
Rayyan tersenyum mengejek ketika melihat rahang Mahesa mengeras. Selain itu tangan sang rival pun mengepal di samping yang menandakan bila pria itu tengah diselimuti kecemburuan. Ia semakin bahagia sebab bisa membalaskan sedikit rasa sakit hati pada diri Arumi.
"Kamu tidak menyangka 'kan jika hubungan antara aku dan mantan istrimu begitu dekat!" Rayyan menarik sudut bibir ke atas. "Dan kamu akan semakin terkejut bila mengetahui sebentar lagi aku dan dia akan meresmikan status kami ke jenjang lebih serius lagi."
Rayyan berjalan perlahan mendekati Arumi. Menyentuh jemari lentik sang wanita kemudian mencium punggung tangan itu dengan penuh cinta.
"Benar 'kan, Sweetheart!"
Meleleh sudah hati Arumi ketika pria dingin yang super galak di hadapannya berubah menjadi sosok pria lembut. Sorot mata itu memancarkan keteduhan sehingga membuat jantung wanita itu berdegup tak beraturan. Ia menggigit bibir ranum nan seksi itu untuk mengurai perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuh.
Mahesa tertawa karena Arumi sama sekali tidak merespon pertanyaan Rayyan. "Cih! Dasar tukang halu! Kamu pasti mengada-ngada 'kan makanya berbicara begitu. Mana mungkin Arumi menerima pria asing sepertimu."
"Aku sangat yakin, di hati Arumi hanya ada namaku seorang. Wanita itu masih mencintaiku meskipun kami telah berpisah tetapi selamanya ia akan tetap menyimpan cintanya untukku."
Rayyan tertunduk lemas. Ia merasa semua perkataan Mahesa ada benarnya. Kendatipun tekadnya sudah bulat untuk menjadikan Arumi sebagai ratu di dalam hati tetapi ia tidak yakin dapat menyingkirkan nama Mahesa di hati Arumi. Menghabiskan dua tahun untuk penjajakan ditambah lima tahun menjalani biduk rumah tangga bukan perkara mudah bagi wanita itu untuk melupakan mantan suaminya.
Terlihat jelas raut kekecewaan di wajah tampan nan rupawan, membuat Arumi tak tega. Entah mengapa hati wanita itu sakit ketika melihat wajah Rayyan murung.
Tanpa diduga, Arumi melingkarkan tangan di lengan Rayyan. Tersenyum manis ke arah pria itu sambil berkata, "Kamu benar, Honey. Setelah aku melewati masa iddah, kita akan mengukuhkan hubungan yang baru dibina ke jenjang lebih serius sebab aku sangat yakin jika kamu adalah pria baik, sangat mencintaiku dan tentunya setia. Tidak mudah tergoda oleh pelakor mana pun."
Arumi sengaja bersikap manja serta meninggikan kalimat terakhir agar Mahesa dan Kayla mendengar sindiran itu.
'Sial! Tidak mungkin Arumi cepat berpaling dariku. Bukankah dia sangat mencintaiku,' batin Mahesa.
'Tidak ... Arumi tidak boleh bahagia. Wanita itu harus menderita seumur hidup. Hubungan mereka tidak seserius itu 'kan?' batin Kayla.
'Rasakan kalian, kena mental juga 'kan! Makanya, jadi orang jangan suka menyakiti perasaan orang lain. Giliran dibalas, langsung terkejut,' batin Rayyan.
"Honey. Sebaiknya kita pergi dari sini. Udara di mall ini sudah tidak baik bagi kesehatanku," sela Arumi. "Ayo kita pulang!" Tanpa menunggu jawaban dari Rayyan, Arumi sudah menarik lengan pria itu.
Rayyan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Arumi yang duduk di sampingnya menatap keluar jendela. Semenjak meninggalkan parkiran mall, wanita itu hanya diam, Rayyan pun tidak mau mengganggunya. Pria keturunan Tionghoa dari sang mama tetap fokus menatap jalanan di depan sambil mencuri pandang pada wanita di sisinya.
__ADS_1
Saat melewati sebuah taman kota, Rayyan berinisiatif menghentikan laju kendaraan. Ia memarkir mobil miliknya di bahu jalan.
"Loh, Ray, kenapa berhenti di sini? Jarak dari taman ini ke rumah sakit masih sedikit jauh loh." Arumi terkejut saat melihat Rayyan melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh.
"Aku ingin menghirup udara sejuk di taman ini," jawab Rayyan santai. Ia memasukan telepon genggam yang ada di dashboard ke dalam saku celana.
Arumi sedikit panik ketika pria itu hendak membuka pintu mobil.
"Rayyan, tunggu!" teriak Arumi. Namun, pria itu sudah turun dan berjalan mengelilingi mobil.
"Turun!" ucap Rayyan sambil membukakan pintu mobil untuk Arumi.
"Tapi, Ray ... sebentar lagi waktu menunjukan pukul dua siang. Bagaimana jika kita telat tiba di rumah sakit. Papamu pasti marah karena kamu tidak datang tepat waktu."
"Biarkan saja Dokter Firdaus marah. Aku sudah terbiasa dimarahi oleh pria itu sejak kecil. Dia akan berhenti sendiri bila sudah lelah memarahiku." Rayyan tetap menarik tangan Arumi dari dalam mobil lalu membawa wanita itu masuk ke dalam pintu gerbang taman kota.
"Ray ... tapi aku sungguh tidak enak hati. Papamu pasti menuduhku karena beliau berpikir aku telah membujukmu agar mau datang terlambat ke acara itu."
Raut wajah Rayyan yang santai seketika berubah menjadi serius. "Sudah kukatakan tidak akan ada orang yang berani menyakitimu. Jikalau itu terjadi, aku berjanji akan menghajar orang itu hingga babak belur. Sekali pun dia adalah Papaku, aku bersedia melawannya."
Bibir Arumi bungkam. Ucapan Rayyan membuat wanita itu merinding. Biasanya pria yang menduduki jabatan sebagai wakil direktur rumah sakit di tempatnya bekerja akan memasang wajah itu ketika para dokter junior ataupun perawat di poli bedah melakukan suatu kesalahan.
"Kita cuma sepuluh menit di sini. Setelah itu, aku janji akan kembali ke rumah sakit tepat waktu." Suara lembut itu mampu menghipnotis Arumi hingga membuat wanita berparas cantik menuruti langkah Rayyan saat tangan kekar itu membawanya ke sebuah kursi di bawah pohon besar.
Setelah Rayyan dan Arumi duduk bersisiran, pria itu membuka suara. "Aku sengaja mengajakmu ke sini untuk membantu meringankan sedikit emosi yang bersemayam di dalam diri."
"Aku yakin, kehadiran mereka membuat hatimu semakin terluka. Oleh karena itu, taman kota ini sangat cocok bagimu untuk menghirup udara segar agar amarah dalam diri teredam."
Arumi melirik sekilas ke arah Rayyan lalu menghela napas panjang. "Jadi, kamu bermaksud menghibur dengan cara membawaku ke taman kota?"
Rayyan menganggukan kepala lalu memandangi sepasang kupu-kupu yang tengah hinggap di atas bunga.
__ADS_1
"Aku tidak tahu dengan cara apa untuk menghiburmu. Yang terlintas dalam benakku saat ini hanya ingin membuatmu kembali tersenyum tanpa memikirkan rasa sakit di dalam hati."
"Meskipun aku belum pernah menikah maupun pacaran tetapi aku yakin rasanya dikhianati itu pasti sakit apalagi orang ketiga yang merusak hubungan kita adalah orang terdekat. Itu jauh lebih sakit daripada ditusuk oleh ribuan jarum."
Arumi tersenyum tipis. Ia menatap lurus ke depan lalu berucap, "Sok tahu, kamu! Pacaran saja tidak pernah tetapi bersikap sok bijak."
Rayyan terkekeh pelan. "Kamu sedang menyindirku secara halus hem?"
Arumi mencibir dan memutar bola matanya. "Terserah, kamu mau menganggapku sedang menyindir secara halus ataupun secara kasar. Aku tak peduli."
Di sebelahnya, Rayyan semakin tersenyum lebar karena Arumi dapat bersikap biasa saja padahal ia sempat mengkhawatirkan perasaan wanita itu.
Suara gemericik air mancur, kicauan burung gereja yang bertenger di dahan pohon serta semilir angin memberikan ketenangan bagi siapa saja yang ada di sana. Termasuk dua insan manusia yang tengah duduk santai di sebuah bangku taman.
Tangan kekar Rayyan menepuk bahu sebelah kanan seraya berkata, "Put your head on my shoulder!" (Rebahkan kepalamu di bahuku).
Tanpa diperintah tuk kedua kali, Arumi menuruti ucapan pria itu. "Terima kasih, Ray, karena kamu selalu ada di saat aku membutuhkanmu."
"Aku berjanji akan selalu ada di sisimu saat duka maupun duka, Arumi Salsabila."
'Calon istriku.'
TBC
.
.
.
__ADS_1