam lalu.


Suara ketukan pintu membuat kegiatan Rayyan terhenti. Mengernyitkan alis sambil menatap ke arah jam dinding. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi.


"Siapa yang datang menemuiku? Perasaan, aku tidak meminta orang untuk menggangguku di saat tengah galau begini. Apakah mungkin di luar sana adalah Arumi?" gumam pria itu.


Tak ingin terus menduga-duga, akhirnya pria itu memutuskan mempersilakan seseorang yang tengah berada di balik pintu. "Masuk!" seru sang direktur dari dalam ruangan.


Sementara itu, tampak seorang pria berusia dua puluh enam tahun sedang menarik napas panjang mencoba memberanikan diri bertemu kembali dengan sang kakak. Meskipun sudah dipersilakan masuk oleh pria di seberang sana, tetapi Raihan masih belum bergerak dari tempatnya saat ini.


"Nak, lekas buka pintunya. Kakakmu sudah mempersilakan kita masuk ke dalam ruangan," tutur Lena ketika menyadari bahwa Raihan bergeming.

__ADS_1


Alih-alih menuruti perintah Lena, Raihan menatap nanar pintu ruangan Rayyan. Jujur, ia masih belum siap bertemu kembali dengan sang kakak setelah pemakaman Firdaus. Terlebih direktur rumah sakit itu memintanya menjauh namun dosen tampan bersikeras bertemu dan bahkan berniat meminta izin agar diperbolehkan menemui si kembar. Entah apa yang akan terjadi di dalam nanti, tetapi ia berharap semua kan baik-baik saja.


Diputarnya handle pintu tersebut hingga membuat pintu berwarna putih terbuka lebar. Mendorong kursi roda milik sang mama masuk ke dalam ruangan yang cukup luas.


"Kak Rayyan, apa kabar?" ucap Raihan tatkala dia dan Lena telah berada di hadapan Rayyan. Posisi pria itu dengan kakaknya berjarak kurang lebih enam meter.


Mendengar seseorang memanggil dirinya dengan panggilan 'kakak', membuat pria berhidung mancung mendongakan kepala. Bola mata Rayyan melebar kala melihat sosok wanita yang teramat sangat dibenci olehnya tengah menatap nanar ke arah ayah tiga bayi kembar.


"Mau apa kamu datang ke sini!" sentak Rayyan sambil bangkit dari kursi kebanggaannya. Cukup terkejut karena hari ini dia bertemu kembali dengan orang ketiga yang menjadi penyebab meninggalnya sang mama.


Mengangkat jari telunjuk ke wajah Raihan sambil menatap sinis kepada adiknya. "Dan kamu .... Bukankah sudah kukatakan, menjauhlah dari kehidupanku bawa serta Mama-mu ini. Tapi, kenapa kamu malah membawa wanita itu ke hadapanku, Rai! Kenapa?" sambung dokter tampan itu. Wajah pria itu memerah menahan amarah. Kedua tangan mencengkeram ujung meja kerja dengan erat. Berusaha menahan emosi agar tak merugikan banyak orang termasuk dirinya sendiri.


Rayyan mendengkus kesal. "Hal penting apa sampai membuatmu susah payah menemuiku!"


Lena meletakkan kedua tangannya di sebelah. Ia menggerakan benda berbentuk bulat terbuat dari karet hingga jarak antara wanita itu dengan Rayyan hanya dua meter saja.


"Raihan sudah menceritakan semua yang kalian bicarakan saat di pemakanam Papa. Adikmu berniat pergi dari kota ini selamanya dan membawa serta Mama. Namun, sebelum pergi, Mama ingin sekali bertemu dengan Triplet untuk terakhir kalinya. Maukah kamu memberikan izin kepada Mama?" Bola mata Lena mengerjap penuh pengharapan. Dalam hati berharap semoga Rayyan luluh dan mengabulkan permintaannya.

__ADS_1


Seketika terdengar suara tawa pecah, menggema memenuhi penjuru ruangan. Saking kerasnya membuat bulu kudu sepasang ibu dan anak berdiri. Sorot mata dingin, tajam bagaikan seekor hewan buas yang siap mencabik-cabik mangsanya.


"Jadi, kedatanganmu ke sini hanya ingin bertemu dengan Triplet. Begitu?" tanya Rayyan sinis. "Jangan mimpi! Sampai kapan pun, aku tidak sudi mengajak ketiga buah hatiku bertemu dengan wanita jahat sepertimu! Sekalipun kamu bersimpu sambil menangkup kedua tangan di hadapanku, keputusanku tetap tidak!" sembur pria berseragam dokter.


Lantas, pria itu membalikan badan menghadap pemandangan dari jendela berukuran besar. Pandangan mata lurus ke depan. "Punya hak apa kamu menemui anak-anakku? Bukankah di antara kita berdua tidak mempunyai hubungan apa-apa? Meskipun statusmu adalah istri Papa, tetapi bukan kamu bukan Mamaku dan Nenek bagi Triplet. Jadi, kamu tidak berhak bertemu ketiga anakku."


Lena menggelengkan kepala lemah. Ia menundukan kepala ke bawah, menatap pantulan bayangannya di lantai. "Mama memang bukanlah ibu kandungmu, tetapi sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Apakah semua yang Mama lakukan terhadapmu tidak ada arti apa-apanya, Nak? Apakah kasih sayang, perhatian dan cinta yang Mama beri tak sedikit pun kamu rasakan?" tanya wanita itu dengan bibir gemetar.


"Mama memang bersalah karena telah merusak rumah tangga kedua orang tuamu. Namun, tidak bisakah kamu memaafkan Mama? Mama sudah menerima balasan atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan di masa lalu."


Perlahan, Rayyan membalikan badan kembali menatap kepada dua sosok manusia di depannya. "Memaafkanmu? Semudah itukah kamu meminta maaf setelah menyingkirkan Mama dari kehidupanku!" sembur pria itu. "Apakah kamu tahu bagaimana selama ini hidupku menderita akibat perbuatan kalian berdua, heh!"


"Kamu dengan tak tahu malu masuk ke dalam rumah tangga kedua orang tuaku. Menghancurkan sebuah bangunan yang susah payah oleh Mamaku bangun di atas air mata dan penderitaan. Kini, setelah menghancurkannya menjadi berkeping-keping dengan mudahnya kamu meminta maaf. Apakah kata maafmu itu dapat menghidupkan kembali Mamaku? Katakan! Apakah bisa? Jika iya, maka aku bisa memaafkanku!" ucap Rayyan lirih. Sepasang mata sipit mulai berkaca-kaca. Mendongakan kepala ke atas, berusaha menahan agar butiran kristal tak jatuh membasahi pipi.


Lena bungkam seketika. Suasana hening tercipta, tak ada satu orang pun membuka suara. Ibu kandung Raihan tertunduk malu sambil memejamkan mata. Raihan pun melakukan hal yang sama. Ia menundukan kepala, merasa bersalah karena kehadirannya dan sang mama membuat emosi dalam diri Rayyan meledak-ledak.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2