Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Ray, Ini?


__ADS_3

Setelah memakan waktu kurang lebih sekitar satu jam tiga puluh menit, akhirnya kendaraan Rayyan telah tiba di kawasan perumahan tempat tinggal Arumi. Jarak antara rumah pria itu dengan sang kekasih cukup jauh sehingga membutuhkan waktu lama hingga ia tiba di tujuan.


Kondisi kota Jakarta yang terkenal macet membuat pria itu terjebak lampu merah berkali-kali karena banyaknya pengendaran motor yang menyalip sehingga saat lampu lalu lintas berubah hijau, ia tak dapat menginjak pedal gas sebab banyak kendaraan di depan sana yang belum melajukan kembali kendaraannya. Oleh karena itu, ketika mobil milik pria itu telah tiba di pintu gerbang tol, wajahnya terlihat begitu sumringah seolah baru saja terbebas dari penderitaan yang menyiksa dirinya.


Tatapan mata pria itu terpusat pada satu titik. Ia menatap ke depan sambil sesekali melirik ke arah kaca spion, lalu beralih pada telepon genggam miliknya yang disangkutkan pada phone holder yang ditempelkan di dashboard mobil.


"Jika dilihat dari lokasi yang dikirimkan Arumi seharusnya mini market yang dimaksud ada di sekitar sini." Rayyan melambatkan laju kendaraan seraya mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari lokasi mini market yang dimaksud.


Saat tiba di depan sebuah mini market dekat pintu masuk blok C sebuah perumahan dua lantai, Rayyan mematikan mesin kendaraan. Ia kembali mencocokan dengan lokasi yang dikirim.


"Benar. Ini lokasinya!" gumam pria itu. Kemudian ia meraih gawai yang ada di hadapannya, mengirimkan pesan singkat kepada sang kekasih.


[Aku sudah sampai di depan mini market. Kamu di mana?]


Setelah pesan singkat terkirim, Rayyan meraih setangkai mawar merah yang sengaja ia beli saat dalam perjalanan tadi dari kotak yang ada di bawah dashboard. Bunga mawar merah diartikan sebagai lambang cinta kepada seseorang. Ya ... Rayyan mengakui jika dirinya benar-benar mencintai Arumi dengan sepenuh hati.


Mengapa Rayyan hanya membeli setangkai bunga mawar merah? Sedangkan ia memiliki banyak uang untuk membeli buket bunga mawar dan memberikannya pada sang kekasih. Jawabannya hanya satu yaitu ia tak mau jikalau Nyimas curiga bila wanita paruh baya itu melihat Arumi membawa buket bunga setelah putri kesayangannya kembali ke rumah.


Sementara itu, di rumah Nyimas, Arumi tengah memasukan semua barang-barang penting yang wajib ada di dalam tas. Misalnya, telepon genggam, tisu, dompet dan handsanitizer.


Sebelum menjalani masa iddah, lipstick dan parfum menjadi barang wajib yang dibawa oleh wanita itu tapi untuk sementara waktu ini, kedua benda itu tidak masuk ke dalam kategori barang wajib baginya.


Ketika wanita itu hendak meraih handle pintu, telepon genggamnya berdering. Notifikasi dari kekasih tercinta terpampang di layar ponsel. Buru-buru ia membaca pesan singkat tersebut dan membalasnya dengan segera.


[Tunggu sebentar. Aku baru saja akan keluar rumah. Kamu tunggu aku di sana. Ingat, jangan ke mana-mana!]


Sebuah pesan singkat terkirim. Pesan singkat yang mengandung ancaman bagi seseorang di seberang sana.


Setelah memastikan pesan terkirim, wanita itu mengayun langkah menuruni anak tangga. Mendekati Nyimas yang sedang duduk bertiga bersama pada ART yang bekerja di rumah itu.


"Mama, aku pergi dulu ya." Arumi duduk di sebelah mama tercinta. Ia menyempatkan diri bercengkrama sebentar bersama orang tuanya sebelum pergi berkencan.

__ADS_1


Nyimas mengernyitkan kening. Netra wanita paruh baya itu memindai penampilan anak tercinta. Penampilan Arumi tidak tampak mencolok, malah terkesan sederhana. Mengenakan kaos berwarna putih dipadu celana jeans berwarna biru dan sneakers putih membuat penampilan Arumi terlihat cantik meski terkesan sedikit tomboy.


"Loh, tumben, malam minggu kamu pergi. Memangnya mau ke mana hem? Tidak biasanya kamu pergi malam-malam begini."


Banyaknya pertanyaan dilontarkan oleh wanita paruh baya itu pada sang anak membuat mata Arumi terpejam. Ia sudah menebak respon Nyimas akan begini saat melihat dirinya pergi keluar di malam hari. Oleh karena itu, ia sengaja meminta Rayyan menjemputnya di depan mini market agar Nyimas tidak semakin curiga.


"Aku akan pergi bersama temanku, Ma. Rencananya kami akan makan malam bersama. Jadi, malam ini Mama hanya ditemani Mbak Tini dan si Mbok, tidak masalah 'kan?" tanya Arumi memastikan kalau Nyimas tak masalah apabila wanita paruh baya itu ditinggal sendirian di rumah.


Sebelah alis Nyimas terangkat, kemudian melirik ke arah Arumi. Mendengar penuturan wanita muda itu membuat kecurigaan Nyimas semakin bertambah. Melihat sikap putri tercinta serta penampilannya kali ini, instingnya sebagai seorang ibu memberikan peringatan bahwa Arumi sedang dekat dengan seseorang. Namun, sepertinya wanita yang duduk di sebelahnya itu enggan berterus terang.


"Rini?" Nyimas menatap lekat wajah Arumi. Arumi menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Lantas, dengan siapa kamu pergi?"


Lagi-lagi, Nyimas menodong Arumi dengan pertanyaan menjebak. Alhasil, wanita muda itu gelagapan. Tak tahu harus menjawab apa.


Tanpa sengaja, ia melirik ke arah jam dinding kristal berbentuk burung merak. Jarum jam menunjukan pukul tujuh malam. Tiba-tiba ia kembali teringat Rayyan. Raut wajah wanita itu berubah, ia takut jika Rayyan kesal karena terlalu lama menunggu.


"Lain kali akan aku ceritakan pada Mama tapi bukan sekarang." Arumi bangkit dari kursi, lalu menyampirkan tas selempang di antara pundak dan ketiak.


"Bye, Mama. Jangan lupa minum obat!" seru Arumi sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu rumah tersebut.


Nyimas menatap kepergian Arumi hingga punggung wanita muda itu menghilang di balik partisi, terbuat dari kayu. Ia menghela napas panjang dan meraih cangkir teh hangat buatan Mbak Tini--ART rumah tersebut. Menyesapnya secara perlahan sambil menonton acara televisi.


"Gelagat putriku seperti sedang jatuh cinta," gumam Nyimas. "Kalaupun memang Arumi telah jatuh cinta tuk kedua kali, tentu saja aku bahagia, sebab ia sudah bisa move on dari masa lalu."


Dengan sedikit berlari Arumi mendatangi mobil milik Rayyan yang terparkir rapi di parkiran sebuah mini market dekat rumah Nyimas. Jendela mobil itu tertutup rapat.


Khawatir jika kekasih tercinta tertidur di dalam mobil akibat terlalu lama menunggu, ia mengintip dari luar jendela. Keadaan di dalam sana gelap gulita dan tak menunjukan tanda-tanda keberadaan seseorang.


Kedua alis wanita itu saling menaut kala tak menemukan sosok kekasih tercinta di dalam mobil. "Ke mana pria itu?" cicit Arumi. "Bukankah sudah kubilang tunggu saja di dalam mobil, tapi kenapa malah berkeliaran!"


Sedikit kesal karena ternyata Rayyan tak ada di dalam mobil, padahal ia sudah rela berlari agar tak membuat Rayyan menunggu terlalu lama. Namun, sayang, pria itu malah tidak ada di tempat.

__ADS_1


Tidak mau menunggu terlalu lama, akhirnya wanita itu menghubungi mantan musuhnya itu.


"Halo, Ray! Aku sudah sampai tapi saat tiba di sini tak menemukan keberadaanmu. Memangnya kamu ke mana?" sungut Arumi berapi-api. Ia kesal, sebab Rayyan tak menuruti perintahnya.


Bukan tanpa alasan wanita itu meminta Rayyan agar tetap di dalam mobil. Ia hanya cemas ada orang yang melihat kebersamaan mereka, lalu menjadikan kedekatan Arumi dan Rayyan bahan gunjingan ibu-ibu komplek sama seperti di komplek rumah wanita itu dulu.


Akibat tak kunjung hamil, hampir seluruh tetangga di komplek Arumi menggunjingkan dirinya hingga ia menjadi bahan perbincangan setiap orang. Arumi tidak mau itu terjadi di tempat tinggalnya yang sekarang, sebab ia mencemaskan kesehatan Nyimas jika terjadi hal buruk menimpanya.


"Kamu tunggu di situ sebentar. Aku sedang membeli air minum di mini market ini. Aku kehausan karena tidak ada persediaan air di dalam mobil." sahut Rayyan di seberang sana.


"Oke. Jangan lama-lama!" Sambungan telepon terputus. Wanita itu kembali memasukan benda pipih miliknya ke dalam tas slempang.


Tak lama berselang, Rayyan keluar dari dalam mini market dengan menjinjing satu bungkus kantong belanja dengan logo nama mini market tersebut. Ia mengulum senyum kala melihat wajah Arumi tengah cemberut.


"Maaf ya, membuatmu menunggu lama." Sadar akan kesalahannya, ia berusaha membujuk Arumi agar tak merajuk lagi. "Ayo, masuk!"


Meskipun tangan pria itu sedang menjinjing kantong belanjaan, ia tetap membukakan pintu untuk Arumi. Menghalangi bagian atas pintu agar kepala sang kekasih tidak terantuk. Pria itu juga memasangkan sabuk pengaman di tubuh ramping bak gitar Spanyol.


Setelah memastikan wanita cantik itu duduk dengan nyaman, barulah Rayyan masuk ke dalam mobil.


"Aku sengaja membelikan ini untukmu." Rayyan menyodorkan kantong belanjaan berukuran kecil ke hadapan Arumi.


Diliputi rasa penasaran, Arumi bergegas membuka bingkisan itu. Seketika bola mata Arumi terbelalak sempurna ketika tangan wanita itu mengeluarkan isi dari kantong belanjaan tersebut.


"Ray ... i-ini--"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2