
Tiga bulan berlalu pasca Firdaus dinyatakan mengalami stroke dan kelumpuhan pada seluruh tubuh. Pria itu menjalani kesehariannya hanya terbaring di atas tempat tidur dan sesekali duduk manis di atas kursi roda. Begitu pun dengan Lena, ibu kandung Raihan. Wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Mei Ling dan Firdaus hanya dapat menyaksikan bagaimana penderitaan suaminya saat pria itu tak lagi dapat melakukan aktivitas seperti biasa tanpa dapat membantu, sebab ia pun sudah tak lagi mampu bergerak dengan leluasa.
"Bu Lena, saya tinggal dulu sebentar, mempersiapkan segala kebutuhan Ibu sebelum mandi. Setelah itu, barulah kita pergi ke rumah sakit melakukan kemoterapi yang pertama," ucap seorang perawat wanita, bernama Puspa.
Wanita berusia tiga puluh tahun itu diminta menggantikan Nesa yang telah kena sanksi berupa SP1 atau teguran dari pihak rumah sakit akibat pengaduan yang disampaikan oleh Lena terhadap bagian personalia Persada international Hospital. Walaupun tidak sampai dipecat karena kurangnya bukti yang menunjukan jikalau mantan perawat pribadi ibu kandung Raihan terbukti bersalah. Oleh karena itu, suster Sarah hanya memberikan teguran lisan saja.
Lena yang terbaring lemah di atas tempat tidur bergumam lirih. "Baik, Suster." Lantas, Puspa bergegas mengayunkan kaki keluar dari kamar utama, meninggalkan pasangan suami istri yang sedang terbaring tak berdaya.
Setelah kepergian Puspa, Lena menggerakan kepala menoleh ke arah Firdaus. Wanita itu menyeringai melihat keadaan sang suami. "Pa, lihatlah! Sekarang, keadaanmu tak jauh beda dariku."
"Dulu, saat Tuhan masih memberikan kesehatan, kita sama-sama menyakiti perasaan Mbak Mei Ling. Bermain api di belakang wanita itu. Sering bercocok tanam setiap kali ada kesempatan baik di rumah ataupun di rumah sakit. Lalu sekarang, Tuhan pun memberikan karma yang serupa kepadamu. Kamu dan aku dinyatakan lumpuh dan peluang untuk sembuh nihil. Terlebih, aku pun didiagnosa kanker darah stadium empat. Sungguh, karma itu telah dibayar tunai!"
"Di saat orang seusia kita hidup bahagia bersama anak, menantu dan cucu, kita malah hidup cuma berdua. Rayyan dan Raihan tak peduli bagaimana keadaan orang tuanya, Arumi pun begitu, tak pernah mengirimkan pesan kepadaku walau sekadar menanyakan kabar. Mereka seolah melupakan keberadaan kita sebagai orang tua." Lena menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. "Namun, aku tidak pernah menyalahkan anak-anak, sebab semua yang terjadi adalah akibat dari perbuatan kita di masa lalu."
"Kita telah menyakiti perasaan Mbak Mei Ling hingga wanita baik itu tewas sesaat setelah melihat kita hendak melakukan hubungan suami istri. Seandainya saja aku tidak memaksamu memilih mungkin semua ini tak 'kan pernah menimpa kita semua," ucap Lena. Suara itu terdengar gemetar. Butiran kristal mengalir di antara kedua pipi.
"Entah harus dengan cara apa lagi untuk mengungkapkan betapa aku sangat menyesal telah merusak keutuhan rumah tangga kalian berdua. Meskipun tahu kamu tak mencintai Mbak Mei Ling, bukan berarti aku bisa dengan leluasa merebut apa yang telah menjadi miliknya." Menangis tergugu di sebelah Firdaus. Menyesali kesalahan di masa lalu.
"Semua musibah yang menimpa kita rasanya belum cukup untuk membayar penderitaan yang dialami oleh Mbak Mei Ling selama berbulan-bulan. Kita ... pantas mendapat hukuman lebih daripada ini, Pa. Kalau perlu, kita pun mengalami kecelakaan tragis seperti yang terjadi menimpa istrimu." Air mata terus mengalir tanpa henti. Dada terasa sesak seakan oksigen di sekitar tak mampu memberikan pasokan ke dalam paru. Sebilah pisau terus menghujam dan menusuk hingga jantungnya terasa teramat nyeri.
Firdaus melihat penyesalan mendalam tersirat dari sorot mata Lena. Ia pun turut menyesali apa yang terjadi kepada mereka.
"Maafkan aku, Lena, karena egoisanku yang tak bisa menerima Mei Ling menjadi pendamping hidup, kamu dan Rayyan harus menjadi korban." Bibir pria itu bergerak tetapi tak ada satu kata pun yang terucap hanya terdengar suara tak jelas yang sulit dimengerti.
Lena menajamkan indera pendengarannya, berusaha menerjemahkan arti setiap kata yang terucap di bibir Firdaus. Akan tetapi, ia tak mampu mengartikan itu semua hingga Puspa masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Bu Lena, segala kebutuhan mandi Ibu telah siap. Mari, saya bantu Ibu duduk di kursi roda!"
Sebenarnya, Puspa bisa saja membersihkan badan sang pasien menggunakan waslap, namun karena hari ini Lena hendak melakukan kemoterapi dan sudah tiga hari rambutnya yang mulai ditumbuhi warna keperakan tidak dibasahi maka perawat itu berinisitaif memandikan pasiennya di dalam kamar mandi.
Sebelum memindahkan tubuh ringkih yang kini berat badannya mulai menyusut, ia terlebih dulu mengunci kursi roda agar tak bergerak saat memindahkan pasien. Setelah memastikan Lena duduk dengan aman, perawat itu mendorong kursi roda menuju kamar mandi.
***
"Babe, kamu mau berangkat bareng denganku atau diantar Pak Burhan?" tanya Rayyan kepada istrinya.
Pagi itu, Rayyan dan Arumi ada jadwal operasi besar pada pasien yang mengalami kerusakan ginjal dan harus segera mendapatkan donor. Oleh karena itu, pasangan suami istri itu harus segera tiba di rumah sakit untuk memastikan kembali kondisi pasien sebelum akhirnya dibawa ke ruang operasi.
"Aku akan pergi diantar Pak Burhan. Kamu duluan saja, tidak apa-apa. Kalau sudah tiba di rumah sakit, aku segera menemuimu!" seru Arumi dari dalam kamar. Ia dibantu mbak Tini tengah mengurusi si kembar. Kedua wanita itu tampak kerepotan mengurusi tiga bayi kembar yang baru saja selesai mandi.
Dua hari lalu, salah satu pengurus panti asuhan tempat Arumi dibesarkan dulu meninggal dunia. Oleh karena itu, ia beserta rombongan geng sosialitas termasuk mama Rio pergi melayat ke rumah duka turut mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya mewakili Rini dan Arumi yang tengah sibuk mengurusi anak-anak mereka.
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat duluan!" Rayyan mencium pipi ketiga anaknya secara bergantian sambil berkata. "Sampai ketemu nanti sore anak-anak, Ayah. Love you all!"
Pria itu meraih tas kerja serta snelli yang telah disiapkan oleh Arumi di sandaran sofa. Dengan langkah panjang meninggalkan kamar bayi. Namun, baru lima langkah, ia membalikan badan dan segera berhambur mendekati istrinya.
"Ayah juga loves Bunda!" ucapnya mesra sambil mencuri ciuman di pipi sang istri. Setelah itu, ia mengambil langkah seribu karena khawatir Zahira menunjukan aksi protes lagi kalau melihat kelakuan ayah-nya yang sering diam-diam mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Ya benar, bayi mungil berjenis kelamin perempuan tak pernah membiarkan ayah dan bundanya bermesraan. Ia selalu merengek setiap kali Rayyan dan Arumi hendak berdekatan. Sedangkan Ghani dan Zavier bersikap biasa saja, tidak menunjukan aksi protes seperti adik bungsunya.
Arumi menggelengkan kepala sambil bergumam, "Dasar aneh!" Seulas senyuman terukir di wajah.
__ADS_1
Mbak Tini memperhatikan sikap kedua majikannya menjadi senyum-senyum sendiri seperti orang idiot. Bukan hanya berubah menjadi idiot, tetapi juga menderita diabetes akut.
Bagaimana tidak diabetes. Selama satu tahun bekerja menjadi asisten rumah tangga Rayyan, kadar gula darah wanita itu meningkat karena nyaris setiap hari disuguhkan adegan romantis yang terkadang membuatnya baper. Keromantisan mereka terpampang nyata di depan mata hingga tak jarang mbak Tini mesti menutup mata ketika pasangan suami istri itu tanpa sengaja tengah berciuman saat menemani Triplet berjemur di balkon apartemen.
"Walaupun aneh, tapi Bu Arumi menyukainya 'kan?" goda Mbak Tini seraya tersenyum jail.
Arumi terkekeh pelan mendengar ucapan sang asisten. "Ya ... begitulah, Mbak. Kalau tidak aneh, bukan Mas Rayyan namanya." Menghela napas panjang karena pekerjaannya mengurusi tiga krucil telah selesai. Triplet pun sudah terlelap setelah kenyang meminum ASI lewat dot.
Dokter cantik itu duduk di sofa seraya melakukan peregangan pada ototnya yang terasa kaku. Dua hari ini setiap pagi ia kerepotan karena harus mengurusi si kembar seorang diri. Meskipun ada mbak Tini, tetapi asisten rumah tangga itu memiliki tugas lain untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
"Rasanya, aku tak sanggup jika harus bekerja dan mengurusi si kembar dalam waktu bersamaan." Mengembuskan napas dalam dan panjang. "Apakah ... aku harus resign dari pekerjaan agar dapat fokus mengurusi ketiga anakku?" Bergumam lirih sambil menatap wajah damai Ghani, Zavier dan Zahira secara bergantian.
Semenjak kembali bekerja di rumah sakit, waktu wanita itu sedikit terkuras serta pikirannya bercabang antara pekerjaan dan mengurusi ketiga buah cintanya hingga tak jarang ia tertidur begitu saja di saat dirinya tengah sibuk bekerja di bangsal.
"Kalau saya boleh kasih saran, sebaiknya Bu Arumi diskusi dulu dengan Pak Rayyan. Jangan sembarangan mengambil keputusan. Terlebih lagi, reputasi Bu Arumi di rumah sakit sudah tak bisa diragukan lagi. Rumah sakit semakin maju setelah kedatangan Ibu di sana."
Kedua sudut bibir Arumi terangkat ke atas seperti membentuk lengkungan yang sangat indah. Wajah berseri disertai sorot mata teduh membuatnya semakin cantik.
"Kamu terlalu memujiku, Mbak. Namun, untuk saranmu tadi, bisa aku pertimbangkan. Apakah aku harus resign dari pekerjaanku atau memperkerjakan baby sitter mengurusi ketiga anak-anakku." Arumi melirik ke arah mbak Tini lalu berkata, "Terima kasih atas saranmu, Mbak. Kamu ... memang asisten, sekaligus teman curhatku yang paling setia."
.
.
.
__ADS_1