Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Akan Melindungimu Selamanya


__ADS_3

Berbekal informasi yang didapat dari salah satu perawat di bangsal Bougenville--tempat Arumi bekerja, wanita itu melangkahkan kaki menuju ruang perawatan Kayla. Ia secara khusus datang membesuk mantan sahabatnya itu. Arumi ingin melihat secara langsung bagaimana awal penderitaan wanita yang telah merampas semua kebahagiaannya.


Sepanjang jalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat inap, Arumi menarik napas panjang seraya memejamkan mata. Ia berusaha untuk memberanikan diri agar kelak saat bertemu dengan Kayla, wanita itu tidak terlihat lemah sedikit pun. Degup jantung wanita itu tak beraturan kala langkah kaki berhenti tepat di depan sebuah kamar VIP.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, Arumi menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan. "Kamu pasti kuat!"


Tangan Arumi mulai mengetuk pintu, terdengar suara cempreng Kayla mempersilakan seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam kamar. Kondisi tubuh lemah, membuat Kayla hanya bisa terbaring di atas ranjang.


Pintu kamar terbuka lebar, Arumi berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia membeku di tempat kala netranya melihat mantan sahabatnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Tampaknya karma dari Tuhan mulai berlaku untukmu," sinis Arumi. Langkah kaki wanita itu membawa sang empunya masuk ke dalam ruangan kamar yang memiliki fasilitas lengkap layaknya sebuah kamar hotel bintang lima.


Kayla yang sedang beristirahat, seketika menoleh ke sumber suara. Ia terkesiap beberapa saat ketika melihat wanita yang pernah disakiti olehnya tengah berdiri angkuh, tersenyum smirk dengan sorot mata mengejek.


"K-kamu ... sedang apa di sini?" tanya Kayla terbata-bata. Ada sedikit ketakutan terlukis di wajah wanita itu saat melihat Arumi berjalan perlahan mendekati ranjang.


Setapak demi setapak Arumi berjalan mendekat, lalu ia berhenti persis di sisi kiri Kayla. Wanita itu memindai tubuh mantan sahabatnya dari atas rambut hingga ke ujung kaki. Timbul rasa iba dalam diri Arumi. Bagaimanapun, wanita di hadapannya ini pernah menjadi bagian dari kisah hidup masa lalu Arumi. Mereka pernah hidup bersama-sama selama bertahun-tahun di suka maupun duka.


Namun, Arumi segera menepis rasa itu dengan segera. Ia kembali memasang wajah dingin dengan sorot mata tajam.


"Aku?" Arumi menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuk. "Mau apa ke sini? Tentu saja ingin menyaksikan bagaimana cara Tuhan memberikan teguran bagi wanita sepertimu, Kay."


"Aku ingin melihat dengan mata dan kepalaku sendiri bagaimana keadaanmu setelah kecelakaan kemarin siang. Apakah kecelakaan kemarin siang telah membuatmu jera dan tak lagi mengganggu kehidupanku atau malah membuatmu semakin membenciku dan berniat membalaskan dendam atas kehilangan anak yang dikandung olehmu." Arumi menghunus tatapan tajam ke arah Kayla hingga membuat Kayla bungkam seketika.


Kayla mengumpat dalam hati. 'Sial! Seandainya saja saat ini aku tidak dalam keadaan lemah, sudah kutampar wajah itu dan kuhina dia di hadapan semua orang.'

__ADS_1


Emosi wanita itu sudah berada di ubun-ubun. Seluruh tubuhnya terasa panas. Akan tetapi, ia tak dapat melakukan apa-apa. Tubuh Kayla benar-benar lemah. Seandainya saja ia memiliki sedikit kekuatan, ingin rasanya Kayla membalas setiap perkataan mantan sahabatnya itu.


"Kenapa kamu diam? Biasanya kamu akan membalas setiap perkataan yang kuucapkan. Kamu sudah insyaf ya?" Arumi menaikan sebelah sudut bibirnya ke atas. "Baguslah, jika kamu sudah insyaf. Itu artinya kamu telah menyadari semua kesalahanmu di masa lalu. Dan, aku tinggal menunggu perkataan maaf dari bibirmu."


"Jangan mimpi!" sergah Kayla cepat. "Sampai kapan pun, aku tak akan pernah meminta maaf padamu karena aku tak melakukan kesalahan apa pun."


Arumi memutar mata dengan malas. "Kupikir, setelah kecelakaan kemarin siang kamu telah berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi tapi dugaanku ternyata salah. Kamu masih sama seperti dulu, keras kepala, sombong dan hatimu telah dipenuhi kebencian hingga mendarah daging."


"Seharusnya kecelakaan kemarin cukup membuatmu tersadar atas semua kesalahan yang pernah kamu perbuat kepadaku, Kay. Seharusnya kamu introspeksi diri mengapa Tuhan sampai merampas dua hal yang amat penting dalam hidupmu secara bersamaan. Bukan malah membuatmu semakin membenciku."


"Ingat, Kay. Tuhan telah memberikan kesempatan padamu untuk kedua kali. Pergunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari."


"Cukup!" pekik Kayla. "Jangan pernah kamu mengguruiku. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa dinasihati jika melakukan kesalahan!"


"Aku sudah dewasa dan dapat menentukan mana yang baik dan tidak baik. Dan kamu, tidak berhak memberikan nasihat padaku karena kamu bukan siapa-siapa aku! Kamu hanya istri tua suamiku. Mantan istri yang tak berguna karena tak mampu memberikan keturunan pada Mas Mahesa."


"Itu artinya, selamanya kamu tidak ada pernah bisa hamil lagi. Begitu pun denganku. Aku tidak bisa memberikan keturunan karena aku bukan lagi istri pria berengsek itu. Namun, bedanya aku masih memiliki peluang untuk dapat hamil karena rahimku masih ada di dalam sini." Arumi mengelus perutnya yang rata dengan lembut. Seolah di dalam sana telah hadir calon anak dari pria yang beberapa hari ini menjadi kekasih wanita itu.


"Tutup mulutmu, Rumi!" sentak Kayla. "Sebaiknya kamu keluar dari sini, sebelum aku meminta petugas keamanan mengusirmu karena telah menggangu ketenangan pasien."


"Tanpa kamu minta pun aku akan keluar dari kamar ini sebab urusanku telah selesai. Aku sudah puas melihatmu menderita." Arumi membalikan tubuh, membelakangi Kayla. Ia melangkah maju ke depan.


Saat tiba di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya, memutar kepala ke kanan seraya berkata, "Kuharap, Tante Naila dan Om Putra tidak memaksa Mas Mahes untuk menikah lagi setelah mereka tahu kamu tak lagi dapat memberikan keturunan untuk keluarga Adiguna."


"Kuharap, kamu tidak merasakan bagaimana sakitnya hatiku saat tahu suami yang begitu dicintai bercinta dengan wanita lain di hadapanmu sendiri."

__ADS_1


Tangan Arumi memutar handle pintu, ia mengayunkan kaki keluar dari kamar Kayla. Hati wanita itu sakit, benar-benar sakit.


Tanpa terasa, air mata wanita itu jatuh berderai. Bahu bergetar hebat dan pemandangan sekitar berubah menjadi buram.


Ia meraba dinding rumah sakit. Berjalan perlahan mendekati kursi panjang yang ada di sepanjang lorong rumah sakit.


"Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa hubungan persaudaraan yang telah kubina bersama Kayla harus berakhir tragis. Kenapa, Tuhan?" Tangis Arumi pecah seketika kala ia telah mendudukan bokong sintal itu di atas kursi panjang rumah sakit.


"Dulu, aku pikir kami akan hidup bahagia. Tumbuh dewasa bersama kedua sahabatku. Kami dapat tersenyum bahagia bersama-sama dengan keluarga masing-masing dan menghabiskan waktu tua pun bersama-sama hingga maut memisahkan. Namun, ternyata impian itu hanya sekedar harapan belaka. Sampai kapan pun, impian itu tak kan pernah terwujud."


Isak tangis kembali terdengar. Suara tangisan itu begitu menyayat kalbu. Arumi menangis seorang diri, mencurahkan isi hatinya yang terdalam.


"Apakah cita-citaku itu terlalu berlebihan? Hingga Engkau tak mau mengabulkan harapanku itu?" ucap Arumi lirih.


"Kamu tidak layak menangisi wanita seperti itu. Air matamu terlalu berharga hanya untuk wanita jahat seperti mantan sahabatmu itu." Suara berat seorang pria menghentikan sejenak tangis Arumi. Meskipun tak dapat melihat sosok pria yang berdiri di sampingnya, tetapi Arumi tahu siapa orang itu.


Tanpa sungkan, ia segera merebahkan kepalanya di bahu pria itu kala pria jangkung itu duduk di sebelahnya.


"Jangan menangis lagi. Aku yakin, akan ada hikmah di balik semua cobaan ini." Pria itu mengusap lembut puncak kepala Arumi. "Yang terpenting saat ini kamu harus lebih waspada karena aku yakin, dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum melihatmu benar-benar hancur."


"Namun, kamu jangan khawatir, aku akan selalu ada di dekatmu. Tak kan pernah membiarkan Kayla atau siapa pun mencelakaimu sedikit pun. Aku berjanji akan melindungimu, selamanya."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2