
Waktu sudah menunjukan pukul lima pagi. Namun, cuaca di luar masih sangat gelap dan dingin. Cahaya matahari pun belum menampakkan sinarnya. Rupanya Sang Surya masih bergelung manja sama seperti pasangan pengantin baru yang tengah terlelap di bawah selimut tebal di atas ranjang empuk di sebuah kamar presidential suite.
Rayyan benar-benar melampiaskan hasr*tnya yang terpendam selama hidup melajang. Pria itu tak sedikit pun memberikan kesempatan pada Arumi tuk beristirahat walau hanya sebentar. Layaknya orang yang baru buka puasa, ia terus memakan istrinya hingga benar-benar kehabisan tenaga.
Di saat ada kesempatan untuk melarikan diri, Arumi mencoba menjauhi suaminya. Akan tetapi, tenaga Rayyan terlalu kuat hingga akhirnya wanita itu hanya bisa pasrah kala tangan kekarnya menarik tubuh Arumi dan melakukan penyatuan kembali. Hampir seluruh spot di dalam kamar itu dijelajahi oleh Rayyan. Ia berubah menjadi pria buas, liar namun juga lembut di waktu bersamaan.
Kelopak mata pria itu bergerak secara perlahan kala suara dering ponsel di atas nakas membangunkan Rayyan dari tidurnya yang panjang. Beruntungnya benda pipih itu semalam tidak berdering dan mengganggu aktivitasnya memadu kasih bersama istri tercinta. Jika tidak, bisa jadi orang yang menghubungi Rayyan bernasib sial karena kena semburan api naga jantan yang tengah memadu kasih.
Bola mata sipit itu terbuka lebar, memindai isi ruangan. Saat nertranya menatap Arumi tengah memeluk dirinya dalam keadaan tanpa busana sama sekali, seulas senyum terukir di wajah.
"Setelah sekian lama aku menahan hasrat dalam diri, akhirnya kamu menjadi milikku juga, Babe. Tubuhmu benar-benar menjadi candu bagiku. Selalu membuatku menginginkannya lagi dan lagi." Pria itu menyugar rambut seraya tersenyum mengingat kembali bagaimana liarnya ia saat melakukan penyatuan dengan sang istri.
"Sial! Baru membayangkannya saja sudah membuat inti tubuhku kembali bereaksi," maki Rayyan saat menyadari sesuatu yang tertutup selimut tebal kembali mengeras.
Untung saja dering ponsel kembali berdering sehingga Rayyan dapat mengalihkan perhatiannya. Namun, sebelum menerima panggilan telepon, ia menarik napas panjang guna menetralkan kembali pikirannya.
Pria itu duduk di headboard ranjang, lalu menekan layar berwarna hijau. "Halo, ada apa pagi-pagi sekali kamu meneleponku?" sembur Rayyan setelah tahu jika yang meneleponnya ada Rio.
Pria di seberang sana tertawa seraya berkelakar. "Kenapa, merasa terganggu?" Alih-alih menjawab pertanyaan, Rio malah menggoda sahabatnya.
Sejak dulu, Rio sangat suka sekali menjaili Rayyan apabila sahabatnya itu sedang kesal pada hal tertentu. Momen itu dimanfaatkan bagi pria berdarah setengah Timur Tengah untuk mengerjai Rayyan. Kendati begitu, hubungan persahabatannya mereka tetap terjaga hingga detik ini.
"Cepat katakan, ada apa kamu meneleponku!" sentak Rayyan berapi-api. Suara pria itu menggelegar memenuhi ruangan.
__ADS_1
Akibat suara lengkingan itu membuat Arumi yang tengah terlelap menggeliat dan bergumam dengan mata masih terpejam.
"Eugh!"
"Sst!" Rayyan menepuk-nepuk bahu Arumi lembut, berharap agar istrinya itu tak terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
Samar-samar, Rio mendengar suara lirih seorang wanita di seberang sana. Seketika, otak pria itu travelling ke mana-mana. Namun, detik berikutnya ia kembali tersadar.
Tak ingin mengganggu sepasang pengantin baru, Rio kembali berkata. "Aku hanya ingin memberitahumu jika sopirku akan datang ke sana, membawakan koper berisi pakaian dan keperluan kalian selama berbulan madu. Selain itu, dia juga akan mengantarkan kalian ke bandara. Tepat pukul sebelas siang, kamu harus menyudahi ritual malam syahdu bersama Arumi."
Rayyan memutar bola mata malas. "Oke, thanks. Minta sopirmu menghubungiku jika sudah tiba di hotel." Tanpa menunggu balasan Rio, pria itu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Masih dalam posisi duduk, Rayyan memandangi Arumi yang masih terlelap. Wanita itu seperti seorang bayi yang tertidur dalam kedamaian. Perlahan, mengusap wajah istrinya mengecup kening Arumi penuh dengan cinta.
Rayyan membaringkan tubuh di samping Arumi. Setelah menemukan posisi yang nyaman, tangan pria itu membawa Arumi ke dalam dekapan. Embusan napas yang panas menerpa dadanya yang bidang. Detak jantung beraturan seirama dengan detak jantung miliknya.
***
Jam dinding menunjukan pukul delapan pagi. Sinar matahari sudah mulai menyinari bumi. Rayyan dan Arumi baru saja selesai mandi sambil melakukan olahraga pagi di bawah guyuran air shower.
Entah sudah berapa kali pria itu menyemburkan bibit kehidupan baru di dalam rahim Arumi, tapi sepertinya Rayyan akan terus melakukannya sebab ia tak pernah merasa bosan dengan bentuk tubuh istrinya itu.
"Loh, Ray. Siapa yang mengantarkan koper ini?" tanya Arumi.
__ADS_1
Koper berukuran cukup besar berwarna merah muda berada di dekat lemari pakaian. Koper itu sengaja dibeli oleh Arumi sebelum pesta pernikahan berlangsung. Wanita itu ingin saat berbulan madu nanti, semua pakaian miliknya dan Rayyan dijadikan menjadi satu agar tidak banyak membawa barang bawaan ketika mereka pergi keluar negeri. Tujuannya agar lebih hemat tempat dan tidak ribet.
"Sopirnya Rio yang mengantarkannya ke sini. Mama Nyimas meminta Rio untuk menyampaikan bahwa semua kebutuhan kita selama berbulan madu sudah ada di dalam koper. Awalnya ingin meminta Pak Burhan, tapi karena jarak antara rumah Mama dan apartemen kita cukup jauh, akhirnya niatan itu diurungkan. Mama memutuskan meminta bantuan sahabatku itu untuk mengantarkannya." Rayyan menjelaskan semuanya secara detail.
Arumi menganggukan kepala. "Oh, begitu. Lalu, apakah kita akan ke apartemen dulu berpamitan pada Mama sebelum ke bandara?"
Rayyan melangkah mendekati istrinya, mencubit hidung istrinya dengan gemas. "Tentu saja. Kita mampir sebentar, menemui Mama Nyimas. Meskipun Mama meminta kita langsung ke bandara, rasanya seperti ada yang kurang jika pergi tanpa meminta izin pada orang tua."
Hati Arumi tersentuh ketika tahu suaminya itu bersedia meluangkan sedikit waktu hanya sekadar meminta izin pada sang mama. Padahal, bisa saja pria itu pergi mengajaknya berbulan madu tanpa berpamitan terlebih dulu apalagi Nyimas sudah memberikan izin terlebih dulu pada mereka. Namun, rupanya didikan Mei Ling tuk selalu menghormati orang yang lebih tua masih melekat dalam diri pria itu. Hingga Rayyan rela pulang ke apartemen yang dijadikan mahar untuk Arumi hanya sekadar bertemu dengan Nyimas dan mencium punggung tanggan wanita paruh baya itu.
Arumi melingkarkan tangan di leher suaminya. Memberikan senyuman penuh cinta ke arah pria itu. Bibir merah muda itu merekah bagai sekuntum mawar merah di taman hijau.
"Terima kasih karena kamu sudah menganggap Mama-ku sebagai Mama-mu sendiri. Sungguh, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu."
Rayyan melakukan tindakan serupa. Malingkarkan tangan di pinggang istrinya, menarik tubuh wanita itu hingga di dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Jangan sungkan. Mulai hari ini, apa pun yang berkaitan dengan Mama Nyimas merupakan tanggung jawabku juga. Jadi, kalau butuh apa-apa tinggal bilang dan aku usahakan untuk memenuhinya. Kita akan merawat beliau bersama-sama."
Arumi tak lagi dapat berkata-kata. Semua ucapan Rayyan membuatnya terharu. Wanita itu mencondongkan wajah ke depan, lalu mengecup bibir sang pria dengan lembut. Ciuman itu sebagai ungkapan cinta dan ucapan terima kasih karena Rayyan telah membuktikan bahwa pria itu memang layak tuk dijadikan pendamping hidup.
Setelah menghabiskan sarapan, Arumi dan Rayyan pergi ke apartemen yang kini menjadi hak milik wanita cantik itu. Mereka menemui Nyimas sekalian berpamitan sebelum pergi berbulan madu. Lalu, sepasang suami istri itu pergi ke bandara. Rencananya mereka akan pergi berbulan madu ke Jepang, Cina dan terakhir ke Malaysia--menemui teman kuliah Arumi yang kini menetap di negeri Jiran.
.
__ADS_1
.
.