Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tamu Asing


__ADS_3

Di saat pasangan suami istri Arumi dan Rayyan tengah berbahagia atas kehamilan anak pertama dari wanita yang dulu sering dihina karena tak kunjung hamil, di tempat yang berbeda pun tengah merasakan kebahagiaan yang sama. Setelah menunggu lima tahun, akhirnya sahabat Arumi yang bernama Rini dikabarkan tengah berbadan dua dan usia kehamilannya pun memasuki minggu kelima. Namun, untuk kehamilannya yang kedua ini, dokter menyatakan sahabat dari Arumi hanya memiliki satu kantung embrio saja.


Rini tengah memperhatikan kedua asisten rumah tangganya yang saat itu sedang menata hidangan di atas meja makan. Tak jauh berbeda dari Arumi, wanita cantik yang berprofesi sebagai psikiater pun berinisiatif mengadakan perayaan kecil-kecilan sebagai bentuk syukur atas kehamilan keduanya dengan dibalut surprise party menyambut kepulangan sang suami dari luar kota.


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat saja. Biarkan Mama yang mengawasi para asisten ini," seru Mama Rio yang sedang membantu kedua asisten rumah tangga menyiapkan hidangan makan malam.


Rini yang saat itu berdiri di dekat meja makan menoleh ke sumber suara. "Iih, Mama. Tentu saja aku tidak sampai hati kalau harus duduk manis bersama si kembar, sementara Mama dan kedua ART itu menyiapkan makanan. Rasanya, aku seperti menantu durjana yang mempekerjakan mertua sendiri demi kepentingan pribadiku. Bagaimana kalau Mas Rio dan tetangga kita tahu? Bisa jadi bahan bully-an mereka. Dan ... Mas Rio pasti memarahiku habis-habisan."


Sontak, mama Rio tertawa mendengar ucapan Rini. Tak mengira menantu kesayangannya akan berpikiran seperti itu. Padahal, wanita paruh baya itu sama sekali tak berpikiran ke situ. Dia ikhlas kalau memang Rini mempekerjakannya sebagai seorang ART, asalkan anak, cucu serta menantunya senang kenapa tidak.


Akan tetapi, Rini bukanlah tipe menantu yang seperti itu. Sahabat baik Arumi memiliki hati bersih dan sangat menyayangi dirinya sebagai seorang mertua serta memperlakukan wanita paruh baya itu seperti ibunya sendiri.


"Rini ... Rini ... untuk apa kamu memikirkan pendapat orang lain! Jika kita terus menerus memikirkan omongan mereka, yang ada batin tersiksa dan malah menimbulkan penyakit baru."


Mama Rio mendekati Rini, lalu menyentuh kedua pundak sang menantu. "Orang-orang di luaran sana tidak akan pernah berhenti meski kita telah melakukan hal baik menurut kita sendiri. Mereka terus mengusik hingga akhirnya kita sendiri merasa tertekan. Mama tidak mau kalau sampai itu terjadi padamu."


"Dan urusan Rio, Mama yakin, dia tidak mungkin berpikiran negatif seperti yang kamu pikirkan. Toh ... selama ini kamu adalah menantu terbaik yang selalu menghormati dan menghargai Mama walau kehadiran Mama di sini pasti menjadi benalu dalam rumah tangga kalian."


Rini mendelik ke arah mertuanya dengan sorot mata yang memancarkan ketidaksukaan. "Ma ... kenapa bicara begitu! Demi Tuhan, aku dan Mas Rio sama sekali tidak keberatan apabila Mama tinggal bersama kami. Aku malah senang jika kita tinggal dalam satu atap. Dengan begini, Mama tidak akan kesepian dan aku ataupun Mas Rio bisa lebih memperhatikan kesehatan Mama."


Istri dari pengacara terkenal di ibu kota menarik napas dalam seraya memejamkan mata singkat. "Apa Mama lupa, dalam ajaran agama kita tanggung jawab seorang ibu terletak pada anak laki-laki? Selama orang tua (ibu) dari anak lelaki itu masih hidup, dia berkewajiban berbakti kepada ibunya. Apalagi, derajat seorang ibu itu lebih tinggi tiga tingkat dari pada seorang ayah."


"Memang sih banyak kasus wanita yang telah menikah kurang nyaman bila tinggal bersama mertuanya, tetapi itu semua adalah pilihan masing-masing. Banyak faktor yang melatarbelakangi mereka hingga memutuskan untuk tinggal terpisah. Namun, selama si anak serta menantunya bisa terus berbakti kepada malaikat tak bersayap dalam wujud seorang ibu, bagiku tidak masalah. Itu adalah pilihan mereka dan aku tidak berhak men-judge inilah, itulah, karena aku 'kan tak tahu alasan mereka mengapa mengambil opsi tersebut."

__ADS_1


Mama Rio tersenyum hangat menatap Rini. Dalam hati bersyukur karena dia dianugerahi menantu baik seperti wanita muda yang berdiri di sisinya. Walau Rini anak yang dibesarkan di panti asuhan, tetapi dia tumbuh menjadi menantu, istri dan ibu yang baik dan dapat menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab.


Meskipun Rini tidak mendapatkan kasih sayang dan didikan dari kedua orang tuanya, tapi wanita itu dapat membuktikan pada semua orang jikalau dia bisa menjadi insan manusia yang lebih baik disamping keterbatasan yang ada.


"Terima kasih, karena kamu sudah bersedia menampung Mama di sini, Nak." Mama Rio memeluk Rini. Dalam hati bersyukur karena sang anak tidak salah memilih pendamping hidup.


"Jangan pernah merasa kehadiran Mama di rumah ini hanya menjadi benalu bagi kami. Kehadiran Mama malah membuat rumah ini semakin meriah karena aku bisa ikut berbakti mengurusi mertuaku yang cantik ini," ujar Rini setengah berkelakar menutupi suasana hati yang berubah menjadi melow.


Tepat setelah sesi obrolan hangat antara mertua dan menantu itu selesai, Rio tiba di rumah. Kedua tangannya menggandeng Indah dan Bagus.


"Eum ... aroma masakan ini lezat sekali." Pria berdarah setengah Timur Tengah melangkah masuk ditemani kedua anak kembarnya.


"Mas Rio, kamu sudah pulang?" Rini segera berjalan mendekati sang suami. Mengulurkan tangan, kemudian mencium punggung tangan pria itu.


Setelah Rini mencium punggung tangan Rio, kini giliran sepupu Mahesa mencium punggung tangan mamanya.


Kedua alis Rio saling tertaut satu sama lain, heran mengapa menu makan malam ini begitu spesial. Jika hanya menyambut kepulangannya dari luar kota, semua ini terlalu berlebihan. Mungkinkah ada kabar baik hingga Rini sengaja menyiapkan ini semua?


"Sudah, duduk sana!" tegur Mama Rio kala melihat putranya masih bergeming.


"Indah dan Bagus, kalian berdua cuci tangan dulu sebelum makan," titah Rini pada kedua anaknya, lalu Indah dan Bagus pun dengan patuh menuruti perintah sang mama.


Ketika semua orang sudah duduk di kursi masing-masing, dan hidangan telah tertata di atas meja makan, barulah Rini membuka suara menyampaikan alasannya mengapa begitu banyak sekali hidangan istimewa di hadapan mereka.

__ADS_1


"Aku sengaja meminta kedua asisten rumah tangga membuat banyak makanan. Makan malam ini adalah makan malam spesial kita karena ada kabar gembira yang ingin kusampaikan padamu, Mas." Rini menatap lekat manik coklat milik suaminya. Terlihat jelas sorot mata penuh cinta terlukis di bola mata indah wanita itu.


Rio yang duduk di kursi khusus karena posisinya sebagai kepala rumah tangga di rumah itu mengerutkan kening. Dia semakin bingung dengan apa yang terjadi di rumah itu selama dirinya pergi keluar kota.


"Kabar gembiranya ada di dalam sini. Kamu bisa membukanya sendiri," tutur Rini seraya mendorong kotak kado berukuran kecil ke hadapan Rio.


Kedua mata Rio memicing kala melihat kotak berwarna hitam dengan pita berwarna keemasan berada di atas meja makan. Sementara si kembar sedari tadi terus berbisik-bisik karena tidak tahan ingin agar papanya tahu kalau di dalam perut sang mama ada adik bayi mereka.


"Dibuka saja, Nak. Mama yakin, kamu pasti bahagia setelah melihat isi di dalam kotak itu."


Sebelum membuka kotak itu, Rio menarik napas dalam. Secara perlahan, dia mulai membuka kotak itu. Dan ....


"Maaf, Pak Rio, Bu Rini. Di depan ada orang yang ingin bertemu dengan Bu Rini." Tiba-tiba saja seorang pelayan menginterupsi percakapan mereka.


Sontak, semua mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah asisten rumah tangga itu. Rio sedikit kesal karena hampir saja dia dapat melihat isi dari kotak kado tersebut, namun kegiatannya malah diganggu.


Rio mendengus kesal sambil berkata. "Memangnya di depan ada siapa sehingga kamu mengganggu kegiatan kami!"


Salah satu asisten itu menundukan wajah, tak berani menatap sang majikan karena merasa bersalah telah menggangu kegiatan para majikannya yang saat itu tengah berbicara serius.


"Ehm ... maaf, Pak. Di luar ... ada--"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2