Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Keputusan Arumi


__ADS_3

Tubuh Rio tersentak. Bola mata melebar tatkala mendengar ucapan Arumi yang mengatakan ingin bercerai dari suami yang telah dinikahinya selama hampir lima tahun. Rio memang mendengar desas-desus yang mengatakan bahwa hubungan rumah tangga iparnya itu sedang bermasalah tetapi pria itu tak menyangka hubungan itu akan berakhir dengan kata cerai.


Untuk memastikan pendengarannya tidak bermasalah, Rio bangkit dari kursi lalu menghampiri Arumi yang sedang menangis. Tubuh wanita itu gemetar hebat, cairan bening terus mengalir membasahi pipi. Suara isak Arumi menyayat kalbu, membuat siapa saja yang mendengar akan merasa iba.


"Rumi, coba kamu ulangi lagi perkataanmu barusan. Kamu ... ingin bercerai dari Mahesa?" tanya Rio hati-hati.


Arumi hanya menganggukan kepala sebagai tanda bahwa ia benar-benar ingin berpisah dari suaminya itu. Hatinya masih terasa sakit dan bibirnya belum mampu berucap.


Pria yang sedang duduk di hadapan Arumi menghembuskan napas secara kasar. Ia menggelengkan kepala sebab tak habis pikir kenapa Mahesa tega mengkhianati istrinya itu padahal, sang istri adalah sosok yang nyaris sempurna.


"Aku di sini berbicara sebagai seorang sahabat sekaligus pengacara yang akan menangani kasus perceraianmu. Sebelum kamu melayangkan berkas gugatan cerai, sebaiknya dipikirkan dengan matang. Jangan sampai di kemudian hari kamu menyesal karena sudah mengambil keputusan di saat sedang emosi."


"Pikirkan dengan kepala dingin, setelah itu baru mengambil keputusan. Jika memang tekadmu sudah bulat, kamu bisa datang ke sini dan aku siap menjadi pengacaramu."


"Tidak!" sergah Arumi. "Tekadku sudah bulat, Rio. Aku ingin bercerai dari Mahesa."


"Kakakmu itu sudah selingkuh di belakangku dan kamu tahu, siapa wanita yang menjadi orang ketiga di antara aku dan Mahesa?"

__ADS_1


"Dia adalah Kayla, sahabatku sendiri," pekik wanita itu. "Andai saja tidak terjadi kontak fisik di antara mereka mungkin aku masih bisa memaafkan Mas Mahes. Namun, kedua Iblis itu sudah melakukan hubungan di luar batas. Bahkan kini di dalam rahim Kayla, tumbuh seorang janin hasil hubungannya bersama suamiku."


Lagi-lagi air mata Arumi membasahi pipi. Entah sudah berapa kali wanita itu menangisi nasib naas yang menimpa rumah tangganya. Namun, yang pasti ia tidak mau lagi hidup di bawah bayang-bayang wanita lain.


"Apakah aku harus memaafkan laki-laki yang tidak bisa setia terhadap pasangannya?" ucap Arumi lirih.


Ia memandang sendu ke arah Rio. "Asal kamu tahu, perselingkuhan itu didukung penuh oleh Mama Naila. Mertuaku sendiri memaksa suamiku untuk menjalin hubungan terlarang bersama wanita lain."


Bagai mendengar petir di siang bolong. Jantung Rio rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Ia merasakan tubuhnya dijatuhi oleh ratusan bongkahan batu yang sangat besar.


"Apa katamu. Jadi ... ide gila itu tercetus dari Mertuamu sendiri?" ucap Rio terbata. Kini ia mengerti kenapa Arumi bersikeras untuk bercerai dari Mahesa.


Rio sebagai pria yang masih memiliki akal sehat merutuki semua perbuatan keji yang dilakukan oleh Mahesa, Kayla dan juga om-tante pria itu. Ke empat orang itu seperti binatang yang tak memiliki hati nurani sehingga tega berbuat zalim terhadap wanita baik seperti Arumi.


Pria itu terkulai lemas di atas sofa. Dadanya masih kembang kempis, berusaha meredam amarah yang sewaktu-waktu dapat meledak dengan sendirinya.


Rio merubah posisi duduknya. Ia mencondongkan tubuh ke depan sambil berkata, "Kalau kasusnya seperti ini, aku bersedia membantumu keluar dari belengu keluarga itu sebab aku tak rela jika harus melihat sahabat dari istriku hidup bersama Pria Brengsek seperti Mahesa!"

__ADS_1


"Sejak awal menikah, aku perhatikan sikap Mertuamu sama sekali tidak menghargaimu sebagai seorang menantu. Terlebih perlakuan Tante Naila yang terkesan membeda-bedakanmu dengan Kayla, membuatku geram."


Rio menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Walaupun aku adalah bagian dari keluarga itu, tetapi sebagai manusia waras tentu aku tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi di sekitarku. Untuk itu, aku akan membelamu hingga titik darah penghabisan."


"Namun, ada hal penting yang harus dikerjakan olehmu sebelum mengurus surat perceraian."


Mata sembab dan wajah yang dipenuhi air mata itu menatap tajam pada Rio. "Hal penting apa, Rio? Cepat katakan, aku harus mengerjakan apa agar segera berpisah dari Mas Mahes," seru Arumi tidak sabaran.


Pria itu tampak ragu. Berkali-kali ia mengusap ujung hidungnya dengan jari. Tak tahu reaksi apa yang ditunjukan oleh Arumi jika wanita itu sudah mendengar tugas penting yang harus dikerjakan olehnya.


"Katakan padaku, Rio. Aku harus apa sekarang?"


"Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah ...."


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2