Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tunggu Tanggal Mainnya!


__ADS_3

Siang itu di rumah sakit Persada International Hospital, dua orang perawat berseragam merah muda tengah duduk santai di sebuah ruangan yang biasa digunakan oleh para perawat jaga untuk beristirahat. Tampak keduanya tengah duduk manis sambil menikmati cilok bumbu kacang yang dijajakan oleh mamang gerobak keliling yang biasa mangkal di samping pintu masuk rumah sakit.


"Nes, aku dengar kamu dipilih oleh Suster Sarah untuk menjadi perawat pribadi Bu Lena, ibu sambungnya Dokter Rayyan, apa benar?" tanya Risa pada rekan kerjanya yang sama-sama bekerja di bangsal Melati.


Nesa yang saat itu sedang menikmati jajanan berbahan dasar tepung sagu atau aci melirik sekilas ke arah Risa, kemudian melanjutkan kembali menyantap makanan berbentuk bulat seperti bakso. "Benar. Kemarin Suster Sarah memberikanku surat tugas yang menyatakan bahwa mulai siang ini aku sudah mulai merawat Bu Lena di apartemen Dokter Firdaus."


"Apartemen? Bukannya mereka tinggal di rumah peninggalan mendiang Bu Mei Ling, pendiri rumah sakit ini?" tanya Risa terkejut. Gadis berusia dua puluh lima tahun itu bahkan beringsut mendekati Nesa karena penasaran dengan gosip yang berembus di kalangan petinggi rumah sakit. Ingin mengorek informasi sebanyak-banyaknya agar dapat dibagikan kepada rekan sesama perawat.


Nesa menganggukan kepala sebagai jawaban. "Katanya sih, rumah itu sudah diserahkan kembali kepada Dokter Rayyan. Untuk alasan sebenarnya kenapa Dokter Firdaus beserta istrinya pindah, aku pun tidak tahu. Namun, ada kabar burung yang mengatakan bahwa mantan direktur rumah sakit ini merasa tertampar oleh ucapan dari anak bungsunya."


"M-maksudmu ... bagaimana sih, Nes, kok aku jadi semakin bingung?"


Jemari tangan Nesa meraih botol air minum miliknya yang berada di atas meja, membuka tutup botol tersebut dan meneguknya secara perlahan. Tenggorokan wanita itu terasa kering, sebab sejak tadi mengoceh terus tanpa henti meski dirinya tengah menyantap salah satu makanan kesukaannya.


Setelah merasa puas meneguk air putih, barulah ia kembali menjawab pertanyaan rekan kerjanya. "Jadi begini, loh. Sebelum kejadian naas menimpa Bu Lena, terjadi keributan di rumah itu yang menyebabkan istri Dokter Firdaus masuk rumah sakit. Aku dengar, Pak Raihan pergi dari rumah karena ia merasa tidak layak tinggal di rumah milik ibu kandung Dokter Rayyan."


"Nah, dari situ Dokter Firdaus sadar dengan semua ucapan yang keluar dari bibir anaknya itu. Oleh sebab itu, beliau pindah dan mencari apartemen untuk ditempati bersama istrinya," jelas Nesa panjang lebar.


Tampak Risa mengangguk-anggukan kepala. Kini ia tahu alasannya kenapa dokter Firdaus tak tinggal lagi di rumah mewah milik peninggalan Mei Ling.


"Aku pun kalau jadi Pak Raihan ogah tinggal di rumah yang jelas-jelas bukan milik orang tuaku. Kita hidup bahagia sedangkan anak dari pemilik rumah itu minggat dari rumah karena tidak sudi tinggal satu atap dengan wanita yang tega merebut suami dari ibunya sendiri," ujar Risa.


Nesa cukup terkejut mendengar perkataan Risa. Ia tak menduga jikalau Lena merupakan orang ketiga dalam hubungan rumah tangga Firdaus dan Mei Ling.

__ADS_1


"Jadi ... gosip miring yang mengatakan kalau Bu Lena adalah seorang pelakor, benar?" Wanita itu memastikan kembali apa yang didengarnya barusan bukanlah isapan jempol belaka.


Maklum saja, segala berita miring yang berembus di rumah sakit terkadang sulit untuk dipastikan kebenarannya. Entah berita itu adalah suatu kebenaran ataupun hanya embusan angin belaka, siapa pun tak dapat mempercayainya begitu saja sebelum ada bukti nyata yang mengatakan kalau berita itu benar adanya.


Dengan santai Risa menjawab. "Betul. Itulah kenapa saat Bu Lena dirawat di rumah sakit, Dokter Rayyan meminta dokter ataupun perawat untuk tidak membahas keadaan ibu tirinya saat sedang berjaga di ruang VVIP agar Dokter Arumi tak mendengar kabar buruk itu. Dokter tampan itu mau, Dokter Arumi fokus merawat ketiga buah cintanya tanpa memikirkan orang lain."


Sudut bibir Nesa terangkat sebelah ke atas, lalu ia berkata. "Pantas saja Dokter Rayyan sangat membenci Bu Lena. Lah wong wanita itu memang pantas 'tuk dibenci."


"Kalau aku ada di posisi Dokter Rayyan, akan melakukan hal yang sama seperti beliau. Membenci Bu Lena seumur hidupku karena tega merusak rumah tangga kedua orang tuaku."


Nesa meremaas wadah minum yang terbuat dari plastik miliknya hingga menimbulkan suara nyaring dan merubah botol air mineral itu menjadi gepeng seketika. Merasa kesal karena rupanya ada orang lain mengalami nasib buruk sepertinya dulu. Ayah kandung dari perawat wanita itu pergi bersama seorang janda beranak satu. Meninggalkan dirinya, ibu serta kedua adik-adiknya sehingga kini ia menjadi tulang punggung keluarga.


"Para pelakor seperti Bu Lena, halal 'tuk dimusnahkan di muka bumi ini agar kelak tidak ada lagi bibit pelakor yang mencoba merebut suami orang," celetuk Nesa. Ucapan itu meluncur secara tiba-tiba.


"Nesa ... Nesa ... omonganmu ada-ada saja. Mau dimusnahkan dengan cara apa, hem? Kita itu bukan Tuhan, tak dapat menghidupkan serta mencabut nyawa seseorang."


"Memang benar, kita bukan Tuhan. Namun, setidaknya kita bisa memberikan pelajaran pada wanita seperti itu," jawab Nesa sinis disertai dada kembang kempis menahan gejolak amarah dalam dada.


Kedua alis saling tertaut satu sama lain. Memicingkan mata ke arah Nesa dengan tatapan penuh tanda tanya. "Nesa ... jangan bilang kalau kamu akan --?"


Nesa segera menjawab sebelum Risa menyelesaikan kalimatnya. "Yeah, kamu pasti tahu apa yang akan kulakukan." Wanita ayu berusia dua puluh lima tahun itu menyeringai sambil mengibaskan poni-nya yang menutupi sebagian wajah. "Tunggu tanggal mainnya!"


***

__ADS_1


"Pa ... Papa ... tolong!" ucap Lena lirih. Tubuh wanita itu terjatuh, menghantam dinginnya lantai kamar utama yang ditinggalinya bersama sang suami. Niat hati mengusir dahaga di dalam tubuh, ia malah kehilangan keseimbangan dan menyebabkan badannya terjatuh ke lantai.


Firdaus bergegas keluar dari dalam kamar mandi kala mendengar suara rintihan kesakitan disertai isak tangis berasal dari kamar utama. Masih mengenakan handuk yang menutupi bagian pinggang sampai ke lutut, ia berlari menghampiri Lena.


"Astaga, Mama! Kamu kenapa bisa terjatuh?" Tampak raut kecemasan terlukis di wajah Firdaus. Pria paruh baya itu berjongkok, kemudian mengulurkan tangan ke depan membawa tubuh Lena dalam dekapan.


Ia membaringkan sang istri di atas ranjang berukuran king size yang dibungkus sprei berwarna hijau muda dengan motif dedaunan. Tangan kekar itu menyibakan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya. Mata wanita itu memerah, disertai pelupuk mata basah.


Dengan bibir gemetar, Lena menjawab. "Aku kehausan, dan ingin minum. Hendak meminta bantuanmu, tetapi kamu baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya, aku mencoba meraih gelas di atas nakas. Mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengambil gelas beling itu. Namun, sayangnya aku kehilangan keseimbangan dan malah tubuhku terjatuh."


Menarik napas dalam, sambil memejamkan mata sejenak. Kemudian, ayah dari dua orang pria tampan membuka kelopak mata secara perlahan. "Sudah kubilang beberapa kali, kalau butuh apa-apa panggil aku ataupun Mbok Darmi. Jangan memaksakan diri."


"Tapi, Pa--"


"Sudah, diam! Jangan banyak bicara!" ucap Firdaus meninggikan satu oktaf suaranya. Sedikit kesal atas sikap Lena yang terkesan keras kepala.


Mendengar bentakan suaminya, Lena tak lagi bersuara. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2