Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kenapa Dia Ada Di Sini?


__ADS_3

Di salah satu cafe terkenal di kawasan Jakarta Pusat, seorang pria tampan tengah duduk seorang diri. Memilih tempat duduk out door di dekat kolam ikan koi. Meskipun cuaca sangat terik tetapi sinar matahari tak membuatnya merasa kegerahan sebab banyak pepohonan menjulang tinggi ke atas awang serta tanaman hijau yang ditanam di pot membuatnya merasa sejuk.


Berkali-kali memandangi layar ponsel sambil menatap dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Namun yang pasti, hati pria itu begitu gelisah, gundah dan selalu merasa tidak tenang.


Menghela napas kasar, dada terasa sesak setiap kali mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya pergi meninggalkan rumah peninggalan istri pertama sang papa. Ada rasa menyesal karena telah berbicara kasar kepada wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Namun, bila mengingat bagaimana teganya Lena membohonginya selama ini, rasa benci berselimut kerinduan yang bersarang di lubuk hati yang terdalam.


Seburuk apa pun perangai seorang ibu, bukankah si anak tetap wajib menghormati orang tuanya? Terlebih, surga ada di bawah kaki seorang ibu. Namun, apakah surga itu tetap ada jikalau wanita itu sendiri telah menciptakan sebuah neraka untuk anaknya sendiri?


"Argh! Sudahlah, biarkan saja Papa dan Mama hidup menderita toh selama ini mereka sudah lama berbahagia di atas penderitaan orang lain!" dengkus Raihan kesal seraya menyugar rambutnya menggunakan jari tangan. Ia tampak frustasi begitu mendapatkan kabar dari mbok Darmi tentang keadaan kedua orang tuanya. Ingin menemui orang tuanya, tetapi percikan api kemarahan dalam diri masih bersemayam dan membuatnya berpikir 'tuk kedua kali agar pergi menemui Lena dan Firdaus.


Lantas, ia memasukan kembali telepon genggam miliknya ke dalam saku celana. Tangan kekar pria itu meraih pisau dan garpu, bersiap menyantap hidangan yang ada di atas meja. Cake sejenis red velvet yang dilapisi krim keju di bagian atasnya. Itu terlihat cukup lezat dan membuat air liur anak kedua Firdaus nyaris mengalir dari mulutnya.


Sementara itu, sepasang pria dan wanita tengah turun dari dalam mobil. Berjalan bersisian memasuki sebuah cafe dengan konsep outdoor garden yang tengah booming belakangan di jejaring sosial media. Banyak tanaman hijau yang sengaja diletakkan di sudut ruangan agar terlihat lebih asri dan segar sehingga membuat para pengunjung merasa seperti berada di dalam kebun.


"Ingin duduk di sini, atau outdoor?" tanya si pria yang tak lain bernama Daniel.


Wanita berwajah setengah Arab mengedarkan pandangan ke sekitar, menyapu seisi ruangan tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun. "Outdoor saja. Rasanya ... akan lebih menyenangkan ketimbang duduk di dalam ruangan."


Kembali melangkah bersisian menuju sebuah kursi yang ada di luar ruangan. Wanita itu sengaja memilih bagian luar cafe, sebab banyak tumbuhan hijau serta pepohonan rindang ditambah kolam ikan koi sehingga sangat cocok bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu senggang di tengah padatnya rutinitas dan kemacetan ibu kota.


"Terima kasih, karena kamu sudah membawaku ke tempat ini. Sungguh, aku tak menyangka jikalau tempatnya lebih bagus daripada yang disiarkan di layar kaca." Seulas senyum terlukis di wajah. Lesung pipi di kedua sudut bibir semakin membuat wanita itu terlihat semakin manis hingga membuat siapa saja yang melihat, tergerak hati untuk memilikinya.


Daniel terkekeh pelan setengah berkelakar. "Naura ... Naura ... kamu itu terlalu berlebihan. Untuk apa berterima kasih kepadaku, sedangkan aku memang sudah janji mengajakmu berkencan ke tempat ini di saat sudah launching."


Naura mendengkus kesal seraya melayangkan hand bag miliknya ke lengan Daniel. "Jangan sembarangan bicara, kalau ada rekan sejawat dan tanpa sengaja mendengarnya, bagaimana? Aku tidak mau ya tersebar berita miring tentang kita berdua. Ingat, antara kamu dan aku hanya sebatas teman, tidak lebih!" Sengaja menegaskan kalimat terakhir agar pria yang duduk di hadapannya sadar jikalau ia sama sekali tidak tertarik menjalin kasih dengan pria itu.

__ADS_1


Daniel mengembuskan napas panjang. "Bukankah selama ini kita selalu jalan bersama, dan menghabiskan waktu berduaan. Lalu, kenapa hingga detik ini kamu tak sedikit pun menyimpan rasa kepadaku. Apakah hatimu masih mengharapkan Dokter Rayyan?"


"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Dokter Rayyan, Niel. Pria itu sudah hidup bahagia bersama istri beserta ketiga anak-anaknya. Jadi, jangan pernah sebut dia setiap kali kamu bersamaku!" ujar Naura menahan kesal. Setiap kali jalan berdua, Daniel melibatkan Rayyan dalam percakapan mereka. Padahal, di dalam hati Naura sudah tak ada lagi rasa cinta terhadap ayah tiga bayi kembar.


"Lalu, kenapa kamu masih tidak membuka hatimu untukku? Selama ini aku selalu berusaha menjadi lelaki yang kamu harapkan, berada di sisimu di saat kamu sedang kesusahan. Apakah, itu semua tidak cukup untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku?"


Naura menatap Daniel dengan sorot mata yang tak terbaca. Ia benar-benar lelah membahas soal yang sama setiap kali jalan berdua dengan pria itu. Di mata Naura, Daniel adalah sosok pria sempurna. Dari segi rupa, penampilan, jenjang karir, lelaki itu masuk dalam kriterianya namun ia sama sekali tak merasakan getaran lembut di dalam hati setiap kali mereka bersama. Ia pernah merasakan getaran itu satu kali, ketika bertemu dengan ... Raihan.


"Maafkan aku, Niel. Tapi sungguh, selama ini aku cuma menganggapmu sebagai teman biasa, tidak lebih. Bukan karena aku masih mencintai Dokter Rayyan, tapi ada hal lain yang aku sendiri pun tidak tahu mengapa tak bisa menerima kamu sebagai kekasihku."


Daniel menghela napas dalam. "Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang kamu tak memiliki perasaan apa pun terhadapku. Setidaknya, aku masih bisa menjadi temanmu, itu sudah lebih dari cukup bagiku mengobati rasa sakit akibat ditolak."


"Sekali lagi, aku minta maaf padamu, Niel karena tak bisa membalas perasaanmu," jawab Naura lirih.


Dengan santai tanpa ada rasa dendam, marah sedikit pun, Daniel berucap. "Santai saja, Ra. Anggap semuanya tak pernah terjadi. Oke?"


"Silakan, Mbak dan Mas-nya mau pesan apa?" tanya pelayan itu seraya menyodorkan buku menu ke atas meja. "Di cafe kami ada beragam jenis menu serta kopi yang terbuat dari biji kopi pilihan dengan kualitas nomor satu di kelasnya. Jadi, saya pastikan para pelanggan tidak akan rugi memesan secangkir kopi di cafe kami."


Naura dan Daniel tampak begitu serius membaca buku menu yang diserahkan oleh pelayan cafe. Memang benar, di cafe itu tersedia beberapa cake yang terlihat sangat lezat, dapat dinikmati bersamaan dengan secangkir kopi hangat dari biji kopi berkualitas.


"Aku pesan piccolo latte dan red velvet cake with cream cheese frosting," ujar Naura.


Pelayan pria itu bergegas mencatat Naura di kertas. "Kalau Mas-nya, mau pesan apa?"


"Kalau aku, cappucinno dan dessert box chocolate black forest."

__ADS_1


Pelayan itu kembali membacakan pesanan kedua customer tersebut. "Mohon ditunggu sebentar." Setelah itu, barulah dia bergegas meninggal meja Naura dan Daniel.


Usai kepergian pelayan cafe, tak ada percakapan terjadi di antara dua insan manusia beda jenis kelamin itu. Daniel sibuk memainkan telepon genggam miliknya, sedangkan Naura tengah sibuk memperhatikan ikan koi yang berenang ke sana dan kemari tanpa ada rasa beban sedikit pun. Mereka terlihat bebas bergerak sesuai dengan keinginan.


"Oh ya, Ra, kamu jadi ambil spesialis?"


Suara baritone Daniel mengalihkan perhatian Naura. Wanita itu tersenyum samar sambil berkata, "Jadi, tapi aku tidak tahu kapan sebaiknya mengutarakan keinginanku ini kepada Papa dan Mama. Kamu tahu sendiri bagaimana kedua orang tuaku."


Daniel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi terbuat dari kayu. Lantas tersenyum lebar. "Ya ... ya ... aku tahu betul bagaimana sikap orang tuamu, terlebih Mama-mu. Beliau begitu posesif dan over protective dalam menjagamu."


"Yeah, kamu benar. Oleh karena itu, aku masih mencari cara menyampaikan pada mereka tentang niatanku ini. Terlebih, membutuhkan waktu yang cukup lama hingga aku benar-benar menyandang gelar dokter spesialis anak. Selama itu, apa yang akan terjadi pada Mama-ku, kamu bisa membayangkannya sendiri."


Daniel terkekeh pelan sambil menatap birunya langit di atas sana. Sedikit banyak tahu tentang sikap ibunda Naura yang terkesan terlalu menjaga sang buah cinta.


"Jika kamu bersungguh-sungguh ingin mengambil spesialis, bicarakan baik-baik kepada mereka. Aku yakin, Mama-mu pasti mengerti kalau kamu menyampaikannya dengan lemah lembut tanda meninggikan suara di hadapan beliau."


Naura menghela napas dalam, lalu menatap Daniel dengan tatapan lekat. Semenjak kehilangan Kayla karena teman terbaiknya itu pergi entah ke mana, pria itu menjadi pengganti sang mantan model untuk mendengar keluh kesahnya. Bekerja di bidang sama dengan hobi yang sama pula membuatnya tak membutuhkan waktu lama untuk dapat berteman dengan pria itu.


"Ya, semoga saja ya!" ucap Naura.


Naura kembali mengedarkan pandangan ke sekitar, menatap pemandangan di sana dengan tatapan takjub. Lalu, netra wanita itu membulat kala melihat seseorang tengah duduk manis sambil menatap juga ke arahnya. Sosok pria yang telah membuat hatinya berdesir halus disertai degup jantung tak beraturan.


Pria itu, kenapa dia ada di sini?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2