Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kunjungan Rio dan Indah


__ADS_3

Semenjak kelahiran Triplet, sebutan bagi ketiga bayi kembar yang kini berusia mencapai dua minggu banyak tamu datang silih berganti untuk menjenguk bayi tampan, cantik dan juga menggemaskan. Mulai dari rekan sejawat Arumi-Rayyan hingga sanak saudara dari pihak Nyimas dan mendiang Zidan. Mereka tak sekadar datang, tetapi juga membawakan hadiah untuk ibu dan si Kembar.


Kelahiran Triplet menjadi tranding topic di kalangan para pekerja rumah sakit. Setiap ada kesempatan, mereka pasti membicarakan tiga bayi lucu dan menggemaskan itu. Hampir setiap saat Ghani, Zavier dan Zahira menjadi bahan obrolan semua orang.


Hari ini, Rio sengaja datang berkunjung ke apartemen milik Rayyan. Semenjak Rini melahirkan, pria yang berprofesi sebagai pengacara kondang di tanah air belum sempat datang berkunjung ke kediaman sang sahabat. Oleh karena itu, saat ada kesempatan, ia menyempatkan diri menemui Arumi beserta ketiga keponakannya.


"Papa, setelah tiba di apartemen Aunty Rumi, apakah aku boleh bermain dengan Dedek Zahira?" Suara Indah, mengalihkan perhatian Rio yang saat itu sedang mengecek kembali kado untuk ketiga keponakannya.


Papa dari tiga orang anak tersenyum lebar sambil mengusap puncak kepala Indah dengan penuh cinta. "Tentu saja boleh. Aunty Rumi dan Uncle Rayyan pasti memperbolehkanmu bermain dengan Zahira. Tapi ... kamu tidak boleh mencubit pipi Zahira seperti mencubit pipi adikmu ya, nanti Uncle Rayyan marah. Mengerti?"


Menggaruk kepala yang tak terasa gatal sambil menyeringai hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. Merasa malu karena dua hari lalu tertangkap basah sedang mencubit Shaka Abisheva, nama anak bungsu dari pasangan Rini dan Rio.


"Baik, Pa. Aku janji, tidak akan mencubit pipi Dedek Zahira!" ucap gadis kecil berusia enam tahun dengan mantap. Berjanji dalam hati tak 'kan mengulangi kesalahan yang sama.


"Good girl! Baru ini namanya anak Papa." Rio mengacak-ngacak rambut anaknya sambil tersenyum lebar. "Let's go, sebentar lagi kita sampai di apartemen Aunty Rumi!" Rio dan Indah berjalan bersisian menaiki lift yang 'kan membawa mereka menuju lantai tujuh. Sedangkan Bagus sedang diare sehingga tidak bisa ikut mengunjungi Arumi.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya ayah dan anak itu tiba di tujuan. Saat ini mereka sedang berada di sebuah kamar bernuansa merah muda dan biru langit, warna yang identik bagi anak perempuan dan laki-laki.


"Halo, Triplet. Welcome to the world. Uncle senang bisa bertemu dengan kalian bertiga." Rio berdiri di tengah-tengah box bayi, memperhatikan Ghani, Zavier dan Zahira yang tengah terlelap dalam tidur. Sudut mata pria itu menggenang, merasa terharu melihat tiga malaikat kecil yang begitu didambakan oleh sahabat dari sang istri kini terlahir ke dunia.


Sekelebat bayangan di masa lalu kembali melintas dalam benak pria tampan berwajah Timur Tengah. Kepingan kejadian saat Mahesa melamar Arumi, perjuangan serta lika liku kehidupan rumah tangga wanita cantik yang merupakan sahabat dari istrinya hingga dokter bedah itu menikah dengan pria yang tak lain adalah sahabat dari sang pengacara berputar indah bagaikan cuplikan film di bioskop. Tak menduga, jikalau akhirnya kebahagiaan Arumi adalah saat wanita itu bersanding di pelaminan bersama Rayyan.


Andai saja ia tahu kalau Mahesa bukanlah jodoh terbaik bagi Arumi, sudah lebih dulu menjodohkan Rayyan dengan Arumi daripada membiarkan sahabat istrinya jatuh dalam pelukan sepupunya. Hidup menderita, selalu dihina dan dicaci maki karena tak kunjung memberikan pewaris bagi keluarga Adiguna.

__ADS_1


"Wajah ketiga anakmu sangat mirip denganmu, Ray. Kamu tahu, mitos yang beredar di luaran sana mengatakan bahwa, jika bayi terlahir ke dunia memiliki wajah mirip sang ayah, itu artinya si ibu sangat mencintai ayah dari bayi itu. Pun begitu sebaliknya. Jadi ... dari kasusmu ini dapat disimpulkan bahwa--"


"Bahwa Arumi begitu tergila-gila kepadaku. Begitu maksudmu?" sergah Rayyan cepat. Ia tak membiarkan Rio melanjutkan kalimatnya.


Rio tersenyum lebar melihat Rayyan cepat tanggap. "That's right! Kamu lihat wajah anakku yang paling bungsu? Wajahnya begitu mirip dengan Rini. Aku tak menampik kalau diriku ini memang sangat mencintai Ibu dari ketiga anak-anakku. Bahkan bisa dikatakan, aku bisa gila kalau tidak ada Rini di sampingku."


"Andai aku dihadapkan pada tiga pilihan antara harta melimpah, jabatan tinggi atau istriku, sudah pasti aku memilih Rini dibandingkan dua opsi tadi. Menurutku harta dan jabatan bisa kita raih secara perlahan, sementara pendamping hidup setia dan bisa menerima segala kekurangan pada diri kita sulit sekali, Ray. Banyak wanita yang mau hidup dengan pria kaya, tetapi jarang ada wanita yang mau menemani pasangannya meniti karir mulai dari nol."


"Jika sudah menemukan, maka jangan pernah disia-siakan. Kita tidak tahu, apakah kelak akan dipertemukan lagi dengan wanita seperti itu."


Rayyan memutar bola mata dengan malas. Lama tidak bertemu, sikap Rio semakin bijak dan terkesan seperti orang tua yang sedang memberikan nasihat kepada sang anak.


"Tanpa kamu nasihati, aku pun tidak mungkin menyia-nyiakan Arumi. Terlebih kini ia sudah memberikanku ketiga permata yang begitu berharga. Mana mungkin aku rela menyakiti perasaan istriku. Ada-ada saja!"


"Ya ... siapa tahu kamu khilaf. Jadi, aku coba mengingatkanmu lagi betapa berharganya istrimu itu," ujar Rio sembari duduk di sofa goyang yang biasa digunakan oleh Arumi ketika memberikan ASI untuk ketiga anak kembarnya. Ia menyenderkan punggung ke belakang, kedua kaki ia taruh di bangku kaki sehingga membuat siapa saja yang duduk di sana lebih rileks.


Mendengar pertanyaan Rio, beranjak dari tempat duduk menuju box bayi. Mengulurkan tangan ke depan, memeriksa Zavier yang tampak gelisah dalam tidur. Rupanya kakak kedua Zahira ngompol, itulah sebabnya dia menggeliat di atas tempat tidurnya.


"Aku tidak berniat memberitahu Arumi tentang keadaan istri kedua Papaku. Biarlah Wanita tua itu menderita atas kesalahan yang pernah dilakukan kepada Mama-ku." Rayyan begitu telaten mengganti popok Zavier. Ia membuka popok lalu menggantinya dengan yang baru. Setelah itu membawa tubuh mungil putranya dalam dekapan, menimang-nimang agar jagoannya tertidur kembali.


Ajaibnya, pemilik nama Muhammad Zavier Abimana dalam sejekap terlelap lagi ketika tangan sang papa menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


"Rumah tanggaku sudah cukup bahagia setelah lepas dari jeratan keluarga Adiguna. Nyonya besar Adiguna telah membusuk di rumah sakit jiwa, sepupumu dan Pak Putra entah pergi kemana setelah menjual rumah serta aset milik perusahaan. Lalu, mantan sahabat istriku pun lenyap bagai di telan bumi. Lantas, kenapa aku harus memberitahu Arumi tentang nasib buruk yang menimpa wanita itu? Bukankah itu sama saja seperti aku membawa kembali keluargaku pada sebuah jurang penderitaan?"

__ADS_1


"Rio, kedamaian dalam berkeluarga seperti inilah yang kuinginkan. Tidak perlu memikirkan orang lain. Mendengar kabar tentang orang-orang yang pernah menyakiti perasaanku maupun Arumi. Aku cuma ingin Arumi fokus terhadap ketiga bayi kami, itu saja."


Rio mengembuskan napas panjang. "Aku mengerti maksudmu. Namun, apa tidak sebaiknya kamu beritahu dia. Bagaimanapun, hubungan antara Arumi dengan Ibu tirimu cukup dekat. Sebelum menikah denganmu, Tante Lena sering membela istrimu di hadapan Tante Naila serta teman-teman geng sosialitanya. Tapi ... kalau kamu enggan memberitahunya dan lebih memilih menyembunyikannya, itu hakmu. Aku tidak bisa ikut campur dalam urusan internal keluargamu."


Sang pengacara membenarkan posisi duduknya. Kini ia duduk tegak di atas sofa. "Sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai, maka akan tercium pula. Jangan sampai Arumi tahu kabar tentang Tante Lena dari orang lain. Walaupun pada kenyataannya kamu tak memberikan izin pada istrimu untuk menemui istri kedua Papamu, tetapi setidaknya beritahu dia yang sebenarnya agar rumah tangga kalian tidak diterpa gelombang dahsyat."


"Ingat, salah satu kunci sebuah hubungan agar dapat langgeng adalah kejujuran. Jangan biarkan rumah tanggamu berdiri di atas sebuah kebohongan."


Rayyan menatap Rio dengan tatapan tajam, namun lelaki tampan di seberang sana tampak santai. Tak merasa bersalah atas semua perkataan yang diucapkan olehnya.


Pintu ruangan terbuka, Arumi dibantu Indah membawa nampan berisi minuman dingin serta camilan. Tampak wajah gadis kecil dikepang dua begitu bahagia karena dapat bermain bersama ketiga anak aunty kesayangannya.


"Silakan diminum, Papa, Uncle Rayyan. Minuman ini Indah sendiri yang membuatnya."


"Terika kasih, Indah." Rayyan tersenyum dipaksakan.


"Terima kasih, Anakku." Mengecup puncak kepala Indah sebagai ucapan terima kasih karena telah membawakan gelas minuman untuknya.


Arumi menautkan kedua alisnya, mencari tahu kenapa raut wajah Rayyan sedikit tegang. Sangat berbeda sekali sebelum meninggalkan kamar dengan setelah kembali dari dapur.


Kenapa sikap Mas Rayyan berbeda? Apa yang sudah dibicarakan antara kedua lelaki ini? batin Arumi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2