
Seorang perawat berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang kamar kelas 1 di bangsal Bougenville. Ia menghentikan langkah kala melihat Rayyan sedang memeriksa salah satu dari pasien yang terbaring lemah di kamar tersebut.
"Coba Bapak tarik napas dalam, lalu embuskan secara perlahan." Benda bulat terbuat dari logam menempel di dada pasien. Rayyan tengah melakukan tugasnya sebagai dokter yang saat itu sedang berjaga.
"Jika melihat dari luka bekas jahitan serta tanda-tanda vital Bapak, tampaknya dalam waktu dua hingga tiga hari ke depan sudah boleh pulang," tutur Rayyan. "Obat yang diberikan jangan lupa diminum."
"Baik, Dokter. Terima kasih," ucap pasien dan keluarga pasien tulus.
Di ambang pintu, Rayyan menatap tajam ke arah perawat yang tadi berjalan tergopoh-gopoh. Tatapan tajam itu mampu membuat nyali perawat berseragam putih itu menciut seketika.
"Ada apa?" tanya Rayyan dingin tanpa menoleh ke arah perawat itu. Ia memeriksa catatan medis pasien yang harus dikunjungi olehnya siang ini.
Dengan gugup perawat itu berkata, "Dokter, ada operasi mendadak. Korban kecelakaan siang ini. Seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun," tuturnya. "Saat dibawa ke rumah sakit, diketahui ia tengah berbadan dua. Usia kandungan sekitar dua bulan."
Rayyan menghela napas dalam seraya menyerahkan beberapa lembar map berisi catatan medis pasien. Untung saja saat itu ia telah selesai menjalankan tugasnya sebagai dokter jaga. Sehingga memiliki waktu luang untuk melakukan tindakan operasi.
"Baiklah, kamu segera siapkan ruang operasi. Aku akan bersiap dalam beberapa menit ke depan." Tanpa menunggu jawaban dari perawat itu, Rayyan melangkah dengan gagah berani menuju ruangannya.
Saat tiba di ruangan, ia menyempatkan diri menghubungi seseorang. Seperti biasa, pria itu akan minta jatah pada sang kekasih untuk memberikan ciuman penuh cinta lewat virtual. Meskipun baru beberapa menit pria itu mendapatkan ciuman dari Arumi tetapi tetap saja terasa kurang. Baginya kecupan hangat yang menyentuh pipinya terasa memabukkan dan seolah memberikan penyemangat tersendiri dalam melakukan aktivitas.
Rayyan merogoh ponsel dari saku celana, lalu menghubungi nomor seseorang. Tak lama berselang, suara merdu seorang wanita terdengar di seberang sana.
"Halo, Babe!" ucap Rayyan saat mendengar Arumi menjawab panggilan. "Kamu sudah sampai mana?"
Di seberang sana Arumi memutar bola mata dengan malas. Pasalnya baru lima menit berlalu, kekasihnya itu sudah menelepon. Sedangkan Rayyan tahu jika jarak antara rumah sakit dengan kediaman Nyimas cukup jauh memakan waktu sekitar tiga puluh menit via tol atau berjarak sekitar kurang lebih 21 km.
__ADS_1
"Babe? Apakah kamu masih ada di sana?" tanya Rayyan untuk memastikan bahwa sambungan telepon masih berlangsung.
"Aku masih di jalan. Jalanan di depan sana macet akibat kecelakaan. Jadi, mau tidak mau semua kendaraan yang melintas harus mengurangi kecepatan," papar Arumi. Wanita itu mengarahkan pandangan keluar jendela. Terlihat beberapa polisi tengah bersiaga di posisi masing-masing. Sebagian menertibkan pengguna kendaraan agar lebih berhati-hati saat melintas dan sebagian lagi memeriksa kendaraan korban kecelakaan lalu lintas.
Saat kendaraan Arumi melintasi mobil korban kecelakaan, wajahnya seketika memucat. Mobil Alphard berwarna silver dengan sticker tokoh kartun 'One Piece' teronggok begitu saja di bahu jalan.
Walau kini status Arumi bukan lagi istri dari seorang Mahesa Putra Adiguna tetapi ia tahu betul jikalau kendaraan itu adalah milik mantan suaminya sebab mobil itu dibeli bertepatan dengan hari anniversary mereka yang keempat. Sticker One Piece sengaja ditempel oleh Arumi, karena tokoh kartun itu adalah tokoh kartun kesukaan mereka berdua. Ia ingin agar Luffy dan kawan-kawan menjadi saksi petualangan cinta kedua insan tersebut sampai maut memisahkan.
"Bukankah itu mobil milik Mas Mahes?" gumam Arumi. Untuk memastikan jika dugaannya benar, ia menatap dalam kendaraan berwarna silver itu. "Ya, itu memang benar mobil milik Mas Mahes. Jadi, korban kecelakaan tadi adalah Kayla dan mantan suamiku?"
Degup jantung wanita itu memompa semakin kencang. Butiran peluh sebesar biji jagung meluncur dari kening dan terjatuh ke pelipisnya. Kendatipun hati wanita itu sakit akibat luka yang ditorehkan oleh dua insan manusia berhati iblis tetapi nalurinya sebagai seorang manusia masih berfungsi dengan baik. Di saat mereka tertimpa musibah bukan berarti Arumi harus bahagia 'kan? Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh wanita cantik kelahiran dua puluh tujuh tahun silam.
Burhan yang saat itu memperlambat laju kendaraan, tanpa sengaja melirik ke arah mobil tersebut. Reaksi pria itu pun sama terkejutnya dengan sang majikan.
Air muka wanita itu menegang, tampak jelas di wajah cantik nan rupawan jika ia mencemaskan nasib sepasang suami istri itu.
"Benar, Pak. Itu adalah mobil Mas Mahes," ucap Arumi lirih dengan bibir gemetar.
Di seberang sana, Rayyan mendengar jelas bagaimana nada suara Arumi kala mengucapkan nama mantan suaminya. Timbul rasa cemburu di dalam dada. Meskipun pria itu berusaha memberikan perhatian, cinta yang tulus akan tetapi seperti tak mampu menyingkirkan si berengsek itu dari hati dan pikiran Arumi.
Wajah Rayyan memerah akibat menahan emosi. Tangan mengepal hingga urat-urat halus menonjol keluar. Rahang mengeras dan deru napas mulai tak beraturan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rayyan mematikan sambungan telepon. Ia tak sanggup lagi jika harus mendengarkan bibir ranum milik kekasihnya itu selalu mengucapkan nama mantan suaminya.
"Rupanya kamu belum juga bisa menggantikan nama Mahesa di hatimu, Rumi." Rayyan sedikit kecewa dengan sikap kekasihnya itu. "Padahal, aku sudah memberikan cinta tulus padamu. Entah sampai kapan kamu akan tetap memikirkan pria itu." Pria itu melirik ke arah jam weker digital yang ada di atas meja kerja miliknya. Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore.
__ADS_1
Rayyan menghela napas dalam berusaha untuk mengendalikan hati dan pikirannya yang kacau. Pria itu mulai bangkit dari kursi kebesarannya, lalu melangkah keluar ruangan. Meski percikan api cemburu telah menguasai tubuhnya tetapi ia harus tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Apa pun yang terjadi, keselamatan dan kesehatan pasien adalah prioritas utama.
Sementara itu, sesaat setelah Rayyan mematikan sambungan telepon, sebenarnya Arumi belum menyelesaikan kalimatnya. Perkataan wanita itu menggantung di udara.
"Namun, saya sudah tak peduli lagi terhadap Pria itu sebab bagi saya dia hanyalah masa lalu. Sebuah kisah yang harus dikubur dalam-dalam agar saya bisa melangkah maju menuju masa depan," timpal Arumi.
"Kecelakaan itu, mungkin saja teguran keras dari Tuhan atas perbuatan yang pernah dia lakukan terhadap saya, Pak. Mungkin Tuhan tidak rela bila orang-orang jahat seperti Mas Mahes dan keluarganya hidup tenang di bumi ini. Oleh sebab itu, Dia memberikan teguran pada mereka agar segera tersadar akan kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu," punkas Arumi. Wanita itu membenarkan posisi duduk, kemudian menatap lurus ke depan. Menepis semua keraguan yang sempat hinggap dalam diri.
'Kamu harus kuat. Tidak boleh goyah. Ingat, mereka semua terlalu rendah untuk mendapatkan simpati dan empati darimu, Rumi.' Arumi bermonolog.
Tiba-tiba sebuah kesadaran menghantam kepala Arumi. Ia teringat jika saat ini tengah melakukan panggilan telepon bersama Rayyan.
"Halo, Ray. Apakah kamu masih mendengarku?" seru Arumi. "Ray ...." Akan tetapi, pria di seberang sana tak merespon seruan wanita itu.
Arumi menjauhkan telepon genggam miliknya, lalu menatap layar gawai tersebut. Ia menelan saliva susah payah setelah menyadari panggilan telepon itu telah terputus.
"Rayyan pasti mendengar semua percakapanku dengan Pak Burhan. Pria itu pasti beranggapan kalau di hatiku masih ada nama Mas Mahes. Padahal, tanpa ia ketahui di dalam hatiku ini sudah mulai tumbuh benih cinta yang ditaburkan olehnya."
TBC
.
.
.
__ADS_1