
Mobil yang dikendarai Raihan melaju tenang di jalanan ibu kota. Walaupun jalanan padat merayap akibat terjebak macet beberapa kali, tetapi tak menyurutkan niatan pria itu datang menemui kedua orang tua Naura. Hari ini, bertepat dengan dua bulan setelah resmi pacaran, anak bungsu Firdaus membulatkan tekad ingin meminta izin kepada papa dan mama sang kekasih, menjadikan dokter cantik itu sebagai istrinya.
"Apakah kamu gugup, Rai?" tanya Naura kala melihat jemari tangan Raihan mengetuk-ngetuk stir mobil. Sejak keluar dari apartemen hingga detik ini pria itu tampak gelisah.
Menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke depan, memperhatikan jalanan dari dalam mobil. "Sepertinya begitu. Tapi, kamu tenang saja aku tidak akan pernah mundur meski Mama-mu menolakku. Aku pasti terus berjuang hingga tetes darah berakhir."
Jawaban Raihan mematahkan keraguan dalam benak Naura. Ternyata pria itu benar-benar serius atas hubungan yang baru terjalin seumur jagung. Ia pikir, Raihan akan mundur setelah mengetahui bagaimana karakter dari sang mama tapi rupanyan lelaki itu terus maju dan pantang mundur.
Menyunggingkan sebuah senyuman di sudut bibir. "Awas saja ya kalau sampai kamu kabur setelah mendapat penolakan dari Mama-ku! Aku bersumpah akan mengutukmu menjadi pangeran katak seperti di dalam dongeng."
Raihan terkekeh pelan, lalu mengusap pucuk kepala Naura dengan lembut. "Iya, Sayang. Kamu boleh mengutukku menjadi katak, kelinci atau apa pun sesuka hatimu. Namun, kutukan itu tidak mungkin terjadi karena aku tak kan pernah mundur sedikit pun."
Bangunan rumah dua lantai mengusung konsep minimalis modern yang didominasi warna putih dan cream tampak terlihat mewah dan begitu asri. Sang pemilik rumah sengaja menyediakan lahan untuk ditanami aneka ragam tumbuhan di halaman depan rumah. Raihan mematikan mesin mobil, kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk Naura.
Telapak tangan mulai berkeringat. Detak jantung semakin tak beraturan ketika melihat dokter Ari--ayah Naura berdiri di ambang pintu tengah menatap tajam ke arah Raihan.
"Jangan takut, Papa-ku tidak mungkin menggigitmu," bisik Naura di telinga Raihan. Sengaja menggoda pria itu karena ekspresi wajah terlihat begitu menggemaskan.
Naura melepaskan genggaman tanga Raihan dan berhambur mendekati dokter Ari. "Papa," ucapnya lembut sambil melingkarkan tangan di pinggang sang papa. "Ini Raihan, anak bungsu mendiang Dokter Firdaus sekaligus adik kandung Dokter Rayyan."
"Selamat siang, Dokter Ari. Apa kabar?" sapa Raihan hormat seraya mengulurkan tangan ke depan. Walaupun dia pernah berkomunikasi sekali melalui sambungan telepon, meminta izin mengencani anak semata wayangnya tetap saja ada rasa canggung bersemayam dalam diri.
Dokter Ari menerima uluran tangan Raihan. "Ya, selamat siang juga. Mari, silakan masuk!" Pria paruh baya itu mempersilakan calon menantunya masuk ke dalam rumah.
Setelah mereka semua duduk berhadapan, Naura membuka suara. "Pa, Mama di mana? Biasanya jam segini Mama sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah."
"Mama-mu sedang di kamar mandi. Sebentar lagi turun," jawab Dokter Ari singkat.
Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya turun dari lantai dua dan melangkah menuju ruang tamu. Seorang pelayan memberitahu bahwa ada Naura dan seorang pria sedang menunggu di depan.
"Sayang, kenapa kamu pulang tidak bilang terlebih dulu kepada Mama. Kalau tahu begini, Mama akan meminta Budhe Erna menyiapkan makanan kesukaanmu." Mama Naura melihat ke arah Raihan. Wajah pemuda itu tak asing baginya. Otak berusaha keras mengingat, siapakah pria yang duduk di seberangnya. "Dia siapa, kenapa mukanya mirip sekali dengan mendiang Dokter Firdaus?"
"Dia adalah anak bungsu mendiang Dokter Firdaus, adik kandung Dokter Rayyan," sahut Naura.
"Ha! Jadi ... pria ini adalah anak dari si Lena--pelakor kesayangan Dokter Firdaus?" ceplos Mama Naura tanpa memikirkan akibat dari ucapannya yang menghina Lena di depan anak tercinta.
__ADS_1
"Mama! Jangan bicara begitu, tidak sopan!" seru Naura sambil menyentuh lengan sang mama.
Wanita paruh baya itu menatap keheranan ke arah Naura. Terlihat jelas kilatan ketidaksukaan terpancar di bola matanya yang bulat khas keturunan Arab. "Iya .... Iya .... Mama minta maaf karena sudah keceplosan." Kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Raihan dan berkata, "Kalau boleh tahu, ada keperluan apa kamu datang ke sini? Lalu, kenapa kamu bisa bersama dengan anak saya?"
Raihan menarik napas dalam, mencoba mengendalikan degup jantung tak beraturan yang semakin lama semakin kencang terasa dan rasanya hampir meledak. Setelah dirasa cukup tenang, barulah dia menjawab, "Kedatangan saya ke sini ingin meminta restu dari Tante untuk mempersunting Naura--anak kesayangan Tante dan Om."
"Apa? Meminta restu?" Mama Naura tercengang dengan bola mata bulat semakin melebar sempurna. Wanita paruh baya itu menatap anak tercinta dan Raihan secara bergantian.
"Benar, Ma. Raihan datang ke sini memang sengaja ingin bertemu dengan Mama." Kali ini Naura ikut membuka suara, membantu kekasih tercinta. "Aku dan Raihan sudah tiga bulan menjalin kasih karena kami tidak mau terlalu lama pacaran sehingga memutuskan membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius lagi."
"Jangan bercanda kamu, Ra!"
Naura menggeleng kepala cepat. "Tidak, Mama. Aku serius."
Mama Naura mendengkus kesal. "Apa kamu tahu, siapa lelaki yang ada di depan kita, Ra? Dia adalah anak dari seorang pelakor. Mamanya itu telah merebut suami orang demi egonya sendiri. Apakah kamu mau punya mertua seperti itu, hem?"
"Itu hanya masa lalu, Ma. Tante Lena sekarang telah berubah dan mengakui kesalahannya. Kini, beliau sedang berusah memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang lurus," ucap Naura memberi penjelasan kepada sang mama.
"Berubah katamu? Omong kosong! Mana mungkin orang seperti dia mengakui kesalahannya dan kembali ke jalan yang lurus. Ada-ada saja." Tersenyum sinis sambil menatap penuh kebencian kepada Raihan.
"Tapi itu semua benar, Ma. Tante Lena sudah berubah. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keseharian Tante Lena sekarang." Naura masih terus membela calon mertuanya di hadapan mama tercinta.
Raihan menundukan kepala sambil meremas pinggiran sofa, mengurai rasa kesal yang menghinggapi diri. Tak bisa menyalahkan wanita paruh baya di depannya karena memang kelakukan Lena dulu begitu kejam terhadap Mei Ling. Namun, sebagai seorang anak tentu tidak terima apabila orang tuanya dihina di depan mata.
"Lebih baik kamu melajang seumur hidup daripada menikah dengan anak seorang pelakor!" teriak Mama Naura lantang, bagai suara gemuruh petir di siang bolong.
"Mama, jaga bicaramu!" seru Dokter Ari setelah melihat situasi semakin memanas. Sejak tadi ia diam ingin melihat bagaimana Naura dan Raihan berusaha meluluhkan hati istri tercinta.
Keheningan yang panjang mengambang di udara kala suara bariton seorang dokter paruh baya menggema memenuhi penjuru ruangan. Semua orang terdiam, tak ada satu orang pun berani membuka suara.
"Mama saya memang seorang pelakor yang merebut suami orang dari tangan wanita lain. Perbuatan Mama serta mendiang Papa memang tidak pantas untuk dicontoh. Namun, apakah Mama saya tidak pantas diberikan kesempatan kedua?" ucap Raihan lirih dengan bola mata berkaca-kaca.
"Saya tahu bagaimana perasaan Tante bila berbesanan dengan mantan seorang pelakor. Pasti ada rasa malu menyelimuti diri. Itu pun yang saya rasakan setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Namun, menyesal pun tiada arti karena semua t'lah berlalu. Sebenci apa pun dan sehina apa pun ibu saya, beliau tetaplah wanita yang telah mengandung dan melahirkan saya ke dunia ini."
"Tante boleh membenci Mama dan saya, tetapi tolong jangan mengucap sumpah serapah tentang Naura. Kasihan dia kalau sampai ucapan Tante didengar dan diijabah oleh Tuhan. Apakah Tante tidak berpikir bagaimana orang lain menggunjingkan Naura bila selamanya hidup melajang," sambung Raihan.
__ADS_1
Hati bagai diremas oleh jutaan tangan tak kasat mata ketika membayangkan wanita yang dicintainya hidup melajang seumur hidup. Sumpah demi apa pun, ia tidak bisa membayangkan itu semua. Terbesit rasa bersalah karena telah menyeret Naura sehingga sang kekasih mendapat sumpah serapah dari orang tuanya.
"Ma, kendalikan emosimu. Jangan mengucapkan kata-kata tidak baik saat sedang marah," tegur Dokter Ari kepada istrinya.
"Tapi, Pa ... Mama--" Akan tetapi, sebuah tangan terangkat ke udara memberi isyarat kepada istri tercinta untuk tidak berucap lagi.
"Nak Raihan, apa yang membuatmu begitu yakin kalau Naura adalah wanita tepat untuk dijadikan pelabuhan terakhir?" tanya Dokter Ari serius. Kali ini, pria yang bekerja di rumah sakit Persada International Hospital kembali membuka suara. Ingin mengemukakan isi hati yang mengganjal sedari tadi.
Dengan penuh keyakinan Raihan menjawab, "Naluri saya sebagai lelaki mengatakan demikian, Om. Memang terlalu dini membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan mengingat kami baru dua bulan menjalankan proses penjajakan. Namun, bukankah sebaiknya niatan baik disegerakan agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Lagipula, saya dan Naura sudah mantang dalam segala hal jadi tidak ada alasan untuk menunda-nunda."
"Mengenai masa lalu Mama saya, memang beliau bersalah karena telah menjadi dalang atas insiden yang menimpa mendiang Tante Mei Ling. Saya bisa terima bila Om dan Tante tak menyukai perbuatan Mama saya di masa lalu. Namun, tolong jangan jadikan itu alasan untuk memisahkan saya dan Naura. Saya ... benar-benar tulus mencintainya. Saya ... tidak bisa hidup tanpanya."
Bola mata berkaca-kaca dan hidung terasa masam. Gemuruh dalam hati saling bersahutan. Sumpah demi apa pun, ingin sekali Naura menangis di hadapan semua orang. Seumur hidup, baru kali ini merasakan jika dirinya begitu sangat dibutuhkan oleh seseorang yang dicintainya.
Dokter Ari dan sang istri terpana mendengar perkataan Raihan. Mereka saling melirik satu sama lain, kemudian menatap anak tercinta yang tengah menahan tangis agar tak pecah. Tanpa sadar, sebuah lengkungan terlukis di sudut bibir ibu kandung Naura. Gunung es dalam diri, secara perlahan mulai mencair.
Pria paruh baya dengan rambut keperakan ikut tersenyum tipis sambil menatap raut wajah Raihan. Di wajah sang dosen tak ada sedikit pun keraguan. Dalam diri menyakini kalau anak bungsu Firdaus memanglah lelaki yang pantas mendampingi Naura. Akan tetapi, masih ada satu hal yang ingin dia tanyakan.
"Kita semua tahu bagaimana masa lalu kedua orang tuamu. Mendiang atasanku bermain api dengan seorang wanita di saat dia telah menikah. Lalu, apa jaminannya kalau perbuatan itu tidak terjadi dalam pernikahan putriku. Bisa saja 'kan, kamu mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh Papa dan Mamamu."
"Bila itu terjadi, saya siap menerima hukuman apa pun yang ingin Om dan Tante lakukan terhadap saya. Tapi satu hal yang pasti, kejadian itu tidak mungkin menimpa kami, sebab saya sangat mencintai Naura apa adanya."
Mama Naura menghela napas kasar, lalu melipat kedua tangan ke depan dada. "Baiklah, kalau begitu saya memberikan restu kepada kalian berdua."
"Sungguh? Mama betulan merestuiku dengan Raihan," ucap Naura tak percaya. Pendar bahagia terlukis jelas di bola mata.
"Tentu saja. Untuk urusan ini, tidak mungkin Mama bercanda." Mama Naura mengusap puncak kepala anak tercinta dengan lembut. "Mama setuju kalau Nak Raihan menikahimu."
Naura tersenyum lebar dan segera berhambur dalam pelukan. "Terima kasih banyak, Mama. Aku sayang banget sama Mama."
Sementara Naura dan sang mama larut dalam kebahagiaan, dokter Ari mendekati Raihan dan berkata dengan lirih. "Tolong jaga dan cintai anak semata wayang kami dengan penuh cinta. Jangan pernah sekalipun menyakiti hati dan fisiknya. Demi Tuhan, bila itu terjadi saya sebagai orang tua tidak akan ikhlas dunia akhirat."
"Om tenang saja, saya berjanji tidak akan melukai Naura walau seujung kuku pun," jawab Raihan penuh keyakinan. Mengazamkan dalam diri, tak akan mengulangi kesalahan yang pernah diperbuat oleh Firdaus. Malah dia ingin menjadikan kisah masa lalu Lena dan Firdaus sebagai pembelajaran agar ke depannya menjadi imam bagi keluarganya kelak.
.
__ADS_1
.
.