
[Mas, aku sudah selesai. Kamu bisa langsung ke sini?]
Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Arumi kepada Rayyan. Selama hampir satu jam berada dalam ruang kelas, akhirnya ia telah menyelesaikan berbagai pose saat melakukan gerakan yoga. Di saat mengalami kram pada bagian perut, ia akan segera menghentikan gerakannya dan memilih untuk beristirahat.
[Oke. Kamu tunggu di sana. Aku segera datang!]
Sebuah pesan masuk, dan membuat Arumi segera membuka kunci telepon genggam miliknya. Sudut bibir tertarik ke atas, kala melihat nama si pengirim.
Mengusap perutnya yang semakin membesar sambil bergumam, "Lihatlah, Nak. Ayah kalian memang suami dan ayah idaman. Bunda bersyukur dijodohkan dengan ayah kalian." Lalu, Arumi duduk di kursi panjang terbuat dari kayu. Membuka catatan di telepon genggam miliknya, melihat-lihat kembali list nama bayi yang kelak ia dan suami berikan kepada ketiga buah cintanya.
Sementara Rayyan, segera bangkit dari kursi. Pria tampan itu bergegas melangkah menuju kasir. Beruntungnya saat itu kasir yang bertugas adalah seorang lelaki sehingga ia tak perlu memakai penghalang agar tak bersentuhan dengan lawan jenis.
"Ini kembaliannya, Pak." Kasir itu mengembalikan uang yang Rayyan berikan.
"Tidak usah, ambil saja kembaliannya untukmu," ucap Rayyan dengan mode muka datar tanpa ekspresi.
Kasir itu tersenyum lebar kala Rayyan mengikhlaskan uang kembalian miliknya berjumlah dua puluh ribuan-an. Bagi sebagian orang uang lembaran berwarna hijau dengan gambar pahlawan di bagian depan mungkin tak berarti apa-apa, tetapi bagi orang-orang tertentu bagaikan mendapatkan oase di sebuah padang tandus yang gersang. Jadi tak heran jikalau kasir itu tersenyum lebar karena mendapatkan tips dari salah satu customer-nya.
"Terima kasih banyak, Pak."
Rayyan melangkahkan kaki menuju gedung berlantai dua yang selama beberapa bulan ini menjadi tempat favorit bagi Arumi menghabiskan waktu senggangnya di kala break dari rutinitas di rumah sakit. Biasanya ia akan menunggu bersama Rio, namun hari ini sahabat sejatinya itu tak dapat hadir karena sejak semalam Rini tengah mengeluh jikalau perutnya terasa mulas. Oleh karena itu, sang pengacara yang dulu turut andil membantu Arumi berpisah dari Mahesa bergegas membawa istrinya ke rumah sakit.
Kedua sudut Rayyan terangkat ke atas hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi ketika melihat Arumi tengah duduk manis di atas kursi sambil mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
"Istrinya siapa sih kok bisa cantik sekali," gumam Rayyan. Memuji kecantikan alami istrinya tercinta.
Di saat Rayyan tengah menatap Arumi, di waktu bersamaan wanita itu pun mendongakan kepala lalu membalas tatapan sang suami. Kedua netra saling beradu pandang, kemudian tersenyum manis hingga membuat siapa saja akan merasa isi melihat keromantisan pasangan suami istri itu.
"Pulang dari sini, kamu mau aku antarkan ke mana? Selagi aku libur, jadi bisa jalan-jalan." Ikut duduk di sebelah Arumi, seraya menyelipkan anak rambut di daun telinga. Mengusap lembut wajah wanita itu menggunakan punggung jari telunjuk.
Arumi hanya tersenyum mendapat perlakuan istimewa dari suaminya. Rayyan memang sering menanyakan pertanyaan yang sama setiap kali berada di luar apartemen. Mungkin pria itu tahu jikalau sang istri sering merasa bosan apabila tinggal sendirian di apartemen sedangkan wanita itu bukan merupakan tipe wanita yang betah berlama-lama di dalam rumah tanpa melakukan aktivitas apa pun.
"Kita pergi ke taman di dekat apartemen sebentar yuk. Aku ingin membeli rujak buah. Pasti enak sekali, siang-siang begini makan rujak dicocol sambal." Bola mata Arumi berbinar bahagia membayangkan irisan buah segar dicocol sambal kacang masuk ke dalam mulut. Ehm ... nyaris saja air liurnya mengalir kala membayangkan itu semua.
Rayyan terkekeh pelan mendengar permintaan Arumi. Lantas, ia bangkit dan mengulurkan tangan ke depan. "Ya sudah, ayo pergi. Sebelum air liurmu semakin deras mengalir." Arumi mencebikan bibir. Kendati begitu, ia tetap menerima uluran tangan Rayyan.
Pasangan suami istri itu berjalan bersisian menuju parkiran. Sepanjang jalan, lelaki berdarah setengah Tionghoa begitu perhatian terhadap istrinya. Tangan kekar itu terus menggenggam erat jemari mungil Arumi tanpa pernah mau melepasakannya.
Si Lolly, mobil kesayangan Rayyan telah terparkir rapi di sebuah taman yang jaraknya tak jauh dari apartemen. Begitu turun, Rayyan bergegas memapah tubuh istrinya menuju sebuah kursi kosong di dekat kolam ikan.
"Iya, bawel! Sudah sana, cepat belikan untukku. Triplet sudah tak sabar ingin ikut menyantap bersama dengan Bunda-nya."
Tanpa membuang waktu terlalu lama, Rayyan menuruti keinginan Arumi. Berjalan mendekati gerobak penjual buah yang mangkal di bawah pohon beringin.
Duduk seorang diri di tengah keramaian para pengunjung taman membuat Arumi tertarik untuk memperhatikan aktivitas mereka. Sebagian dari penunjung taman merupakan keluarga kecil dengan dua orang anak. Mereka tampak begitu bahagia karena dapat menghabiskan waktu weekend bersama keluarga. Beberapa pemuda-pemudi tengah berolahraga di lapangan yang memang sengaja disedikan untuk umum bahkan ada pula yang mojok berdua dengan kekasih.
Cuaca panas di siang hari tak membuat Arumi dan beberapa pengunjung taman merasa kepanasan, sebab area taman itu banyak ditumbuhi pepohonan rindang sehingga tidak begitu membuat mereka kegerahan. Ditambah fasilitas gazebo kecil di beberapa sudut taman membuat pengunjung itu tidak terkena panasnya terik sinar mentari.
Di saat Arumi tengah menikmati pemandangan di sekitar, tiba-tiba saja suatu hal terjadi menimpanya. Merasakan perutnya terasa sangat mulas seperti saat pertama kali mengalami siklus menstuasi. Benar-benar sakit sekali hingga suara rintihan terdengar dari bibir ranum wanita itu.
__ADS_1
"Aduh, mulas sekali!" Wajah wanita itu terlihat pucat disertai peluh sebesar biji jagung muncul di pelipis. Ia merasakan tak nyaman pada bagian perut, mulai dari bagian depan, kanan dan kiri perut hingga ke punggung. Perut terasa keras sekali dan panggul terasa seperti ditekan.
Seorang wanita setengah baya tak sengaja berjalan di depan Arumi, dan melihat dokter cantik itu meringis kesakitan segera mendekatinya. "Ibu, baik-baik saja?"
Arumi menoleh, bulir air mata seketika mengalir. "Bu, sakit!"
Sontak, wanita setengah baya itu terlihat cemas karena yakin jikalau Arumi tengah mengalami kontraksi. Ia cengikukan mencari seseorang yang dapat membantunya membawa Arumi ke rumah sakit.
Di sisi lain, Rayyan baru saja mendapatkan rujak pesanan Arumi. Alisnya saling tertaut satu sama lain melihat kerumunan orang di tempat istrinya tadi duduk. Melalui celah kecil, ia dapat melihat tubuh sang istri sedang bersandar di bahu seorang wanita.
"Arumi!" Rayyan berlari menerobos kerumunan hingga beberapa orang tampak saling mendorong memberikan jalan pada pria itu. "Babe, kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu?"
Mendengar suara lelaki yang dicintainya, Arumi kembali mendongakan kepala. "Perutku sakit, Mas." Kening wanita itu mengerut menahan rasa sakit yang semakin menjalar. Kali ini rasa sakitnya sedikit lebih lama dan teratur.
"Pak, sepertinya istri Bapak mau melahirkan," ucap wanita setengah baya yang sedari tadi berdiri di dekat Arumi. "Sebaiknya bawa ke rumah sakit saja."
Rayyan menggendong Arumi ala bridal style. Berjalan setengah berlari, melewati kerumunan orang yang berkerumun di kursi tempat istrinya duduk.
Rasa panik mulai menyelimuti Rayyan kala mendengar Arumi terus merintih kesakitan. Pria itu seperti orang kesetanan, menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya hingga tak jarang dari pengendara lain menyalakan klakson. Si Lolly dipaksa berlomba dengan kendaraan lain di tengah keramaian jalanan ibu kota.
"Aduh, Mas. Sakit!"
"Iya, Babe. Kamu tahan ya. Sebentar lagi kita sampai." Pandangan mata Rayyan tidak fokus, ia melirik berkali-kali ke arah Arumi. Memastikan sang istri dalam keadaan baik-baik saja.
.
__ADS_1
.
.