
Mona yang tengah duduk di samping Kayla sesekali mencuri pandang ke sisi temannya. Kejadian di kantor agensi tadi cukup membuat sang model terhenyak, tak mengira jika dampak dari tersebarnya video yang tersebar luas di duni maya begitu besar bahkan menghancurkan karir istri siri Mahesa dalam sekejap. Karir yang susah payah dibangun dari nol kini hancur berkeping-keping tak tersisa. Bukan hanya itu saja, citra Kayla pun sebagai model top di tanah air dan kancah internasional tercoreng tergantikan oleh sebutan pelakor yang tersemat kepadanya.
Raut wajah Kayla tampak murung, tatapan mata kosong ke depan. Kejadian hari ini di luar prediksi Kayla dan juga Mona.
"Kayla, apa kamu baik-baik saja?" tanya Mona lirih sambil memperhatikan air muka Kayla.
Mantan model terkenal dengan jam kerja lebih banyak dibanding rekan kerjanya sesama model di Top Model Agency melirik sekilas, lalu menatap kembali lurus ke depan.
"Apakah kamu pikir, aku baik-baik saja setelah semua yang terjadi kepadaku? Tidak, Mon! Jika kamu beranggapan saat ini aku dalam keadaan baik, maka jawabannya adalah salah."
"Saat ini aku sedang terpuruk, terjatuh sejatuh-jatuhnya. Karir yang kubangun selama bertahun-tahun hancur dan image-ku sebagai seorang model papan atas sirna. Upah yang seharusnya aku dapat hasil jerih payahku selama hampir lima bulan tidak dibayarkan oleh mereka. Ibaratnya, selama lima bulan ini mereka menggunakan jasaku secara gratis! Apakah aku masih bisa berkata jika diriku saat ini baik-baik saja?" sahut Kayla berapi-api. Wanita itu tampak frustasi, bola matanya memerah dan hidung pun terasa masam.
Susah payah Kayla membendung butiran kristal agar tak jatuh membasahi pipi. Tidak mau terlihat lemah di hadapan asistennya itu.
Mona menghela napas dalam. Ia pun akan bereaksi sama jika dirinya berada di posisi Kayla. Siang-malam, panas-terik, wanita bertubuh bak gitar Spanyol bekerjakeras demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar saldo rekening bertambah. Namun, rupanya peluh bercucuran dan energi yang terbuang tidak menghasilkan apa-apa. Hanya letih yang didapat.
"Aku bisa mengerti perasaanmu tapi ... mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Semuanya telah terjadi, dan tidak bisa diputar kembali. Lantas, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Mencari pekerjaan lain? Atau kamu mau rehat sejenak dari rutinitasmu sebagai seorang model?" ujar Mona dengan nada pelan dan sangat hati-hati.
Emosi Kayla menjadi tidak stabil pasca operasi pengangkatan rahim beberapa bulan lalu, sehingga Mona harus berhati-hati dalam bertutur kata. Berusaha tidak menyinggung perasaan teman dekatnya itu.
Kayla terdiam, dan tak langsung menjawab pertanyaan Mona. Wanita itu menyandarkan punggung ke belakang, merebahkan kepala di sandaran kursi penumpang.
"Sementara waktu aku mau istirahat dulu sambil menemani Mas Mahesa di rumah sakit. Lagi pula, masih ada sisa dua minggu waktuku untuk bersama suamiku sebelum membayar kembali uang tutup mulut untuk mereka. Ingin kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya, berharap ada keajaiban datang menghampiri."
Lagi dan lagi Mona menghela napas panjang. Dalam situasi begini, Kayla masih saja memikirkan Mahesa padahal karirnya telah hancur, rahimnya diangkat, image-nya sebagai seorang model tercoreng, tak lagi dianggap sebagai menantu oleh keluarga Adiguna dan nasib rumah tangganya pun tidak jelas karena hingga detik ini belum ada kata talak terucap dari bibir Mahesa.
__ADS_1
***
Kesunyian dalam ruang ICU membentang, seorang pria tampan tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di tubuh. Hanya terdengar alat monitor di samping tempat tidur yang berbunyi. Selang oksigen menancap di hidung, membantu si pasien untuk dapat bernapas.
Seluruh tenaga medis yang bertugas di ruang ICU angkat tangan dengan kondisi pasien, mereka menyerah karena hingga detik ini tidak ada tanda-tanda jika pasien tersebut akan terbangun dari koma. Meski begitu, kedua orang tua pasien dan istri yang kini tak lagi dianggap kehadirannya oleh Naila dan Putra, terus berharap semoga keajaiban terjadi.
"Mas ... aku datang lagi. Namun, kali ini aku ingin curhat sama kamu," ucap Kayla lirih. Wanita itu tetap dengan rencana awalnya, datang ke rumah sakit walau citranya sebagai model terkenal telah hancur akibat video viral yang tengah menjadi perbincangan hangat seluruh warga +62.
Duduk di sisi ranjang, jemari tangan menggenggam erat telapak tangan Mahesa. Sesekali memberikan ciuman penuh cinta di punggung tangan suami tercinta.
"Beberapa hari ini banyak kejadian tak terduga menimpa diriku. Berawal dari kejadian di kedai bubur ayam hingga kejadian di kantor agensi." Menjeda sejenak kalimatnya, mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur pada Mahesa. "Semua ini terjadi akibat sebuah video yang tengah viral di dunia maya. Video di saat aku dan mantan istrimu adu mulut di sebuah cafe terkenal di daerah Bali."
"Bukan hanya itu saja, video saat aku bertengkar dengan Arumi di sebuah mall pun beredar. Kamu ingat 'kan, saat kita hendak makan siang bersama di salah satu restoran terkenal. Di waktu bersamaan rupanya Arumi pun berada di mall yang sama dengan kita." Pikiran wanita itu menerawang jauh ke sebuah dimensi di masa lalu. Masa di mana ia masih mengandung buah cintanya bersama sang suami.
Mengingat kejadian beberapa bulan lalu, membuat dada Kayla terasa sesak. Mata memerah menahan tangis, suaranya pun tercekat di tenggorokan. Saat itu, ia dan Mahesa begitu bahagia akan kehadiran si kecil yang tumbuh sehat di dalam rahim wanita itu. Kehadiran penerus keluarga Adiguna yang selama ini dinanti telah tumbuh dalam rahim istri siri Mahesa.
Luruh sudah air mata yang sedari tadi ditahan oleh Kayla. Butiran kristal itu jatuh membasahi pipi. Dadanya teras sesak jika mengingat betapa dulu ia begitu licik hingga berniat menjelekan Arumi di mata Mahesa.
"Aku yang salah, Mas, bukan Arumi. Mantan istrimu tidak bersalah sama sekali. Dia kujadikan kambing hitam agar kamu semakin membenci wanita itu!" Suara tangis menyayat kalbu menggema memenuhi ruang ICU. Hati Kayla terasa sakit bagai sebilah pisau yang menancam hingga menusuk ke tulang sumsum yang terdalam. Begitu sakit dan menyesakan.
Bulir air mata semakin deras membasahi pipi, Kayla sudah tidak tahan dengan penderitaan yang ia alami beberapa hari ini. Segala keangkuhan dan kesombongan yang dimiliki olehnya sirna.
"Kamu ... pasti marah 'kan setelah tahu kejadian yang sebenarnya terjadi?" Kembali berucap dengan suara sengau. "Aku bisa maklum jika kamu memang marah padaku, tapi memang kenyataannya seperti itu. Aku terpaksa melakukan itu semua karena takut kehilanganmu. Aku takut kamu kembali pada Arumi dan meninggalkanku sendirian."
"Rasa cintaku kepadamu begitu besar hingga membuatku jadi buta. Aku melakukan segala macam cara agar kamu tetap berada di sisiku selamanya. Maafkan aku, Mas ... maafkan, aku ...."
__ADS_1
"Namun, kini perbuatan yang kulakukan terhadap Arumi telah dibalas oleh Tuhan. Aku menuai hasil atas apa yang telah kuperbuat di masa lalu. Tanpa Arumi susah payah turun tangan, karma datang menghampiriku. Hanya karena video itu, karirku sebagai model hancur, nama baikku pun tercoreng. Semua orang menyebutku dengan sebutan pelakor."
Air mata kembali menetes di pelupuk mata Kayla. Ya ... wanita itu sadar atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan terhadap Arumi dulu.
Dengan teganya Kayla merebut suami dari sahabatnya sendiri. Menyusun rencana agar wanita baik yang selalu melindungi dirinya dari bully-an teman-teman di panti asuhan melihat bagaimana sang model melakukan pergumulan panas di atas ranjang bersama pria yang telah sah menjadi suami Arumi. Bertukar saliva, beradu erangan dan desahaan hingga mencapai satu titik kenikmatan bersama-sama.
"Aku menyesal, Mas. Sungguh, sangat menyesal. Dulu, seharusnya aku menolak permintaan Tante Naila. Namun, karena rasa sayangku terhadap Mama-mu dan dendam yang tumbuh bersemi dalam diri membuatku menjadi gelap mata. Bersedia menjadi kekasih gelap dari pria yang telah beristri. Tanpa memikirkan perasaan Arumi, aku malah merampas apa yang telah menjadi milik mantan istrimu, padahal dia begitu baik kepadaku."
Mona yang saat itu tengah berdiri di dalam ruangan ICU, menemani Kayla ikut meneteskan air mata. Tak tahan melihat Kayla menangis tersedu-sedu di depan Mahesa yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Ia ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa teman baiknya.
"Namun, semua sudah terjadi. Aku tak bisa mengembalikan semua yang telah terjadi. Saat ini aku cuma berharap semoga Arumi mau memaafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat kepadanya. Walaupun kutahu, kata maaf saja tidak dapat mengobati rasa sakit yang pernah kutorehkan di hatinya. Tapi, setidaknya aku telah berusaha. Benar 'kan, Mas?"
Kayla mencoba tersenyum dipaksakan, meski air mata masih belum berhenti mengalir di pipi. "Setelah kamu siuman, kita sama-sama menemui Arumi, meminta maaf pada mantan istrimu itu. Bagaimana, kamu setuju tidak?" Wanita itu kembali mengajak Mahesa berbicara, walau ia tahu jika suaminya tidak akan merespon apa-apa.
Wanita itu menatap wajah Mahesa yang semakin tirus. Bobot tubuh pria itu menyusut, tidak ada lagi tubuh tegap dengan pahatan otot di mana-mana. Wajah cekung dan pucat pasi bagaikan mayat. Meskipun begitu, di mata Kayla, suaminya itu tetaplah pria gagah, tampan dan mampu menggetarkan jiwa.
Kayla melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Biasanya pukul segitu Naila akan datang ke rumah sakit, menjaga putra kesayangannya.
Tangan Kayla terangkat ke atas, mengusut air mata yang membasahi pipi menggunakan sapu tangan yang ada di saku celana. Menghirup napas dalam, seraya menenangkan diri.
Setelah dirasa tubuhnya cukup kembali tenang, Kayla berkata. "Aku harus pulang sebelum Mama-mu menemukanku di sini. Besok, aku akan datang lagi kesini. See you, Mas." Memberikan ciuman penuh cinta di kening Mahesa, lalu bangkit dari kursi. Melangkah meninggalkan ruang ICU.
Beberapa detik setelah kepergian Kayla, tanpa disadari oleh siapa pun, jemari Mahesa bergerak secara perlahan.
.
__ADS_1
.
.