Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Jangan Salahkan Aku Merebut Mantan Istrimu


__ADS_3

"Sedang apa kamu di sini?" Mahesa menatap nyalang ke arah Arumi. Kemarahan semakin memuncak kala melihat tangan Rayyan tak sengaja bersentuhan dengan Arumi.


Mendengar seruan yang memekikan gendang telinga, Arumi menoleh ke sumber suara. Wanita itu hampir saja menjatuhkan gelas berisi minuman pesanannya. Luka hatinya yang sedikit mulai terobati kini terkoyak kembali ketika melihat Kayla memamerkan cincin berlian, berharga ratusan juta rupiah melingkar di jari manis. Tanpa diberitahu pun, ia sadar bahwa itu adalah cincin pernikahan.


Belum sempat menjawab, Mahesa kembali berkata dengan nada tinggi. "Sekarang kamu sudah berubah menjadi wanita murahan! Pergi ke Bali bersama pria lain, sementara statusmu masih istriku!" Pria bertubuh jangkung itu menatap Rayyan dengan penuh kebencian.


"Kamu sadar, kelakuanmu itu telah mencoreng nama baik keluarga Adiguna! Bagaimana jika ada pemburu berita lalu menyebarkan di sebuah surat kabar dan akun sosial media, mengatakan bahwa istri dari Mahesa Putra Adiguna pergi berlibur bersama pria asing di Bali!" Mendelik ke arah Arumi. "Maka reputasi keluargaku akan hancur!"


Deru napas Mahesa tersengal-sengal. Bahunya turun naik. Dada kembang kempis. Emosi dalam diri semakin merajai tubuh pria itu.


Suara pekikan itu membuat pengunjung sekitar menoleh ke arah mereka. Semua orang menatap dengan tatapan aneh.


Melihat banyak peluang untuk menjatuhkan Arumi, Kayla mengeluarkan jurus untuk memprovokasi Mahesa.


"Istrimu ini pasti sudah tidak memiliki urat malu lagi, Mas. Dia secara terang-terangan selingkuh di belakangmu!" pekik Kayla. "Dia ini murahan, tidak layak untuk dipertahankan!"


"Jal*ng ini pasti diracuni otaknya oleh Tante Nyimas sehingga berani pergi ke luar kota tanpa izin darimu." Melirik sinis ke arah Arumi.


"Dia 'kan anak angkat yang berbakti sampai mau berkorban apa pun demi Mama tercinta, termasuk ...." Kayla sengaja menjeda kalimatnya lalu tersenyum smirk ke arah Arumi. "Membuka paha mulus nan putih pada pria lain!"


Brak!


Terdengar suara gebrakan meja. Arumi bangkit dari kursi lalu menatap Kayla dan Mahesa dengan sorot mata penuh kebencian.

__ADS_1


Kesabaran Arumi sudah habis. Semakin lama lisan Mahesa dan Kayla semakin tajam bagaikan sebilah pisau. Ia bisa bersabar apabila yang dihina oleh mereka adalah dirinya sendiri. Namun, bila nama sang mama disangkut pautkan dalam masalah ini, ia tidak akan tinggal diam.


Arumi yang geram membalas dengan sorot mata tajam menatap sepasang pengantin baru itu. "Sudah cukup kalian menghinaku! Kalian pikir, aku akan diam saja mendengar ocehan tak berfaedah yang keluar dari mulut para pendosa seperti kalian hah!" sindir wanita itu.


Wanita itu menggerakan jari telunjuk ke hadapan Kayla dan Mahesa. "Kalian salah besar! Aku bukanlah Arumi yang dulu. Yang akan menangis bila dibentak oleh orang lain. Pengkhianatan dan rasa sakit ini mengajarkanku untuk tegar bila berhadapan dengan mantan suami dan istri barunya," skak Arumi.


Dengan anggun ia berjalan di belakang Kayla. " Tadi kamu bilang, aku adalah seorang ja*ang yang tak tahu malu!" Sudut bibir wanita itu terangkat ke atas. "Lalu, sebutan apa yang pantas bagimu? Gadis cantik bertubuh seksi tetapi rela menjual keperawanan agar bisa merebut posisiku di hati suamiku sendiri."


"Kamu bersedia mengandung anak Mas Mahes atas bujukan Mama Naila tanpa ada ikatan pernikahan terlebih dulu. Bukankah itu sama saja seperti seorang ja*ang! Bahkan bisa jadi statusmu itu lebih rendah dariku."


Kayla membalas tatapan tajam Arumi. "Meskipun begitu, usahaku tidak sia-sia. Buktinya, kini aku hamil dan sebentar lagi akan memberikan penerus bagi keluarga Adiguna."


Seketika Arumi tertawa. Bahu wanita itu bergetar hebat. "Ya ... kamu benar. Usahamu tidak sia-sia. Kamu hamil tetapi di luar nikah. Aku tidak yakin, apakah kelak anakmu itu akan bangga memiliki ibu sepertimu."


Sikap angkuh dan sombong yang ditunjukan oleh Kayla sirna begitu saja. "M-maksudmu, apa?"


"Apalagi jika ia tahu, dulu ibunya hamil di luar nikah. Ehm ... meskipun akhirnya bapaknya yang brengsek itu menikahi sang ibu tetapi tetap saja, ia akan dihina karena terlahir sebagai anak di luar nikah."


Kayla terdiam seketika. Tangannya mengepal hingga memperlihatkan urat-urat menonjol di punggung tangan. Wajahnya memerah akibat menahan malu. Ia tak menyangka Arumi akan membalikan keadaan.


Gadis itu pikir, mantan sahabatnya itu akan mudah ditindas tetapi kenyataannya salah. Arumi semakin tegar dan berani membalas setiap kalimat yang terucap dari bibir Kayla.


"Dan kamu, Mas Mahes. Sejak aku memutuskan melayangkan gugatan cerai, itu artinya kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Aku tidak berkewajiban untuk meminta izin ataupun memberitahu ke mana akan pergi. Kamu, di mataku sudah tak memiliki arti apa pun lagi!" ucap Arumi seraya meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Namun, baru beberapa langkah, Arumi kembali menoleh ke belakang. "Mas Mahes, jika di kemudian hari kamu bertemu aku sedang bergandengan tangan dengan pria lain, jangan pernah cemburu sebab hubungan di antara hanya sebatas mantan suami-istri." Kemudian ia berlalu begitu saja tanpa pernah mau menoleh lagi ke belakang.


Rayyan cukup terkejut dengan adegan drama yang baru saja terjadi. Semua kejadian itu terekam jelas di memori ingatan pria keturunan Tionghoa. Ia menyaksikan sendiri tatapan mata penuh kekecewaan terlukis di wajah partner kerjanya itu.


Tak ingin terjadi hal buruk menimpa Arumi, ia beranjak dari kursi. Menatap lekat wajah tampan mantan suami partner kerjanya itu. "Rupanya kamu pria brengsek yang berselingkuh dengan sahabat istrimu sendiri."


"Kamu!" Jari telunjuk Mahesa mengarah ke Rayyan. Akan tetapi, tangan itu segera dihempaskan oleh Rayyan.


"Tangan kotor ini tidak pantas kamu pamerkan kepadaku!"


Rayyan berbisik di telinga Mahesa. "Kamu bodoh karena telah melepas berlian yang begitu berharga seperti Arumi." Pria itu tersenyum smirk. "Jangan salahkan aku bila suatu hari nanti merebut mantan istrimu."


Dengan gagah berani Rayyan melangkah ke luar café. Mengejar wanita yang beberapa jam belakangan ini telah memporakporandakan hatinya.


"Jadi, selama ini aku telah salah menilai Arumi. Dia terlihat tegar di luar tetapi hatinya sangat rapuh sama seperti Mama Mei Ling," batin pria itu.


Tiba-tiba saja rasa bersalah menjalar di hati. Bayang-bayang saat ia memperlakukan Arumi dengan tidak adil sekelebat muncul di dalam benaknya. Sungguh, ia menyesal bersikap buruk pada wanita itu.


"Andai saja waktu bisa diputar, mungkin aku tidak akan pernah memperlakukan Arumi dengan kasar. Malah, aku akan memperlakukan wanita itu layaknya seorang ratu."


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2