
Sebuah mobil mewah telah berhenti di seberang jalan sebuah gedung apartemen mewah di kawasan pusat ibu kota. Tampak seorang pria hampir mendekati usia kepala lima memandang lurus ke arah bangunan pencakar langit tersebut. Ia kembali mencocokan lokasi yang di-share oleh orang kepercayaannya.
Unit apartemen itu terkenal memiliki harga fantastik dan lokasinya pun cukup stategis karena tak jauh dari fasilitas umum. Seperti, mall, drug store, minimarket, rumah sakit, dan taman kota yang selalu ramai di akhir pekan.
"Rupanya pengganti anakku adalah sosok pria baik dan sangat mencintai mantan menantuku. Buktinya dia rela mengeluarkan uang banyak demi memberikan mahar besar meski tahu jika wanita yang dinikahinya itu adalah seorang janda." Menarik napas dalam, kala memori ingatan di masa lalu kembali terekam. Dadanya terasa sakit mengingat dulu awal pernikahan anak kesayangannya dengan wanita itu.
Dulu, saat Mahesa menikahi Arumi, putra tunggal pasangan Putra dan Naila hanya memberikan mahar sederhana berupa cincin emas sebesar 20 gram, dan seperangkat alat sholat. Tidak ada sesuatu yang mewah karena pernikahan sepasang insan manusia itu sejatinya tak pernah direstui oleh nyonya besar Putra Adiguna.
Yeah, benar sekali. Naila sama sekali tidak setuju apabila Mahesa menikahi Arumi. Akan tetapi, ibu kandung dari pria yang kini terbaring di rumah sakit terpaksa merestui sang anak karena putra kesayangannya itu mengancam akan pergi dari rumah apabila tak diizinkan menikahi wanita pujaan hatinya.
Lama sudah mobil itu berhenti di seberang jalan masuk bangunan apartemen mewah yang tinggali oleh Arumi, hingga seorang security mendekati kendaraan roda empat tersebut.
"Maaf, Pak. Ada keperluan apa ya sejak tadi pandangan mata Bapak mengarah terus ke arah bangunan apartemen itu?" tanya seorang pria berseragam keamanan pada sopir pribadi Putra. Sejak tadi memperhatikan gerak gerik mencurigakan dari dalam mobil.
Melihat security apartemen tempat Arumi tinggal datang menghampiri, Putra menurunkan kaca mobil dan berkata. "Saya sedang memastikan saja apakah benar bangunan menjulang tinggi ke angkasa di depan sana adalah tempat tinggal keponakan saya, sebab semenjak dia menikah belum pernah datang berkunjung." Ayah dari satu orang anak itu terpaksa berbohong. Jika tidak, dia khawatir security itu mempersulit dirinya bertemu dengan mantan menantunya padahal dia berniat meminta bantuan Arumi agar bersedia membesuk Mahesa di rumah sakit.
Security itu memicingkan mata, memperhatikan penampilan Putra dengan tatapan penuh selidik.
"Memangnya, di lantai berapa keponakan Bapak tinggal?" Kembali memastikan bahwa Putra bukanlah orang jahat yang berniat melakukan tindakan kejahatan pada penghuni apartemen tempatnya bekerja.
Putra menjawab dengan tegas. "Lantai 8, Pak."
Akan tetapi, security itu tidak langsung percaya begitu saja. Dia masih mencurigai sosok pria yang duduk di kursi belakang. Security itu berpikir, bisa saja Putra hanya asal jawab untuk memuluskan aksinya menyakiti salah satu penghuni apartemen. Oleh sebab itu, pria bertubuh tegap itu tidak mau kecolongan dan tetap waspada dengan segala kemungkinan terjadi.
__ADS_1
Tanpa diduga, Putra mengeluarkan kartu identitas dari dalam dompet. Kemudian menyodorkannya ke hadapan security tersebut. "Ini kartu identitas saya. Bapak bisa membaca dengan teliti semua informasi yang tertera di kartu itu."
Security itu membaca identitas Putra, lalu berkata. "Silakan, kalau Bapak memang mau masuk ke dalam. Namun, jangan parkir terlalu lama di area sekitar sini. Saya hanya tidak mau para penghuni apartemen merasa terganggu dengan terparkirnya kendaraan Bapak di sini." Dia menyerahkan kembali kartu identitas milik Putra kepada sang empunya.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya akan langsung masuk ke dalam." Setelah itu, Putra meminta sopir pribadinya melajukan kendaraan roda empat miliknya masuk ke pekarangan apartemen mewah yang ditinggali Arumi."
***
Maka, di sinilah Putra berada. Di hadapan mantan menantunya yang dulu pernah dia sakiti. Pria itu berdiri seraya menatap nanar ke arah Arumi, sosok menantu yang kehadirannya tidak pernah diharapkan di keluarga Adiguna.
"Halo, Arumi. Apa kabar?" tanya Putra dengan suara tercekat. Dia memaksakan tersenyum ke arah mantan menantunya itu. Meskipun terlihat gugup, namun dia mencoba bersikap biasa saja di hadapan sosok wanita cantik yang dulu pernah menjadi bagian dari keluarga Adiguna.
Masih terlihat jelas rona keterkejutan di wajah Arumi kala sosok mantan ayah mertuanya berdiri di ambang pintu unit apartemen miliknya. Sedari tadi, bola mata indah wanita itu terus melebar sempurna tanpa mau berkedip sedikit pun.
Tubuh Arumi oleng, nyaris saja terjatuh. Putra dengan sigap berlari, berniat memeluk tubuh mantan menantunya agar tak terjatuh. Akan tetapi, Arumi telah lebih dulu berpegangan pada daun pintu yang terbuka lebar.
Terjadi keheningan beberapa saat. Arumi sedang mengumpulkan tenaga untuk dapat berbicara dengan Putra. "Om Putra tahu dari mana aku tinggal di sini?" Suara merdu Arumi mengawali percakapan mereka pagi hari itu.
Meskipun diliputi rasa panik serta kemarahan dalam diri, wanita itu tetap bersikap hormat pada Putra karena bagaimanapun juga pria paruh baya itu dulu pernah berlapang dada menerima dirinya menjadi bagian dari keluarga Adiguna walau kehadirannya tak pernah dianggap oleh siapa pun.
"Om meminta salah satu orang kepercayaan untuk menyelidiki tempat tinggalmu saat ini, Rumi. Om tahu, sangat tidak sopan meminta orang lain untuk menjadi penguntit. Namun, Om terpaksa melakukan ini semua karena ada hal penting yang dibahas berdua denganmu," ujar Putra menceritakan semuanya secara detail pada Arumi. "Bisakah kita bicara di dalam secara empat mata?"
Detik berikutnya, raut wajah Arumi berubah merah menahan amarah. Tatapan tajam berselimut emosi yang membara. Dia tak habis pikir, mengapa keluarga Adiguna kembali mengusik hidupnya, sementara dirinya sedang berusaha berdamai dengan masa lalum Berusaha melupakan dan mengobati rasa sakit hati atas pengkhianatan suami, sahabat serta kedua mertuanya.
__ADS_1
Arumi tersenyum sinis. "Urusan penting apa, Om? Bukankah di antara aku dan keluarga Adiguna sudah tidak memiliki hubungan apa pun semenjak hakim mengetuk palu dan menyatakan bahwa rumah tangga aku dan Mas Mahes telah usai. Lantas, kenapa sekarang Om datang dan ingin bertemu denganku."
"Om tahu, di antara kita berdua sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi selain sebatas mantan mertua dan mantan menantu. Namun, antara Mahesa dan kamu masih ada ikatan kuat yang memaksa Om untuk datang ke sini. Om mohon, izinkan sekali ini saja kita berbicara empat mata di dalam apartemenmu."
Sorot mata penuh pengharapan terlukis jelas di bola mata pria itu. Memohon dengan tulus agar Arumi bersedia memberikan sedikit waktu kepadanya untuk mengutarakan tujuannya datang ke tempat itu.
Arumi mengembuskan napas kasar. Walaupun hati sakit apabila teringat kejadian di masa lalu, tapi melihat seorang pria paruh baya memohon tulus kepadanya, tentu saja dia tidak tega menolaknya. Pada akhirnya dia luluh dan memberikan izin kepada Putra untuk masuk ke dalam apartemen.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan kesempatan pada Om untuk menjelaskan hal penting apa yang ingin disampaikan padaku. Tapi maaf, aku hanya punya waktu lima belas menit saja karena saat ini tubuhku sedang dalam keadaan kurang sehat."
Pendar bahagia menghiasi manik coklat milik Putra. Rona kebahagiaan terlukis jelas di wajah.
Dengan antusias Putra menjawab. "Tidak masalah. Om akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya." Setelah mengatakan itu, Arumi mempersilakan Putra masuk ke dalam apartemen.
Baru beberapa langkah mantan mertua Arumi mengayunkan kakinya ke dalam hunian mewah yang didominasi warna pastel, suara berat seseorang menghentikan langkah pria paruh baya itu.
"Siapa yang mengizinkan Anda masuk ke dalam istanaku?" seru Rayyan dengan nada tinggi dan penuh kemarahan.
Arumi kembali terdiam ketika melihat suaminya berdiri di ambang pintu yang nyaris tertutup rapat.
.
.
__ADS_1
.