
Raihan menarik napas panjang, berusaha mengendalikan perasaannya. Berada di dekat Naura membuat degup jantung pria itu tak beraturan.
Setelah jauh lebih tenang, Raihan membuka suara. Menopang dagu dengan kedua tangan.
"Dasar bodoh! Bagaimana mungkin saya menikahimu, sedangkan tadi malam kita tidak melakukan apa-apa." Suara dingin kembali terdengar memenuhi ruangan. Meskipun debaran aneh masih dirasa oleh Raihan, ia mencoba bersikap biasa saja. Sama seperti sebelum bertemu dengan Naura.
"Hah? A-apa?" Naura tergagap. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Raihan.
Naura membalikan tubuh, melangkah ke arah meja kerja Raihan. Tanpa dipersilakan, gadis itu duduk di hadapan pria yang mengaku jika ia adalah mister R.
"Bagaimana mungkin tidak melakukan apa-apa sedangkan semalam kamu membawaku ke hotel. Lalu, saat aku terbangun tubuhku hanya berbalutkan gaun tidur saja. Kalau kamu tidak merenggut kesucianku, lantas mengapa pakaianku diganti?" cecar Naura. Gadis itu terus berbicara tanpa memberikan kesempatan pada Raihan untuk membuka suara.
Raihan mendengus kesal. Baru kali ini pria itu menjumpai gadis bodoh seperti Naura. Berprofesi sebagai dokter IGD nyatanya tak membuat pikiran gadis itu berfungsi dengan baik. Buktinya, gadis keturunan sertengah Arab itu tak dapat membedakan apakah dia masih suci atau tidak suci lagi. Benar-benar membuat putra bungsu Firdaus geleng-geleng kepala.
Bibir Naura tak henti-hentinya berucap hingga membuat Raihan tidak tahan. Akhirnya, pria itu membawa tubuhnya maju ke depan. Mengangat jari telunjuk ke bibir.
"Sst!" sergah Raihan seraya menatap lekat bola mata Naura. "Saat kamu terbangun, kamu merasakan sakit di area sekitar pangkal paha? Jika tidak, itu artinya kamu masih suci dan saya tidak merenggut kesucianmu."
"Kalau untuk masalah pakaian, saya meminta pelayan hotel menggantikan dress yang dikenakan olehmu. Pakaianmu saat itu kotor dan saya bukanlah pria yang tega membiarkan seorang gadis pingsan dalam keadaan sekujur tubuh dipenuhi debu dan pasir."
Naura menggigit bibirnya. Ingatan gadis itu kembali ke kejadian semalam. Kejadian di mana sebelum ia pingsan dan diselamatkan oleh Raihan.
Flashback on
Malam itu, seusai menghadiri resepsi pernikahan Arumi dan Rayyan, Naura memutuskan meninggalkan ballroom hotel. Berada terlalu lama dalam gedung yang sama dengan pasangan pengantin itu membuat dada gadis bermata bulat itu terasa sesak. Oleh karena itu, ia meninggalkan gedung resepsi dalam suasana hati galau dan pikiran kacau.
Waktu masih menunjukan pukul delapan malam, tapi Naura belum ingin kembali ke rumah. Bayangan saat melihat Arumi dan Rayyan bermesraan kembali muncul dalam benak gadis itu.
"Sebaiknya aku duduk di taman saja untuk menghapus rasa sakit akibat ditinggal nikah oleh pria yang kusukai," gumam Naura saat ia melajukan kendaraannya meninggalkan hotel bintang lima tempat resepsi berlangsung.
Tak lama kemudian, gadis itu telah tiba di sebuah taman. Suasana cukup sepi karena lokasinya berada di pinggiran kota Jakarta. Ia sengaja mencari taman yang sepi, sebab ingin menyendiri dan memulihkan rasa sakit hati akibat ditolak dan ditinggal nikah oleh orang yang disayang.
"Bos, tampaknya ada gadis cantik di sebelah sana duduk sendirian!" seru salah satu preman. Rupanya kawasan itu dikuasai oleh beberapa preman yang menjaga tempat tersebut.
Pandangan mata pimpinan preman mengarah ke Naura. Wajah cantik, hidung mancung serta mengenakan dress yang menampilkan lekuk tubuh membuatnya ingin mencicipi mangsa empuk di hadapannya.
__ADS_1
"Benar. Ayo kita ke sana!" Maka, pimpinan preman beserta dua anak buahnya mendekati Naura.
"Eh ... ada Neng cantik. Sendirian aja nih, Neng?" tanya salah satu anak buah si preman.
Naura yang saat itu tengah duduk termangu seorang diri di kursi taman, refleks menoleh ke belakang. Bola mata melebar kala melihat tiga orang preman berwajah sangar melangkah ke arahnya.
"Kalian mau apa? Pergi dari sini!" teriak Naura ketakutan. Mengedarkan pandangan ke sekitar, tapi sayangnya suasana cukup sepi. Tidak ada orang lewat sama sekali.
Pimpinan preman menyeringai sambil menatap Naura penuh hawa napsu. Layaknya singa jantan yang baru saja menemukan mangsanya.
"Duh, jangan galak-galak dong, Neng. Abang 'kan hanya bertanya." Preman itu melangkah mendekati Naura.
Gadis bermata bulat itu ketakutan setengah mati. Merutuki kebodohannya karena memilih tempat sepi untuk merenungi kemalangannya.
"Jangan mendekat! Kalau tidak, saya akan teriak!" pekik Naura.
Mencoba mengertak para preman itu, berharap mereka takut dan pergi meninggalkannya. Akan tetapi, tindakan Naura sama sekali tidak merasa takut malah semakin berusaha mendekati gadis itu.
Hanya berjarak sekitar satu meter lagi, Naura mengambil langkah seribu. Berlari terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang hingga tanpa sengaja ia tersungkur karena tersandung kerikil yang membuat gadis itu kehilangan keseimbangan.
Tubuh Naura terjerembab ke depan. Pakai gadis itu kotor dan kepalanya sedikit terantuk. Beruntungnya bagian lengan kanan berada di depan, menutupi kening sehingga tidak membentur paving block.
Para preman itu telah berada di dekat Naura, tapi suara berat seseorang menghentikan langkah mereka.
"Gadis ini adalah kekasihku! Sebaiknya kalian pergi dari sini, jika tidak ... maka bersiaplah menjemput ajal kalian masing-masing."
Sorot mata dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum yang terdalam. Raihan telah melonggarkan dasi yang dikenakan serta melepas jas hitam yang membalut tubuh kekar nan atletis.
Pimpinan preman merasa terintimidasi oleh tatapan tajam itu. Entah mengapa, sorot mata itu menusuk hingga membuat nyali pria plontos itu susah payah.
"Cabut!" Memberi instruksi pada anak buahnya untuk meninggalkan taman.
Setelah itu, Raihan menggendong tubuh Naura ala bridal style meninggalkan taman menuju hotel. Anak bungsu Firdaus membawa gadis itu menginap di hotel, namun ia sama sekali tidak melakukan perbuatan asusila. Ia lebih memilih tidur di sofa dan tepat pukul lima pagi, barulah pergi meninggalkan kamar itu.
Flashback off
__ADS_1
"Sampai sini, ingatanmu sudah kembali pulih hem?" tanya Raihan. "Makanya lain kali, punya otak digunakan untuk berpikir. Jangan gara-gara sakit hati, pikiranmu tidak berpikir jernih!" sindirnya. Melirik sekilas lalu memalingkan wajah ke arah lain.
Naura terbengong sejenak. Bagaimana pria itu bisa tahu jika dirinya baru saja patah hati? Apakah ia cenayang, memiliki kemampuan memprediksi isi hati seseorang lewat tatapan mata?
Gadis itu kini menyadari kebodohannya. Akibat terlalu panik dan patah hati, membuat Naura tak dapat berpikir jernih. Sampai-sampai, ia telah menuduh pria baik yang telah menolongnya.
Satu kekurangan gadis pemilik mata bulat saat sedang panik, tidak dapat berpikir jernih sehingga beberapa kali praktek di IGD sering mendapat teguran dari dokter senior. Itulah yang menyebabkan Naura langsung berasumsi bahwa dirinya telah dinodai oleh Raihan tanpa menyadari apakah bagian pangkal pahanya terasa sakit atau tidak.
Raihan bangkit dari kursi kebanggannya, kemudian melangkah mendekati jendela. Memandangi hijahnya pepohonan di luar sana.
Pria itu seolah mengetahui isi kepala Naura, Raihan berkata. "Kita pernah berpapasan saat menghadiri resepsi pernikahan putra sulung dari Papa-ku dengan mendiang istrinya terdahulu. Melihat matamu berkaca-kaca, aku tahu jika kamu menyimpan rasa pada Kakakku."
Naura kehabisan kata-kata. Bibirnya tak lagi mampu berucap. Hanya dapat memandangi punggung Raihan dari belakang.
Suasana hening tercipta. Tidak ada yang membuka suara sama sekali. Hanya terdengar bunyi detak jarum jam di ruangan itu .
Berada dalam ruangan yang sama dengan suasana hening, membuat Naura tidak tahan lagi. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bersuara.
"Jadi ... tadi malam kamu tidak memperk*saku?" tanyanya, memastikan bahwa gadis itu masih dalam keadaan suci.
Masih dalam posisi membelakangi Naura, pria itu menggelengkan kepala. "Tidak. Kamu dan aku tidak melakukan hubungan intim. Saya harap, masalah ini cukup sampai di sini. Kalau tidak ada urusan lagi, kamu boleh pergi dari sini."
Jleb!
Rasanya seperti ada ratusan anak panah menancap tepat di jantung Naura. Hatinya sakit kala mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Raihan. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri.
Merasa dirinya tak diinginkan di ruangan itu, Naura bangkit dari duduk. Menarik napas panjang seraya memejamkan mata sejenak.
"Baik. Saya anggap masalah ini sudah selesai. Maaf karena saya sempat menuduhmu yang tidak-tidak."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Naura pun melangkah menuju daun pintu terbuat dari almunium. Akan tetapi, sebelum jemari lentik itu memegang handle pintu, ia menoleh ke belakang.
"Terima kasih karena telah menolongku ... Mister Raihan."
.
__ADS_1
.
.