
Arumi dan Rayyan saling pandang. Menyelami isi hati masing-masing lewat sebuah tatapan. Kala netra wanita itu menatap secercah harapan di bola mata sang pria, ia merasakan dadanya sesak dan berdesir dalam waktu bersamaan.
Seulas senyum terlukis di wajah tampan Rayyan, seolah mengatakan lewat tatapan mata jika ia benar-benar tulus menyayangi Arumi.
Dengan bibir gemetar, Arumi berkata, "Apakah kamu tidak malu dengan masa laluku? Apakah kamu bisa bersabar jikalau nanti Tuhan belum juga memberikan keturunan pada kita? Apakah kamu bisa memegang janji suci pernikahan yang diucapkan di hadapan penghulu beserta para saksi jika kita menikah nanti? Apakah kamu--" Belum sempat Arumi meneruskan ucapannya, jari telunjuk Rayyan sudah mendarat sempurna di bibir ranum nan seksi.
"Sst!" sergah Rayyan cepat. "Aku tidak keberatan dengan masa lalumu, Rumi. Meskipun nanti Tuhan belum juga memberikan amanah padamu untuk mengandung anakku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu seperti mantan suamimu itu. Aku akan bersabar hingga waktu itu tiba."
"Namun, jikalau nanti Tuhan memang berkendak lain maka aku ikhlas menerima suratan takdir itu. Yang penting, kita sudah berusaha dan berdo'a."
Hati Arumi semakin bergemuruh ketika mendengar penuturan Rayyan yang mengatakan jika pria itu ikhlas menerima suratan takdir jika memang Tuhan tidak juga memberikan keturunan pada mereka. Apakah mungkin pria tampan dengan sejuta pesona bisa bertahan menjalankan kehidupan rumah tangga tanpa adanya seorang anak yang membuat jiwanya tentram?
Rayyan menghela napas panjang. Ia mengerti jika memang Arumi belum dapat mempercayai semua ucapannya sebab luka yang ditorehkan oleh Mahesa begitu dalam sehingga Arumi bersikap lebih waspada dan berhati-hati dalam memilih pasangan.
"Ada banyak cara untuk memiliki keturunan. Kita bisa mengadopsi bayi mungil di sebuah panti asuhan. Merawat serta membesarkannya bersama-sama seperti anak kita sendiri."
Rayyan menangkup wajah Arumi lalu berucap, "Tolong berikan aku kesempatan untuk mengobati luka di dalam hatimu akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh pria brengsek itu," tutur Rayyan dengan wajah memohon.
Ditatap secara intens, membuat Arumi gugup. Ia menundukan wajah karena tidak mampu menahan gejolak di dalam dada apabila ditatap sedemikian lekat.
"Aku ... akan memberimu satu kesempatan, Ray. Namun, kumohon jangan sia-siakan kesempatan itu sebab jika hati ini sakit untuk kedua kali mungkin selamanya aku tidak akan pernah lagi membuka hati untuk pria mana pun."
Rayyan menyentuh ujung dagu Arumi menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. "Aku akan membuktikan jika pria bodoh dan galak ini memang pantas mendampingi wanita berhati malaikat sepertimu, Arumi."
Dua insan berhadapan semakin dekat hingga mereka dapat merasakan deru napas yang semakin memburu. Perlahan, Rayyan mencondongkan wajah mendekati sang wanita yang kini berubah status menjadi kekasihnya. Hingga bibir milik Rayyan berhenti tepat di depan bongkahan daging kenyal berwarna merah muda.
Berada dalam jarak yang begitu dekat, membuat degup jantung Arumi semakin memompa lebih cepat bahkan mungkin Rayyan dapat mendengar suara debaran jantung tersebut.
Sebuah kecupan penuh cinta mendarat di kening Arumi. Bibir seksi milik Rayyan terasa hangat ketika menyentuh permukaan wajah wanita itu.
__ADS_1
"Selama masa penjajakan, kuharap kamu tidak keberatan jika aku mendaratkan sebuah ciuman di kening dan pipimu. Namun, bila kita sudah menikah nanti, aku akan meminta lebih daripada ciuman di kening dan pipi," ucap Rayyan seraya mengerlingkan mata. Menggoda kekasih tercinta agar wajah wanita itu semakin memerah karena malu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Rayyan selalu mencuri pandang pada wanita cantik yang duduk di sebelahnya. Hati pria itu berbunga-bunga seolah banyak kupu-kupu yang terbang dan menari indah di udara.
Saat mobil yang dikendarai Rayyan terjebak lampu merah, ia memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Kedua tangan merangkul stri mobil. Mencari posisi nyaman, memandangi kecantikan wanita yang duduk di sebelahnya.
"Jangan memandangi wajahku terus. Nanti yang ada, baru satu bulan penjajakan kamu sudah mulai bosan karena terlalu sering mencuri pandang," tegur Arumi.
Rayyan terkekeh. "Mana mungkin aku bosan. Yang ada, aku semakin terpesona oleh kecantikanmu."
Meraih jemari lentik milik sang wanita, kemudian mencium punggung tangan Arumi dengan lembut. "Seratus kali bahkan sejuta kali memandangimu, rasanya tidak cukup bagiku untuk mengukir kecantikan wajahmu di dalam hatiku, Babe."
Arumi menautkan kedua alis seraya menatap lekat manik indah itu. "Babe?"
"Iya. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu dengan panggilan Babe. Apakah kamu keberatan?"
"Tidak. Aku tidak keberatan sama sekali, Honey!" ucap Arumi lirih.
Sumpah demi apa pun. Ingin rasanya Rayyan melompat dan berteriak saat itu kala Arumi memanggil dirinya dengan sebutan "honey". Meskipun ini kedua kalinya ia mendengar Arumi memanggilnya dengan panggilan honey tetapi tetap mampu memporakporandakan perasaan Rayyan dalam sekejap.
"Lampu hijau sudah menyala. Cepat kamu lajukan kendaraan sebelum mobil ataupun motor di belakang membunyikan klakson berkali-kali," seru Arumi mengingatkan.
Dan benar saja. Tak berselang lama, kendaraan lain di belakang sana membunyikan klakson berkali-kali hingga memekikan gendang telinga.
"Brengsek! Mereka mengganggu saja!" gerutu Rayyan seraya menginjak pedal gas.
***
Dokter Firdaus selaku direktur sekaligus pemilik rumah sakit sedang memberikan sambutan di hadapan para mahasiswa keperawatan yang akan melakukan magang di rumah sakit tersebut. Sebagai wakil direktur, tentu saja Rayyan pun turut hadir memberikan sepatah dua patah kata yang disampaikan di hadapan para mahasiswa serta beberapa dokter yang terpilih untuk membantu kedelapan mahasiswa itu selama praktek di Persada International Hospital.
__ADS_1
"Kamu lihat tidak, Dokter yang duduk di depan saja. Wajahnya tampan sekali ya! Penampilan Dokter itu begitu memesona hingga membuat aku enggan mengedipkan mata," bisik salah satu mahasiswa perawat yang duduk di belakang kursi Arumi.
"Benar. Aku setuju dengan pendapatmu. Dokter itu memang tampan. Menurutku dia paling tampan di antara banyaknya dokter muda yang bekerja di sini," timpal yang lain.
"Duh, aku kok jadi ingin sekali berdekatan dengan Dokter itu," ucap perawat pertama. Ia menangkup kedua tangan ke dada sambil memandangi langit-langit ruangan. "Semoga nanti aku punya kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Dokter itu."
"Benar. Aku juga mau dong diberikan kesempatan untuk berduaan dengan Dokter tampan itu."
"Ih ... kamu kok ikut-ikutan sih," protes perawat itu terhadap temannya. Tak terima jika ada orang lain yang memiliki harapan sama seperti dirinya.
"Biarkan saja. Memangnya kenapa jika aku berharap yang sama denganmu! Toh kita belum tahu siapa yang beruntung mendapatkan Dokter tampan itu."
Terjadilah adu mulut di antara kedua mahasiswa perawat itu. Walaupun suara mereka lirih tetapi cukup mengganggu konsentrasi Arumi.
"Dasar remaja ababil! Datang ke sini bukannya niat belajar malah ingin mendekati seseorang. Apakah mereka tidak kasihan pada ibu dan bapaknya jika kedua mahasiswa ini tidak belajar dengan sungguh-sungguh."
"Susah payah orang tua mereka mencari rezeki, membiayai sekolah hingga ke jenjang lebih tinggi tetapi kedua mahasiswa ini malah sibuk memikirkan cara mengait kekasihku," gerutu Arumi di dalam hati.
Tak tahan dengan ocehan kedua mahasiswa tersebut, Arumi menoleh ke belakang. Lalu memberikan isyarat lewat tatapan mata. Namun, bukan tatapan mata biasa melainkan tatapan mata yang tajam dan membunuh.
Seketika kedua mahasiswa perawat itu terdiam. Bibir mereka bungkam karena mendapat peringatan dari dokter wanita cantik di depan sana.
TBC
.
.
.
__ADS_1