Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Sebuah Rencana


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Siang hari di jam istirahat, Mahesa dan Rio duduk di sebuah restoran Jepang. Kedua pria itu sengaja bertemu karena sudah lama tidak berjumpa. Mereka terlalu sibuk bekerja sehingga tak memiliki waktu luang untuk menghabiskan waktu bersama.


Rio adalah sepupu Mahesa dari pihak ayah. Ibunya Rio adalah adik angkat Putra. Meskipun Rio dan sang mama bukan keluarga Adiputra tetapi kakek dan nenek Mahesa memperlakukan mereka dengan sangat baik dan menganggap mereka seperti keluarga sendiri.


Kedua pria dewasa itu duduk saling berhadapan. "Aku dengar dari Rini, beberapa hari lalu kamu dan Arumi bertengkar. Memangnya ada masalah apa? Tidak biasanya kalian bertengkar dan itu terjadi di tempat umum," ucap Rio membuka pembicaraan. Tangan pria itu meraih sumpit lalu memasukan sushi ke dalam mulut.


Sushi merupakan salah satu jenis makanan khas Jepang yang terbua dari nasi, dibumbui cuka khas Jepang lalu diisi hidangan laut seperti ikan salmon atau ikan tuna yang biasanya disantap berbarengan dengan wasabi atau lobak pedas serta kecap asin.


Mahesa tersenyum masam. Ia mencemplungkan beberapa sayuran mentah ke dalam wadah berisi kuah panas. Siang itu, Mahesa memesan hotpot sebagai menu makan siang. "Arumi cerita apa lagi selain melaporkan bahwa kami bertengkar di tempat umum?"


"Arumi hanya bercerita tentang kamu yang sudah lama tidak pulang ke rumah." Rio meletakkan sumpit itu di atas piring. Ia melirik ke arah sepupunya. "Selama ini, apakah kamu tinggal di rumah utama?"


"Tentu saja! Kamu pikir aku akan tinggal di mana selain pulang ke rumah orang tuaku." Kesal dengan sikap Rio yang terkesan ikut campur dalam urusan rumah tangganya, Mahesa membanting sendok ke atas piring hingga terdengar bunyi dentingan dua benda itu saling bersentuhan. Sontak semua pengujung yang ada di restoran menatap kepada mereka.


Rio terdiam beberapa saat kemudian menarik napas dalam. Jika sudah begini, ia yakin masalah yang terjadi di antara Mahesa dan Arumi sangat rumit. Buktinya pria yang berprofesi sebagai pemimpin dari sebuah agen properti terbesar di Indonesia harus pulang ke rumah orang tuanya.


"Bukankah dalam sebuah hubungan rumah tangga terjadi perselisihan adalah hal wajar bagi pasangan yang telah menikah. Kamu pikir, aku dan Rini tidak pernah mengalaminya?"


"Impossible! Se-harmonis apa pun sebuah keluarga pasti pernah mengalami pertengkaran dalam sebuah rumah tangga. Hanya saja, aku dan pasangan lain di luaran sana tidak mengeksposenya di depan umum."


"Aku dan Rini biasanya duduk bersama dengan kepala dingin. Kami saling mencurahkan isi hati masing-masing, mencari alan keluar dari persoalan yang membelit rumah tangga. Bukannya malah pergi dari rumah dan tinggal dengan orang tua," sindir Rio.


"Hubungan Arumi dan Tante Naila tidak pernah akur. Kamu tahu itu 'kan?" ujar Rio. Pria itu sudah mulai frustasi dengan sikap Mahesa yang terkesan kekanak-kanakan.


"Apabila kamu pulang ke rumah utama, maka pandangan Tante Naila terhadap Arumi semakin buruk." Rio mengambil gelas berisi es matcha kemudian meneguknya hingga tersisa setenganya. "Saranku, lebih baik kamu pulang ke rumah dan selesaikan masalahmu dengan Arumi."

__ADS_1


Mahesa mencebik, lalu menatap Mahesa dengan tatapan sinis. "Kamu selalu ikut campur dalam urusanku!"


"Ya, aku tahu. Selama ini kamu mungkin kesal karena aku terus menerus menasihatimu. Mahes, aku berkata seperti ini demi kebaikanmu. Kita saudara dan aku wajib mengingatkan jika kamu berbuat salah."


"Begitu pun sebaliknya. Apabila aku salah, kamu berhak menegurku. Aku tidak keberatan kok," timpal Rio.


"Sudahlah, aku malas berbicara denganmu!"


Rio menghela napas dalam sambil menggelengkan kepala.


***


Setelah berbincang dengan Rio, Mahesa pulang ke rumah tetapi bukan ke rumahnya yang dibeli bersama Arumi melainkan pulang ke apartemen Kayla. Pria itu memarkirkan kendaraan roda empat miliknya di basement. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam pintu lift.


"Memangnya dia siapa berani menasihatku?" sungut Mahesa berapi-api.


"Mas, kamu sudah pulang?" Kayla menghampiri Mahesa. Menyambut kedatangan pria itu dengan suka cita. Jemari lentik itu mengusap dada bidang pria itu. "Masuklah! Aku akan buatkan minuman untukmu."


Perlahan, Mahesa duduk di sofa berbentuk L yang ada di ruang tamu, menunggu Kayla menyiapkan minuman hangat untuknya. Ia menyalakan saluran televisi menonton berita seputar dunia bisnis melalui saluran TV berbayar.


"Diminum dulu, Mas!" Gadis itu meletakkan secangkir kopi ke atas meja lalu duduk di samping kekasihnya. Ia mencari posisi duduk yang nyaman agar tidak menekan janin yang ada dalam kandungan. "Ada masalah apa?"


Mahesa meraih cangkir kopi. Menyeruputnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi. "Aku bertemu Rio di restoran Jepang dan ia memintaku untuk pulang ke rumah."


Kayla memutar bola matanya dengan malas. "Pria itu selalu saja ikut campur dalam urusan pribadimu, Mas. Sesekali tegas dong! Jangan mau dikendalikan terus."


"Mentang-mentang sepupuh kamu, dia merasa dirinya itu memiliki hak istimewa untuk memerintahmu!" Luapan kesal dan marah terlukis dari wajah Kayla. Deru napas gadis itu tak beraturan, emosinya meluap-luap bagaikan lava panas yang siap meledak.

__ADS_1


Pria itu menghela napas panjang.


Menurutnya, semua yang dikatakan Kayla benar. Rio selalu saja ikut campur dalam urusan pribadi yang menyangkut soal pekerjaan, karir bahkan percintaan.


Sejak kecil, Rio tidak pernah membiarkan Mahesa hidup tenang. Sepupunya itu terus menerus memberikan nasihat hingga membuat telinga pria itu terasa panas akibat terlalu sering mendengar ocehan berfaedah dari bibir seorang pria yang berprofesi sebagai pengacara di salah satu firma ternama di Jakarta.


Bukan tanpa alasan Rio menasihati pria itu sebab terkadang Mahesa sering lupa diri dan melakukan hal-hal aneh yang terkadang menyusahkan dirinya sendiri.


Terbukti sekarang, akibat diselimuti hawa napsu dan gairah membara akhirnya ia terjerumus ke dalam sebuah lubang yang bernama perselingkuhan. Ia berselingkuh dengan sahabat dari istrinya sendiri bahkan kini akibat dari hubungan terlarang itu membuahkan hasil.


Seorang janin tumbuh di dalam rahim seorang wanita. Namun, bukan rahim Arumi, melainkan rahim Kayla, selingkuhan Mahesa.


"Lalu, kamu akan menuruti permintaan Rio dan memilih kembali pulang ke rumah? Meninggalkan aku sendirian dalam keadaan tengah berbadan dua!"


Mahesa bergeming. Ia membisu, diam seribu bahasa.


Diamnya pria itu membuat Kayla semakin kesal. Ia bangkit dari sofa lalu menghentakkan kaki di atas lantai, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Mahesa yang masih termenung di ruang tamu.


Kini, tinggal-lah Mahesa seorang diri. Ia menyandarkan punggung ke belakang sambil menatap langit-langit apartemen. Pria itu memijat pelipisnya yang terasa pusing.


Setibanya di dalam kamar, Kayla meraih telepon genggam yang ada di tas nakas. Ia menggeser layar benda pipih itu dan mencari nomor seseorang.


"Halo!" sahut Kayla tatkala sambungan telepon terhubung. "Mulai besok kita jalankan rencana untuk menghancurkan wanita sialan itu. Aku ingin dia secepatnya mendapatkan ganjaran dari perbuatan jahat yang pernah dilakukannya padaku."


"Setelah misi ini selesai dan aku bisa membalaskan dendam pada wanita itu, dalam waktu dua hari kedepan rekeningmu akan bertambah dua kali lipat. Asalkan kamu mengerjaan tugas itu sesuai dengan arahanku."


TBC

__ADS_1


__ADS_2