Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Selamat Tinggal, Kak Rayyan


__ADS_3

"Kenapa diam saja? Apakah kamu bisu hingga tak dapat menjawab pertanyaanku?" sindir Rayyan memecah keheningan. Pria itu menatap sinis ke arah Lena yang masih menundukan wajah. Ia dapat melihat jelas kalau tubuh ibu tirinya itu bergerak turun dan naik. Sangat yakin jika wanita itu sedang menangis, tetapi ia sama sekali tak merasa iba, sebab hatinya telah mati rasa.


Perlahan, tubuh Lena kembali tenang seperti semula. Sebelum mendongakan wajah, ia terlebih dulu mengusut buliran kristal di sudut mata. Dengan suara sengau wanita itu berkata, "Mama hanya manusia biasa, Nak, tak mempunyai kemampuan untuk menghidupakan kembali orang yang sudah meninggal. Jadi, Mama tidak dapat mengembalikan Mbak Mei Ling ke sisimu."


Rayyan menatap tajam pada Lena yang merupakan perusak rumah tangga kedua orang tuanya. Kemudian ia beralih menatap Raihan dengan tatapan yang mengisyaratkan penuh kekecewaan.


"Itu artinya, aku pun tak bisa memaafkan kesalahanmu. Daripada membuang waktu, lebih baik kamu pergi dari hadapanku dan jangan harap dapat bertemu dengan istri serta anak-anakku."


Lena menggelengkan kepala cepat sambil berucap, "Nak, Mama mohon. Izinkan Mama bertemu sekali saja dengan Triplet sebelum meninggalkan kota ini. Setelah itu, Mama rela jika selamanya tak lagi berjumpa dengan mereka."


"Keputusanku sudah bulat. Selamanya, kamu tidak dapat bertemu dengan anak-anakku!" skak Rayyan dengan menaikan nada bicaranya.

__ADS_1


"Tapi, Nak--"


"Pergi dari sini atau kupanggilkan satpam!" sembur Rayyan tanpa memberikan kesempatan pada Lena menyelesaikan ucapannya.


"Rayyan?" panggil Lena lirih. Kedua bola mata wanita itu kembali berkaca-kaca. Bibir gemetar disusul tubuh bergerak turun naik.


"Pergi kamu dari hidupku! Aku tak sudi melihatmu lagi!" teriak Rayyan histeris. Tangan kekar pria itu terulur ke depan, meraih benda apa saja yang ada di atas meja. Kemudian ia banting barang-barang tersebut hingga berjatuhan ke lantai. Satu di antaranya adalah bingkai foto saat dia dan Arumi tengah mengunjungi Jiuzhaigou National Park yang berada di provinsi Sichuan, Cina.


Jiuzhaigou National Park terkenal akan destinasi alam yang sangat mengagumkan. Salah satu tempat wisata yang berada di provinsi Sichuan memiliki gugusan pegunungan yang kokoh mengepung danau dan air terjun.


"Enyahlah kamu dari hadapanku sekarang juga!" sambung Rayyan. Pria itu masih melempar benda yang ada di atas meja hingga keadaan ruangan berubah seperti kapal pecah. Berkas penting rumah sakit berserakan di lantai bercampur serpihan kaca berasal dari bingkai foto serta hiasan meja kerja terbuat dari keramik tak luput dari amukan sang dokter tampan.

__ADS_1


Melihat kemarahan Rayyan yang semakin tak terbendung, Raihan mendekati Lena. "Ma, sebaiknya kita pergi dari sini. Jangan paksa Kak Rayyan untuk memberikan izin padamu agar bertemu dengan Triplet," ucapnya dengan penuh permohonan. Ia tidak tahan bila harus menyaksikan kehancuran kakak kandungnya.


"Tapi, Mama cuma mau bertemu mereka sebentar, Nak." Lena masih terus bersikeras, meminta agar diberikan izin oleh anak tirinya.


Kesabaran Raihan berada di ambang batas. Tanpa berkata, ia langsung menarik kursi roda milik Lena hingga mundur ke belakang. Ia putar kursi roda tersebut hingga posisinya kini membelakangi Rayyan.


Pria itu memutuskan membawa pergi Lena dari ruangan direktur. Namun, sebelum pergi, ia kembali menatap Rayyan yang tengah berjongkok di sudut ruangan dengan wajah frustasi untuk terakhir kali. "Kak, kami pergi sekarang. Jika suatu hari nanti Kakak membutuhkan bantuan, jangan segan menghubungiku. Meskipun Kakak membenciku, tetapi aku tetap menyayangimu dan ikatan darah di antara kita kan terus terjalin. Selamat tinggal, Kak Rayyan."


Usai mengucapkan kalimat terakhir, Rayyan membawa Lena menjauhi ruangan tersebut. Ia mendorong kursi roda itu tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Ini merupakan pertama dan terakhir kalinya ia mengunjungi rumah sakit yang pernah menjadi tempat sang papa mengais rezeki. Setelah ini, ia tidak akan pernah lagi menginjakan kaki di bangunan tersebut, sebab besok pria itu dan mama tercinta akan memulai lembaran hidup baru di kota yang baru pula.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2