Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Akhirnya, Aku Menemukanmu


__ADS_3

Tanpa terasa, sudah satu minggu sejak dokter Helen mengatakan kalau kemoterapi pertama Lena dinyatakan tidak berhasil. Selama itu tak jarang wajah wanita itu terlihat murung dan semakin tidak bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Kendati begitu, ia tetap berusaha tersenyum di hadapan semua orang untuk menyembunyikan perasaannya tanpa ingin ada satu orang pun tahu bagaimana perasaannya saat ini.


Kecewa? Sudah pasti iya, sebab ia berharap banyak penyakitnya itu dapat disembuhkan dan Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk bisa melihat cucu-cucunya tumbuh besar dan sehat. Cucu dari Rayyan, dan tentunya Raihan, putra kandungnya sendiri. Meskipun tak dapat menyentuh mereka, hanya bisa melihatnya dari jarak jauh sudah cukup membuatnya merasa bahagia.


Pagi itu, cuaca sangat cerah. Sinar matahari pun kembali bersinar seperti biasanya. Hari ini merupakan hari libur dan sangat dinantikan oleh sebagian para pekerja swasta ataupun kantoran untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun hanya sekadar istirahat di rumah, merehatkan sejenak tubuh dan pikiran sebelum akhirnya disibukan kembali oleh setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya.


Jam dinding menunjukan pukul tujuh pagi waktu setempat. Rencananya perawat pribadi istri kedua Firdaus berencana mengajak pasiennya pergi ke sebuah taman yang jaraknya tak terlalu jauh dari apartemen. Puspa berharap sang pasien dapat kembali berpikir positif dan tetap optimis jika penyakit kanker yang dideritanya dapat disembuhkan.


"Mas Reza, saya ajak Bu Lena ke taman sebentar. Satu sampai satu jam setengah baru pulang ke sini," ucap Puspa pada rekan kerjanya sama perawat. Hari itu hanya ada mereka berdua di apartemen, karena mbok Darmi sedang pulang kampung. Kakak dari sang asisten rumah tangga meninggal dunia dan dia diminta hadir dalam proses pemakaman.


"Siap, Mbak!" sahut Reza, perawat pria yang baru lima hari bekerja mengurus Firdaus.


Sebelumnya Puspa dibantu mbok Darmi-lah yang merawat kedua pasien paruh baya itu. Akan tetapi, karena mbok Darmi harus segera pulang ke kampung halaman dan Puspa tak mampu merawat pasien secara bersamaan, Lena mencari perawat homecare yang baru untuk membantu pekerjaan perawatnya itu. Tak mudah bagi wanita paruh baya mencari perawat baik sesuai kriterianya, ia meminta Puspa mengajak orang terdekat si perawat untuk menjadi perawat homecare di tempat tinggal Firdaus.


Beruntungnya Puspa mempunyai sepupu yang berprofesi sebagai seorang perawat di rumah sakit Persada International Hospital sehingga Lena setuju dan mempekerjakan Reza sebagai perawat pribadi Firdaus.


"Saya titip Mas Firdaus ya, Za. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan minta tolong pada security di bawah. Nomor telepon pos keamanan sudah saya tulis dan ada di samping pesawat telepon." Lena ikut menimpali. "Sarapan untuk Mas Firdaus sudah saya siapkan juga di atas meja. Kalau kamu lapar, boleh mengambil snack juga camilan yang tersedia di atas meja."

__ADS_1


Reza mengulum senyum hangat. "Bu Lena tenang saja. Saya akan menjaga Dokter Firdaus dengan baik. Serahkan semua pada saya," ucapnya mantap.


"Kita bisa jalan sekarang, Bu? Mumpung masih pagi dan belum banyak pengunjung yang datang."


"Ya sudah. Ayo jalan sekarang!" jawab Lena. Lalu, dua wanita itu melangkah meninggalkan unit apartemen yang dibeli oleh Firdaus.


***


Sepanjang jalan, Lena banyak menceritakan tentang masa lalunya yang kelam. Mulai dari tindak kekerasan yang dialaminya sewaktu masih hidup bersama mantan suaminya terdahulu yang sering main judi dan mabuk-mabukan sampai ia bertemu dengan Firdaus dan menjalin hubungan terlarang dengan suami orang. Tak ada satu hal pun yang disembunyikan olehnya kepada Puspa.


"Begitulah, Pus, awal mula kenapa Rayyan sangat membenci saya dan Papa-nya. Itu semua berkaitan erat dengan kecelakaan yang menimpa istri pertama Mas Firdaus." Saat ini Lena tengah berkeliling taman sambil menghirup udara segar. Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Merilekskan sejenak pikiran dari kemelut permasalahan yang tengah dihadapinya.


Meskipun desas desus telah lama beredar di kalangan karyawan rumah sakit yang mengatakan bahwa Lena adalah seorang pelakor. Namun, tidak ada bukti valid sehingga Puspa anggap itu semua cuma isapan jempol belaka sengaja diembuskan untuk menggiring opini orang lain agar ikut membenci ibu mertua Arumi.


"Lalu, bagaimana dengan putra Bu Lena, sendiri? Apakah dia sama sekali tidak pernah menghubungi Ibu setelah kejadian itu?"


Lena menggelengkan kepala lemah. "Saya tak tahu di mana Raihan saat ini berada. Dia menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Jangankan menelepon, mengirimkan pesan hanya sekadar menanyakan kabar saja tidak pernah." Tampak jelas raut kesedihan bercampur kekecewaan di wajahnya yang mulai bermunculan kerutan halus. "Meskipun begitu, saya tetap mendo'akan dia semoga selalu berada dalam lindungan Tuhan."

__ADS_1


Puspa menghentikan kursi roda yang diduduki oleh Lena di bawah pepohonan menjulang tinggi ke atas awang. Memilih tempat teduh dan cukup sepi agar pasiennya bisa leluasa bercerita tanpa takut didengar oleh orang lain.


"Semoga Tuhan mengetuk pintu hati Pak Raihan, dan hubungan antara Ibu dan anak Ibu segera rukun kembali seperti sedia kala," harap Puspa.


"Aamiin. Terima kasih banyak, Pus, kamu bersedia menjadi teman curhat saya. Walaupun saya yakin kamu pasti kesal setelah tahu bahwa saya ini adalah pelakor kelas kakap, tapi kamu tetap bersikap profesional. Saya benar-benar salut padamu," puji Lena sungguh-sungguh.


Puspa duduk di samping Lena. Pandangan mata menatap lurus ke arah anak-anak kecil yang sedang sibuk bermain perosotan, jungkat jungkit dan aneka permainan anak-anak di taman tersebut.


Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan. "Tentu saja saya harus profesional, Bu. Ini kan memang tugas saya sebagai seorang perawat, yang dipercaya merawat, menolong dan menjadi pendengar setia bagi para pasien. Ya ... siapa tahu beban hidup Bu Lena sedikit berkurang setelah curhat dengan saya."


Usai menceritakan perjalanan hidupnya kepada Puspa, Lena meminta perawatnya itu pulang ke apartemen. Matahari sudah semakin tinggi, sinarnya pun tak lagi memberikan manfaat bagi kulit. Selain itu, ia sudah cukup lelah terlalu lama berada di kursi roda rasanya tubuh wanita itu ingin terbaring di atas tempat tidur.


Puspa dengan senang hati mengantarkan Lena kembali ke apartemen, sebab ia pun harus menuliskan laporan selama dirinya bertugas menjadi perawat pribadi di kediaman Firdaus.


Tanpa disadari oleh dua wanita itu, sepasang mata menatap tajam ke arah mereka sambil tersenyum smirk. "Akhirnya aku menemukanmu, Lena."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2