Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Aku Merindukanmu, Ma!


__ADS_3

Ceklek!


Terdengar suara pintu ruangan terbuka. Lalu, tak lama kemudian dokter senior pria berdiri di ambang pintu. Rayyan bergegas bangkit dan menyambut kedatangan pria itu.


"Apakah Anda keluarga pasien?" tanya Dokter yang menangani Firdaus dan Lena.


Rayyan mengangguk cepat. "Benar, saya anaknya. Apa yang sebenarnya terjadi kepada Papa, Dok?" cecar pria itu meminta jawaban dari semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.


Dokter senior itu menarik napas dalam sebelum memberikan penjelasan mengenai kondisi Firdaus. Meskipun dia telah menyampaikan keadaan pasien kepada perawat pribadi Lena, tetap saja wanita berseragam perawat di luar sana bukanlah keluarga pasien sehingga ada beberapa informasi yang tak bisa dijelaskan sembarangan.


"Saat pertama kali dibawa ke rumah sakit, kondisi pasien memang sangat memprihatinkan. Tim pemadam kebakaran kesulitan mengevakuasi pasien karena kobaran api di kediaman pasien sangat besar dan diduga kebakaran itu terjadi bersumber dari tempat kediaman pasien. Kondisi tubuh lumpuh hingga menyebabkan pasien tak mampu melarikan diri saat kebakaran terjadi."


"Terlalu lama menghirup asap kebakaran, saluran pernapasan pasien mengalami masalah. Kami sudah berusaha memberikan pertolongan, tetapi jika dilihat dari kondisi pasien besar kemungkinan untuk sembuh minim sekali. Oleh karena itu, saya meminta pihak keluarga datang untuk berjaga-jaga bila pasien sudah tak sanggup bertahan," papar Dokter senior itu.


Mendengar penuturan dokter, seluruh tubuh Rayyan gemetar hebat. Mata pria itu memerah menahan bulir air mata agar tak membasahi pipi. Tidak menduga jikalau kondisi sang papa berada di antara hidup dan mati. Hanya tinggal menunggu kemurahan hati Tuhan untuk menyelamatkan atau malah Tuhan meminta malaikat maut menjemput kakek dari ketiga anak Arumi Salsabila.


"Namun, bila pasien dapat melewati masa kritis, itu merupakan sebuah mukjizat bagi kita semua. Akan tetapi, dengan adanya luka kabar di beberapa bagian tubuh sulit disembuhkan karena pasien sudah terlalu lama terjebak dalam kobaran api."


Dada suami Arumi terasa sesak seakan ada bongkahan batu besar menghimpitnya hingga membuat pria itu kesulitan bernapas. Otaknya tak lagi mampu mencerna apa yang disampaikan oleh dokter paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun. Isi kepala pria itu kosong, tak dapat berpikir jernih. Ia hanya terdiam sambil menatap ke arah pembaringan dengan tatapan nanar.


"Apakah memang tidak ada cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menyelamatkan pasien, Dokter?" tanya Arumi. Berharap banyak ada cara lain untuk menyembuhkan Firdaus.


Dokter senior itu menjawab, "Seandainya saja ada, saya dan tim sudah melakukannya tanpa Ibu dan Bapak minta. Namun sayang, tidak ada cara yang bisa dilakukan selain berdo'a dan mengikhlaskan pasien jika memang Tuhan berkehendak lain."

__ADS_1


Tubuh Rayyan mematung mendengar semua yang dikatakan oleh sang dokter. Ritme jantung pria itu berpacu lebih cepat seperti seorang pembalap yang tengah berlomba di sirkuit pertandingan, menancap gas hingga kecepatan penuh. Meninggalkan lawannya untuk bisa mencapai finish.


"Manfaatkan kesempatan yang masih ada. Temani pasien di akhir hajatnya sebelum malaikat maut mencabut nyawanya," tutur dokter itu lirih.


"Lalu, bagaimana kondisi wanita itu. Apakah dia mengalami keadaan yang sama dengan Papa-ku?" cetus Rayyan. Dia penasaran dengan kondisi Lena, orang asing yang datang tiba-tiba namun berhasil merebut hati sang papa sehingga tega selingkuh di belakang ibunda tercinta.


"Kondisi Bu Lena sama seperti Pak Firdaus. Akan tetapi, dia lebih dulu dievakuasi sehingga tak banyak menghirup asap berbahaya."


Sebuah senyuman samar terlukis di wajah tampan Rayyan. "Rupanya nasib dia lebih bagus dibanding Papa-ku. Ck! Benar-benar sial!" gumamnya.


"Baiklah, Pak. Kalau tidak ada yang ingin didiskusikan lagi, saya permisi dulu. Masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan." Sang dokter segera pamit undur diri dari hadapan Arumi dan Rayyan.


Suasana hening kembali tercipta. Tak ada satu kata pun terucap dari bibir pasangan suami istri itu.


Rayyan mendengkus kesal. "Kenapa dia tidak mengalami apa yang Papa-ku rasakan! Bukankah dia begitu mencintai Papa-ku hingga tega menusuk mendiang Mama-ku dari belakang!" Setiap perkataan yang terucap terdengar penuh penekanan.


Menghela napas panjang. Mencari cara lain untuk menenangkan Iblis yang bersemayam di dalam diri Rayyan. "Honey, bagaimana kalau kita keluar sebentar, mencari udara segar. Kurasa udara di sini pengap sekali hingga membuatku kesulitan bernapas."


Tanpa pikir panjang, Rayyan mengangguk. Sejujurnya, ia pun merasa udara di sekitar menjadi panas dan menyesakkan. Pria itu membutuhkan udara segar guna menjernihkan kembali pikirannya.


***


Raihan berada di ruang ICU dengan kepala tertunduk dan mata berkaca-kaca. Ia baru saja tiba di sana beberapa menit setelah Rayyan dan Arumi masuk ke ruangan sebelah. Meskipun ia lebih dulu tiba di rumah sakit, tetapi anak sulung Firdaus datang belakangan dibanding sang kakak, sebab pria itu harus menerima panggilan telepon penting dari pihak kampus. Ini menyangkut masa depannya sebagai dosen dan kepala kaprodi.

__ADS_1


Saat tiba di ruangan, ia langsung disuguhkan oleh pemandangan yang membuat udara terasa terhenti di tenggorokan. Ia semakin kesulitan bernapas. Udara sekitar tak mampu memberikan pasokan oksigen ke dalam paru-paru.


"Mama ...." ucapnya sambil melangkah gontai mendekati ranjang rumah sakit. Seorang wanita paruh baya tengah terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuh. "Ma, bangun. Ini aku, Raihan." Suara kursi berdecit ketika pria yang berprofesi sebagai dosen teladan di salah satu universitas terkenal di Jakarta menarik mundur kursi bundar yang ada di dekat ranjang.


Hati bagai ditusuk sembilu kala menyaksikan kondisi Lena yang begitu memprihatinkan. Wajahnya yang cantik, kulit putih nan mulus kini tertutupi oleh luka bakar akibat insiden kebakaran yang terjadi tadi pagi.


"Aku datang ke sini karena kangen sama Mama," ucap Raihan sambil mengecup pelan punggung tangan yang tak terkena luka bakar. Punggung tangan itu pula lah yang tertancap jarum infus. "Mama jangan pergi tinggalkan aku ya? Aku ... masih membutuhkan Mama untuk terus berada di sisiku."


"Ma ... aku juga mau minta maaf karena beberapa waktu lalu sempat membentakmu. Saat itu aku terlalu emosi hingga tak dapat mengendalikan diri. Namun, setelah kejadian itu aku menyesal. Ingin sekali pergi menemuimu dan meminta maaf, tetapi aku terlalu gengsi untuk bertemu dengan Mama."


"Mama tahu, sejak kejadian itu hari-hariku jadi tidak tenang. Pikiranku terus tertuju padamu. Hidup jadi tak tentu arah, bagai anak ayam yang kehilangan induk," ujar Raihan. "Pekerjaanku jadi terbengkalai hingga tak jarang mendapat teguran dari Pak Rektor. Tapi beruntungnya Pak Hasyim orangnya bijak hingga tak mendepakku dari kampus itu. Kalau itu sampai terjadi, mungkin saat ini diriku sudah jadi gembel. Tidur di emperan, beralaskan kardus dan berselimutkan angin malam." Raihan tertawa lirih, menahan butiran kristal 'tuk tidak membasahi bumi.


Raihan mengembuskan napas secara kasar. "Aku baru tersadar jika diriku memang tidak bisa jauh dari Mama. Walaupun rasa sakit hati di dalam diriku masih ada, namun rupanya rasa rinduku kepadamu tak dapat dibendung lagi. Aku ... merindukanmu, Ma! Raihan ... kangen, Mama!"


"Sebelum ke sini, aku bertemu kedua sahabatku sewaktu mengambil program pasca sarjana dulu. Ada Andika dan Fahmi. Kami berkumpul dalam acara resepsi pernikahan Jonatan. Di sana, aku banyak berbincang dengan Andika, pria keturunan setengah Belanda dari pihak Papa-nya. Dia banyak memberikan petuah kepadaku hingga aku tersadar bahwa yang kulakukan kepada Mama beberapa waktu lalu merupakan sebuah kesalahan besar karena telah membentakmu."


"Oleh karena itu, aku segera meninggalkan pesta setelah membaca pesan yang dikirimkan Puspa, perawat pribadi Mama. Aku tidak mau menjadi anak durhaka, hidup dalam penyesalan yang tak pernah berujung."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2