Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Rumah Sakit Harapan Indah


__ADS_3

Di saat Rayyan mengajak serta Arumi pergi ke rumah sakit menemui Firdaus, seorang lelaki berusia dua puluh enam tahun tengah menikmati hidangan yang disediakan oleh pemangku hajat. Ia dan kedua sahabatnya tampak khusyuk menyantap nasi gudeg, salah satu makanan khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang terbuat dari nangka muda kemudian dimasak dengan santan. Hidangan khas tersebut sengaja disediakan atas permintaan dari mempelai wanita yang kebetulan berasal dari provinsi Yoygakarta.


"Oh ya, kalian sudah dengar perihal kebakaran tadi pagi yang terjadi di salah unit apartemen di kawasan Jakarta Barat? Dari informasi yang kudengar, jika kebakaran tersebut disebabkan oleh kelalaian dari salah satu penghuni apartemen. Saat itu, dia pergi dalam keadaan kompor masih menyala," cetus Fahmi. Pria itu tengah menyendokan krecek ke dalam mulut.


"Ya, aku sudah mendengar berita itu tadi sore. Saat aku dan istriku kembali dari Belanda," sahut Andika, sahabat Raihan yang lain ikut menimpali. "Kalau tidak salah ... ada dua puluh korban kebakaran. Satu orang meninggal dunia dan dua orang terluka parah," sambungnya.


"Tinggal dalam satu gedung dengan banyak orang di dalamnya memang riskan terjadi kebakaran. Entah disebabkan oleh kelalaian penghuni apartemen ataupun akibat arus listrik. Oleh karena itu, sebelum meninggalkan apartemen, sebaiknya memeriksa keadaan kompor terlebih dulu apakah dalam keadaan mati atau masih hidup. Terdengar sepele, namun saat si Jago Merah mengamuk apa pun yang ada di dekat kita bisa habis terbakar." Raihan tampak menganggukan kepala sebagai tanda bahwa ia setuju atas ucapan sahabatnya.


Usai menikmati hidangan, ketiga lelaki itu menaiki pelaminan. Mereka memberikan do'a restu bagi kedua mempelai.


"Selamat menempuh hidup baru, Jo. Semoga menjadi keluarga samawa," ucap Fahmi seraya menyalami Jonatan dan Zulaikha.


"Aku berharap, kalian berdua selalu bahagia selamanya," timpal Andika.


"Terima kasih," balas Jonatan dan Zulaikha hampir bersamaan.


Kini giliran Raihan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. "Happy wedding untuk kalian berdua. Semoga setelah ini kehidupanmu semakin terasa lengkap dengan kehadiran anak-anak lucu dan menggemaskan."


"Aamiin. Terima kasih banyak, Rai," balas Jonatan. Ia menepuk bahu Raihan, lalu berkata, "Di antara kita berempat, cuma kamu yang belum sold out. Ingat Rai, mencari pendamping hidup pun penting bukan cuma mengajar dan menyebarkan ilmu yang kamu miliki kepada orang lain. Jangan terlalu fokus berkarir hingga dirimu lupa akan kodratmu sebagai manusia."


Fahmi menimpali perkataan Jonatan. "Yang dikatakan oleh dia benar adanya! Selagi usiamu masih muda segera cari pendamping hidup, Rai. Jika sudah usia tiga puluh lima tahun ke atas, biasanya keinginan untuk berumah tangga sudah mulai berkurang. Kamu ingat sepupuku yang bekerja di Amerika? Dia hampir mendekati kepala empat, dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan melepas masa lajang."


"Itu karena dia terlalu fokus bekerja hingga lupa jika kini usianya hampir kepala empat. Aku tidak mau punya sahabat jomblo akut sepertimu, Rai. Kasihan onderdilmu kalau kelamaan tak dipakai, bisa berkarat nanti!" Fahmi tertawa terbahak kala mengucapkan kalimat terakhir. Merasa puas karena sukses membully sahabatnya. Entahlah, dia suka sekali memancing keributan setiap kali berkumpul bersama kedua sahabatnya itu.


Ucapan Fahmi membuat Raihan memicingkan mata sambil menghunuskan tatapan tajam. Tak suka bila dirinya dijadikan bahan bully-an oleh sahabat sekaligus rekan debatnya itu.


Alarm peringatan petanda bahaya kembali berbunyi maka Andika mengambil alih permainan. Lantas, pria itu membuka suara. "Kalian tenang saja, cepat atau lambat kawan kita yang terkenal acuh dan dingin terhadap perempuan akan melabuhkan hatinya kepada seseorang. Jadi, kita tunggu saja undangannya. Oke?" Menepuk bahu Raihan, mencoba membantu sahabatnya terlepas dari bully-an Fahmi.


***


Ketiga lelaki gagah dan keren kembali duduk di tempat semula. Waktu singkat ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh mereka. Meskipun tak jarang terjadi keributan kecil antara Raihan dan Fahmi, tetapi masalah itu bisa teratasi.

__ADS_1


"Dika, kamu sudah memutuskan untuk tinggal di Indonesia dan mengambil alih kepemimpinan perusahaan stasiun televisi milik mendiang Mama-mu?" tanya Fahmi.


Andika mengangguk kepala. "Yeah! Aku harus meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Papa-ku. Beliau sudah terlalu tua dan saatnya istirahat setelah puluhan tahun memimpin perusahaan. Kini waktunya Papa pensiun, menikmati masa tua bersama cucu-cucunya."


"Aku do'akan, semoga stasiun televisi peninggalan mendiang Mama-mu semakin sukses di bawah kendalimu," ucap Raihan tulus. Selalu mendukung apa pun keputusan kedua sahabatnya.


Pria berwajah setengah bule merentangkan kedua tangan, lalu menarik pundak Raihan dan Fahmi. "Dengan kepindahanku ke Indonesia, kita bisa bertemu lagi dan menghabiskan waktu bersama. Next time, kita kumpul lagi ya!"


Raihan dan Fahmi saling melirik, kemudian menjawab, "Oke! Kita pasti berkumpul lagi."


Tak berselang lama, telepon genggam milik Raihan berdering. Dosen tampan yang dikenal tegas dan dingin mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku jas. Sebuah pesan singkat dari rektor kampus tempatnya bekerja muncul di layar ponsel, begitu pun dengan pesan dari nomor asing kembali yang belum sempat dibaca olehnya memenuhi layar benda berukuran 6.5 inchi.


Penasaran akan isi pesan tersebut, Raihan menggerakan jemari tangan dan membukanya. Sumpah demi apa pun, rasanya seisi bumi ini runtuh dan menimpa dirinya kala membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Puspa.


"Guys, aku harus segera pergi dari sini. Ada hal urgent yang harus dikerjakan!" ucap Raihan kepada Andika dan Fahmi. Ia melangkah meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa. Andika dan Fahmi hanya menatap cengo ke arah Raihan.


Berjalan setengah berlari menuju parkiran mobil. Perasaan Raihan tak menentu. Rasa cemas dan khawatir membuat pria itu semakin mempercepat langkahnya agar segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.


Berbincang sebentar dengan Andika telah membuka mata hatinya untuk menerima kenyataan bahwa ibu kandung Raihan adalah orang ketiga yang telah merampas suami orang. Sekalipun kenyataan itu pahit, tetapi ia harus berlapang dada dan mau mengakui wanita itu. Seburuk dan sebejad apa pun kelakuan Lena serta Firdaus, mereka tetaplah orang tua yang wajib dihormati olehnya.


Mobil Alphard miliknya melesat membelah jalanan ibu kota. Menyalip kendaraan lain dari sisi kiri dan kanannya. Raihan tak memedulikan suara klakson serta umpatan para sopir angkot (angkutan perkotaan) yang merasa tersentak ketika si Hitam Manis menyalip tanpa memberikan aba-aba terlebih dulu.


Waktu tempuh yang seharusnya kurang lebih tujuh belas menit, dapat dipersingkat menjadi sepuluh menit. Modal nekad serta kemahirannya menyalip kendaraan satu dengan yang lain kini Raihan telah memasuki pekarangan rumah sakit, tempat kedua orang tuanya dirawat. Di saat bersamaan, si Lolly pun baru saja terparkir rapi setelah dua puluh menit berlenggak lenggok di tengah padatnya jalanan ibu kota.


"Sialan, mau apa dia ke sini!" gerutu Rayyan kala matanya yang sipit melihat Raihan turun dari mobil.


Arumi bergegas mengusap pundak suaminya dengan lembut sambil berkata, "Dia juga pasti dikirimkan pesan sama sepertimu. Sabar ya, jangan emosi dulu. Untuk sementara waktu, tahan rasa marah dan bencimu terhadap Raihan dan juga Tante Lena demi kebaikan bersama."


Rayyan menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan berusaha mengurai amarah yang mulai memuncak. Ditatapnya wajah Arumi dengan tatapan lekat, seolah dia mencari ketenangan serta kedamaian di sana.


"Ingatkan aku jika iblis dalam diriku mulai beraksi. Aku takut tidak bisa mengendalikan diri saat bertemu wanita itu beserta anaknya," pinta Rayyan.

__ADS_1


Mengulum senyum hangat sambil mengulurkan jemari tangan lentik dan panjang ke samping kiri. Arumi sentuh punggung tangan yang masih mencengkeram stir mobil. "Sesuai permintaanmu, aku 'kan selalu mengingatkanmu bila dirimu khilaf. Kita berdua sama-sama saling mengingatkan, ya!" Rayyan membalas ucapan Arumi dengan anggukan kepala.


"Ya sudah, ayo turun! Semakin cepat bertemu Papa maka semakin cepat urusan kita selesai. Kasihan anak-anak kalau terlalu lama ditinggal," ucap Arumi.


Aroma khas rumah sakit yang menguar ke udara menjadi sambutan pertama kali bagi pasangan suami istri itu kala kaki jenjang mereka menjejaki lantai berwarna putih memasuki bangunan berlantai enam. Suasana sekitar masih cukup ramai meski waktu sudah menunjukan pukul delapan malam waktu setempat. Hilir mudik petugas medis serta beberapa pengunjung masih terlihat bersliweran di sana.


Nuansa putih dan hijau muda serta penempatan pot bunga di beberapa titik di rumah sakit tersebut menjadikan rumah sakit itu terlihat asri dan sedap dipandang mata. Walaupun status akreditasi masih C tetapi berbagai fasilitas penunjang cukup memadai serta kebersihannya pun patut diacungi jempol.


"Permisi, Suster. Ruang ICU di mana?" tanya Arumi pada salah satu perawat wanita yang berjaga di balik meja.


"Ada di lantai tiga. Ibu naik lift di sebelah sana, setelah keluar lift belok ke kanan." Tangan perawat wanita di balik meja menunjuk ke arah benda terbuat dari besi.


"Terima kasih," ucap Arumi lagi. Lantas, ia segera menghampiri Rayyan yang tengah menunggu istrinya di depan tiang penyangga. "Keluar dari pintu lift, kita belok ke kanan!" Wanita itu menyampaikan informasi yang didapat kepada suaminya.


Dua sejoli mengayunkan kaki melangkah bersama menuju pintu lift yang 'kan membawa keduanya menuju lantai tiga. Saat melihat kotak persegi itu masih bergerak ke atas, Rayyan tampak cemas. Sesekali ia mengetukkan sepatu slop berwarna coklat tua di atas lantai hingga menimbulkan bunyi.


Arumi yang saat itu menoleh ke arah suaminya, tersenyum tipis kala melihat raut kecemasan terlukis di wajah sang suami. Meskipun Rayyan tak pernah mengungkapkan rasa sayangnya terhadap Firdaus, tetapi dia yakin, pria yang telah mempersuntingnya satu tahun lalu begitu menyayangi sosok pria paruh baya yang kini terbaring di rumah sakit.


Untuk menenangkan suaminya, Arumi merangkul lengan Rayyan sambil berkata, "Yakinlah, semua akan baik-baik saja. Terus berdo'a, memohon pada Tuhan semoga Papa dapat melewati masa kritis." Wanita itu menyalurkan sedikit kekuatan lewat sentuhan tangan.


Disentuh oleh tangan lembut yang telah mengurusi ketiga buah hatinya, hati Rayyan menjadi lebih tenang. Perasaan cemas, panik, dan khawatir seketika sirna kala jemari lembut itu menyentuh permukaan kulit. Degup jantung yang berpacu lebih cepat kini mulai memompa secara teratur. Benak pria itu mulai dapat berpikir jernih dan meyakinkan pada diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ada Arumi di sisinya.


Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, Arumi menggandeng lengan suaminya, menuntun pria itu masuk ke dalam lift. Perlahan, benda persegi terbuat dari besi membawa tubuh pasangan suami istri itu naik menuju lantai tiga.


'Ma, semoga Mama tidak marah jika aku menemui Papa. Aku hanya ingin bertemu dengan Papa dan berada di sisinya jika Tuhan memang hendak mengambil kembali jiwa yang telah dititipkan ke dalam raga Papa,' batin Rayyan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2