
Rayyan telah tiba di rumah sakit tempatnya bekerja. Baru saja kakinya melangkah, ia sudah berteriak histeris pada beberapa perawat yang saat itu berjaga di depan ruang IGD.
"Suster, ambilkan brankar! Istriku hendak melahirkan." Suara lengkingan itu sontak membuat beberapa perawat yang berjaga menoleh. Setelah sadar siapa gerangan yang ada di ambang pintu, mereka tunggang-langgang mencarikan brankar untuk istri dari direktur rumah sakit.
Dua orang perawat wanita segera mendorong brankar, mengantarkan Arumi menuju ruang persalinan. Satu orang perawat pria berjalan setengah berlari di samping Rayyan.
"Kamu, tolong beritahu Dokter Renata kalau istriku hendak melahirkan! Cepat!" titah Rayyan pada salah satu perawat wanita.
Setelah perawat itu pergi menemui dokter Renata di poli kandungan, perawat pria mengambil alih tugas rekan kerjanya. Sementara Rayyan, masih setia berada di samping Arumi.
"Mas, sakit sekali," keluh Arumi saat merasakan kontraksi yang luar biasa di area perut. Merasakan seluruh tubuhnya bagai dibelah menjadi dua bagian. Terasa sakit hingga membuat peluh semakin deras membanjiri bagian kening hingga lehernya.
Rayyan menggenggam erat jemari tangan Arumi seakan memberikan kekuatan pada istrinya untuk terus bertahan. "Iya, Babe. Tahan ya, Sayang. Sebentar lagi Dokter Renata datang dan kamu bisa langsung dioperasi."
"Tapi ... aku sudah tidak tahan lagi. Rasanya, sakit sekali." Di saat seperti ini Arumi kembali teringat bagaimana perjuangan ibu kandungnya yang telah meninggal dunia. Sekelebat bayangan sang mama tersenyum manis dengan sorot mata penuh kasih sayang.
"Sabar, Babe. Kamu harus kuat demi ketiga anak kita. Satu kali belokan lagi, kita akan sampai di ruang operasi. Sabar ya, Sayang." Melihat istrinya mengeluh kesakitan, tentu saja membuat Rayyan tidak tega. Ingin rasanya menyalurkan rasa sakit itu kepada dirinya agar ia merasakan juga penderitaan wanita itu.
Di ambang pintu, dokter Renata telah berdiri tegap ditemani tim medis lainnya yang siap membantu Arumi melahirkan ketiga anaknya. Dikarenakan mengandung anak kembar tiga, dokter Renata memutuskan melakukan tindakan operasi pada Arumi demi keselamatan rekan sejawatnya dan juga ketiga bayi tersebut. Apabila hanya dua bayi kembar, kondisi Arumi masih memungkinkan untuk melakukan persalinan normal, namun kasusnya berbeda dengan sekarang. Oleh karena itu, dokter Renata menyarankan untuk operasi caesar saat melahirkan nanti.
"Dokter Renata, tolong istri saya." Untuk pertama kalinya, Rayyan merasakan bagaimana rasanya berada di posisi keluarga pasien saat berhadapan dengan seseorang yang hendak menolong orang tercinta.
Perasaan pria itu campur aduk, antara cemas dan bahagia karena dalam beberapa menit ke depan akan melihat ketiga buah cintanya.
Dokter Renata tampak tenang, seakan ia tidak terprovokasi oleh situasi yang terjadi saat ini. Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah Rayyan.
"Dokter Rayyan tenang saja. Saya dan tim akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Dokter Arumi melakukan proses persalinan siang hari ini."
__ADS_1
Percakapan mereka terhenti kala seorang perawat wanita menginterupsi. "Dokter, persiapan sudah selesai. Kita bisa melakukan operasi sekarang."
Lantas, dokter Renata menatap ke arah Rayyan. "Dokter Rayyan mau masuk ke dalam, menemani Dokter Arumi menjalani persalinannya?"
Dengan cepat Rayyan menjawab. "Tidak, Dokter. Lebih baik, saya duduk saja di sini sambil menunggu orang tua Arumi. Kalau saya di dalam maka Mama Nyimas kasihan, menunggu sendirian di luar," tuturnya.
Akan tetapi, setiap kalimat yang terucap tidak sepenuhnya merupakan sebuah kebenaran.
Alasan sebenarnya mengapa Rayyan tak mau masuk ke dalam ruang operasi adalah, karena ia tidak tega melihat istri tercinta terbaring dalam keadaan dibius. Kemudian alat-alat bedah seperti pisau bedah serta aneka ragam jenis gunting secara perlahan menyayat lapisan perut istri tercinta demi mengeluarkan anak yang selama ini lelaki itu dambakan.
Jikalau biasanya ia bertindak sebagai pelaksana, tetapi kali ini dirinya hanya sebagai penonton maka itu semua dapat membuatnya lebih frustasi karena melihat rekan sejawatnya melakukan pebedahan di depan mata kepalanya sendiri. Sungguh, ia tidak sanggup. Oleh karena itu, lebih baik menunggu sambil berdo'a demi keselamatan istri dan ketiga anaknya.
Dokter Renata tersenyum hangat, sangat mengerti dengan alasan Rayyan. Walaupun tidak mengucapkan secara langsung, tetapi dapat mengerti mengapa dokter bedah hebat yang kini menjabat sebagai direktur rumah sakit enggan menemani Arumi di dalam ruang operasi.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Tolong bantu kami dengan do'a, semoga semuanya berjalan lancar."
"Nak Rayyan, bagaimana keadaan Arumi? Apakah operasinya berjalan lancar?" tanya Nyimas dengan raut wajah penuh kecemasan. Wanita paruh baya itu begitu mencemaskan permata hati yang sangat berharga di dunia ini.
Rayyan melirik sekilas ke arah ibu mertuanya, lalu menatap kosong pada pintu yang tertutup rapat. "Aku belum tahu bagaimana keadaan di dalam sana, Ma. Sudah empat puluh menit, tetapi Dokter Renata belum juga keluar ruang operasi."
Hati Nyimas ikut terenyuh kala melihat iris coklat milik menantunya memerah. Terdapat sisa bulir kristal di sudut mata, suara sengau dan ujung hidung mancung itu memerah. Tahu betul jikalau lelaki yang telah memperistri anaknya tercinta selama menunggu proses kelahiran si kecil, menangis dengan perasaan tak menentu.
Seandainya saja dapat memeluk tubuh menantunya, sudah ia lakukan sedari tadi. Namun, sayangnya penyakit aneh itu menghalangi sehingga ibu angkat Arumi tak bisa melakukannya.
"Ya sudah, sebaiknya Nak Rayyan dulu. Tenangkan pikiran kamu. Mama yakin, Arumi di dalam sana baik-baik saja. Dokter Renata dan tim pasti memberikan yang terbaik untuk Arumi," bujuk Nyimas.
Walaupun dirinya pun ikut mencemaskan Arumi, tetapi melihat Rayyan lebih cemas daripadanya, ia berusaha mengenyahkan rasa itu demi menciptakan suasana santai selama menunggu jalannya operasi.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali sih!" keluh Rayyan. Padahal baru empat puluh lima menit menunggu, tapi rasanya seperti menunggu seratus tahun lamanya. Telapak tangan dingin, sedingin es. Bibirnya terlihat pucat menahan rasa takut yang semakin lama membuatnya tidak tenang.
"Shiit! Seharusnya aku ikut saja ke dalam, memantau jalannya operasi. Kalau terjadi hal buruk, setidaknya aku dapat menolong istriku. Bodoh! Benar-benar bodoh!" makinya seraya memukul kepala karena sebagai seorang suami tak berguna. Di saat seperti ini ia malah menjadi seorang pengecut, tak berani melihat istrinya sendiri di atas meja operasi.
Nyimas yang duduk tidak jauh dari sana lantas dengan segera mendekati menantunya, lalu berkata. "Kamu perbanyak berdo'a saja, Nak. Percaya, Dokter Renata pasti mengusahakan yang terbaik buat Arumi dan ketiga anakmu."
"Tapi ... ini sudah lama sekali, Ma. Seharusnya hanya membutuhkan waktu empat puluh hingga lima puluh menit saja. Ini sudah hampir satu jam, namun Dokter Renata belum juga keluar dari ruang operasi."
Nyimas tersenyum samar, Rayyan sangat mencintai Arumi. Jadi, tidak heran jikalau hal apa pun membuat pria itu tak karuan.
"Mungkin sebentar lagi selesai. Sudah ... sudah ... sebaiknya kembali tenangkan hati dan pikiranmu. Persiapkan diri untuk menyambut kelahiran ketiga anak-anakmu."
Rayyan dan Nyimas tersentak, ketika mendengar suara tangisan pertama memecah keheningan disusul oleh tangisan kedua dan ketiga. Setelah itu, suasana kembali hening yang menandakan ketiga malaikat kecil dalam rahim Arumi telah lahir ke dunia.
"Anakku ... sudah lahir," ucap Rayyan lirih disertai air mata yang meluncur secara tiba-tiba.
Suara tangisan si triplet sukses membuat Rayyan dan Nyimas meneteskan air mata. Air mata haru bahagia. Penantian mereka selama ini akhirnya berbuah manis.
Arumi, yang merupakan anak angkat dari Nyimas dan istri dari Rayyan telah membuktikan jikalau dirinya bukan wanita mandul seperti orang lain kira. Hari ini bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November, ketiga buah cinta Arumi dan Rayyan telah lahir ke dunia lewat oeprasi caesar.
.
.
.
__ADS_1