
Bunyi kokok ayam kembali terdengar. Kicauan burung gereja yang bertengger di dahan pohon pun ikut meramaikan suasana di pagi hari. Sang Surya masih setia menyinari bumi hingga seluruh insan di belahan dunia manapun dapat menikmati keindahannya.
Pagi itu, tampak Arumi dan Nyimas tengah sibuk mengurusi ketiga bayi montok yang semakin hari berat badan mereka bertambah. Bagaimana tidak, Triplet, sebutan untuk anak kembar dari pasangan Arumi dan Rayyan sangat lahap setiap kali sang bunda memberikan ASI kepada mereka. Terlebih Arumi memberikan ASI eksklusif tanpa dibantu susu formula ataupun makanan pendamping lainnya sebelum usia mereka genap enam bulan sehingga membuat Ghani, Zavier dan Zahira terlihat lebih sehat, kuat dan sangat menggemaskan. Beruntungnya ASI yang dimiliki Arumi melimpah ruah jadi tak membuat wanita itu kesulitan saat memberikan susu kepada tiga anaknya.
Asisten rumah tangga Arumi melangkah panjang menuju kamar bayi. Ia mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar. "Permisi, Bu, di depan ada Bu Rini dan anak-anak. Katanya sudah izin kepada Pak Dokter jikalau mereka hendak berkunjung ke sini," ucap wanita itu sopan.
Arumi bergumam lirih, "Tumben sekali dia datang sepagi ini. Aku yakin, Tante Rempong itu pasti sengaja ke sini karena ingin menumpang sarapan."
Nyimas terkekeh pelan. "Biarkan saja. Mungkin dia sedang merindukan moment saat sarapan bersama kita. Lagipula, sudah lama Rini tidak datang menemuimu, 'kan? Semenjak kelahiran anak ketiga, kalian sibuk mengurusi si kecil."
Istri cantik Rayyan menghela napas kasar. "Benar, Ma. Kami memang sudah jarang sekali bertemu. Bahkan, saat acara aqiqahan anak-anak, aku tak datang ke rumah Rini, begitu pun sebaliknya. Beruntungnya Mas Rayyan bisa mewakiliku jadi insiden beberapa bulan lalu tak terulang lagi." Ia tertawa geli kala mengingat saat acara tasyakuran kehamilan empat bulanan si kembar.
Nyimas mengulum senyum, menarik kedua sudut bibir ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan mirip busur panah. "Ya, Mama ingat sekali kejadian itu. Hormon ibu hamil memang berbeda-beda setiap orang."
Tak mau membuat sahabatnya menunggu terlalu lama, Arumi kembali berkata, "Minta Rini menunggu sebentar. Siapkan minuman serta camilan untuk kedua keponakanku. Letakkan juga pudding mangga serta cake yang dibeli Mas Rayyan tadi malam. Indah dan Bagus pasti menyukainya."
"Baik, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu." Mbak Tini pamit undur diri dan meninggalkan kamar bayi.
Setelah ketiga anaknya tampil rapi mengenakan romper dengan warna serta motif berbeda, Arumi membawa tubuh montok Triplet masuk ke dalam stroller. Ibu tiga orang bayi tersebut melangkah anggun memasuki ruang tamu.
"Aunty Rumi!" seru Indah dan Bagus hampir bersamaan. Kedua anak kembar Rini berhambur menyambut kedatangan Arumi. Mereka memeluk tante kesayangan dengan begitu erat.
Rasa sayang begitu tulus kepada Indah dan Bagus, membuat Arumi selalu menjadi nomor pertama bagi si kembar meski kini ada Triplet tetapi perhatian mereka tetap tertuju kepada sahabat sang mama.
Arumi mencium puncak kepala Indah dan Bagus secara bergantian. Kedua tangan masih terentang, membalas pelukan si kembar. "Halo, Sayang. Kalian berdua apa kabar? Aunty kangen banget."
__ADS_1
"Indah juga kangen banget sama Aunty Rumi," ujar Indah. Si sulung semakin mengeratkan pelukan seakan ia takut jikalau tante kesayangannya pergi begitu saja.
Si bungsu Bagus tak mau kalah, ia pun berucap, "Bagus lebih kangen sama Aunty Rumi, loh, dibanding Indah."
Nyimas tersenyum haru melihat pemandangan di depannya. Kedua anak Rini sedari dulu memang sangat menyayangi Arumi bahkan sudah menganggap anak angkatnya seperti ibu kedua.
Rini bangkit dari kursi dan mendekati Nyimas. Mengulurkan tangan ke depan, mencium punggung tangan ibu angkat sang sahabat. "Halo, Tante, bagaimana kabarnya? Maaf ya, aku belum sempat mengunjungi Tante lagi setelah melahirkan Shaka."
Dengan lemah lembut Nyimas menjawab, "Alhamdulillah. Kabar Tante sehat. Tidak masalah, Nak. Yang penting, keadaan kamu dan Dedek Shaka sehat walafiat, itu sudah membuat hati Tante bahagia."
Pelukan antara Arumi beserta Indah dan Bagus terurai, Rini beralih mendekati sang sahabat. "Aku turut berduka cita atas kepergian Papa mertuamu ya, Rumi. Maaf, saat pemakaman tidak bisa hadir." Jari tangan wanita itu mengusap punggung sang sahabat.
Arumi memejamkan mata ketika berada di pelukan Rini. "Terima kasih, Rini. Tidak perlu meminta maaf, sebab aku tahu kamu pasti repot mengurus Shaka. Rio sudah menyampaikan permintaan maafmu kepada Mas Rayyan dan Raihan."
"Raihan! Raihan, adik iparmu itu? Musuh bubuyutan Rayyan?" tanya Rini penuh selidik.
Nyimas memandangi anak serta sahabat anaknya. Mendengar kedua wanita muda itu berbicara, ia menduga tampaknya akan ada percakapan serius di antara keduanya. Lantas, nenek Triplet menginterupsi. "Rumi, sebaiknya kamu ajak Rini ke balkon. Anak-anak, biarkan Mama, Mbak Tini dan Mbak Sari yang menjaga."
Tanpa pikir panjang, Arumi mengajak Rini ke balkon. Saat tiba di balkon, ia dan sang sahabat duduk bersebelahan di kursi rotan sambil memandangi keindahan taman dari lantai tujuh apartemen.
"Rumi, apakah kepergian Dokter Firdaus membuat suami dan adik iparmu berbaikan? Apakah hubungan kedua lelaki itu sudah mulai membaik?"
Arumi menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Seandainya saja iya, mungkin aku adalah orang pertama yang akan sangat berbahagia melihat suami dan adik iparku berbaikan. Namun, nyatanya, hubungan antara Mas Rayyan dan Raihan masih sama seperti dulu. Walaupun Raihan sudah meminta maaf dan Mas Rayyan sudah memaafkan, tetapi mereka tetap tak bisa bersama layaknya saudara seperti di luaran sana."
Rini menarik kursi rotan yang didudukinya mendekati kursi Arumi hingga terdengar suara benda yang digeser oleh seseorang. "Meminta maaf atas apa? Kok aku jadi penasaran atas semua kejadian yang terjadi menimpa suami tampanmu itu. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi!" Seketika raut wajah sahabat Arumi berubah jadi serius. Beberapa bulan tak bertemu, rupanya banyak sekali kejadian yang tak diketahui oleh wanita itu.
__ADS_1
Rio pun tak pernah memberitahu perihal yang terjadi pada Rayyan. Suaminya itu berprinsip tidak akan memberitahu siapa pun jika bukan dari pihak Rayyan sendiri yang menceritakan. Jadi tidak heran bila saat ini Rini berubah menjadi wartawan dadakan yang tengah sibuk memburu berita tentang kisah suami dari sang sahabat. Sosok lelaki yang dulu pernah ia mintai tolong untuk mengabulkan ngidamnya yang terkesan sangat berlebihan.
"Jadi, selama ini mendiang Papa Firdaus dan Tante Lena tidak pernah memberitahu Raihan kenapa sampai suamiku begitu membenci Tante Lena hingga selama belasan tahun dia hidup dalam kebencian terhadap kakaknya sendiri. Itu semua disebabkan oleh tidak adanya kejujuran dalam diri mendiang Papa dan Tante Lena."
"Saat semuanya terbongkar, Raihan menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Mas Rayyan. Suamiku sudah memaafkan kesalahan Raihan, tetapi untuk menjadi kakak adik seperti saudara kandung pada umumnya, dia tidak bisa. Malah, meminta Raihan dan Tante Lena menjauh, tak pernah lagi menampakan batang hidungnya di hadapan kami," tutur Arumi panjang lebar, menceritakan semua informasi yang didapat dari suami tercinta.
Rayyan memang tak pernah menyembunyikan apa pun dari Arumi termasuk moment di mana Raihan meminta maaf kepada anak sulung Firdaus. Ia pun menceritakan itu semua kepada istri tercinta. Pria berwajah oriental itu tidak mau ada satu rahasia pun yang disembunyikan dari pasangannya.
Rini membenarkan posisi duduknya. Pandangan mata wanita itu menatap ke atas langit. "Aku pun jika jadi Rayyan pasti melakukan hal yang sama. Setiap kali melihat seseorang yang berkaitan erat dengan masa laluku, rasa sakit itu pasti ada meski kita sudah mencoba memaafkan. Lebih baik menjauh daripada luka itu tak pernah kering seumur hidup."
"Dengan menjauh, siapa tahu secara perlahan luka yang ditorehkan oleh Tante Lena ke dalam hati Rayyan sedikit demi sedikit kering dan hubungan di antara mereka membaik. Kita tidak pernah tahu 'kan apa yang akan terjadi esok atau lusa!" Ia beralih memandangi Arumi dengan tatapan mengintimidasi, seakan mencari pembenaran atas perkataannya barusan.
Arumi menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Benar. Aku sih tidak ingin memaksa Mas Rayyan untuk menerima Raihan sebagai bagian dari keluarga kami. Biarkan saja dia berpikir sendiri apa yang terbaik baginya. Toh, dia sudah dewasa dan sudah menjadi ayah dari ketiga anak-anakku. Aku tak mau rumah tanggaku hancur demi egoku sendiri."
"Bila dulu aku bisa pergi menemui Rio sesuka hati untuk menggugat cerai pasanganku, tetapi tidak untuk kali ini. Selain karena ada tiga krucil yang hadir di tengah pernikahanku, rasa takut kehilangan Mas Rayyan membuat aku berpikir dua kali menggunakan jasa suamimu itu. Aku tidak mau menjadi janda untuk kedua kali. Tidak mau anak-anakku menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya."
Rini tersenyum lebar mendengar jawaban sahabatnya. Menepuk pundak Arumi dengan lembut sambil berkata, "Aku yakin, jodohmu dengan Rayyan till Jannah, Rumi. Percayalah padaku, kalian berdua memang diciptakan untuk saling melengkapi, saling mengobati luka masing-masing. Insha Allah, hingga ke surga nanti, kamu dan dia hidup bahagia selamanya."
Seketika bola mata indah Arumi mulai berkaca-kaca. Ia tersentuh akan setiap ucapan yang dikatakan oleh Rini. Wanita yang berprofesi sebagai psikiater itu selalu bisa menghibur di saat dirinya tertimpa masalah.
"Aamiin. Terima kasih banyak, Bestie. Aku beruntung mempunyai sahabat sepertimu."
Tak banyak bicara, Rini merentangkan ke dua tangan ke samping. Memberikan isyarat pada Arumi untuk berhambur dalam pelukan. "Itulah gunanya sahabat. Terlebih lagi, kamu adalah calon besanku jadi aku patut menghiburmu." Ibu kandung Shaka terkikik geli kala membayangkan anak bungsunya bersanding di pelaminan bersama Zahira.
.
__ADS_1
.
.