
Rayyan tersenyum kecil. "Tenang saja. Aku pasti akan segera menghalalkan wanita itu jika telah lewat masa iddah. Kamu dan Rini akan menjadi orang pertama yang mengetahui kabar baik ini."
"Bagus." Rio menepuk pundak Rayyan sambil terkekeh. "Kutunggu kabar baik itu, Ray.
Rio seketika merubah raut wajah menjadi serius. "Satu pesanku padamu, jangan sakiti hati Arumi. Sudah cukup ia menderita selama menjalani biduk rumah tangga bersama sepupuku yang berengsek itu. Kamu adalah pria yang bisa kupercaya untuk menghapus kesedihan itu dengan sebuah kebahagiaan. Jadi, jangan kecewakan kami," pintanya tulus.
"Hm. Aku janji akan membahagiakan Arumi," jawab Rayyan singkat.
***
Tak terasa, waktu terus berputar dan jam dinding sudah menunjukan pukul 19.30 WIB. Namun, Arumi dan Nyimas belum menunjukan batang hidungnya.
Rayyan duduk di sofa dengan gelisah. Seumur hidup, baru kali ini ia mencemaskan seseorang. Berkali-kali mengetukan sepatu hitam mengkilat di atas lantai guna mengusir rasa tak nyaman di dalam dada.
Rio yang sedang menerima panggilan telepon langsung mengernyitkan kening ketika melihat Rayyan bergerak dengan gelisah.
"Besok kamu langsung saja ke kantorku. Di sana kita akan berbincang membahas soal tuntutan terhadap perusahaan itu," ujar Rio pada kliennya.
"Oke. Pukul satu siang aku tunggu di kantor. Bye!" Memasukan kembali gawai tipis buatan negeri gingseng.
Rio mendekati Rayyan. Ia duduk di sisi sahabatnya. Memperhatikan gerak gerik pria itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Ray. Kenapa kamu gelisah?" Rio menepuk pundak Rayyan keras. "Karena menunggu Arumi?"
"Cerewet!" Rayyan menatap Rio tajam.
Rio terkekeh. Sama sekali tidak ada rasa takut sedikit pun bagi pria itu untuk mengerjai sahabatnya. Ia malah semakin bersemangat menggoda pria yang selama ini telah menjadi teman berbagi di kala suka maupun duka.
"Sabar, sebentar lagi juga datang. Kamu tahu 'kan, bagaimana keadaan jalanan ibu kota di malam hari. Semerawut. Macet di mana-mana. Berbeda sekali dengan keadaan di Jepang sana."
"Daripada menunggu di sini, sebaiknya bermain bersama Bagus. Hitung-hitung latihan sebelum kamu memiliki anak bersama Arumi."
Meskipun kesal tetapi Rayyan tetap mengekori Rio. Pria itu bermain bersama Bagus sambil menunggu Arumi datang.
__ADS_1
Sementara itu, wanita yang sedari tadi ditunggu kedatangannya oleh Rayyan sedang duduk manis di kursi belakang. Ia tengah menikmati waktu bersama orang tuanya.
"Menurut Mama, apakah Indah dan Bagus akan menyukai kado yang aku berikan untuk mereka?"
"Tentu saja. Kedua cucu Mama itu anak baik. Mereka tidak pernah menuntut, sama seperti Rini dan kamu." Nyimas menyentuh ujung hidung putri tercinta.
"Kamu dan Rini selalu bersifat legowo dalam kondisi apa pun. Maka dari itu, banyak donatur yang terkesan oleh sikap kalian berdua dan memberikan hadiah tambahan ketika mengunjungi panti."
"Termasuk, Mama dan mendiang Papa 'kan!" pungkas Arumi dengan bibir gemetar.
Tatapan mata wanita itu menerawang jauh, seolah tersesat pada kejadian puluhan tahun silam. Bayangan saat Nyimas dan Zidan begitu baik padanya. Memberi bingkisan kecil, makanan serta hadiah jika ia menjadi juara kelas. Lalu, kedatangan sepasang suami istri itu ke panti asuhan, berniat mengadopsi Arumi kecil untuk menjadi anak angkat.
Semua kejadian di masa lalu terekam jelas di dalam memori ingatan. Membuat Arumi tanpa sadar telah meneteskan air mata. Dalam hati ia berkata "Beruntungnya diriku diadopsi oleh Mama Nyimas dan Papa Zidan. Jika tidak, mungkin saat ini hidupku masih sama seperti dulu."
Melihat Arumi meneteskan air mata membuat Nyimas terenyuh. Ia mengulur tangan ke depan lalu membawa kepala putri tercinta di pundak. Mengelus lembut rambut panjang hitam tergerai milik sang anak.
"Mama juga beruntung memilikimu di dunia ini, Nak. Kehadiranmu mampu mengobati kesedihan Mama setelah kepergian putri semata wayang kami," ucap Nyimas. Seolah ia mengetahui isi dalam benak Arumi.
"Perlahan, Mama mulai bisa mengikhlaskan kepergian Kakakmu. Merelakan semua yang telah terjadi di dunia ini tanpa menyalahkan siapa pun termasuk takdir yang diberikan oleh-Nya."
Seketika, suasana berubah menjadi haru biru. Dua wanita beda usia itu menangis dalam diam sambil mengucap syukur karena telah dipertemukan satu sama lain.
Burhan, yang duduk di balik kemudi tersenyum kala netranya menatap kaca spion yang ada di depan. "Nyonya Besar dan Bu Rumi orang baik sehingga Tuhan membalas kebaikan kalian dengan berlipat ganda."
Tak lama berselang, mobil mewah milik Arumi telah memasuki area pekarangan rumah Rini. Burhan mematikan mesin mobil saat kendaraan itu telah terparkir sempurna.
"Silakan, Bu Rumi." Burhan membukakan pintu untuk sang majikan. Setelah Arumi turun, barulah ia membukakan pintu untuk orang tua majikannya.
Ketika kaki jenjang itu menapak di tanah, ia tak sengaja melihat mobil putih milik sang kekasih terparkir di depan pintu garasi. Tanpa sadar bibir Arumi menyunggingkan senyum tipis. Baru beberapa hari menjalin kasih hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali akan bertemu dengan Rayyan. Jantung pun memompa lebih cepat dari biasanya.
"Ayo, masuk!" Nyimas menepuk lengan Arumi sebab wanita cantik dalam balutan dress lengan panjang warna merah muda tak merespon seruanya.
"Eh ... i-ya, Ma." Menyahut dengan terbata-bata.
__ADS_1
Arumi memapah Nyimas dengan sangat hati-hati. Di saat menaiki anak tangga menuju bangunan mewah berlantai dua, wanita itu sengaja melambatkan gerakan sebab tak mau bila mama tercinta tergelincir.
"Halo, Tante Nyimas, apa kabar?" Rini menyambut kedatangan wanita baik hati yang dulu pernah memberikan hadiah kecil jika ia masuk ke dalam peringkat tiga besar.
Mama dari dua anak kembar identik mencium tangan Nyimas layaknya seorang anak pada ibunya. "Silakan masuk, Tante. Maaf ya kalau aku mengundang Tante di waktu yang tepat."
"Ya, mau bagaimana lagi. Mas Rio memiliki waktu luang di malam hari. Jadi, mau tidak mau aku menyesuaikan dengan jadwal pekerjaan Papanya anak-anak." Rini mengusap tengkuk. Ia merasa tidak enak hati telah mengganggu waktu istirahat Nyimas.
Nyimas mengulurkan tangan untuk mengusap punggung Rini. Ia sangat tersentuh oleh perlakuan sahabat sang putri tercinta. Wanita yang berprofesi sebagai psikiater itu selalu bersikap sopan sejak ia masih sering berkunjung ke panti asuhan untuk memberikan donasi maupun hadiah bagi anak-anak panti.
"Tante sama sekali tidak terganggu. Malah hati ini sangat bahagia karena bisa hadir dalam hari lahir kedua cucu-cucuku yang cantik dan tampan." Nyimas terkekeh.
"Eh ... Jeng Nyimas sudah datang."
Suara wanita paruh baya menghentikan sejenak percakapan di antara Rini dan Nyimas. Ketiga wanita beda generasi itu menoleh ke sumber suara. Mama Rio berdiri di ambang pintu. Dalam balutan gamis merah muda serta dipadukan jilbab warna putih semakin memancarkan aura kecantikan khas wanita Asia.
Mama mertua Rini mendekati Nyimas yang berdiri di teras rumah. Kedua tangan wanita itu terulur ke depan. Membawa tubuh Nyimas dalam pelukan. "Terima kasih loh, Jeng, sudah berkenan hadir dalam acara tasyakuran ulang tahun kedua cucuku." Ia mencium pipi kanan dan kiri secara bergantian.
"Jangan sungkan, Jeng. Kita 'kan sudah seperti saudara. Jadi, saya dan Arumi wajib hadir untuk ikut memeriahkan pesta ulang tahun Indah dan Bagus," balas Nyimas. Wanita itu pun mencium pipi kanan kiri, mertuanya Rini.
"Ayo masuk!" ajak Mama Rio sambil berjalan bersisiran dengan Nyimas. Sementara Rini dan Arumi mengekori di belakang.
"Duh, kenapa jantungku berdegup lebih kencang? Padahal aku dan Rayyan baru beberapa hari menjalin kasih tetapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun berpacaran," batin Arumi. Wanita itu menempelkan telapak tangan di bagian dada sebelah kiri.
Rini berjalan di sisi Arumi. Sesekali melirik ke arah sahabatnya. "Rumi ... Rumi ... usaimu hampir kepala tiga tetapi sikapmu saat jatuh cinta seperti anak ABG saja. Namun, aku bahagia bila melihat kamu bisa kembali tersenyum lagi seperti dulu."
"Tuhan, jikalau memang Rayyan adalah jodoh Arumi, aku mohon jagalah selalu pernikahan mereka. Jangan hadirkan orang ketiga di antara mereka," do'a Rini di dalam hati.
TBC
.
.
__ADS_1
.