
Padang rumput hijau luas membentang di depan sana. Puluhan pohon akasia menjulang tinggi ke atas. Beberapa rusa berlarian kesana-kemari, saling berlomba-lomba menuju sumber makanan mereka. Angkasa teduh, awan ungu muda berpadu dengan semburat biru.
Seorang pria berpakaian serba putih duduk di atas batu besar di bawah pohon akasia. Termenung seraya memandangi keindahan alam yang begitu luas terbentang. Sejauh mata memandang, hanya ada keindahan yang membuat pria itu begitu damai.
Di saat ia tengah termenung, sosok wanita cantik dengan rambut panjang hitam tergerai berjalan ke tengah padang rumput. Wanita cantik itu sedang bermain bersama tiga orang anak kecil. Dua anak kecil berjenis kelamin laki-laki dan satu lagi berjenis kelamin perempuan. Mereka tampak bahagia, bermain bersama beberapa kupu-kupu yang kebetulan sedang hinggap di kuncup bunga bermekaran.
"Bunda! Bunda! Lihat!" seru gadis kecil itu seraya menunjuk bagian atas kepala salah satu kakak lelakinya yang dihinggapi kupu-kupu. Gadis kecil itu tertawa riang seraya melompat-lompat di antara kedua kakak lelakinya. Binar matanya langsung memancar terang, namun seluruh wajahnya tertutupi oleh sinar yang sangat menyilaukan.
Wanita cantik dalam balutan dress panjang berwarna putih dengan headpiece bunga tersenyum hangat ke arah gadis kecil itu, lalu mengikuti ke mana arah jemari kecil itu menunjuk. Angin berembus, menerbangkan sebagain rambut panjang sang wanita. Jemari lentik menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah.
Angin kencang itu menyingkirkan awan terang yang menutupi wajah sang wanita. Perlahan, awan putih itu mulai menipis hingga terlihat jelas siapa gerangan wanita cantik yang tengah bermain bersama ketiga anak kecil berusia sekitar empat tahun.
"Arumi?" Mata melebar sempurna kala menyadari bahwa wanita di depan sana adalah wanita yang sangat ia cintai di dunia ini.
Merasa namanya dipanggil, tentu saja Arumi menoleh. Ia memandangi sosok pria bertubuh tegap nan rupawan di hadapannya. Begitu pun dengan sang lelaki, ia pun membalas tatapan wanita di depan sana dengan sorot penuh kerinduan.
Detik berikutnya, pria itu tersenyum manis karena setelah sekian lama dapat bertemu kembali dengan sang pujaan hati.
Mahesa turun dari batu yang ia duduki. Melangkah dengan penuh percaya diri mendekati Arumi. Terus mengulum senyum tiada henti.
"Sayang, akhirnya aku berjumpa denganmu lagi." Mahesa maju beberapa langkah, lalu mengulurkan tangan ke depan. Meraih tubuh Arumi dan membawa wanita itu dalam pelukan. Memeluk erat wanita itu, untuk mengobati kerinduan yang selama ini ia pendam.
Pria itu dapat menghidu kembali aroma parfum yang menjadi favoritnya. Aroma vanilla yang mampu membuatnya tergila-gila hingga rela mengorbankan segalanya. Termasuk orang tua yang begitu ia cintai, dan harta kekayaan yang melimpah ruah demi bisa hidup bersama dengan pujaan hati.
Akan tetapi, Arumi tak memberikan respon apa pun. Ia terus membeku di tempat dengan tatapan mata kosong.
Merasa ada sesuatu yang janggal, Mahesa mengurai pelukan dan memandangi wajah sendu wanita di hadapannya. "Sayang, kenapa kamu diam saja? Apakah ada yang menyakitimu? Katakan padaku, siapa orang itu!" cecarnya dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Arumi terdiam. Tidak menjawab pertanyaan Mahesa. Sosok pria yang mampu menggetarkan debaran halus di dalam dada saat pertama kali berjumpa dengannya saat mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA.
"Sayang, bicaralah! Kumohon padamu, bicaralah padaku!" Mahesa kembali berucap. Mengguncang pelan kedua bahu Arumi.
Bola mata indah yang selalu memberikan kesejukan menatap lekat manik coklat pria di hadapannya. Dengan lirih ia menjawab, "Kamu! Kamu adalah orang yang telah menyakitiku, Mas. Kamu sudah menorehkan luka yang begitu dalam hingga aku merasa tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkannya."
"Kamu khianati cinta tulus yang kuberikan selama ini. Ketulusan cinta dan pengabdianku sebagai istri telah kamu bayar dengan sebuah pengkhianatan."
Mendengar penuturan Arumi, refleks Mahesa mundur beberapa langkah ke belakang. Ia cukup terkejut saat wanita itu mengatakan bahwa dirinya telah berkhianat. Padahal, selama ini ia telah menjadi suami setia yang tak pernah bermain api di belakang istrinya. Selalu berkata jujur dan apa adanya.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara gelak tawa ketiga bocah kecil yang tengah asyik bermain bersama di tengah padang rumput yang hijau.
Mahesa perhatikan wajah Arumi dengan seksama, mencari kebenaran dari setiap untaian kalimat yang terucap dari bibir ranum itu. Tidak ada sedikit pun semburat kebohongan terdapat di bola mata indah tersebut.
Mungkinkah ia memang telah melakukan sebuah pengkhiatan selama mereka hidup bersama? Bagaimana bisa? Bukankah selama ini rumah tangga mereka harmonis, tidak ada ujian yang dapat menggoyahkan kekuatan cinta di antara keduanya? Lantas, mengapa Arumi berkata jikalau ia telah berkhianat.
Sejuta pertanyaan hadir dalam benak pria itu. Pengkhianatan! Berkhianat! Kalimat itu terus berputar bagai sebuah kaset kusut yang tidak pernah mau berhenti terngiang di indera pendengarannya.
Sorot mata Arumi yang memancarkan penuh kekecewaan saat memergoki dirinya tengah bergumul dengan Kayla kembali berputar di dalam memori ingatannya. Derai air mata membasahi pipi wanita itu masih terekam jelas hingga detik ini. Suara isak tangis menyayat kalbu terus terngiang di telinga pria itu.
"Tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu! Aku--" ucap Mahesa lirih. Ia tak sanggup lagi berkata, sebab kini ingatannya telah kembali ke masa saat kecelakaan itu belum terjadi.
"Sekalipun kamu berkata, tidak! Namun, itulah kenyataannya, Mas. Kamu sudah menghancurkan rumah tangga yang telah kita bina selama hampir lima tahun. Sembilan tahun bersama, akhirnya kamu tergoda oleh bujuk rayu wanita lain. Kamu ... selingkuh dengan sahabatku sendiri."
"Tidak! Aku tidak mencintai wanita itu!" pekik Mahesa. Pria itu bangkit, lalu melangkah perlahan mendekati Arumi. "Di dunia ini, hanya kamu seorang yang kucintai, Rumi. Hanya kamu, Sayang."
Tangan pria itu kembali terulur ke depan, hendak membawa tubuh Arumi dalam pelukan. Akan tetapi, dengan cepat wanita itu menghindari.
__ADS_1
"Namun, semuanya sudah terlambat. Hatiku sudah tertaut pada seseorang. Begitu pun dengan dirimu. Walaupun di dalam hatimu hanya ada namaku, tapi aku yakin jauh dari lubuk hatimu yang terdalam, kamu pun menyimpan rasa untuk wanita itu 'kan?"
"No ... no ... aku cuma cinta sama kamu, Arumi!" Mahesa menaikan jari telunjuk ke udara, lalu menggerakannya ke kanan dan kiri. "Selamanya, cinta ini hanya untukmu seorang."
Arumi tersenyum sinis. Membalikan badan membelakangi Mahesa. "Kalau memang kamu mencintaiku, lantas mengapa dulu kamu berselingkuh? Hanya karena aku belum memberikan keturunan padamu, kamu menjalin kasih bersama wanita itu di belakangku."
"I-itu ... karena a-aku ...." Mahesa bungkam seketika, lidahnya terasa kelu hingga tak mampu berkata.
Arumi menarik napas dalam, kemudian menatap lurus ke depan. "Meskipun di antara kita berdua sudah tak memiliki ikatan apa pun, aku tetap menghargaimu sebagai seseorang yang pernah hadir mengisi kekosongan dalam hatiku." Wanita itu menjeda kalimatnya, seraya memejamkan mata. "Kembalilah, Mas. Di depan sana, banyak orang-orang yang menunggumu. Salah satunya adalah, Kayla."
"Dia begitu tulus mencintaimu. Selalu menunggumu, berada di sisimu setiap hari tanpa merasa lelah sedikit pun. Rasa cintanya kepadamu melebihi apa pun di dunia ini. Jadi, kumohon, kembalilah. Jangan biarkan mereka bersedih."
"Lihatlah, apakah kamu tega membiarkan Papa, Mama dan Kayla terus menangisimu setiap hari? Tidakkah kamu merasa kasihan pada mereka?" Arumi menunjuk ke arah depan menggunakan jari telunjuk.
Mahesa tertegun memandangi langit di bawah kaki bukit nan hijau yang menampilkan dua sosok orang sedang menangis tersendu di kursi panjang terbuat dari stainless.
"Papa ... Kayla ...." ucap Mahesa lirih. Melihat kedua orang itu menangis membuat dadanya terasa sakit. Ada perasaan tak nyaman ketika menyaksikan dua sosok itu menitikan air mata seraya terus memanggilnya.
"Benar. Wanita itulah yang setiap hari menjagamu, Mas, di saat kedua orang tuamu tak dapat menemanimu di rumah sakit. Dia benar-benar tulus mencintaimu. Jadi, kembalilah dan jalani kehidupanmu seperti sedia kala."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ketiga bocah kecil menghampiri Arumi. Mereka mengulurkan tangan ke depan, lalu menggenggam jemari tangan satu sama lain.
Perlahan, awan terang berubah menjadi kelabu. Angin berembus menggoyangkan seluruh tanaman yang ada di padang rumput itu. Arumi beserta ketiga bocah kecil itu menghilang bersamaan dengan sinar terang yang menyilaukan mata.
"Arumi! Arumi!" teriak Mahesa.
.
__ADS_1
.
.