
"Rayyan!"
Suara lantang seseorang mengembalikan kesadaran pria itu. Rupanya, Rayyan hanya berhalusinasi. Pria itu sama sekali tidak melakukan adegan panas bersama kekasih tercinta.
Wanita cantik dalam balutan snelli putih masih berdiri anggun di seberang meja kerja Rayyan. Ia sama sekali tidak melakukan adegan yang ada dalam benak sang kekasih. Kedua alis saling tertaut sambil menatap bingung ke arah calon suaminya.
Rayyan terkesiap beberapa saat sebelum akhirnya menyadari jika ia sedang berhalusinasi. Tiba-tiba saja wajah pria itu merah merona bagai kepiting rebus. Ingin rasanya menenggelamkan diri ke dasar lautan terdalam agar tak bertemu kembali dengan Arumi.
Ia benar-benar malu karena telah lancang membayangkan adegan yang cukup panas, mencumbu mesra seraya meneguk manisnya bibir milik kekasih tercinta.
'Sialan. Bagaimana bisa aku membayangkan adegan mesum itu?' maki Rayyan dalam hati.
Lalu, ia melirik sesuatu di antara kedua paha. Bagian inti tubuh pria itu bereaksi. 'Padahal cuma halusinasi, tapi sukses membangkitkan menara sutet milikku. Jangan-jangan, setelah menikah nanti ia akan berdiri tegak dan bersiap menyengat rumah hangat milik Arumi.'
Lantas, pria itu tersenyum geli membayangkan saat mereka menikah nanti. Mungkin ia akan terus menerkam Arumi setiap waktu tanpa memberikan jeda sedetik pun pada wanita itu. Tak peduli hujan ataupun panas, siang maupun malam. Rayyan bertekad akan memangsa Arumi di mana pun dan kapan pun ia mau. Bahkan, saat jam istirahat, pria itu akan menuntaskan hasraatnya pada istri tercinta.
Arumi yang kebetulan sedang menatap wajah Rayyan sedikit terpana saat melihat pria itu menarik sudut bibirnya ke atas. Menyeringai seperti orang bodoh.
Khawatir terjadi sesuatu pada kekasih tercinta, Arumi melambaikan tangan ke depan seraya berkata, "Rayyan, kamu tidak sedang kesambat roh halus 'kan?" Wanita itu sedikit menaikan satu oktaf suaranya berharap agar Rayyan segera menghentikan aksinya.
Arumi sedikit merinding, takut jika Rayyan benar-benar kesambat roh halus.
Rayyan mengerjap sedikit linglung. Wajahnya kembali memerah. Hari ini isi pikirannya tak jauh dari urusan nana nini. Berawal dari mimpi indah semalam dan berlanjut pada halusinasinya saat mencumbu Arumi.
Ia benar-benar seperti pria mesum yang terus memikirkan hal-hal aneh yang membuat sesuatu di bawah sana berdiri kokoh.
Tak mau sampai calon istrinya mengetahui isi pikiran pria itu, Rayyan memaksakan diri tersenyum di hadapan wanita itu meski terlihat kaku tapi mampu mengembalikan lagi kewarasannya.
"A-aku, baik-baik saja, Babe." Pria itu menjawab sedikit kikuk. "Tadi, aku terlalu excited kala melihatmu datang ke ruangan ini. Mengenakan setelan pakaian wanita lengkap dengan high heels putih yang kubelikan saat kita menghadiri seminar di Bandung."
Namun, Arumi belum percaya sepenuhnya pada pria itu. Ia masih menatap penuh selidik ke arah Rayyan.
"Serius, tidak ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Arumi mencoba memastikan sekali lagi jikalau pria itu tak menyembunyikan apa-apa darinya.
__ADS_1
Rayyan mengangguk cepat seraya memasang wajah serius. Mengangkat jari telunjuk dan jari tengah sebelah kanan bersamaan sembari berucap, "Sungguh. Aku tak menyembunyikan apa pun."
Akan tetapi, sebelah tangan kiri pria itu terlipat ke belakang punggung. Seolah melakukan pembantahan terhadap perkataan yang diucapkan olehnya.
"Baiklah, aku percaya dengan ucapanmu." Wanita itu duduk di kursi di hadapan Rayyan, lalu meletakkan wadah nasi ke atas meja.
"Lain kali, jangan tersenyum seperti itu. Kamu tahu, tampangmu barusan tidak sedap dipandang."
Jemari Arumi mulai membuka penutup wadah makan. Kemudian mengelap satu set alat makan untuk calon suaminya. Bukan hanya itu saja, ia pun menuangkan air minum ke dalam gelas besar yang tersedia di atas meja kerja.
"Makanlah. Aku sengaja memasak semua makanan ini untukmu." Arumi tersenyum lembut dan menyodorkan wadah makan itu ke hadapan Rayyan. "Jangan lupa berdo'a."
Dengan penuh semangat, Rayyan menyendokan bekal makanan itu ke dalam mulut. Ia sangat bahagia karena Arumi begitu perhatian.
"Terima kasih, Babe."
Rayyan begitu menikmati masakan yang dibuatkan khusus untuknya. Nasi goreng udang lengkap dengan telur mata sapi, wortel, jagung, buncis dicampur ke dalam olahan nasi sehingga tercipta sepiring nasi goreng kaya akan serat sebab di dalamnya terdapat beraneka ragam sayuran.
Seulas senyum Rayyan berikan pada Arumi. "Sangat lezat. Semakin hari, tanganmu semakin pandai meracik makanan mentah menjadi makanan yang siap disantap. Aku beruntung menjadi orang pertama yang diberikan kesempatan untuk mencicipi masakanmu."
Seulas senyum terbit di ujung bibir Arumi melihat betapa lahapnya calon suaminya itu.
"Terima kasih atas pujianmu, Ray. Aku janji, setiap hari akan memasakan makanan kesukaanmu ketika kita menikah nanti," ujar Arumi lirih. Seketika, wajah wanita itu merah merona kala mengucapkan kata-kata manis di hadapan Rayyan.
Rayyan tersenyum, membalas perkataan Arumi. "Aku tahu kamu akan menjadi istri yang baik bagiku. Kamu pandai merawatku. Aku jamin, dalam kurun waktu satu bulan bobot badanku bertambah berkali lipat."
"Rayyan." Wanita itu tak sanggup menatap wajah kekasihnya. Mendapat pujian dari calon suami membuat Arumi benar-benar tersipu malu.
"Oke ... oke ... aku tidak akan becanda lagi."
Wajah Rayyan kembali serius. Pria itu tak lagi menggoda Arumi. Ia kembali sibuk menyantap makanan di hadapannya.
"Oh ya, akhir pekan nanti aku akan datang ke rumahmu. Kamu dan Tante Nyimas tida ke mana-mana 'kan?" tanya Rayyan setelah ia menghabiskan semua makanan yang dibawakan oleh Arumi.
__ADS_1
Pria itu meraih gelas di hadapannya. Lalu, menyesap perlahan cairan bening itu. Menikmati setiap tegukan yang masuk melalui tenggorokan.
Arumi yang saat itu tengah merapikan wadah makan kotor dan satu set makan kotor menoleh ke arah Rayyan. Sambil berjalan menuju westafel, wanita itu menjawab. "Akhir pekan ini aku dan Mama tidak pergi ke mana-mana. Kami berdua ada di rumah dari pagi hingga malam hari."
Jemari lentik itu menyalakan keran air, membilas wadah makan dan satu set peralatan makan yang kotor di bawah air mengalir.
"Ada apa sih, Ray? Kok tumben kamu bertanya begitu."
Ingin rasanya Rayyan mengucapkan bahwa akhir pekan nanti ia ingin meminang wanita itu. Akan tetapi, ia bertekad ingin memberikan sebuah lamaran kejutan untuk kekasih tercinta. Akhirnya, ia hanya dapat menelan kembali kalimat yang ingin diucapkan.
"Aku hanya ingin bertamu saja seperti biasa. Memangnya tidak boleh?" Melingkarkan tangan di pinggang Arumi. Menaruh ujung dagu di pundak wanita itu.
Wanita itu bergeming. Ia membiarkan Rayyan memeluknya dari belakang. Walaupun mereka sering berpelukan dalam posisi yang sama namun tetap saja membuat degup jantung Arumi berdetak tak beraturan.
"Ehm ... tentu saja boleh. Kamu boleh bertamu ke rumahku sesuka hatimu. Mama pasti senang karena kamu datang berkunjung."
"Kamu sendiri, memangnya tidak senang kalau aku datang?" Rayyan menghirup aroma parfum kesukaan Arumi. Aroma parfum lily of valley menjadi ciri khas wanita itu pasca berpisah dari Mahesa.
"Tentu saja suka. Kalau boleh jujur, malah aku ingin kamu terus berada di sisiku."
Perkataan itu merupakan isi hati Arumi yang terdalam. Namun, ia tak mau secara langsung mengatakan bahwa dirinya sudah tak tahan ingin segera dipinang oleh kekasih tercinta. Ia takut jika Rayyan belum siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.
Rayyan membalikan tubuh Arumi hingga kini posisi mereka berhadapan. Wanita itu menundukan wajah tak berani menatap manik coklat milik sang kekasih.
Pria itu menyentuh ujung dagu Arumi, lalu berkata, "Kamu yang sabar ya. Suatu hari nanti, kita akan hidup bersama selamanya."
.
.
.
__ADS_1