
Membuka pintu dengan kencang, hingga terdengar suara benturan keras di dalam ruangan. Rayyan memasuki ruang ICU dan bergegas mendekati pembaringan Firdaus.
"Tidak! Tidak! Papa, jangan tinggalkan aku, Pa! Aku mohon, tetaplah bersamaku!" seru Rayyan histeris melihat layar monitor detak jantung Firdaus menunjukan gelombang yang kacau. "Aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kali." Berucap dengan bibir gemetar.
Puspa yang mengekori dari belakang, bergegas mendekati tombol di samping ranjang memanggil dokter serta perawat yang berjaga. Berulang kali melakukan tindakan sama berharap tenaga medis segera datang memberikan pertolongan.
"Dokter Rayyan, Anda harus tenang. Sebentar lagi dokter dan perawat datang ke sini. Saya yakin, mereka dapat memberikan pertolongan pada Dokter Firdaus." Puspa berusaha menenangkan Rayyan meski dia sendiri tidak yakin kalau Firdaus bisa diselamatkan. Jika melihat kondisi terkini sangat mustahil bila mantan direktur rumah sakit dapat selamat.
Tak berselang lama, tubuh Firdaus segera dikerubungi tenaga medis yang berjaga saat itu. Rayyan memandangi ranjang rumah sakit dengan dada yang terasa sesak bagai dihimpit oleh batu besar. Napas tercekat dengan tatapan kosong. Ingin menangis namun air matanya sudah kering saat menangisi kepergian Mei Ling untuk selamanya.
Dokter dan perawat sedang berusaha sekuat tenaga mengembalikan Firdaus ke dunia ini walaupun hanya 0.1% dari kemungkinan yang ada tetapi mereka semua tetap menjalankan tugasnya dengan baik.
Seorang perawat membawa alat kejut jantung atau dalam istilah medis disebut defibrillator. Kemudian, dokter menuangkan gel di atas alat tersebut sebelum memulai tindakan penyelamatan pada nyawa pasien sebelum pasien tersebut mengalami flatline.
Dokter jaga menggenggam erat dua benda pipih. Ia gosokan beberapa kali kedua benda tersebut, kemudian pria paruh baya itu tekankan alat kejut jantung di dada pasien. Mencoba merangsang agar jantung pasien dapat berdetak kembali.
Dokter senior sudah beberapa kali menempelkan alat tersebut di dada Firdaus. Setiap hentakan listrik membuat tubuh ayah kandung Rayyan melonjak ke udara. Di saat bersamaan, Rayyan merasakan malaikat maut perlahan menarik raga sang direktur dari tubuhnya.
"Pak Firdaus, bertahanlah demi anak serta keluarga Anda! Mereka ada di sini, menemanimu. Saya mohon, bertahanlah!" seru Dokter Senior itu sambil terus menekan alat kejut jantung.
Semua mata yang ada di dalam ruangan itu menatap serius pada layar monitor, tetapi tidak ada perubahan. Tenaga medis menggelengkan kepala, wajah tampak frustasi karena irama detak jantung pasien masih tak beraturan.
"Kita coba lagi!" seru dokter senior pada perawat jaga. Perawat itu menganggukan kepala sebagai jawaban. "Recharge!"
"Clear!" jawab perawat yang berdiri di samping sang dokter. Memastikan bahwa defibrilator atau alat kejut jantung siap digunakan.
Terus berusaha tanpa mengenal lelah, meski tenaga sudah mulai terkuras habis dan peluh pun terus membasahi kening. Namun, mereka terus berjuang hingga tetes darah terakhir. Hingga akhirnya suara seorang wanita menghentikan kegiatan dokter senior itu.
__ADS_1
"Dokter, denyut jantung pasien sudah kembali normal!" seru salah seorang perawat wanita yang mendampingi dokter senior.
Lantas, dokter senior itu memperhatikan layar monitor. Dan ... benar saja, ritme irama jantung pasien sudah kembali normal meski terlihat lemah.
"Alhamdulillah. Denyut jantung pasien kembali." Dokter senior itu menghena napas lega, karena berhasil menyelamatkan Firdaus dari keadaan yang nyaris membawa raga pria itu meninggalkan tubuh sang empunya, selamanya.
Rayyan segera berhambur mendekati ranjang, lalu menyentuh telapak tangan sang papa sambil berkata, "Papa. Jangan pergi dariku. Aku ... tidak tahu harus bagaimana apabila Papa meninggalkanku seperti Mama. Cukup bagiku kehilangan Mama dan aku tak mau Papa ikut menyusul Mama ke surga."
Semua orang yang ada di ruangan itu masih terlihat shock akan kejadian beberapa detik lalu, di mana mereka nyaris saja melihat Firdaus terbujur kaku di atas pembaringan dengan wajah pucat, jantung pun berhenti berdetak.
"Papa, aku sayang padamu," ucap Rayyan sambil mencium bagian tangan yang tidak terkena luka bakar.
Disaat Rayyan mencium tangan Firdaus, ia seolah merasakan jemari tangan sang papa bergerak. Begitu pun dengan perawat yang tengah berdiri di sebelah ranjang pasien.
"Dokter, pasien menggerakan jemari tangannya!" seru wanita berseragam perawat sambil menunjuk ke arah tangan Firdaus.
"Pak Rayyan, bisa tolong beri kami ruang untuk memeriksa pasien? Kami ingin memastikan jikalau gerakan itu memang petanda bahwa pasien telah melewati masa kritis," ujar Dokter senior.
Puspa mendekati Rayyan yang masih berdiri di sebelah ranjang Firdaus. Dengan lirih berkata, "Dokter Rayyan, mari kita tunggu di sana. Biarkan Dokter menangani Dokter Firdaus."
Netra Rayyan menatap sepasang mata Firdaus yang masih terpejam, kemudian beralih menatap iris coklat milik pria paruh baya di sampingnya. Dokter senior itu mengedipkan mata, seakan memberikan isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
Rayyan menarik napas dalam. Tanpa banyak bicara, pria itu melepaskan genggaman tangan Firdaus yang tertaut di tangan. Kemudian mundur beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya berdiri di pojokan ruangan. Memberikan kesempatan pada dokter Imam, selaku dokter penanggung jawab pasien.
Dokter senior bernama Imam berdiri di sisi ranjang. Ia membungkukan sedikit badan, lalu berbisik tepat di telinga Firdaus. "Pak Firdaus, apakah Bapak dapat mendengar saya? Jika iya, tolong gerakan jari telunjuk Anda."
Sekuat tenaga pria yang pernah menjabat sebagai direktur rumah sakit milik peninggalan istrinya menuruti perintah sang dokter. Menggerakan jari telunjuk sebagai isyarat bahwa ia mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Imam.
__ADS_1
Perlahan, mata Firdaus mengerjap lemah. Terbuka separuh, mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari keberadaan Rayyan, anak pertamanya hasil pernikahan terdahulu ketika bersama Mei Ling. "Rayyan ...," panggilnya lirih dengan logak bicara pelo. Akan tetapi, seluruh orang yang ada dalam ruangan mengerti maksud ucapan pria itu.
"Papa ... aku di sini!" seru Rayyan sambil berhambur mendekati tempat pembaringan Firdaus. "Syukurlah, Papa sudah sadar. Aku ... takut kalau Papa pergi meninggalkanku," ucapnya dengan bibir gemetar.
Satu kata yang terucap dari bibir Firdaus ketika permukaan tangannya disentuh oleh Rayyan adalah kata ....
"Maafkan semua kesalahan Papa selama ini kepadamu, Nak. Maaf ... karena Papa telah membuatmu menjadi anak piatu, kehilangan sosok wanita yang begitu berarti dalam hidupmu. Papa menyesal telah menodai kesucian pernikahan saat masih bersama Mama-mu."
"Seharusnya dulu Papa mencoba membuka hati untuk bisa menerima Mama-mu sebagai pendamping hidup bukan malah menyiksa batinnya. Selama belasan tahun Papa tak pernah menganggap Mama-mu ada padahal, Mama-mu begitu tulus mencintai dan mengabdikan diri sepenuh jiwa kepadaku. Namun, Papa tak pernah menghargai itu semua."
"Setelah kepergian Mama-mu, Papa baru menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita baik seperti Mama-mu. Walaupun ada wanita lain di sisiku, tetapi rasanya tetap berbeda saat masih berada di dekat Mei Ling."
"Sekali lagi, tolong maafkan, Papa." Masih terus berkata dengan logat tak jelas.
Rayyan yang duduk di samping ranjang menanjamkan indera pendengarannya, menangkap maksud perkataan dari sang papa. Meskipun awalnya kesulitan, tetapi ia mengerti ke mana arah perkataan papa-nya.
"Sst ... sudahlah, Pa. Jangan diingat lagi. Rayyan ...." Perkataan itu terhenti di udara. Lidahnya kelu, tak sanggup mengucapkan apa yang ingin dikatakan.
Ingin melupakan semua peristiwa yang terjadi di masa lalu, namun bayangan saat Mei Ling menangis tergugu sendirian di dalam ruangan sambil memeluk pakaian Firdaus, kembali terekam di memori ingatannya. Linangan air mata, kesedihan, kesepian yang dirasa oleh mendiang sang mama masih berputar di benaknya.
Akan tetapi, bila ia tak memaafkan Firdaus, bagaimana bila esok atau lusa Tuhan mencabut nyawa pria itu? Dirinya pasti hidup dalam penyesalan seumur hidup karena tidak dapat memaafkan kesalahan papa-nya. Rasanya ... sangat kejam sekali bila dia tidak menerima permintaan maaf papa kandungnya. Sementara Tuhan saja mau memaafkan semua kesalahan yang diperbuat oleh makhluk ciptaan-Nya.
"Ehm ... Pa ... aku--"
.
.
__ADS_1
.