
WARNING ! 21+
Perlahan Kayla membuka mata. Ia mengerjap dan memindai isi ruangan. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan aneka ragam fasilitas lengkap. Gadis itu melihat Mahesa tertidur di atas sofa panjang di sudut ruangan.
“Engh!” Gadis itu melenguh akibat luka sayatan di area pergelangan tangan tak sengaja tersentuh olehnya. Luka itu terbungkus perban putih.
Mahesa terbangun dari tidurnya. Melihat Kayla hendak bangkit dari pembaringan, pria itu segera berhambur lalu duduk di samping ranjang.
“Baby, kamu sudah sadar?” tanya Mahesa seraya membantu Kalya duduk. Ia meletakan bantal di belakang punggung kekasihnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Mahesa, Kayla mendengus kesal. “Kenapa kamu membawaku ke rumah sakit? Seharusnya biarkan saja aku mati agar kamu bisa kembali bersama istrimu yang mandul itu!”
Mahesa hanya dapat menghela napas panjang. Ia sadar telah melakukan sebuah kesalahan yang nyaris saja merenggut nyawa kekasih tercinta beserta janin yang ada di dalam kandungan. Bagaimanapun juga pria itu bertanggung jawab penuh atas insiden yang terjadi sore.
Dengan lembut Mahesa berkata, “Aku memang salah karena telah melukaimu tetapi demi Tuhan, aku tak ada niatan untuk mencelakaimu, Baby. Tadi pikiranku kacau hingga tanpa sadar
melakukan tindakan bodoh itu,” ucapnya penuh penyesalan. Wajahnya memelas bagai seorang anak kecil yang meminta dibelikan permen oleh sang mama.
“Kamu pikir aku itu anak kecil yang mudah kamu bohongi!” Kayla meninggikan nada bicaranya. “Jelas-jelas
kamu itu ingin membunuhku karena ingin lari tanggung jawab. Kamu tidak berniat menikahiku sebab ingin kembali ke Arumi. Istri mandulmu itu ‘kan!”
Mahesa berusaha keras
untuk tidak terpancing emosi. Ia tahu kesalahannya fatal karena berniat
membunuh calon istri dan calon anaknya. Sangat wajar bila saat ini Kayla kesal
dan marah padanya.
Tak ingin Kayla terus menerus marah dan malah membuat kondisi tubuh gadis itu memburuk, Mahesa menyentuh punggung tangannya yang tidak terpasang jarum infus. “Baby, aku memang salah. Namun, kumohon berhentilah marah-marah. Kasihan calon anak kita bila kamu terus menerus meninggikan suara. Dia pasti kaget dan merasa tak nyaman berada di dalam sini.” Sebelah tangannya mengusap perut Kayla yang masih datar.
Kayla menepis tangan kekar itu. Ia melirik ke arah Mahesa. “Aku seperti ini karena kamu, Mas! Andai saja kamu tidak berniat membunuhku mungkin saat ini aku ada di kamar hotel. Duduk manis di atas sofa empuk sambil menikmati segelas susu khusus ibu hamil.”
“Iya, aku memang salah. Sekali lagi tolong maafkan aku.” Mahesa kembali meraih jemari lembut Kayla lalu mencium punggung tangan itu dengan penuh cinta. Seolah ia ingin Kayla tahu
bahwa pria itu menyesal karena sudah membuat kekasih tercinta masuk ke rumah sakit.
Melihat raut wajah penyesalan terlukis di sana, akhirnya Kayla luluh. Ia tak sanggup bila terus menerus menghukum Mahesa. Meskipun dalam hatinya masih kesal tetapi gadis itu tak ingin jika sang kekasih memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali ke sisi Arumi.
“Baiklah, aku akan memaafkanmu. Namun, lain kali jangan ulangi kesalahan yang sama.”
__ADS_1
“Tentu saja aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Jika sampai terjadi untuk kedua kalinya, aku siap menerima hukuman darimu.”
Kayla menangkup wajah Mahesa. Ditatapnya wajah rupawan itu dengan penuh cinta. “Aku pegang kata-katamu, Mas. Jangan pernah kamu sakiti aku untuk kedua kalinya.”
Mahesa menganggukan kepala. Pria itu berjanji dalam diri kejadian ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Dalam keadaan apa pun, ia tidak akan pernah melukai fisik maupun hati calon istrinya itu.
“Sebagai hukuman karena kamu sudah melukaiku, bagaimana kalau kita melanjutkan pergumulan panas yang
sempat tertunda tadi siang.” Kayla berbisik di telinga pria itu. Ia membelai
dada bidang sang kekasih.
“B-boleh, Baby,” timpal Mahesa. Menikmati belaian lembut dari tangan Kayla.
Tangan kokoh Mahesa sigap melepaskan kancing pakaian yang dikenakan oleh Kayla dan melemparkannya ke sembarang tempat. Melihat dua bongkahan kenyal yang terbungkus kacamata berwarna hitam membuat Mahesa hilang kendali. Ia segera menenggelamkan wajah di antara dua
gunung kembar.
“Mas ….” Desah Kayla.
Napasnya memburu. Meskipun saat ini punggung tangan gadis itu terpasang infus dan luka bekas sayatan tadi masih terasa nyeri tetapi gelombang hasrat telah membuat gadis itu kehilangan akal sehat. Ia menikmati sentuhan yang diberikan oleh Mahesa.
Perlahan, tangan Mahesa berpindah ke bagian belakang. Melepas bongkahan itu hingga menampilkan pemandangan yang sangat menggiurkan.
anak kita semakin membesar. Sebelum dicicpi olehnya, bolehkan aku mencicipinya sebentar?” goda Mahesa.
“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan padaku!”
Mahesa membuka mulut kemudian menelan benda kecil di puncak bongkahan itu. Jemari dan bibir pria itu
saling bekerjasama, memberikan sentuhan dan menyapu inci demi inci bagian tubuh Kayla tanpa ada bagian yang terlewatkan.
Dua pasang manusia itu sudah diselimuti hawa napsu. Sama-sama kehilangan akal dan sama-sama tidak tahu malu.
Tubuh Kayla menegang. Ia merasakan gelenyar hebat singgah dalam dirinya. Merasa tidak puas dengan apa yang di dapat, gadis itu berkata, “Mas, puaskan aku sekarang! Anggap saja sebagai ganti rugi karena kamu sudah menyakiti perasaanku.”
Tanpa mengucap
kata-kata, Mahesa membantu melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh Kayla. Ia membawa tubuh Kayla di atas sofa dan tak lupa tiang infus pun dibawa olehnya.
“Kita akan melakukannya di sini. Namun, durasi yang kita lakukan hanya sebentar sebab kondisi tubuhmu masih belum stabil. Aku takut terjadi sesuatu padamu dan juga calon anak kita,” ujar Mahesa seraya memposisikan diri.
__ADS_1
Mata Kayla terpejam erat. Ia meremas ujung sofa dengan sangat kuat ketika benda pusaka Mahesa menerobos masuk.
Rasanya gadis itu ingin sekali menjerit, memanggil nama sang kekasih. Namun, ia sadar saat ini sedang berada di tempat umum. Sekali saja suara nakal itu terdengar orang lain maka para pemburu berita gosip berbondong-bondong memberitakannya. Dengan sangat terpaksa ia hanya meredam suara des*han yang keluar dari bibirnya.
Malam itu, Mahesa dan
Kayla melanjutkan pergumulan yang sempat tertunda. Ruangan itu menjadi saksi bagaimana bengisnya Mahesa kala menghentakan pinggulnya di atas tubuh Kayla.
Suara erangan yang tercekat memberikan sensasi tersendiri bagi pria berusia dua puluh delapan tahun itu. Ia terus memompa, memberikan kenikmatan bagi Kayla.
Semakin lama, ritme itu berubah menjadi tempo cepat. Membuat Kayla tidak bisa menahan gelombang yang sebentar lagi meledak.
“Oh! Mas … aku ….”
“Iya, Baby. Keluarkan saja. Jangan ditahan,” bisik Mahesa disela aktivitasnya memborbardir Kayla.
Punggung Kayla melengkung. Tubuhnya bergetar hebat saat gelombang itu tiba. Gelombang itu membawanya ke atas puncak sebuah kenikmatan.
Mahesa tersenyum bangga sebab ia telah memberikan kepuasan pada kekasihnya. “Baby, bersiaplah! Aku akan membanjiri rahimmu dengan bibit unggul, kualitas nomor satu.”
Lalu, Mahesa kembali menghentakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Hingga akhirnya ia memuntahkan lahar panas di dalam rahim Kayla.
TBC
.
.
.
Halo semua, otor mau rekomendasikan juga nih karya milik teman otor. Cus lah dikepoin.
Judul :Makmum Pilihan Michael Emerson
Penulis :SkySal
Zenwa Fahira tidak tahu harus berbuat apa ketika Micheal Emerson datang melamarnya sementara semua orang mengira Micheal memiliki hubungan dengan Arini Kamilia, yang tak lain adalah kakak Zenwa.
Namun Arini meyakinkan bahwa ia tak memiliki hubungan apapun dengan Micheal walaupun sebenernya Arini dan Micheal saling mencintai.
Blurb
__ADS_1
Setelah desakan dari seluruh keluarganya, Zenwa menerima lamaran Micheal dan pernikahan pun terjadi. Namun di malam pernikahan, sebuah rahasia besar terbongkar yang membuat hati Zenwa hancur.