Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Ajariku Mencintaimu (S2)


__ADS_3

"Tentang apa, Pak?" tanya Kayla penasaran. Mata memicing sambil memperhatikan gerak gerik Husni yang tampak semakin gelisah. Berkali-kali, pria itu mengusap peluh yang deras membanjiri kening menggunakan sapu tangan dari dalam saku celana.


Menarik napas dalam dan mengembuskan secara perlahan. Mata terpejam sambil menyakinkan diri bahwa semua kan baik-baik saja.


Setelah merasa cukup tenang, Husni kembali berucap, "Begini, Bu Kayla. Sebelumnya saya mau minta maaf kalau sudah mengganggu waktu istrirahat Anda. Saya datang ke sini bukan ingin membicarakan persoalan Mas Alvin melainkan tentang rencana meminang Bu Kayla untuk menjadi istri saya."


"Apa? Meminang?" Kayla mengulang ucapan Husni dengan nada terkejut. Wanita itu membelalakan mata sempurna. Saking terkejutnya seolah sepasang bola mata bulat itu terjatuh dan menggelinding ke bawah kaki. "Bapak pasti sedang bercanda, 'kan?"


Husni menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Saya bersungguh-sungguh ingin meminang Bu Kayla untuk menjadi istri dan ibu bagi Adinda."


Kayla tersenyum masam sambil melempar pandangan ke arah lain. Hati terasa seperti ditikam sebilah pisau, sakit tetapi tak berdarah. "Tampaknya Pak Husni sedang ngelindur sampai tanpa sadar berjalan ke rumah saya."


"Maksud Bu Kayla?" Kening Husni mengernyit sambil menatap tajam ke arah Kayla.


"Bagaimana mungkin Bapak berniat melamar saya jika tidak dalam kondisi tertidur," jawab Kayla. "Pak Husni, saya ini adalah mantan seorang pelakor yang menghalalkan segala macam cara untuk merebut hak orang lain. Saya tega merampas suami dari sahabat sendiri. Semua orang tahu masa lalu saya yang kelam. Memangnya Bapak tidak malu bila menikahi wanita seperti saya? Apa kata orang bila tahu ketua RT menikahi seorang pelakor. Reputasi Bapak dan keluarga pasti hancur."


"Malu? Untuk apa malu? Bukankah setiap manusia itu mempunyai masa lalu. Lantas, kenapa saya harus malu mempersunting Bu Kayla untuk menjadi istri saya," jawab Husni. "Bu, di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Sang Pencipta. Jadi, Ibu jangan merasa rendah hati ketika saya mengatakan ingin mempersunting Bu Kayla."

__ADS_1


"Untuk masalah reputasi yang akan hancur akibat menikahi Ibu, saya pribadi tak begitu terlalu memikirkannya. Kalau memang hancur, ya sudah tidak apa-apa asalkan bisa memiliki Bu Kayla, saya rela kok," sambung Husni. Meskipun terkesan gombal tetapi kalimat itu tulus berasal dari dalam hatinya yang terdalam.


Alis Kayla mengerut setelah mendengar jawaban Husni. Ia berpikir, kenapa Husni begitu keukeh ingin meminang dirinya sementara di luaran sana masih banyak wanita single yang bisa dipersunting oleh pria itu. Apakah mungkin otak pria itu bergeser beberapa centi dari tempatnya hingga membuat duda beranak satu bersikeras menjadikannya sebagai calon mempelai wanita? Entahlah, hanya Tuhan sajalah yang tahu.


Menarik napas dalam sambil memejamkan mata sejenak. Setelah itu, Kayla membuka kembali kelopak matanya secara perlahan. "Pak Husni mungkin bisa saja tidak peduli dengan reputasi hancur akibat menikahi mantan seorang pelakor, tetapi bagaimana dengan keluarga? Apakah mereka mau menerimanya? Lalu, bagaimana dengan Bu Fatimah? Beliau pasti menjadi sasaran empuk bagi para warga karena mempunyai menantu seorang pelakor dan juga mandul."


Husni menghela napas kasar. Rupanya untuk mendapatkan Kayla tidaklah mudah, butuh perjuangan ekstra meluluhkan hati wanita itu.


"Bu Kayla tenang saja, beliau serta keluarga besar saya tak memedulikan masa lalumu. Mereka bersedia menerimamu apa adanya. Terlebih saat ini Ibu telah bertaubat dan berjanji tidak mengulangnya lagi itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kamu telah berubah. Jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak meminta Bu Kayla menjadi istri serta ibu bagi Adinda."


Kayla melirik, mata coklatnya menatap penuh tanda tanya kepada Husni. "Bagaimana mungkin keluarga Bapak mau menerima saya. Apakah sebelumnya Bapak mengancam mereka sehingga saat ini mendapat dukungan 100% dari keluarga terdekat."


Entah apa lagi yang ingin disampaikan oleh Kayla, lidah wanita itu mendadak kelu dan otak pun tak dapat berpikir jernih. Tak menduga kalau akan ada seseorang yang bersedia menerima dirinya apa adanya.


Kayla menghela napas kasar, melepaskan beban hidup yang dirasa membuat dadanya terasa sesak. "Sebelum terlambat, apa Bapak sudah pikirkan matang-matang atas konsekuensi yang akan diterima bila kita menikah?"


"Sudah! Saya sudah memikirkannya berkali-kali. Hati saya semakin mantap memilih Bu Kayla menjadi pendamping hidup," jawab Husni sambil menatap iris coklat Kayla.

__ADS_1


"Apa Bapak tidak menyesal bila di kemudian hari saya tak juga memberikan keturunan kepada Pak Husni?"


"Untuk apa menyesal. Kalau memang Bu Kayla tidak bisa hamil karena insiden kecelakaan beberapa waktu lalu, kita masih punya Adinda. Ibu dan saya dapat membesarkannya bersama-sama. Apabila Adinda telah beranjak remaja dan Bu Kayla ingin mempunyai anak lagi, kita bisa mengadopsi di panti asuhan." Husni memajukan tubuhnya ke depan kemudian berkata, "Ada atau tidaknya seorang anak, saya tetap mencintai Bu Kayla apa adanya. Jadi, tolong berikan kesempatan kepada saya untuk menjadi pendamping hidup Bu Kayla."


Terjadi keheningan beberapa saat. Tampak Kayla sedang menimbang-nimbang jawaban apa yang ingin diberikan kepada Husni, sedangkan pria jangkung itu sedang berusaha mengendalikan diri untuk tidak terlihat gugup di hadapan sang pujaan hati.


Kayla kembali menarik napas dalam, lalu memandangi wajah Husni dengan seksama. Wajah pria itu boleh dikatakan cukup rupawan, tak kalah tampan dari Mahesa. Usia cukup matang, sehingga mampu mengayomi dirinya yang sering labil dalam bersikap. Lalu, apa lagi yang kurang? Bukankah ini kesempatan baginya untuk bisa melupakan Mahesa dan move on dari mantan suaminya itu?


Lagipula, harapan Kayla untuk bersanding kembali dengan Mahesa telah pupus lantas buat apa dia terus mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Walaupun rasa cinta itu belum tumbuh, tetapi seiring berjalannya waktu bunga-bunga cinta akan bersemi dan tumbuh subur di dalam dada.


"Jika Bapak memang berniat mempersunting saya maka ... saya bersedia menerima niatan baik Anda," ucap Kayla lirih. "Tolong ajari saya bagaimana cara mencintai Pak Husni dan bimbing saya untuk terus berada di jalan-Nya."


Husni tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan bersih. "Tentu saja. Saya akan mengajari Bu Kayla bagaimana caranya mencintai saya dan melupakan mantan suamimu."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2