
Pintu ruang rawat inap Kayla terbuka, Mona masuk ke dalam ruang perawatan ditemani seorang perawat berseragam putih. Asisten Kayla dan perawat itu berjalan mendekati ranjang disusul seorang pria tampan melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu begitu memukau dalam balutan snelli atau lebih dikenal dengan jas dokter dengan stetoskop melingkar di leher. Sikap pria itu begitu dingin, tidak ada senyuman sama sekali terlukis di wajah.
"Selamat pagi, Ibu Kayla," sapa perawat itu ramah. Tak lupa ia menyunggingkan seulas senyum di wajah.
Kayla yang saat itu sedang tertidur akibat terlalu lelah menangis secara perlahan membuka mata. Ketika bola mata wanita itu terbuka sempurna, ia segera memicingkan mata tajam ke arah pria yang berdiri di hadapannya.
"Mau apa kamu ke sini?" sembur Kayla. Ia menghunuskan tatapan tajam kepada pria itu. Sorot mata penuh kebencian terlukis di bola matanya. "Siapa yang memberikan izin padamu masuk ke ruangan ini?"
Refleks, Mona dan perawat itu menatap Kayla dan dokter tampan secara bergantian. Kening kedua wanita itu mengerut tanda bingung. Ingin rasanya Mona bertanya langsung pada Kayla apa yang sebenarnya terjadi tetapi melihat situasi tak menungkinkan membuat wanita itu mengurungkan niatnya.
Dokter tampan yang diketahui bernama Rayyan mencoba bersikap profesional meski di dalam hati ingin rasanya ia membalaskan dendam Arumi tetapi pria itu sadar bahwa saat ini Kayla adalah pasiennya.
Pria itu menghela napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Ia menggunakan teknik tersebut untuk mengurai emosi di dalam dada.
Setelah dapat mengendalikan emosi, Rayyan berkata, "Saya adalah Dokter Rayyan yang bertanggung jawab selama Ibu berada di rumah sakit. Jadi, jika Ibu memiliki pertanyaan apa pun bisa langsung menghubungi saya."
Mendengar Rayyan yang menjadi dokter penanggung jawab selama dirawat di rumah sakit membuat Kayla mencebikan bibir. Ia menatap sinis ke arah pria itu.
"Aku tidak sudi disentuh oleh pria sepertimu!" pekik Kayla. "Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum aku laporkan pada kepala rumah sakit. Cepat pergi!" hardik wanita itu.
Melihat Kayla semakin emosi, Mona tak tega. Akhirnya ia mencoba menenangkan temannya itu. Ia kembali memeluk Kayla dan mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut.
"Sudah hentikan! Jangan habiskan energi untuk hal sia-sia." Mona mengelus rambut panjang hitam tergerai milik Kayla. "Dokter Rayyan adalah dokter terbaik di bangsal ini. Pengalaman serta wawasan yang dimilikinya lebih unggul dari siapa pun. Kamu akan rugi jika meminta dokter lain untuk menanganimu."
"Aku tidak tahu ada masalah apa antara kamu dan Dokter Rayyan tetapi aku mohon untuk sementara waktu kesampingkan dulu egomu selama berada di rumah sakit. Kamu butuh perawatan dokter dan kurasa, dia adalah dokter yang tepat untuk merawatmu," bisik Mona di telinga Kayla.
__ADS_1
"Tapi, Mon. Aku--" Sebelum Kayla menyelesaikan ucapannya suara berat Rayyan menginterupsi wanita itu.
"Jika Bu Kayla memang tidak mau ditangani oleh saya, silakan cari dokter lain. Saya tidak keberatan." Pria itu membalikan tubuh dan melangkah keluar ruangan.
"Dokter, tunggu!" sergah Mona cepat kala melihat Rayyan hampir mendekati pintu ruangan. "Tolong jangan pergi sebelum Dokter Rayyan melakukan pemeriksaan terhadap teman saya ini."
Kayla menepis tangan Mona yang ada di kepalanya. "Sudah kukatakan, aku tidak mau dirawat oleh pria itu!" Namun, Mona bersikeras agar Rayyan tetap merawat Kayla.
Terjadilah drama di antara dua wanita itu hingga membuat kepala Rayyan terasa pening. Ia memijat pelipis seraya memejamkan mata.
Tak ingin terlalu lama berada di ruangan tersebut dan membuat pasien lain menunggu untuk diperiksa, akhirnya Rayyan bersuara. "Akan saya carikan dokter lain untuk memeriksa Bu Kayla. Selamat pagi." Tanpa menunggu respon dari kedua wanita itu, ia melangkah keluar meninggalkan ruang rawat inap tersebut.
Setelah Rayyan keluar ruangan, Mona duduk di sisi ranjang. Ia menatap penuh selidik ke arah Kayla. Kedua tangan melipat ke dada. "Katakan padaku, kenapa kamu menolak Dokter tampan itu? Memangnya ada masalah apa antara kamu dan dia?"
"Karena aku tidak mau dirawat oleh pria yang tangannya pernah menyentuh tubuh si Mandul! Bisa terkena sial kalau sampai itu terjadi," ujar Kayla tanpa ada hal yang ditutupi.
Kayla memutar bola matanya dengan kesal. "Pria itu adalah kekasih gelap mantan istri pertama suamiku," tutur Kayla. "Aku yakin, dia sering menyentuh wanita itu. Oleh karena itu, aku tak sudi jika tangan yang digunakan untuk menyentuh wanita murahan itu mengenai tubuhku. Yang ada bisa gatal seluruh kulitku ini."
Bola mata Mona terbelalak sempurna. Mulut wanita itu bungkam seketika. Oh astaga, jadi itu alasannya mengapa Kayla bersikeras menolak pria itu menjadi dokter penanggung jawab. Begitu pikir Mona.
"Aku ngantuk. Ingin tidur lagi. Kamu, minta dokter pengganti untuk mengobatiku. Dokter siapa pun boleh asalkan jangan pria itu dan si Mandul," pesan Kayla sebelum ia menarik selimut dan memejamkan mata.
'Sungguh kekanak-kanakan sekali,' batin Mona.
Sementara itu, di rumah Nyimas, Arumi tengah membantu sang mama mengiris buah-buahan untuk dijadikan jus. Selama cuti, ia memanfaatkan waktu untuk beristirahat dan berbincang hangat bersama mama tercinta. Ia ingin mengganti waktu yang terbuang akibat terlalu sibuk bekerja dan mengabdikan diri pada suami durjana seperti Mahesa.
__ADS_1
"Ma, hari ini jadi pergi kontrol ke rumah sakit?" tanya Arumi disela-sela kegiatannya mengupas kulit buah mangga. Pagi itu, entah mengapa ia ingin sekali meminum jus mangga yang banyak mengandung vitamin dibanding buah-buahan lain.
Nyimas yang bertugas untuk mencuci buahan di bawah air mengalir langsung menyahut pertanyaan Arumi. "Jadi dong, Sayang. Mama 'kan sudah buat janji dengan dokter kalau batal Mama yang tidak enak hati. Kenapa? Kamu ingin mengantar Mama ke rumah sakit?"
Arumi sudah membuka mulut tetapi sekelebat wajah Rayyan hadir dalam benak wanita itu. Akhirnya ia mengatupkan kembali mulutnya. Akan tetapi, hati kecilnya ingin sekali pergi ke rumah sakit itu bersama sang mama.
"Kenapa diam saja?" tanya Nyimas. Ia mengeluarkan blander dari dalam rak piring, lalu meletakkannya di atas meja. Memasukan semua buah ke dalam wadah. "Kalau mau ikut, Mama tidak masalah. Malah Mama senang karena ada teman selama di perjalanan."
"Mumpung kamu sedang cuti, kapan lagi ada waktu menemani Mama berobat. Kalau Mama sudah tidak ada di dunia ini, kamu pasti akan sangat merindukan saat-saat kebersamaan kita berdua."
Ucapan Nyimas membuat Arumi menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu. Ia sangat membenci saat Nyimas membahas soal perpisahan dan kematian. Meskipun kematian itu pasti terjadi pada makhluk yang bernyawa di dunia ini tetapi ia tetap tidak suka jika Nyimas mengatakan kata-kata itu.
Sadar jika perkataannya telah memancing emosi Arumi, Nyimas mencoba tersenyum hangat ke arah putri tercinta. "Yang Mama katakan benar 'kan? Di dunia ini setiap makhluk yang bernyawa pasti akan meninggal. Tidak ada yang abadi. Begitu pun dengan Mama. Mama tidak akan selamanya tinggal di dunia ini."
"Akan ada masanya di mana Mama akan meninggalkan dunia fana ini untuk selama-lamanya," ucap Nyimas santai tanpa memedulikan tatapan tajam menusuk bak sebilah pisau. "Oleh karena itu, selagi Mama masih diberikan umur panjang alangkah baiknya kamu temani Mama check up. Siapa tahu setelah Mama pulang dari rumah sakit, Allah malah mencabut nyawa Mama dan kamu tidak memiliki kesempatan untuk bermanja ria di dekat Mama," kekeh Nyimas ringan.
Arumi meletakkan pisau yang ada dalam genggaman ke dalam laci lalu menutupnya dengan kencang hingga menimbulkan suara. Wanita itu mendengus dan menatap Nyimas dengan tidak senang.
"Ma ... kenapa sih Mama selalu membahas soal yang sama? Aku 'kan sudah pernah bilang kalau Mama itu akan sembuh. Tapi kenapa Mama malah membahas soal kematian terus," protes Arumi dengan mata berkaca-kaca.
"Mama 'kan tahu, kalau Arumi itu tidak suka jika Mama membicarakan soal kematian. Arumi takut Ma tinggal sendirian di dunia ini." Bibir dan tubuh wanita itu mulai gemetar. "Bagaimana kehidupan Arumi setelah Mama tiada? Siapa yang akan menjaga Rumi kalau Mama meninggal? Arumi tidak mau hidup sebatang kara lagi di bumi ini."
Air mata Arumi mulai mengalir deras. Pembahasan kematian akan menjadi topik sensitif di rumah itu.
Dari pantulan kaca di rak piring, Nyimas dapat melihat jelas jika wajah Arumi telah dibanjiri oleh air mata. Sejujurnya ia pun berat jika harus meninggalkan Arumi seorang diri. Namun, bukankah ia harus siap dengan suratan takdir yang digariskan oleh Tuhan?
__ADS_1
...Bersambung...