
Jarum jam terus berputar, tak terasa malam semakin larut. Di sebuah rumah berlantai dua di pinggiran kota Jakarta, seorang pria sedang sibuk dengan tumpukan berkas berisi kasus yang akan ditangani olehnya.
Sejak tadi sore, Rio sudah mulai membaca berkas gugatan cerai yang akan dikirimkan pada Mahesa. Ia bahkan rela mendahulukan kasus Arumi agar secepatnya bisa berpisah dengan pria brengsek seperti sepupunya.
"Mas ... aku bawakan kopi kesukaanmu." Rini melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Ia bergegas masuk ketika suaminya itu memberikan izin padanya.
Namun, Rio tidak menoleh sama sekali. Pria itu masih fokus dengan berkas yang ada di hadapannya. Pandangan mata tak mau beralih dari kertas putih bertintakan hitam di hadapannya.
Wanita cantik yang dinikahi Rio selama lima tahun meletakkan gelas cangkir di atas meja. Ia mengalungkan tangan di leher suaminya dari arah belakang. Memberikan ciuman hangat di pipi suami tercinta.
"Aku perhatikan, sejak pulang dari kantor, kamu begitu sibuk dengan tumpukan berkas itu," keluh Rini. "Bahkan, saat makan malam bersama Rayyan dan Mama, perhatianmu pun tak mau jauh dari kertas itu."
Rini mencebik dan akhirnya memilih duduk di kursi. Ia menatap Rio dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
"Kasus apa lagi yang kamu tangani? Perceraian?" timpal wanita itu. Rini menghela napas kasar karena lagi-lagi Rio bergeming. Pria itu seolah tak menganggap keberadaannya di ruangan itu.
Merasa sesuatu bencana akan terjadi jika Rio tidak segera menghentikan pekerjaan, ia menaruh kertas putih itu di samping. Lalu membenarkan kacamata yang bertengger di batang hidung mancung pria itu.
"Ya, memang kasus perceraian lagi," jawab Rio cepat.
"Kamu tahu sendiri, sepak terjang suamimu ini seperti apa dalam menangani kasus perceraian. Menurut sebagian pengacara mustahil tetapi bagiku terasa mudah. Untuk itulah, banyak klien yang datang padaku, meminta bantuan mengurusi kasus perceraian mereka termasuk, Arumi," ucap Rio lirih, hampir tak terdengar.
Mendengar nama sahabatnya disebut, dengan gerakan cepat, Rini mencondongkan tubuh ke depan. Ia menatap Rio dengan tatapan mengintimidasi. "Coba kamu katakan sekali lagi, klienmu kali ini siapa?"
"Ayo, Mas. Katakan padaku! Arumi mana yang kamu maksud!" timpal wanita itu.
Rio menatap Rini dengan sungguh-sungguh. "Memangnya sahabatmu yang bernama Arumi ada yang lain?"
Rini cukup terkejut dengan kabar yang didengarnya. Sejujurnya, ia bisa merasakan hubungan rumah tangga antara Arumi dan Mahesa memang sedang tidak baik-baik saja. Namun, ia tak menyangka keretakan rumah tangga itu akan berakhir di meja sidang.
"Kamu pasti sedang bergurau 'kan, Mas!" Rini memastikan apa yang didengarnya barusan bukan hanya halusinasinya saja.
__ADS_1
Berprofesi sebagai seorang psikiater, bertemu dengan ragam penyakit yang diderita oleh klien, tak jarang membuat Rini merasakan berada di posisi mereka. Untung saja ia bisa mengendalikan gejala itu sehingga tak berujung pada dampak efek samping yang lebih serius.
"Aku ini seorang pengacara, Sayang. Kami disumpah untuk selalu bekerja dengan jujur. Setiap perkataan kami harus sesuai dengan fakta, bukan sebuah kebohongan yang dapat memberatkan klien."
Tubuh wanita itu seketika lemas kala mengetahui nasib rumah tangga Arumi berada di ujung tanduk. Rumah tangga yang tampak harmonis, jarang sekali terdengar pertengkaran kini akan berakhir dengan kata cerai. Sungguh ironi sekali. Padahal Mahesa dan Arumi begitu serasi, membuat siapa saja merasa iri.
"Aku memang sudah menaruh curiga saat pertama bertemu lagi dengan wanita itu beberapa waktu lalu. Raut wajahnya menunjukan kesedihan dan kegelisahan," jelas Rini. "Aku berusaha mengorek informasi darinya tetapi hasilnya nihil. Ia menyembunyikan permasalahan yang sedang dialami olehnya."
"Kamu benar. Saat mendengar cerita darimu, aku langsung curiga. Nampaknya ada hal yang tak beres dalam rumah tangga iparku itu." Rio cukup setuju dengan penuturan istrinya itu.
"Kini dugaan kita berdua benar, kapal yang dinahkodai Mahesa sedang mengalami gelombang besar yang telah menggulingkan pria itu dan juga Arumi." Hembusan napas kasar terdengar dari rongga hidung Rio. "Besok, aku akan menemui Mahesa dan memberikan surat gugatan cerai padanya."
"Tunggu!" sergah Rini. "Kalau aku boleh tahu, alasan Arumi mengajukan cerai apa, Mas? Apakah karena ...." Wanita itu tidak berani melanjutkan perkataanya. Lidah terasa kelu tak mampu berucap.
Sejujurnya, ia memiliki sebuah firasat yang mengatakan bahwa suami dari sahabatnya itu telah bermain api di belakang Arumi. Namun, secepatnya ia enyahkan pikiran negatif itu. Selama belum ada kepastian, wanita itu tak mau menduga-duga.
Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Rio malah meraih cangkir kopi yang dibuatkan khusus untuknya. Ia menyeruput pelan sambil melirik ke arah Rini.
Setelah dirasa tenggorokannya tak kering lagi, pria itu berkata, "Karena kasus perselingkuhan. Iparku yang brengsek itu selingkuh dengan Kayla!"
"Kamu terkejut 'kan?" lirih Rio. Pria itu yakin saat ini Rini masih belum percaya dengan perkataannya.
"B-benar ... a-aku tidak percaya dengan kenyataan ini, Mas. Kayla tidak mungkin menusuk Arumi dari belakang."
"Kami bertiga dibesarkan di panti asuhan sejak kecil. Aku dan Arumi melindungi Kayla dari kenakalan anak seusia kami. Arumi menjadikan tubuhnya sebagai perisai dan ia rela memberikan sebagian hadiah yang diberikan oleh para donatur atas prestasi yang didapatkannya."
"Kayla menganggap aku dan Arumi seperti Kakaknya sendiri. Jadi, tidak mungkin gadis itu tega merusak rumah tangga saudaranya sendiri."
Terdengar desa*an napas keras dari pria tampan yang masih memiliki darah Arab. Ia beranjak dari kursi lalu duduk di sebelah Rini.
"Seandainya Arumi tidak menceritakan padaku tentang perbuatan maksiat yang Kayla dan Mahesa lakukan, mungkin aku pun tidak langsung percaya bahwa Adik kecil kalian itu nekad merampas sesuatu yang bukan miliknya."
__ADS_1
Tangan kokoh itu membawa tubuh Rini dalam pelukan. Memberikan usapan lembut dan mencium puncak kepala istrinya dengan penuh cinta. "Saat ini Arumi sedang berada di fase paling rendah dalam hidupnya. Kamu, sebagai seorang sahabat harus memberikan dukungan pada wanita itu. Hibur dan bantulah dia agar secepatnya melupakan pengkhianatan yang dilakukan oleh suami dan sahabatnya sendiri."
Rini mengangguk. Ia semakin mengeratkan pelukan di dada bidang Rio, lalu berucap, "Terima kasih karena kamu mau membantu sahabatku agar bisa lepas dari neraka yang diciptakan oleh si Brengsek itu."
Diusapnya puncak kepala Rini. "Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang pengacara, membantu orang yang kesusahan dan membutuhkan bantuan."
Kemudian, sepasang suami istri itu larut dalam suasana. Menghabiskan waktu bersama hingga fajar menyingsing.
TBC
.
.
.
Halo semua. Otor Remahan ini mau promosi karya milik temen nih.
Judul : Gadis Scorpio
Nama Pena : AnindaRa
Blurb : "Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.
"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.
Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.
"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.
"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.
__ADS_1
Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.