
Beberapa jam setelah kedatangan Naila dan Putra, Kayla pun tiba di rumah sakit. Hari ini adalah hari terakhir kedatangannya ke rumah sakit itu. Ia sudah tidak sanggup membayar lagi biaya uang tutup mulut bagi dokter dan perawat yang berjaga di ruang ICU. Sekalipun ada, ia mesti pintar memutar otak agar uang yang masih tersisa di saldo rekening tidak habis dalam sekejap sebab kini sudah tak ada lagi pemasukan sama sekali bagi wanita cantik berusia dua puluh lima tahun itu.
Berbalut blouse berwarna peach dengan celana jeans ketat berwarna putih yang membungkus kaki jenjangnya, Kayla mengayunkan langkahnya masuk ke dalam gedung mewah bertaraf internasional. Salah satu rumah sakit terkenal di kawasan Jakarta. Mengenakan topi serta kacamata hitam, wanita itu terlihat begitu cantik layaknya seorang bidadari yang turun dari Kayangan.
"Sst! Coba lihat, bukankah itu model yang sedang jadi bahan gosip seluruh orang Indonesia?" bisik salah satu pengunjung rumah sakit kepada temannya.
Saat itu, kebetulan Kayla melintas di hadapan mereka. Meskipun sang model telah menyamarkan penampilannya dengan mengenakan topi dan kacamata hitam, namun rupanya masih saja orang yang mengenali mantan model papan atas itu.
Refleks, wanita berambut sebahu itu mengikuti ke mana arah pandang temannya. Wanita itu mengamati penampilan Kayla mulai dari atas kepala sampai ke ujung kaki, memperhatikan dengan seksama bidadari cantik yang baru saja melintas di hadapannya.
"Benar. Itu Kayla, si model cantik yang kini jadi terkenal akibat video viralnya di jagat maya."
"Dasar tidak tahu malu! Sudah dihujat se-Indonesia tapi dia malah dengan santainya bepergian ke mana-mana tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Jikalau aku jadi dia, mana mungkin berani pergi ke tempat umum. Aku pasti berdiam diri di rumah, tak berani menampakkan wajahku di hadapan orang banyak," cibir pengujung rumah sakit.
"Tampaknya, sanksi soal saja belum cukup untuk memberikan efek jera pada pelakor seperti dia! Mesti dihajar atau kalau perlu dilenyapkan saja dari muka bumi ini agar tidak ada lagi bibit pelakor bertumbuhan!" imbuhnya lagi.
Pengunjung rumah sakit itu begitu kesal setelah tahu jika Kayla adalah orang ketiga yang rela merebut suami dari sahabatnya sendiri. Saking kesalnya, tanpa sadar dia bahkan meremaas resep yang diberikan oleh dokter untuk ditebus di apotik.
Wanita berambut sebahu menimpali. "Ye ... jangan mendoakan hal-hal buruk terhadap orang lain. Tidak baik tauk! Bagaimana kalau ternyata doa itu berbalik kepadamu sendiri?" Mencoba mengingatkan temannya agar lebih menjaga lisan.
"Daripada mengurusi urusan orang lain, sebaiknya kamu fokus terhadap kesehatanmu sendiri. Urusan model itu serahkan saja pada Tuhan. Toh, kita tidak tahu bagaimana kehidupan esnita itu setelah videonya viral di dunia maya. Bisa jadi dia telah menerima balasan atas kesalahannya selama ini."
Pengunjung rumah sakit itu memutar bola mata malas dan mencebikkan bibir. Kendati begitu, dia tetap mendengarkan ucapan temannya. Lebih memilih diam, tak meneruskan lagi perkataannya.
Sementara itu, Kayla lebih memilih diam meski tahu jika saat ini ia tengah menjadi bahan gunjinggan beberapa penunjung yang memang sangat mengenalinya.
"Kamu harus sabar Kayla. Anggap saja ini merupakan salah satu ujian dalam hidupmu agar kamu bisa kembali menjadi insan manusia yang lebih baik lagi. Lagi pula, ini tidak sebanding dengan luka yang kamu torehkan di hati Arumi. Jadi, bersabarlah. Biarkan semuanya mengalir apa adanya." Kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya menuju ruang ICU, tempat Mahesa dirawat selama lima bulan lamanya.
__ADS_1
Ketika pintu lift terbuka, Kayla bergegas keluar dari kotak persegi yang membawa tubuh wanita itu naik ke lantai atas.
Selama berada di dalam lift, Kayla terus mendengar bisikan-bisikan yang membuat ia berkali-kali menarik napas dalam dan terus meyakinkan diri agar lebih bersabar.
Beredarnya video viral itu berdampak pula pada kehidupan pribadi sang model. Terus mendengar cibiran, hinaan, baik yang diucapkan secara terang-terangan maupun secara diam-diam membuat tekanan tersendiri bagi wanita itu. Seandainya saja ia tidak memutuskan untuk berubah mungkin saat itu juga sudah melayangkan tamparan keras di pipi orang-orang itu. Namun, ia berusaha meredam emosinya dan menganggap mereka tak pernah ada.
Suara derap langkah high heels menggema memenuhi lorong rumah sakit yang sepi. Berada di lantai khusus yang lokasinya sedikit terpencil membuat suasana sekitar cukup sunyi, sangat cocok bagi para penghuni ruang ICU yang membutuhkan ketenangan selama mereka tak sadarkan diri.
"Permisi, Sus. Apakah Dokter Samuel ada di ruangan?" tanya Kayla saat ia baru saja sampai di depan ruang ICU.
Perawat yang tengah berjaga mendongakan kepala, lalu menatap ke arah Kayla. Butuh usaha keras bagi wanita berseragam perawat itu mengingat siapakah gerangan yang berdiri di balik meja kerjanya.
"Saya Kayla Lestari, istri dari pasien bernama Mahesa Putra Adiguna," tutur Kayla seraya melepaskan topi dan kacamata hitam yang menutupi kelopak mata indah milik wanita itu.
Detik berikutnya, perawat wanita itu tersenyum ramah sambil menjawab. "Eeh ... ternyata Bu Kayla. Saya pikir siapa." Menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. "Dokter Samuel ada di ruang, Bu. Mari, Bu. Saya antar."
Tanpa membuang waktu, Kayla bergegas mengikuti wanita berseragam perawat itu. Ia mengekori dengan patuh di belakang perawat wanita itu.
Di depan pintu berwarna coklat tempat bagi para dokter jaga beristirahat, Kayla berdiri dengan degup jantung yang berdetak kencang. Bagaimana tidak, beberapa waktu lalu Samuel menghubunginya agar segera datang ke rumah sakit, memberitahu kondisi terbaru dari suami siri wanita itu.
Walaupun tidak dijelaskan secara gamlang, namun Kayla yakin telah terjadi suatu hal baik sehingga dokter yang bertanggung jawab terhadap suami sirinya itu selama dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, ia bergegas melajukan kendaraan roda empatnya memasuki pelataran rumah sakit.
Tangan Kayla mulai mengetuk daun pintu, setelah ada sahutan dari dalam ia pun lantas membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Permisi, Dokter Samuel."
Dokter Samuel langsung tersenyum hangat kala melihat istri siri dari pasiennya berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Mari, Bu. Silakan masuk." Kemudian Kayla pun menuruti perintah Dokter Samuel.
Setelah duduk berhadapan dengan dokter Samuel, Kayla mulai membuka percapakan mereka siang itu. Selain tak sabar mendengar kabar baik dari pria paruh baya itu, ia pun ingin segera bertemu dengan sang pujaan hati yang setiap malam selalu datang dalam mimpi-mimpi indahnya.
Dokter Samuel tak langsung menjawab pertanyaan Kayla, pria itu malah meraih botol air mineral yang ada di sisi meja kerjanya. "Silakan diminum dulu, Bu Kayla. Tampaknya Ibu kehausan setelah menempuh perjalanan jauh." Tangannya menyodorkan botol minuman itu ke hadapan sang model.
Kayla terdiam sejenak, tak mengerti kenapa dokter Samuel malah meminta wanita itu meminum air mineral yang ada di hadapannya. Kedua alis saling menaut petanda bingung.
Seakan mengerti isi pikiran Kayla, dokter Samuel terkekeh ringan sambil berkata. "Saya hanya berpikir, mungkin saja Bu Kayla terlalu lelah berjalan sambil tergesa-gesa dari parkiran hingga ke sini demi mendengar informasi tentang suami Ibu. Tidak ada niatan lain selain ingin menjamu tamu dengan baik."
Alih-alih meraih botol air mineral itu, Kayla terus menatap dengan tatapan tajam seolah mengatakan jika dirinya tidak mau basa basi dan ingin langsung tahu kabar terbaru tentang kondisi Mahesa.
Dokter Samuel menghela napas panjang, lalu merapikan snelli putih yang dikenakan olehnya agar terlihat lebih rapi. "Begini, Bu. Saya punya kabar baik tentang kondisi Pak Mahesa."
"Beberapa jam lalu, suami Ibu sudah dapat menggerakan jemari tangannya. Walaupun gerakan itu lemah, tapi kita patut bersyukur sebab itu menunjukan bahwa tidak lama lagi Pak Mahesa akan segera tersadar. Namun, kapan waktunya Pak Mahesa sadar dari tidurnya yang panjang, saya tidak bisa memastikan. Karena kita membutuhkan sesuatu yang dapat membantu beliau agar bangun dari koma."
"Apa yang Dokter butuhkan? Katakan pada saya, saya pasti akan membelinya. Berapa pun akan tetap saya beli. Sekalipun uang tabungan saya habis untuk membantu proses kesembuhan Mas Mahesa, saya tidak peduli. Asalkan dia sadar dari koma, itu sudah lebih dari cukup," papar Kayla antusias. Wanita itu dengan cepat menyanggah ucapan Samuel karena terlalu excited.
Seketika, raut wajah Samuel berubah mendung. Tak yakin jika Kayla mampu membawa sesuatu hal penting itu ke hadapan Mahesa. Sementara kedua orang tua si pasien saja menolak apalagi sang model merupakan penyebab kandasnya rumah tangga antara Arumi dan Mahesa.
"Dokter, cepat katakan pada saya. Kamu membutuhkan apa?" tanya Kayla tidak sabaran. Secercah harapan terlukis di wajah wanita itu. Pendar bahagia berbinar di bola matanya.
Lagi-lagi, dokter Samuel menghela napas panjang seraya memejamkan mata sejenak. Kemudian ia berkata, "Sesuatu itu tak dapat dibeli, melainkan dibawa sendiri ke hadapan Pak Mahesa. Dan yang dibutuhkan oleh suami Ibu adalah ... Dokter Arumi."
"Apa?" tanya Kayla dengan bola mata melebar sempurna.
.
__ADS_1
.
.