Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
After Wedding Party


__ADS_3

Setelah melewati serangkaian prosesi akad nikah dan resepsi pernikahan, acara sakral itu pun telah usai. Para tamu undangan yang hadir telah kembali ke rumah masing-masing.


Di dalam ballroom Mandarin Hotel hanya tersisa pasangan pengantin baru yang tengah berbahagia karena baru saja melepas masa lajang. Ada Rio--si pengacara kondang yang membantu Arumi agar bisa terlepas dari jerat penyiksaan mantan suami dan mertua wanita itu, Nyimas--wanita paruh baya yang ayu dengan jilbab yang selalu menutupi aurat, Firdaus serta istrinya sirinya--Lena tengah duduk bersantai di kursi sambil bercengkrama bersama.


Sementara Rini, mama Rio dan si kembar pulang terlebih dulu. Melihat wajah menjengkelkan kakak tirinya, Raihan pulang satu jam sebelum acara berakhir disusul kepulang seorang gadis yang tengah mengalami patah hati akibat pria pujaannya bersanding dengan wanita lain.


Rayyan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukan hampir pukul sebelas malam. "Babe, kamu istirahat sekarang?" tanya pria itu pada sang istri.


Arumi yang memang saat itu sudah merasa lelah karena berdiri terlalu lama mengenakan high heels segera menganggukan kepala, merespon pertanyaan suami tercinta.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan. Tubuhku rasanya lelah sekali dan ingin segera istirahat," kata Arumi mengutarakan isi hatinya kepada suami tercinta.


Sejujurnya, Rayyan merasakan hal yang sama seperti istrinya itu. Sejak tadi malam ia tak bisa tidur nyenyak akibat terlalu memikirkan hari ini, mencemaskan apakah nanti acara akad nikah dan resepsi pernikahan akan berlanjar lancar sedangkan beberapa hari lalu ia sempat menemani Arumi memberikan surat undangan pada mantan mertuanya. Beruntungnya Naila dan Putra tidak hadir dalam momen bersejarah kedua insan manusia itu. Seandainya saja mereka datang, Rayyan tidak tahu harus berbuat apa jika mantan mertua Arumi datang hanya untuk mengacaukan acara.


Menyadari tatapan mata suaminya tak fokus, Arumi melambaikan tangan ke depan. "Ray, kamu baik-baik saja?"


Pria berwajah oriental itu mengerjapkan mata pelan, mengumpulkan kesadarannya yang sempat melayang ke udara.


"Sure! Aku baik-baik saja. Ya sudah, ayo kita ke kamar! Ada ritual terakhir yang harus kulakukan bersamamu malam ini." Kerlingan mata Rayyan berikan untuk istri tercinta.


Wajah Arumi memerah. Perkataan ambigu macam apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Benar-benar membuat pikiran wanita itu berkelana ke mana-mana.


Pasangan pengantin itu turun dari pelaminan. Masih mengenakan gaun pengantin dan tuxedo berwarna hitam berbalut jas putih, keduanya melangkah mendekati meja bundar yang ada di barisan depan.


"Kita pamitan dulu kepada Mama dan kedua orang tuamu. Tidak enak jika berlalu begitu saja," bisik Arumi di telinga Rayyan.


Sontak, Rayyan memicingkan mata ke arah sang istri. Tak mengerti isi pikiran istrinya itu apa. Wanita itu tahu jika hubungannya dengan Firdaus dan Lena tidak akur, tapi mengapa Arumi meminta dirinya pamitan saat hendak menginggalkan ballroom? Mengizinkan sepasang pengkhianat itu turut hadir dalam momen sakral dirinya saja Rayyan menahan habis-habisan emosi dalam diri apalagi kalau harus berpamitan pada mereka.


"Cih! Tidak sudi aku berbicara kepada para pengkhianat itu!" Tanpa sadar kata-kata itu meluncur begitu saja tanda disadari oleh Rayyan.


Arumi menatap suaminya dan berkata, "Fine. Jika kamu tidak mau, setidaknya jangan biarkan aku menjadi menantu yang tak tahu sopan santun terhadap mertuaku. Bagaimanapun, saat ini statusku adalah menantu dari Dokter Firdaus dan Tante Lena." Wanita itu pasrah, tak mau beradu mulut dengan suaminya.


"Up to you!" Rayyan mengalihkan pandangan ke arah lain, sebab jika tidak maka ritual belah duren yang sudah direncanakan olehnya akan berakhir sia-sia.


"Dokter Firdaus, Tante Lena," sapa Arumi sopan. Senyuman hangat tak lupa ia berikan pada mertuanya yang duduk di sana.


"Terima kasih aku ucapkan karena kalian semua masih setia berada di tempat ini hingga acara selesai," sambungnya lagi.


Lena membalas senyuman Arumi. Mengulurkan tangan ke depan, lalu mengusap pundak menantunya lembut. "Jangan sungkan. Ini sudah menjadi tugas kami sebagai orang tua. Menghadiri momen bersejarah kalian yang akan terjadi sekali seumur hidup."

__ADS_1


"Benar 'kan, Jeng Nyimas?" tanya Lena seraya menoleh ke arah wanita cantik berkerudung broken white--warna senada dengan gaun yang dikenakan oleh mempelai wanita.


Nyimas membalas ucapan Lena dengan seulas senyum. Senyuman itu semakin mengembang kala melihat bagaimana sikap Lena terhadap Arumi. Sikap tulus tanpa ada niatan buruk tercermin dari interaksi antara anaknya dengan istri siri Firdaus.


Sepanjang acara, Nyimas sempat mencemaskan bagaimana sikap Lena terhadap Arumi nanti. Sedangkan ia tahu jika ternyata besannya itu adalah teman geng sosialita Naila yang tak lain adalah mantan besan wanita berhijab itu. Nyimas khawatir Lena akan memperlakukan Arumi sama seperti Naila dulu. Apalagi ia tahu hubungan antara Rayyan dan ibu tirinya tidak pernah akur sama sekali.


Namun, melihat ramahnya sikap Lena terhadap Arumi, membuat Nyimas yakin bahwa besannya itu adalah orang baik dan bisa menerima anak tercinta dalam keluarga Wijaya Kusuma.


"Kalian berdua mau kembali ke kamar?" tanya Firdaus yang berdiri di sisi Lena. Pria paruh baya itu memperhatikan menantunya dan sang putra secara bergantian. Secercah sinar kebahagiaan terpancar dari manik coklat keduanya.


"Tentu. Aku ingin membawa istriku ke kamar. Sudah terlalu lama dia bertukar udara dengan dua orang pengkhianat seperti kalian," sindir Rayyan.


Sontak, perkataan pria itu membuat Arumi menghunuskan tatapan tajam ke arah suaminya. Bola mata indah itu kembali memincing, seolah berkata jika dirinya tidak suka akan sikap yang ditunjukan kepada Firdaus dan Lena.


Rio, yang sedari tadi bergeming akhirnya turun tangan. Mencoba mencairkan suasana agar tak terlalu tegang.


Merangkul bahu Rayyan seraya berbisik, "Kemarilah, Bro! Aku akan membagikan beberapa tips agar ranjangmu yang dingin seperti Kutub Utara menjadi panas layaknya kompor gas." Lalu, Rio membawa Rayyan menjauh dari kerumunan.


Kini Arumi dapat menghela napas lega, sebab ketegangan yang tercipta beberapa saat telah mencair kembali. Dalam hati ia mengucapkan banyak terima masih karena Rio dapat membantunya keluar dari situasi yang rumit.


Lena berdehem guna mencairkan suasana. "Kamu pasti sangat lelah setelah seharian menjadi Ratu dalam hari bersejarah dalam hidupmu. Lekas temui Rayyan, jangan sampai membuat suamimu menunggu terlalu lama."


"Yang dikatakan Mama Mertuamu benar sekali, Rumi. Cepat susul Nak Rayyan!"


Meskipun merasa tidak enak hati atas ucapan suaminya barusan, Arumi memaksakan untuk tersenyum di hadapan mama serta mertuanya.


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu. Sekali lagi, aku ucapkan banyak terima kasih kepada Mama Lena dan--"


"Papa. Panggil aku Papa, karena mulai hari ini, statusmu adalah menantuku."


Wanita dalam balutan gaun berwarna broken white mengangguk dan tersenyum. Lantas, Arumi mulai memeluk dua wanita paruh baya itu secara bergantian.


"Titip Rayyan ya, Rumi. Tolong cintai dan sayangi bocah nakal itu dengan sepenuh hati. Walaupun sikapnya sedikit keras, tapi memiliki hati baik dan sangat penyayang. Mama yakin, kamu bisa menjaganya dengan baik," bisik Lena kala wanita itu memeluk Arumi.


"Aku pasti mencintai Rayyan dengan segenap jiwa dan ragaku, Ma. Aku janji akan merawat putra Mama dengan baik."


Kini giliran Arumi memeluk tubuh wanita berhati malaikat yang dulu pernah merawatnya hingga ia tumbuh menjadi wanita hebat dan berpendidikan tinggi.


"Ma ...." Arumi tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipi.

__ADS_1


Nyimas memeluk erat tubuh anak kesayangannya. Mengusap punggung Arumi dengan lembut.


"Berbaktilah pada suamimu, Nak. Layani dia sebaik-baiknya. Jangan pernah durhaka terhadap suami, sebab surgamu kini ada di kakinya," pesan Nyimas. Meskipun ia tahu jika Arumi pasti merawat Rayyan dengan baik, tapi wanita itu tetap memberikan wejangan terakhir sebelum melepas sang anak kehidupannya yang baru.


"Tentu. Aku pasti akan berbakti kepada suamiku, Ma. Do'akan aku, semoga rumah tanggaku kali ini langgeng tanpa adanya orang ketiga."


Masih dalam posisi berpelukan, Nyimas menjawab. "Dasar gadis nakal! Kamu lupa akan penyakit aneh suamimu itu hem? Rayyan tidak mungkin memiliki wanita lain sebab dia hanya jinak terhadapmu."


Pelukan itu terurai. Nyimas mengulurkan tangan untuk mengusut air mata sang anak. "Kendati begitu, Mama tetap mendo'akan semoga hubungan kalian langgeng selamanya."


Arumi melangkah maju dan berdiri di hadapan Firdaus. Sosok pria tegas yang begitu ia hormati.


"Papa tidak dapat memberikan harta berharga apa pun padamu selain cincin warisan keluarga yang telah istriku berikan padamu. Dengan cincin ini, kamu telah menjadi bagian dari keluarga Wijaya Kusuma."


Kemudian, tangan pria itu merogoh saku jas yang ia kenakan. Mengeluarkan dua lembar tiket pesawat dan voucher penginapan tuk berbulan madu.


"Waktu cuti kalian, Papa tambah menjadi dua minggu. Gunakan kesempatan itu untuk berbulan madu. Namun, ingat. Jangan merasa terbebani untuk segera memberikan cucu pada kami. Papa dan Mama mertuamu sama sekali tidak memaksamu tuk memberikan kami cucu. Asalkan kalian bahagia, itu sudah lebih dari cukup."


Arumi tertegun sejenak. Tak mengira Firdaus akan berkata seperti itu. Semua kalimat pria paruh baya itu memberikan setenangan dalam jiwa Arumi. Ia merasa beban terberat dalam hidupnya telah terangkat.


.


.


.


Next episode


"Bolehkah aku meminta hakku sebagai suamimu, Babe?" tanya Rayyan dengan suara berat dan sorot mata yang dipenuhi kabut ga*rah.


"Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan kepadaku, Honey. I'm yours!"


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2