Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tugasku Telah Usai


__ADS_3

Di saat Mahesa berteriak memanggil nama Arumi, di dunia nyata rupanya pria itu pun bergumam lirih memanggil mantan istrinya. Sebuah kedutan pelan membuat jemarinya bergerak pelan. Seandainya saja pasien itu tidak bergumam, mungkin perawat serta dokter Samuel tak mengetahui jikalau mantan suami Arumi sudah sadarkan diri.


"Dokter, pasien sudah sadarkan diri!"


Mendengar seruan dari perawat yang berjaga, dokter Samuel berjalan setengah berlari memburu ranjang pasien. Bola mata membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Setelah sepuluh bulan dan berbagai macam terapi dilakukan, hanya bertemu Arumi sebentar saja Mahesa terbangun dari koma. Sungguh benar-benar merupakan suatu mukjizat yang patut disyukuri.


"Pak Mahesa, jika Anda mendengar suara saya, gerakan tanganmu lagi."


Mahesa berusaha sekuat tenaga melakukan apa yang dikatakan oleh dokter Samuel. Ketika lima jari berhasil dilipat, terdengar helaan napas panjang penuh kelegaan bersumber dari pria paruh baya yang selama sepuluh bulan terakhir bertanggung jawab terhadap sang pasien. Sebagai seorang dokter, tentu saja dokter Samuel begitu bahagia karena salah satu pasiennya bisa kembali tersadar dari koma.


"Syukurlah ... ini ... benar-benar mukjizat yang Tuhan berikan kepada kita semua," tutur Dokter Samuel. Pria itu menoleh ke arah wanita berseragam perawat. "Sus, tolong panggilkan keluarga pasien."


"Baik, Dokter." Perawat wanita itu pun melangkah ke luar ruang perawatan, melewati Arumi dan Rayyan yang masih membeku di tempat.


Pasangan suami istri itu saling menatap satu sama lain, lalu secara bersamaan mengedarkan pandangan ke arah Mahesa yang hendak dilakukan pemeriksaan.


"Mas?" tegur Arumi, sedari tadi Rayyan masih sibuk memandangi tubuh lemah Mahesa di atas ranjang.


Rayyan kembali menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Tidak mau berada di dalam ruangan yang sama terlalu lama dengan pria di masa lalu sang istri, ia memutuskan meninggalkan ruangan tersebut.


Menyentuh pundak Arumi seraya berkata, "Kita pulang sekarang. Tugasmu sudah selesai. Biarkan Dokter Samuel beserta keluarga mengurus Mahesa." Arumi tidak membantah, ia menuruti perkataan suaminya.


Berdua berjalan berdampingan. Sesekali menoleh ke belakang, memperhatikan dokter Samuel memeriksa tanda-tanda vital Mahesa. Rayyan semakin mengeratkan genggaman tangan, ketika mereka berpapasan dengan Putra dan Kayla.


Putra memandang Arumi dengan mata berbinar-binar. Dengan lirih pria paruh baya itu berucap, "Terima kasih, Arumi. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu."


Sedangkan Kayla tak berkata apa-apa, wanita itu terus menundukan pandangan tidak berani menatap wajah wanita yang dulu pernah ia sakiti hatinya. Ia terlalu malu walau sekadar menengadahkan kepala di hadapan mantan sahabatnya itu.

__ADS_1


Arumi bersiap membuka mulut, hendak mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, Rayyan sudah lebih dulu berkata. "Itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai sesama manusia. Kedepannya, saya harap keluarga Adiguna tidak mengganggu kehidupan rumah tangga Arumi dan saya lagi. Kalau begitu, kami permisi."


Tanpa menunggu waktu terlalu lama, Rayyan kembali membawa tubuh Arumi meninggalkan ruangan itu. Ia merasa kini sudah waktunya keluarga kecil mereka terlepas dari bayangan keluarga Adiguna. Janji yang pernah diucapkan pada Putra dan Kayla telah dibayar. Jadi, untuk apa lagi ia dan sang istri terus menerus berada dalam lingkaran masa lalu yang malah membuat hati semakin sakit.


Rayyan bertekad, setelah ini ia tidak mau membiarkan Arumi berurusan lagi dengan Putra, Mahesa apalagi Kayla. Pria itu akan lebih memperketat penjagaan, kalau perlu mencari pengawal pribadi perempuan agar dapat mengawasi istrinya meski di dalam bilik toilet sekalipun.


"Kamu ... baik-baik saja? Perutmu terasa kram atau gerakan si kecil membuatmu tak nyaman?" cecar Rayyan.


Arumi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Wanita itu mendongak dan tersenyum manis. "Jangan mencemaskanku. Aku, baik-baik saja kok. Cuma sedikit shock melihat keadaan Mas Mahesa yang cukup memprihatinkan."


"Selama sepuluh bulan terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai macam selang dan alat monitor yang terus menempel di tubuh, hati siapa pun pasti terenyuh ketika menyaksikan sendiri bagaimana semua selang itu bekerja guna membantu si pasien agar dapat bertahan hidup. Kamu bisa bayangkan sendiri, betapa menderitanya Mas Mahes saat semua selang itu menembus tubuhnya. Pasti sakit sekali, Mas."


"Aku tidak tega melihatnya," cicit Arumi. Mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada suami tercinta. "Pantas saja Om Putra dan Kayla begitu berharap aku datang membesuk Mas Mahes."


Rayyan mulai jengah, sedari tadi mendengar bibir ranum yang menjadi candunya selama ini terus menyerukan nama pria lain. Hatinya serasa dibakar oleh api, yang semakin lama semakin membara.


"Kalau mau, kamu boleh masuk ke dalam dan menemui dia lagi. Temani pria itu sesuka hatimu!" Rayyan menatap dingin dan tajam kepada Arumi.


Kening Arumi mengerut dalam, tatapannya menatap Rayyan penuh kebingungan. Lalu, detik berikutnya ia tersadar kalau suaminya saat ini tengah dilanda cemburu.


Tanpa pikir panjang, Arumi segera memeluk lengan Rayyan, menenangkan suaminya itu. "Untuk apa lagi aku masuk ke dalam. Urusan kita dengan keluarga Adiguna telah selesai." Mendaratkan kepala di dada bidang sang suami seraya mengelus lembut area dada. "Ucapanku tadi hanya refleks saja, Mas. Ehm ... mungkin lebih tepatnya bentuk keterkejutanku sebagai orang awam saja tanpa ada niatan ingin membuat orang lain merasa cemburu."


Rayyan menundukan kepala, menatap wajah Arumi yang saat itu tengah menatap ke arahnya juga. Sepasang iris coklat gelap saling memandang satu sama lain.


"Cemburu katamu? Ck! Ada-ada saja!" sangkal Rayyan. Tidak mau ketangkap basah kalau ia sedang cemburu pada Mahesa. Akan sangat memalukan sekali jikalau Arumi berpikir bahwa dirinya masih beranggapan di dalam hati wanita itu masih ada cinta untuk sang mantan suami.


Padahal, jauh di lubuk hati yang terdalam, Rayyan memang khawatir kalau Mahesa merebut Arumi kembali setelah pria itu sembuh seperti sedia kala.

__ADS_1


"Iya ... iya ... aku tahu, kalau kamu itu tidak cemburu. Kamu hanya tidak suka saja 'kan kalau aku terus membicarakan orang lain di saat sedang berduaan denganmu?"


"Kamu tahu sejak aku memutuskan menjalin kasih denganmu, saat itu juga rasa cinta yang ada dalam hatiku telah kuberikan kepadamu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk belajar mencintai dan secara perlahan menyingkirkan nama Mas Mahes dari dalam hati. Jadi, kalau kamu beranggapan bahwa pria itu masih bertahta dan merajai isi hatiku maka kamu salah besar, Honey. Karena, sejatinya cintaku hanya untukmu seorang."


"Coba kamu pikir, kalau aku masih menyimpan rasa untuk pria itu lalu untuk apa aku susah payah membawa perut buncit ini kemana-mana hem?"


Arumi mengurai pelukan hingga berjarak satu langkah. "Kamu lihat, tubuhku ini sudah tidak sedap dipandang lagi. Pipi chubby, sering mengalami sakit pinggang, belum lagi konstipasi dan rasa tidak nyaman di perut semakin membuatku tersiksa." Wanita itu berputar-putra di hadapan Rayyan. Memperlihatkan keadaan tubuhnya yang semakin berisi semenjak hamil.


Setelah puas berputar-putar seperti komidi putar, wanita itu kembali merangkul lengan Rayyan. "Namun, aku mencoba menikmati semua perubahan yang terjadi dalam hidupku. Belajar ikhlas karena memang seperti inilah kodrat seorang wanita. Aku rela begini demi memberikan bukti cintaku kepadamu."


Senyuman di wajah Rayyan terlukis mendengar penuturan Arumi. Bodoh! Ia benar-benar bodoh karena menganggap kalau istrinya masih menyimpan rasa untuk Mahesa. "Aku tahu yang ada di dalam hatimu saat ini adalah aku. Seharusnya aku tak meragukan lagi ketulusan cintamu kepadaku." Maafkan aku ya, Babe. Lupakan. Tidak usah membahas masa lalu. Kita berbaikan ya?" Rayyan mengajak istrinya berbaikan.


"Aku mau memaafkanmu, tapi dengan satu syarat."


"Katakan padaku, apa syaratnya."


Arumi berjinjit, lalu berbisik. "Aku ingin, malam ini kamu menjenguk ketiga anak kita di dalam perutku. Katanya, mereka sangat merindukanmu."


Rayyan terkekeh pelan seraya berkelakar. "Ketiga anakku atau memang Bunda-nya yang kangen dijenguk oleh Ayah?" Menyeringai nakal seraya menaik turunkan kedua alis.


Wajah Arumi merah merona bagai tomat matang yang siap dipetik. Ia tersimpu malu mendengar pertanyaan sang suami. Dengan gugup wanita itu menjawab, "Bunda, kangen Ayah."


"Oke. Nanti malam kita bersama-sama menengok mereka bertiga." Rayyan mengusap puncak Arumi sambil sesekali memberikan ciuman penuh cinta.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2