Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Round One


__ADS_3

Arumi tersenyum melihat bola mata Rayyan melebar sempurna. Sorot mata pria itu pun dipenuh kabut gair*h yang membara. Wanita itu semakin menyeringai puas tatkala netranya beralih turun ke bawah melihat di antara pangkal paha Rayyan. Suaminya mengenakan celana berwarna putih sehingga wanita itu dapat melihat jelas sesuatu di balik kain tersebut.


Bercermin pada pernikahan pertamanya yang sempat gagal karena kehadiran orang ketiga, Arumi mencoba merubah hal apa saja yang membuat Mahesa sampai tega berselingkuh di belakangnya. Termasuk mencoba menjadi istri yang lebih agresif dan selalu berinisiatif memulai permainan. Ia berpikir, mungkin selama menyandang gelar nyonya Mahesa, wanita cantik kelahiran dua puluh tujuh tahun silam terlihat kaku dan begitu membosankan saat berada di atas ranjang sehingga suaminya tega selingkuh di belakangnya.


Oleh karena itu, di pernikahannya yang kedua ini, Arumi bertekad merubah dirinya agar terlihat lebih cantik, seksi dan tentunya mampu menggoda iman sang suami. Ia tidak mau rumah tangganya hancur lagi karena kehadiran orang ketiga. Meskipun tahu kalau Rayyan selamanya tidak akan selingkuh, tapi ia tetap merubah dirinya menjadi wanita nakal yang hanya menggoda suaminya sendiri.


"Kenapa, Honey, kok wajahmu tegang sih? Bagaimana, apakah aku cukup menarik tanpa ada helai pakaian yang menutupi?" Arumi sengaja berucap dengan nada sesensual mungkin. Masih di posisi semula, dengan salah satu kaki melipat di kaki yang lain.


Suara merdu istri tercinta bagaikan suara nyanyian Siren yang mampu menentramkan jiwa. Rayyan terhipnotis hingga tanpa sadar ia menganggukan kepala cepat tanpa berkedip sedikit pun.


Melihat pemandangan indah di depan sana dan membayangkan ia dan Arumi saling berbagi kehangatan di dalam bathtub pasti sangat menyenangkan. Ya ... Rayyan adalah lelaki normal yang memiliki imajinasi liar tentang kegiatan panas antara ia dan istrinya.


Cukup lama Arumi dan Rayyan saling menatap satu sama lain. Tidak melakukan apa pun hanya saling lirik dan mengontrol degup jantung yang rasanya mau copot.


Terlalu lama duduk dengan posisi yang sama membuat Arumi pegal. Akhirnya, ia memutuskan menurunkan salah satu kakinya ke lantai. Dengan gerakan sensual ia bangkit dari duduknya dan melangkah secara perlahan mendekati pria itu. Sambil melangkah ia mencoba menggoda suaminya kembali dengan cara menggigit jari telunjuk seraya mengerlingkan sebelah mata.


"Damn!" maki Rayyan saat melihat gerakan sensual itu membuat jiwa kelelakiannya bangkit dan merasa tubuhnya mulai tak nyaman.


Apakah Arumi tidak malu mempertontonkan kemolekan tubuhnya di hadapan Rayyan? Tentu saja ia malu, walaupun pria yang berdiri di hadapannya adalah suaminya sendiri tapi ia wanita biasa yang memiliki urat malu. Namun, ia menepis itu semua demi mempertahankan keharmonisan rumah tangganya agar langgeng hingga mau memisahkan.


Kini, posisi Arumi sudah berhadapan dengan Rayyan. Mata keduanya kembali bertemu. Muncul getaran lembut menyelinap ke dalam diri masing-masing kala dua netra itu saling menatap satu sama lain.


Arumi mengulurkan tangan ke depan, menyentuh dada bidang Rayyan yang masih tertutup kemeja warna cream warna senada dengan blouse yang ia kenakan tadi. Wanita itu membuat gerakan melingkar di dada kemudian secara perlahan turun ke bawah. Semakin bawah hingga berhenti tepat di inti tubuh suaminya.


"Rupanya bagian pangkal pahamu telah bereaksi," bisik Arumi seraya mengusap lembut inti tubuh sang suami. Jemari lentik milik wanita itu terus menari indah di area tersebut.

__ADS_1


Merasa ada yang menghalangi, Arumi berusaha melepas ikat pinggang suaminya. Ia ingin bermain-main sebentar dengan sesuatu di area pangkal paha pria itu sebelum melakukan permainan inti. Wajah Arumi merah padam, menahan malu dan gejolak dalam diri yang melebur menjadi satu.


Rayyan menelan saliva susah payah. Sepasang bola mata indah itu memandangnya dengan intens hingga membuat pria itu hampir gila.


"Babe, apa yang sedang kamu lakukan?" Suara Rayyan tercekat kala merasakan jemari lentik Arumi berhasil menangkup sesuatu yang sedari tadi sudah bereaksi.


Jemari lentik Arumi menyentuh serta mencengkramnya dengan lembut. Memberikan pijatan lembut lalu membenamkannya ke bibir yang merah hingga tidak lagi terlihat.


Rayyan dapat merasakan bagaimana Arumi bermain indah di bagian bawah sana. Basahnya saliva dan hangatnya rongga mulut memberikan sensasi berbeda dari sebelumnya.


"Rumi! Akh! Shiit!" racau Rayyan dengan wajah makin memerah. "You make me crazy, Babe!" Rayyan bahkan sampai memejamkan mata karena sentuhan itu terasa lembut dan juga menggair*hkan.


Rayyan hampir terjatuh. Kedua kakinya gemetar hebat. Dengan pemanasan seperti ini saja sudah membuat hasrat dalam dirinya hampir meledak apalagi jika mereka melakukan penyatuan, mungkin saja ia akan hilang kendali dan terus menghentakan inti tubuhnya sampai esok hari. Tangan pria itu meraih ujung westafel yang ada di sisi sebelah kiri dan mencengramnya erat-erat.


"Ah ... shiit!" Rayyan kembali meracau. Ia sudah tidak tahan lagi. Tubuhnya sudah hampir meledak. Napas pun memburu cepat dan ia ingin menyalurkan kenikmatan itu dengan cara melampiaskannya pada sesuatu.


Melihat dua buah bemper milik sang istri, Rayyan buru-buru meremaas squishy itu dengan sangat kuat hingga ia dan Arumi sama-sama mengerang. Suara decap mulut dan erangan pria itu saling bersahutan bagaikan melodi indah.


"Babe, aku sudah tidak tahan lagi!" pekik Rayyan tiba-tiba saat merasakan sesuatu hampir meledak. Deru napas pria itu memburu, jakunnya pun bergerak turun dan naik.


Gerakan itu membuat Arumi menyeringai puas karena berhasil memberikan sesuatu yang belum pernah ia lakukan kepada Mahesa dulu. Jika dulu ia merupakan pemain pasif, tapi di pernikahannya yang kedua ini ia ingin menjadi pemain aktif. Memberikan pelayanan memuaskan untuk suami tercinta.


Dan saat gelombang dahsyat itu datang menghampiri, Rayyan menarik lengan istrinya berdiri. Ia membenamkan bibirnya di bibir sang istri, mengabsen tiap inci rongga mulut wanita itu sambil sesekali memberikan gigitan kecil. Saling membelit dan saling mengecap hingga keduanya hampir kehabisan oksigen.


Arumi terus memberikan pijatan lembut penuh cinta sambil memejamkan mata seraya menikmati permainan mereka walaupun bagian bibirnya telah dikuasai oleh Rayyan. Semakin lama, temponya semakin cepat bersamaan dengan gelombang kenikmatan yang hampir meledak.

__ADS_1


"Arumi!" jerit Rayyan kala gerakan intens itu membawanya terbang ke puncak kenikmatan tertinggi di dunia ini. Lava pijar itu tumpah di tangan sang istri.


Setelah Rayyan mencapai pelepasan pertama, Arumi menghentikan gerakannya dan pria itu melepaskan pangutan bibir mereka. Udara dingin di kamar mandi mendadak berubah menjadi panas. Suasana hening tercipta hanya terdengar deru napas memburu.


"Bagaimana, apakah kamu puas dengan hidangan pembuka yang kuberikan, Honey?" tanya Arumi seraya menaikan turunkan kedua alis, menggoda pria di hadapannya.


Rayyan mendudukan bogian belakangnya di tepian bathtub dan deru napasnya yang tersengal akibat ulah nakal sang istri. Tak peduli jika pakaiannya basah akibat air kran yang tumpah.


"Sangat puas sekali. Kamu benar-benar luar biasa. Terima kasih karena telah memanjakanku malam ini," jawab Rayyan disela kegiatannya mengisi pasokan oksigen ke dalam paru-paru.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Rayyan menarik tangan Arumi hingga wanita itu berada dalam dekapannya. Memeluk erat sang istri seolah takut jika wanita itu akan pergi meninggalkannya.


"Honey, aku sudah membantumu mencapai nirwana. Lantas, imbalan apa yang kudapatkan dari hasil kerjakerasku barusan?" Wajah Arumi merah padam bagai kepiting rebus. Ia mendongakan kepala mencari jawaban atas pertanyaanya.


Rayyan menyeringai kala bola mata indah itu menatapnya dengan penuh pengharapan. "Tenang saja, aku masih memiliki cadangan energi lebih. Kita akan bermain untuk sesi selanjutnya."


Arumi tersenyum lebar, melingkarkan tangan di leher suaminya. Tubuh polosnya menyentuh sesuatu di bagian pangkal paha yang mulai bereaksi kembali. "Oke. Ronde kedua ini, aku mau kamu yang melayaniku."


"Of course!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2