Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Apa Pun Demi Arumi


__ADS_3

Akhir pekan merupakan waktu yang sangat dinantikan oleh seluruh insan manusia di bumi ini. Di mana mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga sambil melepas lelah serta mengendurkan otot yang tegang akibat terlalu sibuk bekerja. Begitu pun dengan Rayyan dan Arumi. Pasangan suami istri itu lebih memilih mengunjungi rumah Nyimas untuk menghabiskan akhir pekan bersama ketimbang nonton di bioskop ataupun berbelanja di mall.


Rencananya mereka akan menginap semalam di rumah Nyimas, yang ada di kawasan Tangerang. Selain ingin melepas rindu, Arumi pun ingin menyampaikan kabar gembira tentang kehamilannya pada sang mama.


"Mas, kamu tidak keberatan 'kan kalau kita menginap satu malam di rumah Mama?" tanya Arumi kepada Rayyan. Wanita itu ingin memastikan bahwa alergi yang diderita oleh pria itu tidak akan kambuh saat mereka tinggal di rumah Nyimas.


Rayyan yang saat itu sedang memasukan pakaian miliknya ke dalam koper segera menghentikan sejenak kegiatannya. Pria itu menatap Arumi dengan lekat.


"Kenapa harus keberatan hem? Bukankah kita sudah setuju kalau setiap akhir pekan akan mengunjungi Mama di rumahnya. Lantas, mengapa sekarang kamu masih membahas hal yang sama."


Arumi mencebikan bibir, kesal karena rupanya Rayyan tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.


"Iih ... Ayahnya Baby triplet kok tidak peka sih! Yang Bunda maksud itu adalah, apakah alergi Ayah tidak akan kambuh jika menginap di rumah Mama? Di sana 'kan ada si Mbok, yang bertugas membersihkan rumah Mama dan mengurusi semua pekerjaan rumah tangga. Memangnya Ayah tidak takut jika penyakitnya kambuh?" tutur Arumi.


Rayyan mengulum senyuman, lalu meletakkan pakaian yang belum dia masukan semua ke dalam koper. Melangkan perlahan mendekati sang istri yang sedang menyisir rambut hitam panjang tergerai.


Tangan kekar nan kokoh itu menarik pinggang Arumi hingga tidak ada jarak sejengkal pun yang menghalangi. Dari jarak sedekat ini, embusan napas panas menerpa wajah sang wanita hingga membuat tubuhnya meremang.


"Sepertinya Bunda Triplet lupa ya kalau kita sebelumnya sudah meminta si Mbok untuk menggunakan sarung tangan saat membersihkan kamarmu. Baru dua hari lalu loh, masa Bunda lupa sih." Rayyan mendekati cuping telinga Arumi lalu kembali berkata, "Bunda benar-benar lupa ... atau memang sengaja mencari perhatian Ayah?" Pria itu sengaja meniupkan udara di area sekitar telinga Arumi.


Mata indah Arumi mengerjap berkali-kali, susah payah menelan saliva guna membasahi tenggorokan yang terasa kering. Jarak ini terlalu intim hingga wanita itu merasa tak nyaman meski pria yang ada di hadapannya adalah suaminya sendiri.


"Eum ... s-sepertinya Bunda lupa," ujar Arumi seraya melepaskan diri dari cengkraman Rayyan. Akan tetapi, pria itu semakin mengetatkan pelukan.

__ADS_1


"Mas, bisakah kamu melepaskanku? Rasanya, sesak sekali bila kamu terus memelukku seerat ini. Aku ... aku takut Triplet sesak napas di dalam sana," cicit Arumi dengan suara yang sangat lirih. Ia sungguh tidak tahu harus menggunakan alasan apa lagi agar Rayyan melepaskan pelukannya.


Tampaknya kerja keras Arumi membuahkan hasil. Rayyan mengurai pelukan dan memberikan jarak sekitar tiga jengkal. Pria itu memandangi wajah sang istri lalu beralih ke bagian perut yang masih datar.


"Apakah tadi aku terlalu kencang memelukmu?" tanya Rayyan dengan perasaan cemas terlihat dari raut wajah yang berubah suram dan tangan yang gemetar hebat. Berkali-kali tangan pria itu hendak menyentuh perut Arumi, tetapi dia urungkan kembali. Khawatir jika gerakannya itu malah semakin menyakiti ketiga buah hatinya di dalam sana.


Melihat air muka penuh kecemasan, membuat Arumi sedikit merasa bersalah. Hanya karena ingin terlepas dari cengkraman Rayyan, dia menggunakan trik untuk mengelabui pria itu. Memanfaatkan kehamilannya agar sang suami tidak lagi memeluknya.


Arumi menangkup pipi Rayyan, mengusap lembut rahang pria itu dengan lembut. Dia menatap lekat bola mata pria itu secara intens.


"Ehm ... sebenarnya tidak terlalu keras sih. Hanya saja, aku merasa risih jika dipeluk seerat itu olehmu, Mas. Takut kalau Mbak Tini tiba-tiba saja lewat dan mendapati kita tengah berpelukan. Bagaimana kalau dia berpikiran bahwa kita hendak melakukan 'nana nini' sementara pintu kamar tidak tertutup rapat."


Memang benar, saat itu keadaan pintu kamar tidak tertutup rapat dan karena hal itu pula-lah Arumi merasa tak nyaman jika berada terlalu dekat dengan suaminya. Walaupun status mereka sudah sah secara agama dan negara, tapi tetap saja kurang etis bila dilihat orang lain.


"Ya sudah, sebaiknya kita segera berangkat sebelum matahari semakin tinggi. Kita harus pergi berbelanja dulu, membeli beberapa bingkisan untuk diberikan kepada Mama." Lantas, mereka kembali sibuk dengan kegiatan yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.


***


"Mbak Tini, tugasmu menemani Arumi di sini selama saya berbelanja. Ingat, jangan biarkan istri saya pergi tanpa ditemani olehmu!" ujar Rayyan sebelum meninggalkan Arumi dan Mbak Tini di sebuah café yang lokasinya tak jauh dari supermarket.


Mbak Tini hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. "Baik, Pak Rayyan. Saya usahakan untuk terus menemai Bu Arumi. Kemana pun Bu Arumi pergi, saya akan mengekorinya di belakang."


"Bagus! Termasuk ke toilet pun kamu harus menemaninya!" timpalnya lagi.

__ADS_1


Arumi menganggukan kepala, tak mengerti mengapa Rayyan semakin posesif terhadap dirinya. Saat masih penjajakan, dia pun sudah posesif ditambah kini wanita itu tengah mengandung tiga janin sekaligus, sikap pria itu super duper posesif hingga terkadang membuat dirinya kewalahan.


"Mas, aku tuh malu loh kalau ke toilet saja mesti ditemani Mbak Tini," keluh Arumi. "Nanti aku jadi bahan omongan pengunjung lain, bagaimana?"


"Aku bungkam mulut mereka satu per satu. Kalau perlu, tangan ini akan daratkan sempurna di wajah orang-orang itu jika berani menggunjingkan istriku!" jawab Rayyan bersungguh-sungguh. Tidak ada sedikit pun keraguan dari sorot mata pria itu.


Arumi menghela napas dalam. Seharusnya dia tahu jawaban apa yang akan dilontarkan oleh suaminya itu. Rayyan akan melakukan hal di luar nalar bila sudah menyangkut keselamatan dirinya, sebab bagi pria berdarah Tionghoa keselamatan, kebahagiaan Arumi di atas segalanya. Oleh karena itu, Rayyan berusaha melindungi Arumi dengan segenap jiwa dan raganya. Meski tak jarang sikapnya itu malah terkesan lebay dan berlebihan.


"Iya ... iya ... aku tahu kamu mampu membuat mereka bungkam hanya dengan menatap tajam ke arah mereka." Akhirnya Arumi mengalah karena tidak ingin menjadi pusat perhatian pengunjung mall. "Sudah sana belanja, jangan sampai Mama menunggu terlalu lama."


"Oke. Tunggu aku di sini. Jangan kemana-mana." Lantas, Rayyan meninggalkan Arumi yang saat itu ditemani oleh Mbak Tini selama dirinya berbelanja.


Selama menunggu Rayyan berbelanja, Arumi menghabiskan waktu untuk bercengkrama bersama Mbak Tini sambil menikmati cake matcha kesukaannya. Sesekali terdengar suara kekehan berasal dari wanita cantik berparas cantik itu. Dia tampak bahagia saat berbincang bersama asisten rumah tangganya.


Di saat Arumi tengah sibuk mengobrol bersama mbak Tini, tiba-tiba saja suara seorang wanita menginterupsi kegiatan mereka.


"Arumi!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2