Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Satu Hati, Dua Cinta


__ADS_3

"Baby, aku harus pulang ke rumah. Jaga kesehatanmu selama aku tidak ada di sini. Ingat, jangan lupa minum vitamin sesuai anjuran dokter." Mahesa mengelus rambut Kayla dengan penuh cinta. "Kalau ada terjadi apa-apa, segera hubungi aku!"


Kayla masih kesal karena Mahesa akan pulang ke rumah dan itu artinya ia tidak memiliki hak penuh atas diri kekasihnya itu. Padahal, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, gadis cantik dengan bola mata bulat itu ingin memiliki Mahesa sepenuhnya tanpa ingin berbagi dengan siapa pun termasuk Arumi. Gadis itu hanya ingin cinta, kasih sayang dan perhatian Mahesa diberikan padanya dan juga calon anak mereka. Oleh karena itu, Kayla akan melakukan apa pun demi mencapai tujuannya.


Kayla mengangguk. "Baik, Mas!"


Mahesa menghela napas panjang. "Aku tahu kamu berat melepasku. Namun, ini sudah waktunya aku kembali ke rumah. Jika Arumi sampai tahu selama aku pergi dari rumah dan tidak tinggal bersama Papa dan Mama, maka ia akan curiga. Aku tidak ingin sampai wanita itu tahu perselingkuhan kita."


Gadis berusia dua puluh lima tahun itu mencebik. Ia hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan suami dari sahabatnya itu. "Lalu, mau sampai kapan kamu menutupi perselingkuhan kita dari istrimu itu! Menunggu hingga kandunganku semakin besar? Atau menunggu hingga bayi ini lahir tanpa memiliki legalitas yang kuat dimata hukum!"


Habis sudah kesabaran Kayla. Luapan emosi itu meledak secara tiba-tiba. Selama tinggal di apartemen, gadis itu pikir Mahesa akan segera memberitahu Arumi tentang hubungan terlarang yang terjalin di antara mereka. Namun, ternyata pria itu masih tetap pada pendiriannya yaitu menyembunyikan hubungan mereka dari Arumi.


"Mas, apa sih yang membuat kamu tetap menyembunyikan hubungan kita? Kamu dan aku saling mencintai bahkan dari hubungan ini tumbuh benih di dalam rahimku. Seharusnya kita mulai mempublikasikan hubungan ini, bukan malah terus menutupinya!" sungut Kayla dengan nada tidak suka yang sangat jelas.


Gadis itu mendudukan bokongnya yang padat dan berisi di atas sofa dengan kasar. Melipat kedua tangan ke dada lalu memalingkan wajah ke luar jendela apartemen. Ia mulai terisak hingga kedua bahunya ikut bergetar. Membayangkan Mahesa tidur seranjang dengan Arumi membuat dadanya semakin sesak.


"Baby ...." panggil Mahesa ketika tubuh Kayla semakin bergetar hebat di atas sofa. Ia mencemaskan keselamatan bayi dalam kandungan gadis itu. Bagaimanapun juga, janin di dalam Kayla adalah darah dagingnya sendiri. Sebuah anugerah dari Tuhan yang selama ini ia dambakan.


"Cepat pergi! Bukankah tadi kamu bilang akan pulang ke rumah Arumi." Gadis itu masih terisak.


"Baby. Jangan menangis lagi! Meskipun aku kembali ke rumah tetapi kita masih dapat bertemu lagi. Kamu bisa menemuiku di mana saja." Mahesa berjongkok di depan Kayla. Ia menggenggam jemari kekasihnya. "Aku janji akan segera datang jika kamu ingin bertemu denganku."


"Sudah ya, jangan menangis lagi!" bujuk pria itu.

__ADS_1


Kayla menepis tangan Mahesa seraya berkata, "Bohong! Kamu pasti mengabaikanku setelah kembali ke rumah. Perhatian dan kasih sayangmu akan kamu berikan pada wanita itu 'kan?" Gadis itu kembali terisak. Air matanya membasahi kedua pipi.


Mahesa dibuat frustasi melihat sikap Kayla. Ingin rasanya pria itu membentak, memaki dan meninggalkan gadis yang tengah mengandung darah dagingnya itu. Namun, ia kembali tersadar bahwa tindakannya akan membahayakan calon anaknya sendiri. Akhirnya ia cuma pasrah dan berusaha membujuk sang kekasih untuk tidak merajuk.


Pria itu menangkup wajah sang kekasih. Ia membelai pipi tirus gadis itu dengan lembut, menciumnya dengan penuh cinta. "Aku tidak akan pernah ingkat janji! Kapan pun kamu menginginkan bertemu denganku, di saat itulah aku akan datang menemuimu." Mahesa menjeda kalimatnya. "Dan juga anak kita."


"Jaga baik-baik anak kita. Jangan sampai terjadi hal buruk menimpanya." Lalu, Mahesa berjalan menuju pintu apartemen dengan menarik koper berukuran sedang di tangan kanan.


"Mona, tolong jaga Kayla dengan baik. Pastikan ia makan dan minum vitamin tepat waktu. Jangan sampai ada paparazi maupun para pemburu gosip mengganggu ketenangan kekasihku," pinta Mahesa pada asistennya Kayla.


"Bi Mira, tolong masakkan makanan yang sehat untuk Kayla. Jika ia bosan dengan makanan yang kamu masak, belikan makanan di luaran sana," timpal pria itu pada ART-nya.


"Baik, Pak Mahes," jawab kedua wanita itu hampir bersamaan.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa memutar waktu, tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mencegah semua hal yang sudah terjadi. Kini, Mahesa hanya bisa berharap agar kebusukannya tidak diketahui oleh Arumi karena ia tak sanggup kalau harus berpisah dengan istrinya itu.


Pria itu terikat akan janji yang pernah diucapkan olehnya di hadapan mendiang papa angkat sang istri. Untuk meninggalkan Kayla pun, ia tak sanggup sebab rasa cinta dalam hati Mahesa semakin hari semakin bersemi dan tumbuh subur di dalam sana. Apalagi di dalam rahim gadis itu telah tumbuh buah cintanya bersama sang kekasih membuat ia enggan berpisah dengan Kayla.


***


"Pak Mahes sudah pulang?" Mbak Tini sedikit terkejut ketika melihat Mahesa berdiri di ambang pintu dengan membawa koper di tangan kanan.


Mahesa menganggukan kepala. Ia berjalan cepat menaiki anak tangga. Pria itu berbelok ke lorong sisi kanan, kemudian terus melangkah hingga tiba di kamar paling ujung di lantai dua.

__ADS_1


Pria itu meletakkan koper di dalam ruangan khusus yang digunakan sebagai tempat menyimpan pakaian, sepatu, tas dan barang-barang lain. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu, Arumi baru saja masuk ke dalam mobil. Hari ini ia mengendarai mobilnya sendiri tanpa diantar maupun dijemput sang sopir sebab Burhan sedang sakit dan meminta cuti beberapa hari untuk istirahat. Sebagai majikan yang baik, tentu ia memberikan izin pada pegawainya itu untuk tidak masuk kerja. Untung saja wanita itu bisa mengendarai mobilnya sendiri jadi tidak perlu menyusahkan orang lain bila ingin bepergian ke mana-mana.


Ketika ia hendak menyalakan mesin mobil, ponsel Arumi bergetar dan muncul notifikasi di atas layar. Wanita itu mengerutkan alis tatkala melihat nomor asing itu mengirimkan pesan singkat dan beberapa slide gambar.


"Ini 'kan nomor asing yang sering menerorku selama ini," gumam Arumi.


Karena penasaran dengan isi pesan yang dikirim, ia segera menggeser layar ponsel lalu membuka pesan tersebut.


[Besok, datang-lah ke Hotel Shaka tepat pukul satu siang! Di sana kamu akan melihat sebuah pertunjukan menarik yang akan sangat berkesan dalam hidupmu.]


Setelah membaca pesan singkat itu, ia membuka gambar dari pengirim yang sama. Meski bagian wajah pria itu diblur tetapi Arumi yakin bahwa laki-laki yang sedang bermesraan dengan seorang wanita di sebuah café adalah Mahesa. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah, siapakah wanita yang tega merampas kebahagiaan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri.


TBC


.


.


.


Note : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.

__ADS_1


Salam : Otor_remahan. 😊


__ADS_2