
"Mama adalah orang ketiga yang telah merusak rumah tangga kedua orang tua Rayyan. Mama-mu ini telah merebut seorang suami dari wanita lain. Merebut seorang ayah dari anak lelaki yang saat itu masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mama ... menjadi duri dalam rumah tangga orang lain," ucap Lena lirih bagai desau angin di musim gugur.
"Itulah kenapa, Rayyan begitu sangat membenci Mama. Karena Mama adalah orang yang telah merampas semua kebahagiaannya dan menjadi penyebab kematian wanita yang telah melahirkan Kakak-mu itu."
Lena tak lagi dapat membendung air matanya untuk tidak membasahi pipi. Potongan kejadian di masa lalu membuatnya kembali teringat bagaimana dulu dengan tak tahu malunya dia menggoda pria yang telah menolongnya dari kejahatan mantan suaminya. Sungguh, kenangan buruk itu membuat dadanya sesak seperti ada bongkahan batu besar menimpa dirinya.
Tubuh wanita itu terkulai lemah di lantai yang dingin dengan kepala menunduk, mata tertutup, telapak tangan saling meremas satu sama lain.
Sedangkan Raihan, pria itu membeku di tempat ketika mendengar penuturan sang mama. Jantungnya terasa berhenti berdetak, oksigen di ruangan itu tak mampu memasok udara di dalam paru-paru. Mata terbelalak sempurna dengan rahang terbuka lebar.
Suasana tiba-tiba hening. Hanya terdengar suara isak tangis tergugu Lena yang menggema memenuhi penjuru ruangan. Firdaus pun tak sanggup berkata. Pria paruh baya yang tak bisa menghargai pengabdian istri sah-nya hanya membisu dengan sejuta rasa penyesalan di dalam dada.
Cukup lama mereka terdiam, hingga suara berat Raihan kembali terdengar. "I-itu ... pasti bohong ...," ucapnya terbata-bata. Suara pria itu menjadi tercekat ditenggorokan.
Berharap agar setiap kata terucap dari bibir Lena hanyalah kebohongan belaka untuk membela Rayyan agar dirinya tak lagi membenci sang kakak. Sungguh, ia tidak sanggup mendengar jikalau ini adalah sebuah kebenaran yang disembunyikan selama bertahun-tahun oleh kedua orang tuanya.
Raihan membalikan badan secara perlahan, menatap Lena yang bersimpuh di lantai. Menatap nanar wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Katakan padaku kalau semua cerita Mama itu adalah kebohongan! Mama cuma mau aku berhenti membenci si Berengsek itu dan menganggapnya sebagai Kakak-ku, 'kan?" Raihan masih belum mau menerima kenyataan pahit yang menyetakan bahwa mamanya sendiri adalah sumber masalah atas semua kejadian di rumah ini.
Mengumpulkan keberanian dalam diri. Mendongakan kepala, membalas tatapan sang anak. "Tidak, Nak. Mama tidak bohong padamu. Semua yang Mama ceritakan adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama ini kami sembunyikan darimu."
Jlenger!
Kembali merasakan seolah petir tengah menggelegar ke arahnya. Kenyataan ini membuat perasaan pria itu campur aduk.
Raihan menggelengkan kepala, tak percaya jika semua yang dikatakan oleb Lena benar adanya. Ia mundur beberapa langkah ke belakang. "Kenapa Mama membohongiku selama bertahun-tahun? Jelaskan padaku, kenapa, Ma? Apakah Mama memang sengaja agar aku membenci pria yang di dalam darahnya mengalir darah yang sama denganku!" Suara itu terdengar penuh penekanan, frustasi dan putus asa.
"Mama dan Papa tega menutupi semua kebenaran ini dariku! Memangnya, kalian berdua anggap aku ini apa?" Sorot mata Raihan memancarkan kebencian, kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. "Sebuah boneka yang hanya dijadikan pajangan saja. Begitu?"
"Cepat jawab, kenapa Mama dan Papa diam saja!" bentak Raihan seraya menendang sudut meja bundar dengan bagian atas terbuat dari kaca hingga membuatnya bergeser dari tempatnya semula.
Dosen muda itu tak lagi memperhatikan sopan santun serta tata krama saat berhadapan dengan orang tua. Ia melupakan ajaran yang diajarkan oleh Lena agar selalu menghormati orang yang lebih tua darinya. Kemarahan dalam diri telah melahap seluruh bangunan jiwa. Menyisakan sebuah kekecawaan di dalam diri.
__ADS_1
"Raihan, maafkan, Mama .... Mama tidak bermaksud membohongimu. Mama hanya mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya padamu. Sungguh," tutur Lena di sela isak tangisnya.
Sepasang mata bulat menatap dengan sorot mata penuh kebencian. Melihat mama-nya bersimpu di lantai, hatinya sudah tak tergerak untuk membawa tubuh renta itu duduk di atas sofa. Membayangkan mama-nya adalah orang ketiga yang tega merebut suami ibunda tercinta Rayyan, membuatnya semakin membenci sosok wanita paruh baya itu dan membenci dirinya sendiri kenapa harus terlahir dari seorang wanita tak tahu diri seperti mama-nya.
"Mama pikir dengan meminta maaf saja sudah menyelesaikan semua masalah dan semua akan menjadi lebih baik?" desis Raihan.
"Tidak, Ma. Segala sesuatu tidak mungkin selesai hanya dengan mengucapkan kata maaf. Ada hati dan perasaan yang terluka akibat kesalahan Mama di masa lalu." Mata Raihan memerah, dadanya kembang kempis dengan napas memburu.
"Akibat kebusukan Mama, selama bertahun-tahun aku memusuhi Kakak-ku sendiri. Membenci dan sering menghina lelaki itu karena aku menganggap dia telah berbuat tidak adil terhadap Mama. Namun, nyatanya Mama memang pantas untuk diperlakukan tidak baik oleh si Berengsek itu!"
"Jika aku jadi Rayyan, maka aku pun akan berbuat sama dengannya. Bahkan, aku tidak akan mengakui Mama sebagai ibuku sendiri!" Mengepalkan sebelah tangan, lalu meninjukan kepalan tangan itu ke meja terbuat dari kaca itu pecah dan membuat serpihan kaca itu berserakan kemana-mana. "Aku malu mempunyai ibu seorang pelakor!" berteriak histeris seperti orang kesurupan.
Raihan terlihat meledak-ledak, meluapkan semua rasa yang ia rasakan. Lena maupun Firdaus merutuki kebodohannya karena menyembunyikan kebenaran ini dari anak bungsunya. Menyesal, mengapa tidak dari dulu menceritakan semuanya pada pria bermata bulat itu agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari.
"Raihan, tapi semua ini bukan salah Mama-mu. Papa-lah yang bersalah karena telah memaksa Mama-mu untuk terus berada di sisi Papa." Firdaus akhirnya buka suara, tidak tahan melihat Lena disudutkan dalam masalah ini. Padahal, ia pun turut andil karena dulu memaksa wanita itu agar tetap berada di sisinya selamanya.
Tangan Raihan mengepal dengan erat hingga memperlihatkan buku-buku kuku. Darah segar mengucur di antara punggung tangan. Ia terluka akibat terkena serpihan kaca, namun luka itu tak membuatnya merasa pedih. Luka dalam hati jauh lebih terasa dibandingkan luka di punggung tangan. Luka luar bisa diobati, tetapi luka dalam hati tak dapat diobati oleh apa pun.
Sudut bibir terangkat sebelah, menyeringai mendengar perkataan sang papa. "Aku setuju dengan perkataan Papa. Di sini, Papa-lah yang salah karena tergoda oleh bujuk rayu seorang pelakor. Sudah beristri dan diberikan keturunan, tapi masih mau tergoda oleh wanita gatal seperti wanita itu!" tunjuknya pada Lena. "Dan naasnya lagi, wanita itu adalah Mama-ku sendiri. Ibu yang telah mengandung dan melahirkanku ke dunia!"
"Bertahun-tahun kalian hidup berbahagia di atas penderitaan orang lain. Dengan tidak tahu malunya tinggal di rumah dari wanita yang telah kalian sakiti. Benar-benar menjijikan!" Raihan menjeda kalimatnya. Menarik napas dalam guna mengisi oksigen di dalam paru yang terasa semakin sesak. "Pantas saja Rayyan membenci Papa dan Mama. Ternyata, kalian berdua memang pantas untuk dibenci!"
"Lantas, setelah kebenaran ini terbongkar, apa yang Papa dan Mama inginkan? Berharap aku dan Rayyan memaafkan kalian berdua?" Menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak semudah itu, karena keegoisan kalian sangat sulit 'tuk di maafkan."
"Tapi ... Rai ...." Lena menyeka butiran bening di pipi yang sedari tadi terus mengalir.
"Cukup, Ma! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi dari bibir Mama. Aku ... sudah sangat kecewa pada Mama." Tanpa menunggu Lena kembali berucap, Raihan berjalan setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Hati Lena seperti disayat pisau saat mendengar anak tercinta mengucapkan kata-kata itu. Ibu mana yang bisa menerima anaknya sendiri secara terang-terangan mengakui jikalau dia malu mempunyai orang tua seperti dirinya. Namun, ia tersadar kalau Raihan tidak bersalah karena dirinyalah sumber masalah di keluarga ini.
"Sialan! Berengsek! Selama ini mereka membohongiku!" terus memaki seraya memasukan pakaiannya ke dalam koper. Ia bertekad meninggalkan rumah milik Mei Ling karena merasa malu tinggal di rumah itu. Akibat kelakuan sang mama, wanita lain harus meninggal dan seorang anak harus melihat kematian ibu kandungnya di depan matanya sendiri.
"Andai saja aku tahu lebih awal, sudah pasti tidak akan membenci si Berengsek itu. Sialan! Benar-benar sialan!"
__ADS_1
Lena segera berhambur masuk ke dalam kamar kala melihat anak kesayangannya tengah memasukkan pakaian beserta barang-barangnya ke dalam koper.
"Nak, kamu mau kemana? I-ini ... kenapa kamu memasukan semua pakaianmu ke dalam koper." Berdiri di samping Raihan. Cukup terkejut karena tak menduga Raihan akan mengemasi barang-barangnya.
Ia mengikuti Raihan kemana pun pria itu bergerak. Saat anaknya berpindah mendekati lemari, maka Lena pun mengikutinya. Ia terus mengekori seperti anak guguk yang mengikuti sang majikan.
Setelah memastikan semua barang-barang dan pakaiannya masuk ke dalam koper, ia menurunkan benda berukuran besar itu ke lantai. "Aku masih punya urat malu, Ma. Otakku pun masih dapat berpikir jernih. Oleh karena itu, aku akan pergi dari sini. Rumah ini bukanlah milik kita, melainkan milik Mama-nya Rayyan. Jadi, aku tidak berhak untuk hidup di atas tanah yang bukan milikku."
Raihan menarik koper miliknya. Saat menuruni anak tangga, ia mengangkat benda berwarna hijau daun itu dengan sangat hati-hati.
"Raihan, tunggu, Nak!" teriak Lena berjalan setengah berlari menuruni anak tangga. Memanggil dengan suara kencang, berharap anaknya mau berhenti. Akan tetapi, Raihan seolah tuli, tak mau menghentikan langkahnya.
"Nak, Papa mohon, jangan pergi dari sini." Firdaus mencekal lengan Raihan. Bibir pria paruh baya itu gemetar, menahan isak agar tak pecah. Hatinya sedih karena melihat keluarganya hancur akibat dosa yang diperbuat di masa lalu.
Menepis kencang lengan Firdaus. "Keputusanku sudah bulat, Pa. Aku akan pergi dari rumah ini, selamanya." Tanpa menoleh ke belakang, Raihan kembali menarik koper miliknya menuju garasi mobil.
Lena masih terus berteriak memanggil Raihan. Semakin berlari menuruni anak tangga tanpa memperhatikan langkah. Hingga terjadi menimpa dirinya. "Aaah!"
.
.
.
NB : Mohon kepada para pemenang melakukan konfirmasi melalui chat.
.
.
.
__ADS_1