Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Hati dan Jiwaku Telah Dimilikimu


__ADS_3

Usai mencurahkan isi hati lewat tangisan, Arumi menyudahinya dengan memeluk erat tubuh sang kekasih. Meski hanya pelukan biasa tetapi bagi wanita itu cukup untuk melepas beban dalam dada. Begitu juga dengan Rayyan, pria yang sebentar lagi akan berulang tahun merasa lega karena dia beruntung menjadi satu-satunya orang yang ada di sisi Arumi di saat wanita itu bersedih.


"Kamu datang ke sini bersama Tante Nyimas?" tanya Rayyan seraya mengusut butiran kristal yang tersisa di sudut mata Arumi. Ia menggunakan tangan kekar yang biasa digunakan untuk menolong pasien untuk menghapus air mata yang membasahi pipi.


"Iya, aku datang ke sini menemani Mama check up. Maaf ya aku tidak memberitahumu terlebih dulu."


Wanita itu menundukan wajah, merasa bersalah karena tidak memberitahu Rayyan bahwa ia akan datang ke rumah sakit padahal sang kekasih sudah memintanya untuk beristirahat di rumah. Meskipun tujuan ia datang ke rumah sakit untuk mengantarkan Nyimas check up tapi tetap saja wanita cantik itu merasa berdosa karena telah ingkar janji.


Alih-alih memarahi Arumi, Rayyan malah mengulum senyum manis hingga membuat hati wanita itu meleleh layaknya cokelat yang dipanaskan di atas wajan.


"Tidak masalah. Aku tidak akan marah hanya karena hal sepele. Lagipula, tujuanmu datang ke sini untuk menemani Mamamu bukan berkeliaran tak jelas seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bukan begitu?" Arumi membalas pertanyaan Rayyan dengan anggukan.


Wanita yang duduk di samping Rayyan menghela napas lega. Awalnya ia berpikiran jika kekasihnya itu akan memberikan hukuman seperti di novel yang biasa dibaca di salah satu platform terkenal di tanah air. Namun, nyatanya tidak. Pria itu tidak memberikan hukuman apa pun pada wanita itu.


Seketika suasana hening terjadi. Rayyan tengah memandangi keindahan Tuhan yang ada di hadapannya. Sementara Arumi tengah memikirkan cara membalas kebaikan kekasihnya itu.


Tiba-tiba saja, sebuah ide gila terlintas begitu saja dalam benak wanita itu. Sepasang bola mata indah mengedarkan pandangan ke sekitar. Arumi memindai lorong rumah sakit yang terlihat sepi.


Setelah yakin tidak ada orang satu pun yang lalu lalang di sekitaran sana, Arumi mulai melancarkan aksinya.


"Ray, lihat! Ada apa di sana!" seru Arumi menunjuk ke ujung lorong rumah sakit. Refleka, Rayyan menoleh ke arah pandang wanita itu.


"Di mana?" Rayyan celingukan. Dan saat ia hendak menoleh ke arah Arumi, tiba-tiba saja ...


Cup


Kecupan singkat mendarat di pipi Rayyan. "Terima kasih, Honey!" ucap wanita itu malu. Ia kembali menundukan wajah, menyembunyikan rona merah muda di pipi.

__ADS_1


Meski mereka sering melakukan ciuman ... di pipi, tapi ini kali pertama Arumi berinisiatif memberikan kecupan singkat untuk Rayyan. Sungguh Arumi sangat malu hingga ia tak berani menatap manik coklat milik kekasihnya.


Sementara Rayyan masih membeku di tempat dengan bola mata terbelalak sempurna. Mendapat hadiah ciuman secara tiba-tiba membuat pria itu bungkam. Pikirannya pun kosong seketika.


Rayyan merasakan hatinya berbunga-bunga karena tidak biasanya Arumi mau memberikan ciuman tanpa diminta oleh pria itu. Meski hanya ciuman di pipi tetapi mampu membangkitkan jiwa kelelakiannya bangkit. Pria itu merasakan gelenyar aneh hingga merambat ke seluruh tubuh.


Untuk memastikan jika saat ini ia tidak sedang bermimpi, Rayyan menyentuh pipi sebelah kanan. Hangat ciuman Arumi masih terasa. Detik berikutnya pria itu tersenyum lebar membuat kedua mata sipitnya semakin menyipit.


Suasana canggung terjadi. Arumi tak tahu harus berkata apa. Hingga suara dering ponsel berbunyi membuat wanita itu terkesiap. Nama Nyimas muncul di layar ponsel.


"Rumi, kamu di mana? Kenapa lama sekali. Mama sudah menunggumu hampir tiga puluh menit tapi kamu tak juga kunjung kembali."


Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu menepuk kening karena terlalu penasaran dengan keadaan Kayla hingga ia melupakan Nyimas yang sedang menunggu di apotek rumah sakit.


"Maaf, Ma. Tadi Rumi tak sengaja bertemu dengan teman. Lalu kami saling bercerita sampai lupa waktu," bohong Arumi.


Arumi sadar jika berbohong itu tak baik, apalagi sampai membohongi orang tua. Ia tak menampik semua itu. Akan tetapi, ia pun tak bisa berkata jujur sebab belum siap jika Nyimas mengetahui kalau saat ini Arumi sedang menjalin kasih dengan seorang pria.


Arumi tersenyum masam. Ekspresi wanita itu menunjukan kekecewaan karena lagi dan lagi telah membohongi Nyimas.


'Ya Tuhan, maafkan aku karena terus membohongi Mama,' batin Arumi.


"Maaf ya, Ma. Sudah membuat Mama cemas," ucap Arumi lirih.


"Tidak apa-apa. Sudah, jangan dipikirkan lagi," sahut Nyimas di seberang sana. "Lebih baik kamu cepat kembali. Mama sudah mendapatkan obat yang diresepkan oleh Dokter Ari."


Arumi mengangguk cepat. "Baik, Ma. Aku akan segera menyusul. Mama tunggu aku di tempat tadi. Ingat, jangan ke mana-mana," titahnya sebelum mengakhiri panggilan telepon.

__ADS_1


Usai mematikan sambungan telepon, Arumi kembali memasukan benda pipih itu ke dalam tas. Melirik sekilas ke arah Rayyan. Rupanya pria itu telah bangkit dari duduk.


Tangannya terulur ke depan. Seperti biasa, pria itu akan menggandeng tangan Arumi. Menggenggam erat jemari lentik wanita itu sambil sesekali menciumi punggung tangan sang kekasih. Ia berjanji tidak akan pernah melepaskan wanita hebat seperti Arumi sampai kapan pun.


Tak berselang lama, Rayyan dan Arumi telah ada di lantai satu bangunan itu. Sesuai janji, Rayyan akan menemani Arumi sampai di depan pintu lift. Pria itu tak mau jika Nyimas menaruh curiga apabila ia mengantarkan Arumi sampai di depan pintu masuk apotek rumah sakit.


"Aku pulang dulu, Ray. Terima kasih karena selalu ada di saat aku membutuhkanmu," ucap Arumi tulus. Perkataan itu benar-benar tulus dari dasar hati yang terdalam.


Semenjak memutuskan menjalin kasih bersama partner kerjanya itu, Rayyan membuktikan semua perkataannya. Ia selalu ada di saat Arumi membutuhkan. Rayyan selalu meminjamkan bahu tuk bersandar. Memberikan kenyamanan serta kehangatan dari sebuah hubungan hingga wanita itu merasa aman dan tenang berada di dekat Rayyan.


"Hati-hati di jalan. Kalau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk meneleponku." Rayyan membenarkan rambut Arumi yang sedikit berantakan. "Ponselku selalu aktif 24 jam."


Arumi tersenyum manis. Memberanikan diri menangkup wajah Rayyan. Membelai lembut rahang pria itu. "Tanpa kamu minta pun, aku akan menghubungi. Jika kamu tidak merasa bersalah karena tak dapat menerima panggilan teleponku," tutur wanita.


"Ingat, keselamatan dan kesehatan pasien adalah prioritas utama kita sebagai seorang dokter. Kalaupun nanti kamu benar-benar tak bisa membantuku ketika membutuhkan sesuatu, tenang saja, ada Pak Burhan yang selalu standby 24 jam." Wanita itu terkekeh ringan.


Rayyan mendelik sebentar. Mendengar nama pria lain terucap di bibir Arumi membuat tubuhnya terasa panas. "Jangan memancing emosiku, Babe!" dengus pria itu kesal.


Sadar jika ia telah melakukan kesalahan, Arumi mengatupkan bibir. Lalu detik berikutnya ia berkata, "Hanya untuk sementara kok."


Arumi menatap Rayyan dengan penuh kehangatan. Setiap kali bertemu, ia merasa tak jemu memandangi wajah tampan seorang pria di hadapannya ini. Wajah tanpa ekspresi sama sekali telah membuat Arumi jatuh hati tuk kedua kali.


"Kamu jangan cemburu pada setiap pria yang namanya kusebutkan dengan bibir ini." Arumi menunjuk bibirnya menggunakan jari telunjuk. "Mereka itu tidak ada artinya dalam hidupku sebab hati dan jiwaku telah dimiliki kamu."


"Aku harus segera kembali, sebelum Mama menelepon untuk kedua kali. Bye, Honey!" kata Arumi sebelum berbalik dan berjalan menemui Nyimas di apotek.


Rayyan terpaku di tempat hingga punggung Arumi menghilang di balik pintu masuk apotek rumah sakit. Ia kembali mengingat perkataan terakhir Arumi sebelum pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Hati dan jiwaku telah dimilikimu." Kalimat itu terus terngiang bagai kaset yang diputar berulang kali.


"Itu artinya, Arumi telah jatuh cinta padaku?" gumam pria itu. "Akhirnya aku berhasil memuluhkan hatimu itu, Rumi." Pria itu tersenyum bahagia sambil berjalan masuk ke dalam lift.


__ADS_2