
Tanpa terasa, kini usia kandungan Arumi telah memasuki trimester ke-2 atau menginjak minggu ke-20. Selama menjalani masa kehamilan di trimester pertama, wanita itu mengalami gejala yang sering terjadi pada ibu hamil seperti di luaran sana. Beruntungnya Rayyan selalu siaga menjalankan tugasnya sebagai seorang suami serta calon ayah dari ketiga janin yang dikandung oleh sang istri. Nyimas, Mbak Tini dan Burhan pun turut terlibat membantu dokter tampan itu untuk menjaga dan mengawasi selama dia tidak ada di sisi Arumi.
Sesuai dengan rencana, Rayyan akan mengumumkan tentang kehamilan Arumi pada semua orang. Oleh karena itu, pria keturunan Tionghoa yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta, berencana membagikan kabar gembira ini pada seluruh pegawai di rumah sakit, para tetangga di sekitar perumahan Nyimas serta Firdaus dan juga Lena.
Jikalau kebanyakan orang mengadakan acara syukuran saat kandungan sang istri memasuki bulan ke-7, beda halnya dengan Rayyan. Dia ingin mengadakan acara tasyakuran 4 bulanan sebagai bentuk syukur karena Tuhan telah memberikan amanah besar kepada pasangan suami istri itu. Banyak doa serta harapan yang dipanjatkan oleh dua orang insan manusia beda jenis kelamin itu untuk ketiga anak-anaknya.
Hari ini, seperti akhir pekan sebelumnya, pasangan suami istri itu akan pergi mengunjungi Nyimas seraya mengecek segala persiapan di sana apakah semuanya sudah sesuai dengan keinginan Rayyan atau belum. Walaupun pria itu meminta jasa EO untuk mengurusi segala kebutuhan, tetapi dia tidak lepas tangan begitu saja. Tetap mengawasi meski dari jarak jauh.
"Mas, kamu sarapan dulu yuk. Mbak Tini sudah memasakan nasi kuning, enak banget loh!" Arumi menghampiri suaminya yang sedang berolahraga di salah satu ruangan khusus yang sengaja disulap menjadi ruangan untuk berlatih.
Saat ini Rayyan tengah melakukan push up, tubuh atletis dengan enam kotak di bagian perut serta otot di beberapa bagian tubuh lainnya dipenuhi peluh. Pemandangan itu begitu menggoda iman, bahkan membuat Arumi tak mengedipkan mata sama sekali. Dokter cantik itu terkesiap akan kejantanan sang suami. Menurutnya, Rayyan terlihat lebih seksi dan semakin macho.
Rayyan melirik Arumi yang sedang memperhatikan dirinya tanpa berkedip sedikit pun. Lantas, dia bangkit dari tempatnya dan mendekati sang istri. "Sudah puas memandangi keindahan tubuhku? Kalau belum, aku bersedia mempraktekan gerakan yang sama seperti tadi tanpa mengenakan penutup di bagian dadaku."
Suara magnetis itu mengembalikan kembali kesadaran Arumi yang sempat hilang beberapa saat. Wanita itu mengerjapkan mata berkali-kali dan memalingkan wajah ke arah lain, menyembunyikan rona merah jambu di kedua pipi akibat dihinggapi rasa malu karena tertangkap basah tengah memandangi tubuh sang suami.
Rayyan terkekeh, lalu dia menyentuh ujung dagu Arumi seraya berkata. "Jangan memasang wajah imut begitu, kalau tidak mau kuterkam saat ini juga." Sengaja menggoda wanita itu karena ekspresi wajahnya begitu menggemaskan.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat jemari tangan Arumi mencubit perut suaminya. "Dasar nakal! Pagi-pagi sudah berani menggodaku. Awas ya, akan aku laporkan kenakalanmu pada kedua jagoanku di dalam sini." Tangan wanita itu terangkat dan mengusap perutnya seolah mengadukan kejailan Rayyan pada anak-anaknya.
Mendengar kata 'jagoan', membuat Rayyan menaikan kedua alis. Dia sedikit bingung bagaimana Arumi bisa begitu yakin jikalau dua dari tiga bayi dalam kandungan wanita itu berjenis kelamin laki-laki, sedangkan mereka belum melakukan pemeriksaan USG lagi saat menginjak usia 4 bulan.
"Babe, kenapa kamu begitu yakin kalau dua janin dalam perutmu adalah anak laki-laki. Kamu ... diam-diam pergi ke Dokter Renata tanpa memberitahu terlebih dulu?" cecar Rayyan seraya memicingkan mata.
Arumi berdecak kesal karena Rayyan menaruh curiga lagi kepadanya. "Aduh! Bisa tidak sih kamu menyingkirkan pikiran negatif dari dalam isi kepalamu itu. Heran deh kenapa kamu selalu curiga kepadaku!" Wanita itu mencebikkan bibir seraya menjauhi suaminya. Pura-pura marah padahal dalam hati sama sekali tidak tersinggung oleh ucapan Rayyan.
"Ya ... wajar saja kalau aku curiga, sebab setahuku kamu belum pergi memeriksakan kandunganmu lagi setelah Dokter Renata memberitahu kalau di dalam rahimmu terdapat tiga kantung embrio. Lalu, mengapa hari ini kamu berkata kalau dua anak kita berjenis kelamin laki-laki." Rayyan menjelaskan mengapa dirinya mulai menaruh curiga lagi setelah sekian lama ia hidup dengan tenang tanpa berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitar.
"Itu cuma tebakanku saja, Honey. Firasatku mengatakan kelak dua dari tiga anak dalam kandunganku ini adalah laki-laki yang akan melindungiku serta adiknya dari kejahatan orang-orang di luaran sana."
Tubuh Arumi menghangat saat membayangkan ketiga buah cintanya telah lahir ke dunia ini. Selama sembilan bulan mengandung, akhirnya ia dapat berjumpa dengan malaikat kecil yang selama ini dinantikan olehnya. Senyuman di wajah semakin melebar kala ia merasakan gerakan saat salah satu dari ketiga anaknya tengah berbalik di dalam rahim. Gerakan ini pertama kalinya ia rasakan hingga tanpa sadar membuat bola mata berkaca-kaca.
Ekspresi wajah yang sulit diartikan itu tertangkap oleh sepasang mata sipit Rayyan. Pria itu tampak mencemaskan Arumi. "Babe, are you ok?" tanyanya seraya menyentuh kedua pundak sang istri.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rayyan, Arumi malah menangis tergugu. Ia menangis haru karena penantian panjangnya selama lima tahun akhirnya berbuah manis. Tuhan menitipkan ketiga janin di dalam kandungan.
__ADS_1
"Hei, kamu kenapa, Babe?" Rayyan membawa tubuh Arumi dalam pelukan, mendekap erat seraya mengusap punggung sang istri. "Sudah ya, jangan menangis lagi."
"Tenanglah, tidak akan ada yang menyakitimu. Sudah ... sudah ...." bisik Rayyan di telinga Arumi.
Arumi mengurai pelukannya, ia menatap Rayyan dengan wajah sendu. "A-aku menangis bukan karena ada orang yang berniat jahat padaku, melainkan karena merasakan gerakan si kecil tengah membalikan tubuh di dalam perutku," ucapnya dengan sesegukan.
Senyuman samar terlukis di wajah Rayyan mendengar ucapan Arumi. Jangankan Arumi, ia pun tak kuasa menahan derai air mata agar tidak membasahi pipi. Sedikit membungkukan tubuh, lalu menatap penuh cinta ke arah perut yang mulai membuncit.
Secara perlahan mengusap perut Arumi. "Hai, anak-anak Ayah! Kalian semua baik-baik saja, 'kan di dalam sana? Ayah cuma mau bilang, kalau Ayah dan Bunda sangat sayang pada kalian semua. Ayah tidak sabar menunggu hingga kalian bertiga lahir ke dunia."
"Di saat kalian lahir, Ayah akan berusaha untuk berada di sisi Bunda. Menemani hingga kalian melihat keindahan dunia ini. Ayah loves kalian bertiga." Mengakhiri kalimat itu dengan mendaratkan sebuah kecupan penuh cinta. Lalu, ia pun mencium kening Arumi.
"Ayah juga cinta sama Bunda."
.
.
__ADS_1
.