Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Ingin Menggodaku?


__ADS_3

Dunia rasanya berhenti berputar ketika dua insan manusia yang saling membenci itu saling menyentuh tubuh masing-masing. Detik demi detik berlalu, tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang melepaskan tangan dari dari tubuh masing-masing.


Hingga akhirnya sepasang suami istri melangkah menuju ke arah mereka. "Pa, lihat! Dua anak muda itu romantis sekali ya. Di tempat umum saja mau bermesraan, seperti kita dulu ketika masih muda," ujar wanita lansia yang berjalan menuju pesawat.


Wanita itu dan suaminya diperkirakan berusia sekitar enam puluh lima tahun tetapi kondisi tubuh masih sehat walafiat sebab mereka selalu menjaga kesehatan dan pola makan yang benar sehingga di usianya yang sudah senja masih tampak seperti usia lima puluh tahun.


Arumi dan Rayyan sama-sama terkejut ketika menyadari posisi mereka begitu intim. Mereka sedang berpelukan dengan sangat dekat.


Dengan kasar Rayyan mendorong Arumi hingga wanita itu mundur dua langkah ke belakang. Beruntungnya ia tidak membentur bagian samping bargarata. Andai saja itu terjadi, mungkin saat ini pundak Arumi akan mengalami lebam.


"Wanita ganjen! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!" cibir Rayyan. Mata sipit pria itu menatap sinis ke arah Arumi. Namun, tanpa disadari olehnya, jauh di dalam lubuk sanubari yang terdalam ia merasa bahagia karena bisa berdekatan dengan rekan kerjanya.


Bola mata indah Arumi terbelalak sempurna. Dengan mudahnya Rayyan menuduh ia mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Tak terima disebut wanita ganjen, Arumi membalas cibiran itu. "Sebenarnya yang mengambil kesempatan dalam kesempitan siapa? Saya atau Dokter?" tanya wanita itu dengan meninggikan intonasi nada suaranya.


"Perasaan tadi bukankah Dokter sendiri ya segera memeluk saya ketika Pria tambun itu berjalan dengan tidak hati-hati!" sungut Arumi.


"Jika Dokter keberatan menolong saya, sebaiknya tadi biarkan saja terjatuh agar Anda bisa bebas pergi ke Bali tanpa harus bertemu dengan wanita sialan ini!"


Emosinya telah berada di level tertinggi. Perkataan Rayyan sudah menginjak-injak martabatnya sebagai seorang wanita. Bagaimana bisa Rayyan menyebutnya wanita ganjen, sementara ia hanya bisa genit dan bersikap manja pada suaminya sendiri. Sementara di luar rumah, ia menjaga sikap layaknya seorang istri pada umumnya.


Rayyan mendelik, menatap Arumi dengan kesal. "Seharusnya kamu mengucapkan terima kasih bukan malah marah-marah!" sungut pria tampan itu. Wajahnya merah padam menahan gejolak emosi yang datang secara tiba-tiba.


Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Mengapa tiba-tiba marah saat mendengar Arumi memintanya untuk membiarkan wanita itu terjatuh. Mungkinkah dirinya telah jatuh cinta pada partner kerjanya itu?


"Kamu ... keterlaluan, Dokter Arumi!" jari telunjuk Rayyan mengarah ke Arumi. Ingin rasanya ia membentak akan tetapi melihat wajah wanita itu membuat suaranya tercekat.


Bibir mungil Arumi mengerucut. Ia menghentakkan kakinya di atas lantai. "Dokter Rayyan menyebalkan!" Lalu wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam pesawat.

__ADS_1


Melihat bibir mungil nan seksi itu mengerucut ke depan membuat Rayyan gemas dengan ekspresi itu. Di matanya, saat ini Arumi begitu menggemaskan seperti anak kecil yang sedang merajuk. Ingin rasanya ia menarik tubuh wanita cantik pemilik mata indah itu dalam pelukan lalu menghujaninya dengan ribuan ciuman.


"Tunggu! Apa yang sedang aku pikirkan! Mengapa aku jadi berpikiran kotor?" batin Rayyan. "Apakah aku sudah gila akibat menyentuh tubuh lawan jenis? Kan seharusnya tubuhku dipenuhi ruam merah bukan malah menjadi gila!"


Pria itu menggelengkan kepala dan menghela napas panjang. Berusaha mengembalikan lagi kesadarannya yang sempat melayang. Namun, sebuah pukulan keras kembali menyadarkannya.


Refleks, ia menarik lengan jaket kulit yang dikenakan. Memperhatikan bagian tubuh yang ditutupi kain panjang itu.


"Loh, tumben tubuhku tidak mengalami ruam. Biasanya akan terasa gatal dan panas jika bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, kenapa kali ini tidak?" ucapnya lirih. "Apakah mungkin aku telah dijinakkan oleh wanita itu?"


"Mustahil! Mungkin saja ini sebuah kebetulan." Tak ingin ditinggal pesawat, Rayyan berlari menuju pesawat yang sudah siap lepas landas.


Selama di perjalanan, baik Rayyan maupun Arumi tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Selain tempat duduk yang cukup jauh karena diberi sekat, dua insan itu pun enggan tuk terlibat perbincangan.


Arumi sedang asyik menonton film di layar televisi yang disediakan khusus oleh pihak maskapai penerbangan.


Kesal karena disuguhkan adegan yang menguras emosi, Arumi memilih mematikan layar itu. Mood-nya hancur karena menonton film dengan tema perselingkuhan sebab ia jadi teringat akan nasib rumah tangganya yang hancur akibat sebuah pengkhianatan.


"Sebaiknya aku tidur saja. Selama hampir dua jam kedepan, aku bisa mengisi stamina sebelum menghadapi hari-hari yang melelahkan karena berada di dekat Dokter Rayyan."


***


Menempuh perjalanan selama hampir dua jam via transportasi udara, dengan jarak tempuh sekitar 962 km, pesawat yang ditumpangi Arumi telah tiba di kota tujuan. Perlahan, pesawat itu mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.


Sebagai penumpang yang mendapat privilege atau hak istimewa karena berada di kursi penumpang first class, Arumi dan Rayyan dipersilakan turun terlebih dulu.


"Terima kasih atas kepercayaan Anda, memilih maskapai kami. Sampai jumpa lagi," ucap beberapa pramugari yang bertugas selama pesawat mengudara. Mereka tersenyum ramah pada semua penumpang.


Arumi hanya membalas dengan senyuman sebagai tanda bahwa ia pun merasa berterima kasih sebab semua pramugari itu sudah memberikan pelayanan terbaik baginya.

__ADS_1


"Dokter, sore ini kita akan bermalam di mana?" tanya Arumi ketika mereka baru saja turun dari pesawat. Langkah kaki panjang itu melangkah dengan gagah berani, meninggalkan sang wanita yang kesulitan mengimbangi langkahnya.


Rayyan melirik wanita yang berjalan di sisinya. Dengan wajah datar dan dingin ia menjawab, "Ucapanmu begitu ambigu sekali! Apakah kamu berniat menggoda saya setelah kejadian tadi siang heh?"


Arumi menatap Rayyan cengo. Ia tak habis pikir kini pria dingin itu berubah menjadi sosok pria yang terlalu percaya diri.


"Penyakit Dokter Rayyan bertambah satu jenis lagi yaitu terlalu percaya diri," batin Arumi.


Lelah berlarian mengejar Rayyan karena pria itu berjalan seolah sengaja ingin meninggalkan Arumi sendirian di kota asing, ia segera memutuskan menuju hotel. Tak peduli jika Rayyan tersesat di kota yang terkenal dengan sebutan Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura.


Usai mengirimkan pesan pada dokter Firdaus, Arumi bergegas memesan taxi online dan meminta sopir itu melajukan kendaraannya ke sebuah hotel yang ada di kawasan Jimbaran.


"Permisi, Bli (sebutan bagi laki-laki yang lebih tua atau tidak terlalu tua atau kepada orang yang sebaya yang belum dikenal). Saya ingin check in kamar atas nama Dokter Arumi Salsabila," ujar Arumi pada salah satu pria yang bekerja sebagai resepsionis hotel.


Pria dengan pakaian adat Bali tersenyum ramah ke arah Arumi. "Bisa tolong tunjukan kartu identiasnya, Bu!" pintanya.


Dengan gerakan cepat, Arumi mengeluarkan kartu identitas dari dalam dompet. Kemudian mrnyerahkannya pada resepsionis yang berdiri di balik meja.


Untuk memastikan data diri yang dipesan tidak ada kekeliruan, resepsionis itu kembali melafalkannya dengan nyaring.


Ketika pria itu sibuk mengulanginya, tiba-tiba saja Arumi menghentikan kegiatan resepsionis itu. "Tunggu! Sepertinya ada kekeliruan dalam pemesanan kamar hotel ini," sergahnya sambil menautkan kedua alis.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2