
Beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan Lena pasca terbangun dari koma sudah mulai membaik meski psikis wanita itu masih sedikit terguncang selepas ditinggal pergi Firdaus selamanya, tetapi dokter sudah memperbolehkan ibunda kandung Raihan keluar rumah sakit. Namun, untuk luka bakarnya sendiri, para tim medis angkat tangan. Selain fasilitas penunjang kesehatan tak memadai, kondisi luka pun terbilang sangat serius sehingga membuat mereka mundur secara perlahan. Sekalipun dilakukan tindakan operasi, hasilnya pun tidak memuaskan. Akan banyak bekas luka bakar yang tersebar di beberapa bagian tubuh istri kedua Firdaus.
"Mama sudah siap pulang ke rumah?" tanya Raihan memastikan kembali apakah sang mama sudah selesai berkemas. Puspa masih setia menjadi perawat pribadi ibu kandung dosen tampan.
Suasana hening tercipta. Tidak ada sahutan apa pun meluncur dari bibir Lena. Tatapan mata lurus ke depan, seolah jiwanya tengah tersesat pada dimensi yang berbeda.
Puspa dan Raihan saling menatap satu sama lain, lalu beralih menatap ke arah Lena yang tengah duduk termenung di atas pembaringan.
"Tentu saja sudah siap, Pak Raihan. Sejak semalam, Bu Lena begitu antusias, sebab sekian lama terpisah akhirnya beliau dapat tinggal bersama lagi dengan Anda," sahut Puspa, mencoba mencairkan suasana yang terkesan mencekam.
Raihan tersenyum masam. Ia menatap ke arah Lena dengan tatapan mata sendu. Hatinya hancur berkeping-keping melihat penderitaan dang mama selama beberapa hari ini. Seulas senyuman selalu menghiasi wajahnya yang cantik kini tergantikan oleh air muka penuh kesedihan.
Setiap detik, menit dan jam Lena melamun. Tak jarang ia meneteskan air mata setiap kali teringat akan sosok suami tercinta. Lelaki yang mendampinginya selama belasan tahun pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dulu kepadanya. Ia merasa kesepian, tak ada lagi harapan hidup setelah kepergian Firdaus dari dunia yang fana ini.
"Ya sudah, kalau semuanya telah selesai mari kita pulang sekarang. Aku sudah meminta si Mbok menyiapkan makanan kesukaan Mama. Mama pasti menyukainya." Raihan mengusap pundak Lena dengan lembut, lalu membantu Puspa membawa tubuh sang mama duduk di kursi roda.
Sepanjang jalan menyusuri lorong rumah sakit, tak ada satu orang pun yang mau berkata. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kendaraan roda empat yang dibeli atas hasil jerih parahnya selama menjadi dosen, melaju memecah jalanan ibu kota. Sesekali Raihan melirik ke arah kaca spion yang ada di hadapannya, memperhatikan Lena di kursi belakang. Tak ada yang berubah, wanita paruh baya itu masih bergeming tanpa membuka mulut sama sekali.
__ADS_1
'Tuhan, bantulah Mama-ku melewati semua ujian ini. Jangan biarkan Mama terus menerus larut dalam kesedihan.' Raihan berdo'a dalam hati, semoga Tuhan berbelas kasih dan mau membantu Lena keluar dari kesulitan yang tengah dihadapi.
Lampu merah membuat kendaraan berhenti. Begitu pun dengan mobil milik Raihan. Selama menunggu lampu merah berubah hijau, pria itu memandangi keindahan sekitar dari dalam mobil.
"Antarkan Mama ke makam Papa. Mama ingin melihat pembaringan terakhir Papa-mu sebelum pulang ke rumah," ucap Lena. Nada suara dingin, wajah datar tanpa ekspresi.
Ucapan wanita itu sontak membuat Raihan menoleh ke belakang. Kedua alis saling tertaut. "Mama yakin ingin ke makam Papa?"
Lena menatap tajam ke arah Raihan, sambil menjawab, "Kenapa tidak yakin! Pria yang dikebumikan satu minggu lalu adalah suamiku, tidak alasan bagiku untuk tidak melihat makamnya. Meskipun pernikahan kami siri, tak diakui oleh negara dan seluruh keluarga besar Wijaya Kusuma, tetapi statusku di mata agama adalah istrinya yang sah hingga detik ini."
Raihan cukup tercengang atas jawaban sang mama. Setiap kalimat yang terucap bernada sinis, membuat pria itu tak menduga kalau sikap Lena sedikit berubah setelah meninggalnya Firdaus.
***
Tepat pukul sepuluh pagi waktu setempat, Raihan telah tiba di pemakaman sang papa. Pagi itu, tidak hanya rombongan dosen tampan itu yang berziarah ke makam, ada pula beberapa orang datang ke pemakaman menziarahi sanak keluarga yang telah lebih dulu meninggalkan dunia fana ini. Sinar mentari menerobos di sela pepohonan, tidak terlalu panas tetapi cukup teduh.
Raihan berhenti tepat di sebelah makam papa tercinta yang beristirahat dengan tenang. Ia berjongkok, membersihkan dedaunan kering yang teronggok di atas makam Firdaus sedangkan Lena duduk tenang di atas kursi roda. Wanita itu menatap nanar ke arah pembaringan terakhir sang suami.
"Mas Firdaus, ini aku, Lena." Wanita itu menjeda sejenak kalimatnya, menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya. "Maafkan aku, karena baru sempat berziarah ke makammu. Selama satu minggu ini, aku terbaring di rumah sakit menjalani beberapa pengobatan yang dianjurkan oleh Dokter sebelum akhirnya tim medis mempersilakanku pulang ke rumah."
__ADS_1
"Kamu tahu, Mas, bagaimana perasaanku saat mengetahui jika kamu telah pergi dari dunia ini selamanya? Perasaanku campur aduk, antara sedih dan kecewa. Sedih, karena aku harus kehilangan pria yang begitu tulus mencintai serta menerimaku apa adanya. Namun, di satu sisi, aku pun kecewa padamu karena kamu pergi tanpa berpamitan terlebih dulu kepadaku. Bahkan, saat Malaikat Maut hendak menjemput, tak sekalipun kamu menanyakan kondisiku kepada anak-anak. Aku merasa kalau kamu sudah tak mencintaiku lagi, Mas."
Lena terisak di depan pusara tempat suaminya tercinta beristirahat. "Apakah kamu marah karena Kang Arman sempat menghajarmu sesaat sebelum kebakaran terjadi? Jika iya, aku mau minta maaf atas namanya. Aku tahu, perbuatan dia memang sangat kejam tapi ... pria itu telah menerima ganjarannya. Dia hangus terbakar saat kebakaran itu terjadi bersamaan dengan seluruh harta kekayaan yang dirampas darimu."
Wanita itu mendongakan kepala ke atas, menahan agar butiran kristal tak semakin jatuh berderai. Satu helai kain menutupi rambut serta bagian wajahnya yang terkena sasaran empuk si Jago Merah. Cahaya sinar matahari menerpa sebelah kanan wanita itu.
"Mas ... hidupku terasa hampa semenjak kepergianmu. Sudah tak ada harapan lagi bagiku untuk bertahan hidup. Andai saja tidak ada Raihan, ingin rasanya aku ikut menyusulmu ke sisi Tuhan. Akan tetapi, bila aku pergi saat ini juga lantas bagaimana dengan nasib anak kita? Dia ... pasti bersedih karena ditinggal pergi oleh kita berdua." Lena melirik ke arah sang putra yang tengah berjongkok di sebelahnya. "Oleh karena itu, aku mencoba bertahan demi anak kita. Meskipun rasanya berat sekali melepas kepergianmu, tetapi aku berusaha untuk ikhlas."
"Aku harap kamu mau menungguku hingga waktunya tiba kita bertemu kembali di kehidupan abadi. Kamu dan aku kembali bersatu seperti dulu lagi."
Butiran air mata kembali mengalir di sudut-sudut matanya. Hati wanita itu terasa lega setelah mencurahkan isi hatinya di depan pusara Firdaus. Ia meluapkan segala perasaan yang mengganjal di dalam hati seolah pria itu masih hidup di dunia ini.
Jemari tangan wanita itu terulur ke depan. Ia hapus sisa butiran kristal itu menggunakan ujung pakaian yang dikenakan. Tersenyum manis pada gundukan tanah merah di hadapannya. "Mas, tunggu aku di sana. Suatu hari nanti, kita pasti berjumpa lagi."
.
.
.
__ADS_1