Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Dia Layak


__ADS_3

"Jadi, maksud Dokter Rayyan, setiap kali malam minggu kalian itu sebenarnya pergi berkencan?" tanya Nyimas untuk memastikan pria yang duduk di hadapannya itu sedang tidak bercanda.


"Benar, Tante. Maafkan saya karena baru sekarang berani berkata jujur. Tapi, Tante jangan salahkan Arumi sebab saya-lah yang memaksa putri Tante untuk pergi keluar."


Nyimas sudah tak lagi mampu berkata. Semua kenyataan ini datang begitu tiba-tiba hingga membuat otaknya sulit mencerna dengan apa yang terjadi barusan.


Suasana hening seketika. Baik Rayyan, Nyimas maupun Arumi tidak ada yang bersuara. Detik berikutnya, Nyimas tampak mengembuskan napas panjang seraya memejamkan mata sejenak.


Sejujurnya, ia sudah mencium gelagat aneh dari putri tercinta. Hampir setiap malam minggu bila Arumi tidak mendapat shift malam, ia akan pergi keluar dan baru pulang ke rumah sebelum tengah malam. Akan tetapi, ia tak menyangka jika Arumi tengah menjalin kasih dengan atasannya sendiri yang tak lain merupakan anak dari pemiliki rumah sakit tempat putrinya bekerja.


Nyimas mengatur napasnya. Lalu, menatap wajah Arumi yang tertunduk sambil meremaas ujung pakaian yang dikenakan oleh sang anak. Kemudian beralih menatap Rayyan. Kedua netra saling bertemu. Lama wanita paruh baya itu memandang manik coklat milik pria itu.


Di dalam bola mata Rayyan, Nyimas tak menemukan sedikit pun keraguan dalam diri pria itu. Bahkan, ia melihat setitik ketulusan serta cinta yang begitu besar untuk Arumi.


Rayyan adalah sosok pria baik, mapan, dan sangat penyayang. Itulah kesan pertama Nyimas tatkala ia bertemu dengan pria itu pertama kali di rumah Rio saat perayaan ulang tahun Indah dan Bagus.


Namun, bukankah dulu Mahesa pun bersikap baik kala masih menjalin kasih dengan Arumi? Sangat menyayangi dan begitu tulus mencintai anak kesayangannya itu? Tapi, setelah bertahun-tahun menikah dan Arumi tak kunjung memberikan keturunan, mantan menantunya itu malah berselingkuh dengan wanita lain.


"Saya tahu, kegagalan Arumi dalam membina rumah tangga bersama Mahesa memberikan trauma dan pukulan telak bagi keluarga Tante. Namun, apakah selamanya Tante akan berada dalam bayang-bayang masa lalu? Selalu diliputi kekhawatiran seandainya Arumi mengalami kegagalan tuk kedua kali."


"Bukankah, Tante pernah berkata pada Arumi agar putri cantik yang duduk di sebelah Tante itu mengubur semua kenangan buruk di masa lalu dan kembali menatap masa depan dengan lembaran cerita yang baru! Lantas, mengapa sekarang Tante tidak membiarkan saya menjadi salah satu bagian dari cerita baru itu? Memberikan izin pada saya untuk mencintai, menyayangi serta menjaga Arumi dengan segenap jiwa dan raga ini."

__ADS_1


Rayyan terdiam beberapa saat kala Nyimas bergeming di tempat. Pria itu sadar, sangat sulit meyakinkan seseorang yang hatinya pernah tersakiti. Ia tak menyalahkan Nyimas bila wanita itu belum sepenuhnya percaya jika dirinya mampu menjadi sosok imam yang baik bagi Arumi.


"Apa yang membuat Dokter Rayyan memutuskan menjadikan putri saya yang tak sempurna ini sebagai pendamping hidupmu?" tanya Nyimas memecah keheningan. "Dokter Rayyan pasti tahu 'kan alasan dibalik keputusan Arumi bercerai dari mantan suaminya itu apa. Dia dikhianati karena tak dapat memberikan keturunan pada mantan suaminya itu, Dok," jawab Nyimas dengan bibir bergetar dan air mata yang nyaris meluncur di pelupuk matanya. Bila mengingat kejadian empat bulan lalu membuat dada Nyimas terasa sesak.


"Bagaimana bisa Dokter Rayyan menjadikan Arumi sebagai istri sementara mantan suami anak saya membuangnya hanya karena dia tidak dapat hamil." Sakit ... hati Nyimas benar-benar sakit tatkala mengucapkan kata-kata itu.


"Tentu saja bisa, karena saya mencintai Arumi. Kalaupun nanti, selamanya Arumi tak kunjung memberikan anak pada saya, saya tidak akan pernah meninggalkan putri Tante. Bagi saya, tolak ukur sebuah kebahagiaan bukan terletak pada ada atau tidak adanya buah hati dalam sebuah keluarga melainkan terletak pada setia atau tidaknya kita terhadap pasangan. Percuma saja banyak anak tapi tidak setia."


"Jika Tante berpikir saya akan meninggalkan Arumi karena dia tidak dapat memberikan keturunan pada saya, bukankah banyak jalan untuk bisa memiliki keturunan?" Rayyan menjeda sejenak kalimatnya, menarik napas panjang dan dalam. Kemudian melanjutkan lagi ucapannya. "Seperti, mengadopsi seorang bayi mungil nan menggemaskan dari sebuah panti asuhan."


"Sama seperti Tante mengadopsi Arumi dulu. Tante dan mendiang Om Zidan mengangkat wanita cantik bak Bidadari ini dari panti asuhan. Membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang hingga dia tumbuh menjadi wanita tangguh, pintar, mandi dan tentu saja cantik." Untuk kesekian kalinya Rayyan kembali menyepilkan kata-kata pujian bagi sang kekasih.


Arumi mendelik ke arah Rayyan, memberikan tatapan menyelidik. Ia tampak bingung, bagaimana pria itu bisa berubah menjadi pria ahli dalam menggoda seseorang. Apakah Rayyan belajar dari Rio? Atau mungkin pria itu secara diam-diam mendownload aplikasi novel online kemudian membacanya di kala waktu senggang? Entahlah, Arumi pun tak tahu.


Rayyan menaikan sudut bibirnya ke atas. Senyuman pria itu semakin merekah tatkala melihat air muka kekhawatiran terlukis di wajah Arumi.


"Tante boleh meminta Dokter Ari untuk membius mati saya, seandainya di kemudian hari saya berselingkuh dan meninggalkan Arumi hanya karena wanita cantik ini tak kunjung memberikan keturunan," jawab Rayyan tegas dan penuh keyakinan.


"Ray. Jangan aneh-aneh deh!" sergah Arumi cepat. Ia tak mau kalau Rayyan melakukan hal konyol demi mendapatkan restu Nyimas.


Rayyan menoleh ke arah Arumi hingga mempertemukan tatapan mereka. "Aku bersedia melakukan apa pun demi mendapatkanmu, sekalipun harus mengorbankan nyawa, aku ikhlas."

__ADS_1


"Kamu--" Kalimat Arumi terjeda kala suara lembut Nyimas menginterupsinya.


"Itu saja tidak cukup bagi saya untuk dapat meyakinkan diri jikalau Dokter Rayyan adalah pria baik yang cocok menjadi suami Arumi." Nyimas kembali menanyakan kembali apa yang mengganjal dalam hatinya.


Dengan santai pria itu menjawab. "Saya akan menyerahkan seluruh aset kekayaan atas nama Arumi. Putri Tante bebas menggunakan seluruh kekayaan yang dimiliki oleh saya. Meskipun saya hanya seorang dokter tapi tabungan saya selama bekerja di Jepang cukup membeli satu unit rumah mewah di pusat kota, satu unit mobil Alpard edisi terbaru."


Arumi menatap cengo pada sosok pria tampan di hadapannya. Tak menyangka bila Rayyan nekad menyerahkan seluruh harta kekayaan yang ia miliki agar dapat mempersuntingnya. Sungguh benar-benar gila.


"Namun, saya tidak tertarik dengan seluruh kekayaan yang Dokter miliki."


Kerutan halus terlukis di kening Rayyan, pria itu memincingkan mata menatap Nyimas. "Lantas, Tante Nyimas tertarik dengan apa? Katakan pada saya maka saya akan berusaha mewujudkannya."


"Bagaimana kalau Dokter Rayyan menepati janji untuk selalu mencintai serta menyayangi Arumi seumur hidup, apakah bisa?" Air muka Nyimas yang dingin seketika menjadi lebih hangat dan bersahabat. Ia tersenyum lebar. Sebuah senyuman tulus berasal dari dalam lubuk hati yang terdalam.


"Bisa, Tante. Saya pastikan akan selalu mencintai Arumi seumur hidup saya," janji Rayyan yang disertai embusan napas lega.


Arumi mendongakan kepala dan menatap sang mama, lalu berucap, "Jadi, Mama merestui aku berhubungan dengan Rayyan?"


Nyimas tak menjawab, wanita itu hanya menganggukan kepala seraya mengusap lembut puncak kepala Arumi. Walau lewat sentuhan tangan lembut, Arumi dapat merasakan jika Nyimas telah memberikan lampu hijau pada mereka untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius lagi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2