Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Wedding Anniversary


__ADS_3

Sesuai dengan janji yang diucapkan kepada istri tercinta, Rayyan bergegas menuju parkiran VVIP rumah sakit. Berjalan setengah berlari hingga tak jarang sebagian orang yang berpapasan menatap aneh ke arah pria itu dan tak sedikit dari mereka pun terpesona oleh ketampanan ayah dari tiga bayi kembar. Terlebih ketika kemeja slimfit lengan panjang digulung hingga sebatas siku membungkus tubuhnya yang memperlihatkan otot di beberapa bagian tubuh tampak begitu menggoda iman bagi kaum Hawa.


Ketika para wanita menatapnya dengan tatapan memuja, Rayyan tampak acuh dan tak memedulikan mereka semua, sebab yang ada di kepalanya saat ini adalah Arumi beserta Triplet, buah cintanya yang kini berusia tiga bulan.


Ketika pintu otomatis terbuka lebar, Rayyan segera berlari menuju mobilnya. Kemudian, ia menutup pintu dengan sedikit membanting hingga terdengar bunyi di sekitar area parkiran. Jemari tangan menyalakan mesin mobil lalu menunggu sebentar, agar mesinnya panas dan benar-benar siap digunakan.


"Sial! Aku harus segera tiba di apartemen. Jika tidak, malam ini kemungkinan Arumi tak memberiku jatah nana nini!" ucapnya seraya melirik arloji di pergelangan tangan. Tak ingin istrinya merajuk dan berimbas pada pemotongan jatah ibadah malam, pria itu langsung menginjak pedal gas dalam-dalam hingga si Lolly melaju membelah jalanan ibu kota Jakarta yang selalu macet di mana-mana.


Waktu yang seharusnya ditempuh tiga puluh menit berubah menjadi enam puluh lima menit, karena terjadi kemacetan parah akibat pembangunan di sepanjang jalan menuju apartemen. Berkali-kali memukul stir mobil akibat diselimuti kegelisahan yang nyaris membuatnya seperti orang gila.


"Selamat siang, Dokter Rayyan." Salah satu security apartemen menyapa pria yang duduk di balik kemudi. Tersenyum ramah dan hangat.


"Selamat siang, Pak. Permisi, saya harus ke atas dulu," jawab Rayyan singkat. Ia tidak punya waktu banyak untuk sekadar basa basi, berbincang dengan petugas keamanan di gedung apartemen miliknya.


Jemari tangan panjang dan kekar menekan passcode apartemen yang ia tinggali bersama istri, anak serta mertuanya. Ketika daun pintu terbuka, ia segera mendorongnya hingga pintu itu terbuka lebar.


"Arumi! Babe! Kamu di mana, Sayang?" teriak Rayyan seraya menutup kembali pintu itu dengan tidak sabaran. Degup jantung terus memompa dengan kecepatan tinggi. Air muka kecemasan semakin terlihat jelas ketika masuk ke dalam ruangan, tetapi hanya ada kesunyian menemani. Baik Arumi ataupun Triplet tidak ada di dalam sana.


Suasana apartemen begitu sepi, bahkan suara celotehan si kecil pun tidak terdengar hingga membuat Rayyan semakin panik. Mungkinkah Arumi memutuskan kabur, membawa Triplet karena merasa kesal telah dibohongi?


Pria itu sudah berpikiran negatif, bercabang ke mana-mana. Pikirannya buntu, tak dapat berpikir jernih. Sungguh, ia benar-benar takut jikalau Arumi betulan minggat membawa serta ketiga anak-anaknya. Jika itu terjadi, ia harus mencari mereka ke mana? Akankah ia bisa menjalani kejamnya dunia ini tanpa ada Arumi beserta ketiga bayi mungil nan menggemaskan? Sanggupkah bertahan hidup jika sehari saja tak mencium aroma tubuh sang istri yang kini menjadi candu baginya.


"Aargh! Sialan! Seharusnya tadi aku naik ojek saja agar tak terjebak macet! Bodoh! Kamu bodoh sekali, Rayyan!" rutuknya pada diri sendiri.


Lantas, ia bergegas berlari menuju kamar utama kemudian beralih ke kamar bayi, tetapi sosok istrinya tak ada di sana. Ia tak menemukan Arumi dan ketiga anaknya.


"Arumi! Kamu di mana, Babe?" ucapnya lirih. Tubuh terasa lemas disertai napas tersenggal-senggal. Jangan ditanya bagaimana air muka pria itu. Ia terlihat panik, cemas dan begitu ketakutan ditinggal sendirian di apartemen tersebut.

__ADS_1


Sejuta pertanyaan berkecamuk di dalam relung hati yang terdalam. Ketakutan akan kehilangan orang yang dicintai 'tuk kedua kali menyelimuti pria itu.


"Tidak! Dia tidak mungkin pergi dari sini! Dia berjanji tak 'kan meninggalkanku!" Meyakinkan diri bahwa istrinya tidak mungkin tega meninggalkannya sendiri di apartemen itu. Terlebih mereka sudah sama-sama berjanji, akan menghabiskan waktu bersama hingga ajal menjemput. "Aku yakin, dia sedang pergi ke minimarket sebentar. Ya, hanya pergi sebentar."


Kemudian, ia berlari meninggalkan kamar bayi menuju ruang tamu yang berfungsi juga menjadi ruang keluarga. Ruangan di unit apartemen milik dokter tampan itu cukup luas dan jarak antara ruangan satu dengan yang lain berjauhan. Apabila ada seseorang bersembunyi di suatu tempat maka orang lain tak 'kan tahu tempat persembunyiannya.


"Arumi! Keluarlah, jangan membuatku semakin ketakutan!" teriak Rayyan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Iris coklat pria itu menyapu seisi ruangan. Namun, wanita yang dicarinya tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Terduduk lemas di sofa sambil menatap sendu ke arah pintu kamar yang terbuka cukup lebar. Sekelebat bayangan sang istri tengah tersenyum ke arahnya sambil menggendong Zahira, terlintas di pelupuk mata. Senyumannya yang manis membuat gunung es dalam diri pria itu mencair secara perlahan.


"Nak, jangan tinggalkan Ayah! Ayah tidak sanggup jika harus kehilangan kalian semua," ucapnya lirih disusul derai air mata yang meluncur begitu saja di antara kedua pipi tanpa disadari olehnya. Merasakan separuh jiwa melayang mengingat istri dan ketiga anaknya pergi meninggalkan dirinya seorang diri.


"Kami tidak mungkin meninggalkanmu, Ayah. Because, we love you so much!" ucap seorang wanita cantik yang berdiri di belakang tubuh Rayyan.


Suara lembut bagai alunan melodi indah mengembalikan kesadaran Rayyan yang sempat melayang beberapa saat. Mengulurkan tangan ke depan, lalu mengusut butiran kristal di sudut mata. Kemudian, ia membalikan badan menghadap seseorang yang suaranya begitu familiar.


Rayyan terkesiap beberapa saat ketika melihat penampilan Arumi yang begitu cantik. Mengenakan dress di bawah lutut dengan model off shoulder berwarna navy dan high heels warna merah serta tatanan rambut yang dicempol ala wanita Korea membuat wanita itu terlihat begitu cantik. Kulit putih bersih, polesan make up natural disertai senyuman manis terukir di wajah semakin memancarkan aura kecantikan alami khas Mojang Priangan. Walaupun bentuk tubuh pasca melahirkan belum seindah gitar Spanyol, tetapi di mata Rayyan, Arumi tetaplah cantik bagai bidadari yang jatuh dari langit.


"Happy wedding anniversary. Happy wedding anniversary. Happy wedding anniversary yang kesatu untuk kita berdua." Untaian lagu indah menggema di penjuru ruangan.


Di belalang Arumi, ada Nyimas dan mbak Tini yang tengah mendorong stroller bayi. Di dalamnya ada tiga krucil yang tampak sedang tertawa riang ketika melihat ayah dan bundanya berdiri saling berhadapan.


"Babe ... j-jadi, hari ini kita?" Rayyan tergagap di hadapan Arumi. Pikiran pria itu blank sama sekali tak dapat berpikir jernih. Semua ini bagaikan mimpi.


Sedetik yang lalu berpikir kalau dirinya ditinggal seorang diri di apartemen itu tanpa ada siapa pun yang menemani sama seperti dulu saat Mei Ling pergi untuk selamanya. Ia merasa kesepian, hampa karena tak ada lagi orang yang tulus menyayanginya. Walaupun ada Rio serta mama-nya tetap saja ia seperti sebatang kara hidup di dunia ini. Kesunyian menjadi kawan sejati hingga ia beranjak dewasa. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu dengan Arumi.


Hidup terasa lebih bermakna karena ada seseorang yang bersedia menjadi teman berbagi dalam suka ataupun duka. Meskipun banyak rintangan membentang sebelum akhirnya resmi mempersunting wanita cantik berdarah campuran Indonesia Belanda, dari nenek moyang pihak sang mama namun kekuatan cinta mereka tetap kuat hingga berakhir di pelaminan.

__ADS_1


"Iya, Honey. Hari ini, tepat di tanggal dan bulan ini kita berdua mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan dan alam semesta. Berjanji untuk saling setia, menemani hingga akhir hayat sampai napas tak lagi berembus dan jantung tak lagi berdetak selamanya ... kamu dan aku bersatu dalam sebuah payung yang bernama pernikahan. Kita bersama membesarkan, mendidik anak-anak penuh dengan cinta dan kasih sayang."


"Maaf karena sempat membuatmu kelabakan, mencari keberadaan kami semua." Arumi terkikik pelan saat mengingat kejadian Rayyan yang kelimpungan mencari dirinya dan anak-anak lewat sebuah CCTV yang terhubung di telepon celuller miliknya. "Aku sengaja melakukan itu demi memberikan kejutan kecil untukmu, Honey, agar anniversarry kita yang pertama begitu berkesan dan selalu diingat sampai kapan pun."


Mata sipit melebar sempurna, tersadar jika dirinya telah dijebak dalam permainan istrinya. Seharusnya ia berpikir jernih dan mengingat hari ini tanggal berapa, bukan malah berlari ke sana kemari tak jelas demi mencari istri beserta keluarganya yang lain.


Merasa kesal karena berhasil kena prank sang istri, Rayyan hendak menunjukan aksi protesnya kepada wanita itu. Akan tetapi, sebuah kecupan singkat mendarat sempurna di pipi. Hangatnya bibir wanita itu masih terasa di pipi membuatnya kembali terkejut karena mendapat serangan dadakan dari istri tercinta.


Bola mata bergerak, mengedarkan pandangan memandangi Nyimas dan mbak Tini berdiri dari jarak dua meter di depan sana. Sontak, wajah pria itu merah merona, tersimpu malu karena di depan umum mendapat ciuman penuh cinta dari wanita yang sangat ia cintai.


Tanpa menunggu jawaban dari Rayyan, Arumi segera menarik tangan suaminya dan menuntun pria itu duduk di sofa. "Ayo tiup lilinnya, dan buat permintaan. Siapa tahu, permintaan kita dikabulkan oleh Tuhan."


Semua anggota keluarga telah duduk di sofa termasuk Triplet yang terus mengumbar senyum di wajah, kecuali Ghani. Kakak tertua itu begitu pelit tersenyum, sama seperti ayahnya.


"Happy wedding anniversary," ucap Arumi dan Rayyan hampir bersamaan.


Sebelum meniup lilin, dua insan manusia itu saling menatap satu sama lain dengan sorot mata penuh cinta. Tersenyum bahagia penuh rasa syukur karena Tuhan telah menjaga keutuhan rumah tangga mereka hingga satu tahun lamanya.


"Kita make a wish dulu!" ujar Arumi dan Rayyan menganggukan kepala setuju.


Tuhan, tolong jagalah selalu keutuhan rumah tanggaku bersama pria ini. Panjangkanlah jodoh kami sampai maut memisahkan.


Tuhan, jadikanlah Arumi sebagai pendampingku baik di dunia maupun di akhirat. Jadikan pernikahanku ini menjadi pertama dan terakhir, meski aku bukanlah pria yang pertama di hati wanita itu tetapi buatlah aku yang terakhir dan 'kan terus berada di hati istriku selamanya.


Kemudian, lilin itu padam menyisakan kepulan asap menguar di udara. Berharap banyak do'a serta harapan yang dipanjatkan oleh Rayyan dan Arumi dikabulkan oleh Tuhan. Walaupun pasangan suami istri itu percaya jikalau keduanya tak mungkin berkhianat, namun mereka tetap berusaha salah satunya dengan cara berdo'a kepada Sang Pencipta, sebab senjata paling ampuh bagi ummat manusia itu adalah do'a.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2