
Setelah kejadian di kedai bubur ayam, Mona terus mendampingi Kayla. Bahkan, ia memutuskan menginap selama beberapa hari di apartemen milik sang model. Ia pun meminta kekasihnya untuk tidak mengganggu wanita itu sementara waktu sampai keadaan Kayla membaik. Beruntungnya kekasih Mona pengertian sehingga pria itu memberikan ruang bagi calon istrinya mendampingi Kayla di saat seperti ini.
"Loh, Kay, kamu mau ke mana?" tanya Mona heran, sebab kini istri siri Mahesa berpakaian rapi. Seolah tidak terjadi apa-apa padanya beberapa waktu lalu.
Kayla menarik kursi di meja bar, lalu duduk secara perlahan. Tangannya terulur ke depan, meraih piring dan meletakkan sandwich di atasnya.
"Aku akan ke kantor agensi, bertemu Bu Ratna, membahas rencana perpanjangan kontrak kerjasama," jawab Kayla santai. Wanita itu sibuk mengunyah sandwich isi ayam buatan Mona.
Bola mata Mona membulat sempurna. Sedikit terkejut mendengar jawaban temannya.
"K-kamu ... yakin mau berangkat ke kantor agensi dalam keadaan seperti ini?" Mona memastikan kembali jika pendengarannya tidak bermasalah.
"Benar. Aku sudah janji akan bertemu dengan Bu Mona hari ini. Jika ingkar janji, aku tidak enak hati."
Kembali menyuapkan sandwich ke dalam mulut dengan lahap. "Lagi pula, aku sangat membutuhkan uang saat ini, Mon. Kamu tahu sendiri, untuk bisa bertemu dengan Mas Mahesa, aku membutuhkan banyak uang agar petugas yang berjaga di ruang ICU tidak memberitahukan bahwa selama ini aku menemui suamiku sendiri secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, aku harus bekerja keras agar dapat bertemu terus dengan Mas Mahesa."
Mona menggelengkan kepala, tak menyangka jika Kayla nekad melakukan hal itu demi suaminya yang saat ini masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Asisten Kayla bangkit dari kursi, membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Di bawah air mengalir, wanita itu membersihkan peralatan makan yang baru saja digunakan olehnya dan juga Kayla.
"Pukul berapa kamu berangkat?" tanya Mona seraya membilas piring dan gelas kotor.
Kayla yang saat itu tengah duduk santai di kursi bar yang jaraknya hanya sekitar enam langkah dari dapur menyahut pertanyaan asistennya. "Sekitar pukul sembilan pagi." Wanita itu mendelik ke arah Mona, lalu kembali bersuara. "Jangan bilang, kalau kamu ingin ikut denganku ke kantor."
Mona menganggukan kepala kala Kayla dapat menebak isi pikirannya. "Untuk berjaga-jaga saja. Siapa tahu, kamu membutuhkanku di sana."
Kayla mengembuskan napas panjang. "Sekali pun aku melarangmu, kamu tetap ikut denganku 'kan?"
__ADS_1
"Tentu. Kamu 'kan atasanku dan aku wajib mengikutimu ke mana pun kamu pergi."
Jika sudah begini, Kayla tidak bisa menolak, hanya dapat memberikan izin pada bawahannya. Lagi pula, bukankah memang tugas Mona sebagai asisten selalu berada di sisi wanita itu? Kapan pun dan di mana pun, Mona wajib mendampinginya dan melakukan apa pun yang dikatakan oleh atasannya.
Kini, Kayla dan Mona sudah dalam perjalanan menuju kantor agensi. Sesuai rencana, asisten Kayla yang juga merupakan teman dekat sang model menemani atasannya. Kedua wanita cantik itu duduk di kursi belakang, sementara yang duduk di kursi depan hanya sopir pribadi Kayla.
"Setelah dari kantor agensi, kamu jadi pergi ke rumah sakit menemui suamimu lagi?" Mona tengah memperhatikan Kayla yang sedang menatap galeri foto di telepon genggam milik sang model saat wanita itu dan Mahesa berbulan madu di Bali.
Melirik sekilas ke arah Mona, lalu melanjutkan kembali kegiatannya. "Tanpa kujawab pun, seharusnya kamu sudah tahu jawabannya."
Mona menghela napas dalam. "Sampai kapan kamu akan seperti ini? Para dokter saja sudah menyerah dengan kondisi suamimu, tapi kamu masih bersikeras mencari uang agar dapat bertemu dengan Mas Mahesa."
"Ingat, Kay. Tante Naila sudah mencampakanmu dan dia tak lagi menganggapmu sebagai menantu di keluarga itu. Sebaiknya, kamu lupakan Mas Mahes dan menata kembali kehidupanmu. Aku yakin, kamu bisa menemukan pria yang tulus mencintaimu dan mau menerimamu apa adanya," papar Mona. Ia tidak tahan lagi melihat Kayla terus menanti sesuatu yang tidak pasti.
Sebagai teman yang baik, Mona ingin Kayla hidup bahagia tanpa memikirkan cara bagaimana membantu Mahesa agar bangun dari tidurnya yang panjang. Selama empat bulan, Mona menjadi saksi betapa sedihnya hati Kayla saat melihat suami tercinta terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai selang menempel di tubuh pria itu. Segala macam cara telah dilakukan, namun hasilnya nihil.
Kayla menatap Mona dengan tatapan lekat. "Sejuta kali kamu memintaku untuk meninggalkan Mas Mahesa, sejuta kali itu juga aku menolaknya. Aku tulus mencintai suamiku walau kutahu rasa cintanya kepadaku tidak sebesar rasa cinta Mas Mahesa pada Arumi."
"Namun, aku kan terus berjuang tuk mendapatkan cinta suamiku. Jika memang suatu saat nanti ternyata Mas Mahesa tetap tidak mencintaiku, maka aku ingin pergi meninggalkannya atas keinginanku sendiri bukan karena paksaan dari orang lain."
Hati Kayla terasa sakit saat mengatakan kalimat terakhir. Ia merasa ada sebilah pisau tajam yang menghunus ke dalam hati. Sakit ... benar-benar.
Tak menyangka jika akhir kisah cintanya bersama Mahesa akan serumit ini. Sekelebat wajah suami tercinta terlintas dalam benaknya. Sejuta pertanyaan muncul dalam pikirannya. Apakah ia siap jika pergi dari sisi Mahesa untuk selamanya? Melepaskan pria itu hidup bahagia bersama orang lain?
Kayla mendesaah panjang seraya berkata. "Sementara waktu, aku kan terus berusaha membantu Mas Mahesa bangun dari koma. Datang ke rumah sakit, di saat Tante Naila dan Om Putra tidak ada di sana."
Mona mengangkat kedua tangan ke udara. Ia menyerah dan tak mau lagi ikut campur dalam urusan pribadi temannya itu. Segala nasihat sudah diberikan pada Kayla, namun jika wanita itu tetap dengan pendiriannya, Mona bisa apa.
__ADS_1
"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi ... kalau kamu sudah benar-benar lelah, hentikan! Cukup sampai di sini. Dan ... jangan lagi memaksakan dirimu untuk terus bertahan bersama pria yang hanya mencintaimu dengan setengah hati."
Kayla tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum masam seraya memalingkan wajah ke samping. Menatap pemandangan indah dari dalam jendela mobil.
Hampir satu jam lamanya Kayla dan Mona berada di dalam mobil. Berkali-kali mereka terjebak lampu merah akibat jalanan dipadati oleh kendaraan lain. Beruntungnya mereka tepat waktu hingga tiba di kantor agensi pukul sembilan lebih lima menit.
"Mon, nanti kamu duduk saja di sofa saat aku sedang berbicara dengan Bu Ratna. Ingat, apa pun keputusanku jangan pernah bersuara." Kayla mencoba mengingatkan Mona agar menutup mulutnya jika wanita itu meminta pekerjaan tambahan untuk menambah saldo tabungan yang semakin hari semakin menipis.
Semenjak Mahesa terbaring di rumah sakit dan Naila sudah tak menganggap Kayla sebagai menantu keluarga Adiguna, wanita yang berprofesi sebagai model terkenal di tanah air terpaksa memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebagai seorang model, Kayla dituntut untuk berpenampilan menarik. Wajah kinclong, kulit bersih tanpa ada cacat sedikit pun dan itu membutuhkan banyak modal untuk melakukan perawatan di salon. Oleh karena itu, selain mengumpulkan uang untuk menutup mulut tenaga medis yang bekerja di ICU, ia pun membutuhkan uang untuk membiayai kebutuhannya sendiri.
Mona memutar bola mata malas. Entah sudah berapa kali atasannya itu mengucapkan kalimat yang sama kepadanya hingga membuat sang asisten bosan.
"Ketika tiba di ruangan Bu Ratna, aku akan memasang kacamata kuda. Menutup mata dan telingaku, seolah tak tahu apa yang kamu lakukan dan kalian bicarakan. Puas?" Mona berujar dengan nada kesal seraya menatap lurus ke depan.
Tanpa membuang waktu, Kayla bergegas turun dari mobil. Meminta sopir pribadinya menunggu di parkiran. Ia dan Mona melangkah masuk ke dalam bangunan.
Saat memasuki pintu lobi kantor agensi, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka menatap tajam ke arah Kayla. Sebagian ada yang berbisik lirih dan ada juga yang sebagian menatap penuh kebencian ke arah sang model.
"Kay, kenapa mereka menatap ke arah kita dengan tatapan sinis? Memangnya, kita pernah menyinggung perasaan mereka?" bisik Mona di telinga Kayla.
Kayla bersikap tenang, mencoba tidak terprovokasi oleh tatapan sinis yang ditujukan padanya. "Biarkan saja. Anggap mereka tidak ada." Lalu, wanita itu semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan Ratna--manajer Kayla.
.
.
.
__ADS_1